NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 3

Waktuu berjalan dengan cepat. Tiga hari telah berlalu sejak keluarga kecil itu menempati rumah baru mereka di pinggiran kota. Ferdi semakin sibuk di kantor karena harus menyelesaikan beberapa tanggung jawab sebelum mengambil cuti melahirkan minggu depan. Praktis, sebagian besar waktu di rumah itu hanya dihabiskan oleh Selfi dan Siska.

​Siang itu, udara terasa sangat terik. Siska baru saja selesai merapikan tumpukan buku kuliahnya di kamar atas. Ketika dia turun ke lantai bawah untuk mengambil segelas air dingin, dia mendapati Selfi sedang duduk di sofa ruang tengah. Wajah kakak iparnya itu terlihat pucat, dan ada lingkaran hitam samar di bawah matanya, tanda bahwa wanita hamil itu tidak mendapatkan tidur yang cukup.

​"Mbak Selfi nggak apa-apa? Kok mukanya pucat banget?" tanya Siska cemas sambil ikut duduk di sebelah Selfi.

​Selfi menoleh lambat, lalu memaksakan sebuah senyuman. "Nggak apa-apa, Sis. Cuma agak kurang tidur aja dari kemarin. Perut Mbak rasanya sering kencang, mungkin dedek bayinya sudah nggak sabar mau keluar."

​Namun, Siska tidak sepenuhnya percaya. Pandangannya tanpa sengaja turun ke arah tangan kanan Selfi yang diletakkan di atas pangkuan. Jari manis Selfi, tempat cincin permata merah itu melingkar, kini kondisinya tampak semakin mengkhawatirkan. Kulit di sekitar cincin itu tidak lagi sekadar memerah, melainkan sudah berubah warna menjadi keunguan. Jari itu terlihat membengkak, seolah-olah cincin emas tua tersebut sedang memeras aliran darah di sana.

​"Mbak, jari Mbak Selfi makin bengkak begitu. Apa nggak sebaiknya kita ke puskesmas atau panggil tukang emas buat dipotong aja cincinnya?" usul Siska dengan nada mendesak. Dia merasa ngeri melihat kondisi jari kakak iparnya.

​Selfi cepat-cepat menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik bantal sofa. "Jangan, Sis... jangan bilang Mas Ferdi juga, ya. Mbak takut Mas Ferdi malah panik dan kepikiran di kantor. Kemarin Mbak sudah coba browsing, katanya wajar kalau ibu hamil tua jarinya bengkak karena penimbunan cairan. Nanti kalau sudah melahirkan, pasti bengkaknya hilang sendiri dan cincinnya bisa lepas."

​Selfi mencoba memberikan alasan yang rasional. Siska hanya bisa menghela napas panjang. Meskipun logikanya merasa ada yang salah dengan cincin itu, dia tidak ingin mendebat Selfi yang kondisinya sedang sensitif karena hamil besar.

​"Ya sudah, tapi kalau rasanya makin sakit, Mbak harus bilang ya," kata Siska mengalah.

​Sore harinya, Ferdi pulang kerja lebih awal. Kedatangan sang suami membawa kembali keceriaan di rumah tersebut. Ferdi membawa sebungkus martabak manis kesukaan Selfi. Mereka bertiga makan bersama di ruang tengah sambil menonton televisi, menikmati momen-momen hangat keluarga yang sederhana.

​"Mas sudah urus cuti ke HRD tadi siang," kata Ferdi sambil mengunyah martabaknya. "Mulai senin depan Mas sudah bisa standby di rumah full 24 jam buat nemenin kamu, Sel."

​Selfi tampak sangat lega mendengarnya. "Alhamdulillah, Mas. Rasa cemas aku langsung hilang kalau Mas ada di rumah terus."

​Malam pun tiba. Sekitar pukul sepuluh, seluruh rumah sudah digelapkan. Ferdi dan Selfi masuk ke kamar utama di lantai bawah, sementara Siska berjalan naik ke kamarnya di lantai dua. Setelah membersihkan wajah dan berdoa, Siska merebahkan tubuhnya di atas kasur. Suasana malam di pinggiran kota itu sangat sunyi, hanya menyisakan suara jangkrik dari kebun kosong di belakang rumah.

​Namun, keheningan itu tidak bertahan lama.

​Tepat ketika jam dinding digital di ponsel Siska menunjukkan pukul dua belas malam, sebuah suara asing mendadak memecah kesunyian.

​Srek... srek... srek...

​Siska yang baru setengah tertidur langsung membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya seketika berdegup kencang. Suara itu terdengar sangat dekat, tepat berada di atas plafon kamarnya. Itu bukan suara tikus yang berlari cepat, melainkan suara sesuatu yang berat, yang sedang diseret perlahan di atas papan kayu langit-langit.

​Siska menahan napasnya, mencoba mendengarkan dengan lebih saksama.

​Srek... srek... srek...

​Suara seretan itu bergerak. Ritmenya sangat lambat dan teratur, seolah-olah sesuatu yang ada di atas sana sedang merangkak dengan susah payah. Siska bisa merasakan bulu kuduk di lengannya berdiri tegak. Hawa di dalam kamarnya mendadak berubah menjadi sangat dingin, hingga setiap kali dia mengembuskan napas, tampak uap tipis keluar dari mulutnya.

​Karena rasa takut yang semakin menjadi, Siska memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dia berniat turun ke bawah, mengetuk kamar Mas Ferdi untuk memberi tahu tentang suara aneh tersebut. Siska berjalan berjingkat membuka pintu kamar, lalu melangkah ke koridor lantai dua yang gelap gulita.

​Saat Siska berdiri di dekat railing tangga kayu, suara seretan itu tiba-tiba berhenti.

​Suasana kembali menjadi sangat sunyi. Siska memegangi pegangan tangga yang terasa sedingin es. Dia menatap ke arah plafon di atas tangga. Di bawah temaram cahaya bulan yang masuk dari ventilasi, tidak ada apa-apa di sana.

​Namun, beberapa detik kemudian, suara itu terdengar lagi. Kali ini bukan di lantai dua.

​Srek... srek... srek...

​Suara seretan itu sekarang terdengar di lantai bawah, tepat di atas langit-langit kamar utama yang ditempati oleh Ferdi dan Selfi.

​Siska bergegas turun tangga dengan langkah secepat mungkin namun tetap berusaha tidak menimbulkan suara gaduh. Begitu sampai di depan pintu kamar utama, Siska hendak mengetuk pintu. Namun, gerakannya terhenti saat dia mendengar suara bisikan dari dalam kamar.

​Pintu kamar itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah kecil yang membiarkan cahaya lampu tidur yang temaram menyembur keluar. Siska mengintip melalui celah tersebut.

​Di dalam kamar, Ferdi tampak sedang tertidur sangat nyenyak, mendengkur halus dengan posisi membelakangi pintu. Sementara itu, Selfi sedang duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke arah boks bayi kosong yang terletak di sudut kamar yang gelap.

​Yang membuat Siska merinding adalah gerakan tangan kanan Selfi.

​Selfi sedang mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi di udara. Di bawah cahaya lampu tidur, permata merah pada cincin yang dipakainya tampak berkilau dengan warna merah yang sangat pekat, hampir menyerupai tetesan darah segar yang kental. Selfi menggerakkan jari manisnya yang bengkak itu membentuk lingkaran di udara, seolah-olah sedang menuntun sesuatu.

​Mulut Selfi komat-kamit, membisikkan kata-kata yang tidak jelas maknanya dengan nada suara yang sangat datar, seperti orang yang sedang mengigau atau berada di bawah pengaruh hipnotis.

​"Sebentar lagi... anakku... seratus hari..." bisik Selfi lamat-lamat.

​Siska membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Rasa takut yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia ingin mendobrak pintu dan mengguncang tubuh kakak iparnya agar sadar, tetapi kakinya terasa lemas seperti terpaku di atas lantai semen.

​Tepat pada saat itu, dari arah sudut kamar yang gelap—tepat di bawah boks bayi yang kosong—terdengar suara balasan yang sangat halus.

​Krek...

​Itu adalah suara derak tulang yang patah, diikuti oleh suara geraman yang sangat rendah, mirip suara tangisan bayi namun dengan nada yang serak dan berat. Dua titik cahaya merah berukuran kecil mendadak menyala di balik kegelapan di bawah boks bayi tersebut, menatap lurus ke arah Selfi, seolah-olah sedang berkomunikasi dengan cincin yang dipakai wanita itu.

​Siska tidak sanggup lagi berdiri di sana. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, dia berbalik dan berlari secepat mungkin kembali ke kamarnya di lantai dua. Dia menutup pintu kamar, menguncinya dari dalam, lalu meringkuk di bawah selimut sambil terus gemetar hingga pagi menjelang.

​Malam itu, Siska sadar sepenuhnya. Rumah murah yang dibeli kakaknya ini tidak membawa berkah, melainkan sedang menyembunyikan sebuah ancaman besar yang siap menghancurkan kehidupan mereka.

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!