"Apa-apaan sih loe, pincang! Jangan sok kecantikan deh. Lebih baik pakai baju loe sana! Loe pikir gue bakalan tertarik apa sama loe!" ujar Zayn berkata kasar pada istrinya saat malam pertama mereka.
Varisha Salsabilla Jannah.
Gadis pincang yang baru saja kehilangan suami sekaligus calon anaknya.
Ia bahkan terpaksa harus menikah dengan adik iparnya sendiri, yaitu Zayn Alkautsar.
Adik ipar yang membenci dirinya.
Apakah pernikahan terpaksa ini akan berakhir mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regazz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Varisha masuk rumah sakit
Bab 28
Varisha merasakan sakit yang teramat dalam di area pipinya. Cap tangan bekas tamparan Zayn langsung membekas disana, hingga disudut bibirnya mengeluarkan darah.
Ia hanya bisa menatap Zayn dengan tatapan nanar. Ia pun berusaha bangkit dari duduknya.
Tamparan Zayn sangat menyakiti dirinya.
Ia ingin bangkit, tapi adinda menendang kaki Varisha hingga wanita itu kembali tersungkur di lantai.
"Rasakan ini!" balas adinda dengan memukul Varisha dengan tongkat.
"Akh!!"
Bukan sekali tapi bertubi-tubi.
"Rasakan itu! Kaki gue lebih berharga daripada kaki loe yang pincang dan jelek itu!"
Bugh!
"Akh!" Varisha merasa kesakitan sekali.
Varisha menatap Zayn yang hanya diam saja melihat dirinya menderita.
Dia pria kejam gak punya hati sama sekali.
Bugh!
"Sudah hentikan sayang. Tangan kamu gak pantas untuk semua ini." ujar Zayn sambil menatap kearah Varisha.
‘Mas Zayn tak punya hati. Ia belum berubah…’batin Varisha.
Kaki kanan Varisha sudah penuh dengan luka memar dan kebiruan. Ia hanya bisa menangis. Menangis meratapi nasibnya.
Zayn dan adinda sudah keluar dari kamar tersebut.
Bodoh kau Varisha, umpat Varisha dalam hati untuk dirinya.
Varisha berusaha bangkit sekuat tenaga. Kepalanya tertunduk.
Namun, karna rasa sakit membuat dirinya terjatuh kembali ke lantai.
"KYAAA!!" Varisha berteriak histeris.
"Aku benci! Aku benci kaki ini!" teriaknya sembari memukul kaki kanannya dengan kedua tangan.
"Ya Tuhan, daripada engkau embuatku pincang, lebih baik saat kecelakaan itu kau cabut saja nyawaku. Lebih baik aku ikut dengan ayah dan ibu ke alam baka." Varisha terlihat sangat frustasi sekali.
Ia terus memukul kakinya, hingga pada akhirnya ia berhenti. Ia kembali menangis. Hanya tangisan yang kini bisa menemani dirinya.
“Aku bodoh dan lemah. Hanya bisa menangis saja…”lirihnya.
•••
Disisi lain, Brian baru saja masuk kedalam lift. Ia sedang sibuk menelpon seseorang.
"Baiklah, jangan khawatir. Hari ini juga aku akan pulang. Kalian tenang saja..." ujar Brian.
Brian segera mematikan sambungan telepon.
Beberapa pintu lift terbuka menampilkan sosok sepasang kekasih yang masuk kedalam lift tersebut bersama dengan Brian.
Zayn? batin Brian.
'bukannya dia Zayn suaminya Varisha. Tapi, kenapa dia malah bersama dengan wanita lain?'
Brian semakin mengeratkan kacamata miliknya.
"Zayn kenapa kau begitu gelisah sekali? Apa kau memikirkan cewek pincang itu?" adinda mulai memasang wajah cemburu.
Zayn mengelus pucuk rambut kekasihnya dengan senyuman.
"Tidak sayang. Untuk apa aku memikirkan cewek pincang itu."
"Awas aja kalau sampai kamu jatuh cinta sama dia." ancam adinda.
Wajah Zayn nampak menegang.
"Tenang saja. Hanya ada kamu seorang di hatiku." Zayn memaksakan untuk tersenyum. Bayangan teringat Varisha yang menangis dengan kaki yang terluka.
Pintu lift terbuka.
Zayn dan adinda segera turun.
"Apa Varisha tau semua ini?" gumam Brian setelah mendengar percakapan mereka berdua.
Varisha berjalan dengan terseok-seok pelan dengan tongkat besi miliknya.
Saat ia masuk lift, ia bertemu Brian.
Brian kaget melihat penampilan Varisha.
"Varisha kamu kenapa?" Brian begitu khawatir sekali. Varisha terluka parah, ia seperti habis dirampok.
"Kebetulan kita bertemu disini. Apa kau mau mengantarku ke rumah sakit, Brian?" pinta Varisha.
"Ayo segera kita kesana!”
Brian begitu sedih melihat Varisha seperti ini.
Apa yang terjadi padanya?
Apa ini ada hubungannya dengan suaminya dan wanita itu?
•••
Brian langsung membawa tubuh Varisha dengan hati-hati.
Ia melepas jaketnya dan mengenakannya pada Varisha.
"Brian!"
"Tak apa, hanya jaket."
"Makasih." balas Varisha.
•••
tuan faruq dan nyonya lestari sedang berada di dalam kamar inap.
tuan faruq sudah mulai sadar.
"Kenapa teleponnya tidak diangkat?" heran nyonya lestari sembari menelpon Varisha.
Tut~
"Bahkan ponsel Varisha tidak aktif."
"Mungkin saja mereka sibuk membuat cucu untuk kita seperti yang kamu bilang tadi," tuan faruq tersenyum jahil.
"Cukup sayang!"
tuan faruq tertawa.
"Semoga pernikahan mereka kekal dan bahagia." doa nyonya lestari.
Nyonya lestari akhirnya keluar membeli sesuatu.
•••
Nyonya lestari baru keluar dari lift dan kaget melihat Varisha dipapah menuju UGD.
"Varisha!"
Ia segera mengikuti.
"Ibu~"
Nyonya lestari melihat Brian.
"Brian!"
"Hai tante?"
"Kamu di negara ini juga?"
"Apa yang terjadi pada Varisha?"
"Dan mana Zayn?"
Brian menjelaskan kalau ia menemukan Varisha seperti itu di hotel.
"Saya mohon keluarga pasien menunggu di luar."
Brian dan nyonya lestari duduk di luar.
"Varisha tak bicara apapun padamu?"
"Tidak."
"Lalu, Zayn?"
"Aku tidak melihatnya."jawab Varisha berbohong.
Nyonya lestari kembali menelpon.
Namun, Zayn tidak menjawab.
Zayn sedang menikmati segelas bir didalam kamar hotel adinda.
Adinda melihat nama di layar.
Ibu
"Aishh, ibu mertua ini mengganggu saja!"
Kembali ke rumah sakit.
"Kenapa ini bisa terjadi, kamu kemana Zayn?" kesal nyonya lestari.
"Tenang tante. Mungkin saja dia ada urusan mendadak."
•••
Keesokan paginya.
Zayn terbangun dengan kepala terasa pusing sekali.
Ia tertidur di sofa dengan adinda yang tidur di atas perutnya.
Zayn mengecek ponselnya.
Banyak panggilan dari sang ibu.
Satu pesan membuat matanya terbuka lebar.
“Zayn kau dimana? Varisha masuk rumah sakit”.
Begitulah isi pesan tersebut.
To be continue…
.. smangat untuk kak author .. sdah ngh sbar nungu bab berikutnya