NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31 - Komplotan di Balik Layar

Cinta yang baru tumbuh itu terasa seperti musim semi setelah musim dingin yang panjang.

Sejak pengakuan di taman masjid sore itu, atmosfer di rumah Azzam dan Naura berubah secara drastis. Kegelisahan yang selama ini menggantung di antara mereka menguap, digantikan oleh kehangatan yang nyaman dan tatapan yang tak perlu lagi menyembunyikan apa pun.

Pagi-pagi setelah hari terindah dalam hidup Naura, ia terbangun dengan senyum yang tak mau lepas dari bibirnya. Saat ia turun ke ruang makan, Azzam sudah duduk di sana dengan kemeja koko putihnya, namun ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Bahu yang biasanya tegang kini lebih rileks, dan saat ia menoleh mendengar langkah Naura, senyum yang ia berikan adalah senyum tanpa batas, senyum yang secara terang-teranan menunjukkan bahwa pria itu sedang sangat bahagia.

"Selamat pagi," sapa Azzam, suaranya terdengar lebih ringan dari biasanya.

"Selamat pagi," balas Naura, wajahnya merona saat duduk di seberang suaminya.

Azzam mengulurkan secangkir teh jahe, sudah menjadi kebiasaan baginya menyiapkan minuman untuk Naura. "Hari ini saya ada rapat koordinasi dengan pengurus pesantren dan beberapa ustaz. Mungkin akan seharian. Kamu akan oke sendiri?"

Naura mengangguk, memegang cangkir tehnya. "Aku oke. Aku mau lanjutkan menata taman belakang. Ada beberapa bibit lavender yang perlu dipindah ke pot baru."

"Baik." Azzam menopang dagu dengan tangannya, menatap Naura dengan mata yang tak mau berkedip. "Tetap di dalam kompleks pesantren, ya? Dan jika ada apa-apa, hubungi saya."

"Deal," Naura tersenyum, mengulangi kata-kata mereka beberapa hari lalu.

Sebelum beranjak pergi, Azzam berjalan mendekat, menunduk, dan mencium puncak kepala Naura... sebuah kebiasaan baru yang membuat jantung Naura selalu berdebar tak teratur. Aroma attar dan kopi memenuhi indra penciumannya sesaat sebelum pria itu melangkah keluar rumah.

Naura menghela napas panjang, memandangi punggung Azzam yang menjauh. "Aku mencintaimu," batinnya, mengulangi pengakuannya sendiri yang masih terasa sedikit surealis.

.

.

.

Namun, di luar kebahagiaan rumah tangga itu, bayang-bayang gelap sedang merayap di sudut lain pesantren. Malam sebelumnya, jauh dari pandangan mata, di sebuah ruang kerja kecil di bagian belakang asrama putra, sebuah pertemuan rahasia berlangsung.

Ustaz Farrel duduk bersandar di kursinya, memutar pulpen di antara jari-jarinya dengan tatapan yang menyiratkan kebosanan. Di depannya, Zahra Humaira berdiri dengan tangan yang mencengkeram erat kerudung syar'inya. Wajah gadis itu masih basah oleh air mata, matanya merah, dan rahangnya mengeras oleh dendam yang baru saja ia tanam.

"Jadi, itulah yang terjadi," suara Zahra bergetar, dipenuhi kepedihan dan kemarahan. "Gus Azzam mencium dahinya di depan semua orang. Dia... dia mengakui mencintainya. Di depanku. Seolah aku tidak ada, seolah semua yang kulakukan untuknya selama ini tidak ada artinya."

Farrel menghentikan pulpennya, menatap Zahra dengan mata yang dingin namun penuh perhitungan. Ia tersenyum tipis... senyum yang tidak pernah mencapai matanya.

"Seperti yang kuduga," ucap Farrel, suaranya datar namun menyiratkan kemenangan tertahan. "Gus Azzam telah dibutakan oleh gadis itu. Ia mengorbankan prinsipnya sendiri demi seorang perempuan yang bahkan tidak mengenal dunia yang ia perjuangkan."

"Jadi apa yang harus kita lakukan?" Zahra melangkah maju, matanya membara. "Aku tidak bisa diam melihat dia menghancurkan pesantren ini bersama Naura! Video editan kemarin gagal membuat Naura pergi. Justru Azzam makin melindunginya!"

Farrel berdiri, berjalan mendekati jendela, dan menatap kegelapan malam pesantren. "Karena kita salah strategi, Zahra. Kita menyerang Naura dari luar, membuatnya terlihat seperti selingkuh. Itu terlalu dangkal. Azzam mengenal istrinya; ia tidak akan percaya pada fitnah semacam itu."

"Lalu apa?!"

"Kita harus membuat Naura hancur dari dalam," Farrel menoleh, matanya menyala dengan rencana yang beracun. "Kita harus membuat Azzam melihat dengan matanya sendiri bahwa keberadaan Naura adalah ancaman bagi martabatnya, bagi pesantrennya, dan bagi keluarganya. Kita butuh skenario yang lebih besar. Skenario yang tidak bisa ia tangkis hanya dengan pernyataan media sosial."

Zahra mengerutkan kening, tidak memahami. "Skenario seperti apa?"

Farrel kembali ke mejanya, mengambil ponselnya, lalu menunjukkan layarnya pada Zahra. Di sana, terlihat nama kontak: Arkan P.

"Aku punya koneksi," ucap Farrel pelan. "Pria yang ada di video lobbi hotel itu, Arkan Pratama. Ia adalah anak dari rival bisnis keluarga Naura. Dan ia memiliki dendam pribadi pada Naura karena gadis itu menolaknya kembali demi Azzam."

Zahra menatap nama itu, lalu menatap Farrel. "Kau kenal Arkan?"

"Kita bertransaksi," jawab Farrel sederhana, menyembunyikan detail bahwa Arkan-lah yang membiayai beberapa program pesantrennya sebagai jalan masuk untuk menghancurkan keluarga Mahendra. "Arkan ingin Naura kembali. Aku ingin Azzam jatuh. Kita punya musuh yang sama, Zahra. Dan musuh bersama adalah sekutu terbaik."

"Apa yang harus kuaakukan?" tanya Zahra, suaranya kini lebih stabil, dipenuhi oleh tekad yang gelap.

Farrel tersenyum licik. "Kau hanya perlu bermain peran. Kau adalah santriwati teladan, bukan? Semua orang percaya padamu, mendekati Naura. Berpura-puralah menyesal, meminta maaf atas kejadian di perpustakaan dan video itu. Buat dia percaya bahwa kau telah berubah."

Zahra menggeleng, ragu. "Naura tidak akan percaya padaku. Ia tahu aku membencinya."

"Di sinilah aktingmu diuji," Farrel mencondongkan tubuhnya, menatap Zahra tajam. "Gunakan air matamu. Gunakan ayat-ayat kesabaran. Katakan padamu bahwa kau merasa terganggu oleh Ustaz Farrel yang terlalu ambisius, bahwa kau butuh tempat curhat. Jadilah temannya, Zahra. Dan saat ia mulai terbuka padamu... saat ia mulai memercayaimu..."

"Apa?"

"Kau akan menggiringnya ke dalam jebakan. Kau akan mengundangnya ke suatu tempat... tempat di mana Arkan menunggu. Tempat di mana kamera akan merekam segalanya, bukan video pendek yang bisa diedit, tapi bukti nyata bahwa Naura secara diam-diam bertemu mantannya. Dan kali ini, Azzam tidak akan bisa menyelamatkannya."

Zahra menelan ludah, memikirkan rencana itu. Ini licik dan keji. Ini sangat bertentangan dengan ajaran agama yang selama ini ia pelajari. Tapi bayangan Azzam yang mencium dahi Naura di taman masjid kemarin masih membakar retinanya, menghanguskan sisa-sisa akhlaknya.

"Baik," ucap Zahra, suaranya dingin. "Aku melakukannya."

Farrel tersenyum lebar, sebuah senyum predator yang baru saja mendapatkan mangsanya. "Sempurna. Maka mulai besok."

.

.

.

Dua hari kemudian, Naura sedang menyiram bunga lavendernya di taman belakang rumah saat terdengar ketukan halus di pagar taman. Ia menoleh, dan jantungnya sedikit bergetar saat melihat siapa yang berdiri di sana.

Zahra Humaira.

Gadis itu mengenakan jubah hitam sederhana dan cadar yang menutupi wajahnya, kerudung syar'inya rapi tanpa cela. Ia berdiri dengan postur yang tidak biasa, bukan tegak dan angkuh seperti biasanya, melainkan sedikit menunduk, bahunya lunglai, seolah membawa beban yang sangat berat.

Naura menarik napas, mematikan selang air, dan berjalan mendekat ke arah pagar. Insting pertahanannya otomatis naik. "Zahra? Ada apa?"

Zahra menatap Naura, dan Naura terkejut saat melihat mata gadis itu, matanya merah dan bengkak, seolah baru saja menangis berjam-jam. Ada kelembutan di sana yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, atau mungkin, yang tidak pernah Zahra perlihatkan padanya.

"Naura..." suara Zahra bergetar saat menyebut namanya. Ia meremas tangannya di depan dada. "Aku... aku minta maaf."

Naura terkesima. Kata-kata itu adalah hal terakhir yang ia bayangkan akan keluar dari mulut Zahra Humaira.

"Maaf?" ulang Naura, tidak menyembunyikan kecurigaannya. "Maaf atas apa?"

"Atas semuanya," air mata mulai menggenang di mata Zahra, jatuh membasahi kain cadarnya. Ia menunduk dalam-dalam, suaranya penuh penyesalan yang terdengar sangat asli. "Atas perlakuanku di perpustakaan. A-tas... video yang beredar. Aku tahu aku salah. Aku sangat salah telah menghakimimu."

Naura berdiri kaku, tidak tahu harus berkata apa. Kecurigaannya berperang dengan empatinya. "Apakah ini tulus? Atau ini jebakan?"

"Kenapa... kamu bilang ini sekarang?" tanya Naura hati-hati.

"Karena aku tidak bisa tidur," Zahra menatap Naura dengan mata yang memelas. "Sejak Gus Azzam membencaku di aula saat itu, sejak aku menyadarkan bahwa aku menggunakan ilmuku bukan untuk kebaikan tapi untuk menyakiti orang lain... aku merasa dosaku begitu besar. Aku datang ke sini bukan untuk memintamu menerima aku sebagai sahabat. Aku hanya ingin mengembalikan hakmu, ingin membersihkan hatiku."

Naura menatap air mata Zahra. Bagaimanapun juga, Naura adalah gadis yang memiliki hati lembut. Ia tahu bagaimana rasanya hancur, ia tahu bagaimana rasanya merasa sendirian. Dan melihat Zahra menangis di depannya, meminta maaf dengan cara yang tampaknya sangat rapuh...

"Zahra..." Naura menghela napas, meraih tangan gadis itu dengan ragu. "L-o... k-kamu, tidak perlu menangis."

"Tapi aku mau minta maaf," Zahra menggenggam tangan Naura balik, genggamannya dingin namun kuat. "Dan ada satu hal lagi, Naura. Aku... merasa terancam di pesantren ini sekarang. Ustaz Farrel... dia bukan orang yang baik. Dia sering mengintimidasiku karena aku tahu ambisinya. Aku merasa tidak aman. Aku hanya ingin bicara dengan seseorang yang memahami posisiku."

Kembali nama Farrel disebut. Naura mengingat peringatan Azzam tentang pria itu. Jika Zahra merasa terancam oleh Farrel, mungkin gadis itu memang benar-benar berubah? Mungkin mereka berdua kini memiliki musuh yang sama?

"Aku tidak ingin merepotkanmu," lanjut Zahra, melepaskan tangan Naura dan menghapus air matanya. "Tapi kalau kamu punya waktu besok sore... bisakah kita bertemu? Di rumah kaca pesantren? Aku ingin mengembalikan sesuatu padamu, dan aku ingin kita bisa berbicara tanpa ada yang melihat. Aku malu pada santriwati lain."

Naura menatap Zahra, berjuang dengan batinnya. "Azzam bilang tidak boleh pergi sendirian. Tapi rumah kaca pesantren kan masih di dalam kompleks? Dan ini untuk memaafkan orang, Azzam pasti akan mengerti."

"Baik," jawab Naura pelan, membuat keputusan yang mungkin akan ia sesali. "Besok sore. Setelah Asar. Di rumah kaca."

Wajah Zahra seketika cerah, tersenyum di balik cadarnya. "Terima kasih, Naura. Terima kasih banyak. Jazakillahu khairan."

Ia mengangguk sekali lagi, lalu berbalik berjalan meninggalkan taman dengan langkah yang lebih ringan. Naura menatap punggung Zahra yang menjauh, ada batu kecil di perutnya yang menolak pergi. Sesuatu terasa aneh. Tapi ia mengabaikannya, berpikir bahwa mungkin ini jalan Tuhan untuk mendamaikan situasi di pesantren.

.

.

.

Yang Naura tidak tahu, di balik senyum Zahra yang berbalik tadi, tidak ada penyesalan. Segera setelah berbelok di lorong asrama, Zahra mengambil ponselnya dari saku jubahnya, lalu mengetik pesan pada Farrel.

Zahra: Naura setuju. Besok sore, rumah kaca.

Balasan datang dalam hitungan detik.

Farrel: Bagus. Siapkan air matamu lagi jika perlu. Aku sudah menghubungi Arkan. Dia akan menunggu di sana. Kali ini, pertunjukan harus sempurna.

Zahra mematikan ponselnya, menatap layarnya dengan mata yang kini dingin dan tajam, bebas dari air mata yang baru saja ia pertunjukkan untuk Naura.

"Maafkan aku, Naura," bisik hatinya tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Tapi kamu mengambil satu-satunya hal yang kuinginkan di dunia ini. Dan sekarang, saatnya kamu membayarnya."

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!