Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: EKSPERIMEN BIRU
07:07:05
Vero membuka mata. Tidak ada sentakan kaget. Tidak ada napas tertahan.
Hanya satu kalimat yang meluncur dari mulutnya, datar dan tanpa emosi.
"Bukan Merah."
Dia bangkit dari kursi bahkan sebelum wanita tua di sebelahnya sempat menyapanya. Gerakannya efisien, membuang semua keraguan yang tidak perlu. Dia berjalan lurus ke arah Sarah, mengabaikan semua detail latar belakang yang sudah dihafalnya di luar kepala.
Sarah baru saja akan mengeluarkan laptopnya. Vero langsung duduk, mencondongkan tubuh, dan berbicara dengan kecepatan tinggi.
"Namaku Vero. Loop waktu. Kereta meledak jam 8. Pelaku di Gerbong 4. Bom C-4 dengan pemicu mercury switch dan detonator manual. Kabel Merah adalah jebakan—aku baru saja meledak karenanya. Sekarang kita coba kabel Biru."
Sarah membeku, tangannya memegang layar laptop setengah terbuka. Dia menatap Vero dengan campuran rasa takut dan bingung. Pria di depannya ini memiliki tatapan mata yang kosong, seperti prajurit yang sudah terlalu lama di medan perang tanpa tidur.
"Kau... bicara apa?" bisik Sarah.
Vero tidak punya kesabaran untuk permainan tebak-tebakan lagi. Dia merogoh saku Sarah, mengambil ponselnya, dan langsung memencet tombol reject saat nama BOS REDAKSI muncul di layar—bahkan sebelum ponsel itu sempat berdering.
"Telepon sudah dimatikan. Blus kerjamu belum disetrika. Kau menulis soal Bansos. Sekarang, kau percaya atau tidak, itu urusanmu. Aku butuh saksi mental. Ingat ini: Biru."
Vero bangkit lagi.
"Tunggu!" seru Sarah, tapi Vero sudah berjalan menjauh.
Dia menuju ke ujung gerbong. Ibu perajut itu ada di sana.
Vero tidak meminta izin kali ini. Dia menyambar gunting itu dengan kasar saat lewat.
"Hei! Apa-apaan!" pekik ibu itu.
Vero tidak menoleh. "Nanti saya kembalikan." Kalau saya hidup, tambahnya dalam hati.
Dia melangkah masuk ke Gerbong 4.
Suasana berubah. Udara terasa lebih berat.
Vero melihat Pria Jaket Hitam itu. Posisi yang sama. Tas hijau di lantai.
Vero menarik napas dalam. Dia memutar memori kejadian di loop ke-5 (saat dia ditusuk).
Dia kidal. Dia menyimpan pisau di saku kiri dalam. Serangannya cepat, menusuk ke atas menuju ulu hati.
Vero menggenggam gunting kecil itu erat-erat di tangan kanannya. Dia tidak berniat membunuh pria itu—risikonya terlalu besar jika pemicu manual tertekan saat pria itu sekarat. Dia hanya perlu mengalihkan perhatiannya selama dua detik.
Vero berjalan mendekat.
Jarak dua meter.
Satu meter.
Pria Jaket Hitam itu mendongak. Insting binatang buasnya mendeteksi ancaman. Tangannya bergerak ke saku dalam jaket.
Sekarang.
Vero tidak meluncur ke bawah seperti sebelumnya. Dia justru melakukan feint (gerakan tipuan) ke kiri, lalu membanting tubuh ke kanan.
Pria itu mengeluarkan pisau dan menusuk ke ruang kosong di sebelah kiri, tempat Vero seharusnya berada. Matanya membelalak kaget karena serangannya meleset.
"Kau—"
Vero memanfaatkan keterkejutan sepersekian detik itu. Dia tidak menyerang orangnya. Dia menjatuhkan diri berlutut tepat di depan tas hijau yang terbuka sedikit.
Ritsleting ditarik paksa.
Isi tas terekspos.
C-4. Tabung raksa. Dan simpul kabel iblis itu.
Merah (sudah putus di memori Vero, tapi utuh di sini).
Biru.
Kuning.
Hitam.
Tangan kiri Pria Jaket Hitam yang memegang pisau berayun kembali, mengincar leher Vero.
"MATI KAU!"
Vero tidak menghindar. Dia mempertaruhkan lehernya demi waktu satu detik ini. Tangan kanannya menjulurkan gunting, menjepit kabel Biru.
Klik.
Kabel biru putus.
Vero memejamkan mata, menunggu.
Satu detik hening.
Pisau pria itu berhenti satu inci dari leher Vero karena dia juga menunggu ledakan.
Lampu indikator di kotak sirkuit bom itu berkedip.
Dari merah... menjadi merah yang lebih terang dan berkedip cepat.
Beep. Beep. Beep.
Suara alarm digital kecil berbunyi dari dalam tas.
Pria Jaket Hitam itu tertawa. Tawa gila yang menggema di telinga Vero.
"Salah pilih, Pahlawan."
Vero membuka mata, menatap indikator itu dengan horor.
Biru bukan pemutus arus. Biru adalah pemicu timer darurat.
"Sayonara," bisik pria itu.
BLAARRRR!!!
Ledakan kali ini terasa berbeda. Lebih panas. Lebih dekat. Vero merasakan sensasi tubuhnya terurai, daging terpisah dari tulang, sebelum kesadarannya ditarik paksa ke dalam kegelapan.
Sentakan kasar.
Vero terlonjak dari kursi kereta. Kali ini dia terbatuk hebat, seolah asap ledakan itu ikut terbawa ke masa lalu. Kerongkongannya terasa kering dan terbakar.
"Uhuk! Uhuk!"
Wanita tua di sebelahnya menepuk punggungnya. "Masuk angin ya, Mas?"
Vero menepis tangan wanita itu kasar. Dia melihat jam tangannya dengan mata liar.
07:08:05.
"Biru salah," desis Vero, suaranya parau. "Merah salah. Biru salah."
Dia menjambak rambutnya sendiri, menariknya kuat-kuat untuk merasakan rasa sakit yang nyata. Dia butuh rasa sakit untuk memastikan dia masih manusia, bukan hantu.
Tinggal dua kabel.
Kuning dan Hitam.
Peluangnya sekarang 50:50.
Tapi mentalnya mulai retak. Berapa kali lagi dia sanggup meledakkan dirinya sendiri? Sensasi kematian itu tidak pernah menjadi lebih mudah. Setiap kali dia mati, sebagian dari jiwanya terasa tertinggal di sana, di dalam kobaran api itu.
Vero menatap ke depan.
Dia harus melakukannya lagi.
Bangun. Yakinkan Sarah. Curi gunting. Potong kabel. Mati.
"Kuning..." gumam Vero, matanya menatap kosong ke arah lantai gerbong yang kotor. "Berikutnya Kuning."
Tapi kemudian, sebuah keraguan menyelinap.
Bagaimana jika Kuning juga salah?
Bagaimana jika Hitam juga salah?
Bagaimana jika tidak ada kabel yang benar? Bagaimana jika ini semua jebakan tanpa jalan keluar?
"Tidak," Vero menggelengkan kepala kuat-kuat. "Pasti ada cara mematikannya. Setiap bom punya titik mati."
Dia berdiri. Kakinya terasa berat, seolah ada rantai besi yang mengikat pergelangan kakinya.
Dia melihat ke arah Sarah.
Kali ini, dia tidak langsung berjalan. Dia diam sejenak, mengamati Sarah dari kejauhan. Mengamati wanita yang tidak pernah mengingatnya, wanita yang harus dia paksa percaya berulang kali.
"Maafkan aku, Sarah," bisik Vero. "Aku harus menyeretmu ke neraka ini lagi."
Dia melangkah maju.
Loop ke-8 dimulai.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔