Terdesak masalah hidup, Rina Amelia terpaksa menjadi wanita simpanan Adrian Wibawa—tanpa sadar bahwa pria itu adalah suami dari Profesor Eliza, dosen paling ditakutinya. Merasa dibohongi, Rina ingin mengakhiri hubungan terlarang itu, namun rayuan dan janji manis Adrian berhasil meluluhkannya.
Kini ia terjebak di antara dua dunia yang berbahaya: kekasih rahasia sang pengusaha, sekaligus mahasiswi yang nasibnya ada di tangan istrinya sendiri. Mampukah Rina bertahan di tengah jerat kebohongan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sisi Ryri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Darmawan
"Bener, nih. Enggak apa-apa?" tanya Rina dengan gugup.
Namun, sebelum Rina sempat mundur untuk meminta maaf lebih jauh, Darmawan langsung meraih kedua tangan Rina dengan lembut. genggamannya hangat, seketika menghentikan kepanikan gadis itu.
"Enggak apa-apa, aku enggak apa-apa kok," tutur Darmawan dengan nada suara yang sangat lembut dan menenangkan. Matanya menatap wajah Rina yang merona. "Eh, kamu ya yang bikin roti enak ini?"
"I—iya, benar, Pak. Nama saya Rina," jawabnya tegang seraya memperkenalkan diri, mencoba menarik tangannya pelan-pelan karena malu.
Darmawan tersenyum tipis. "Jangan panggil 'Pak' dong. Panggil saja Darma."
"Oh... Mas Darma?"
"Iya, panggil begitu saja biar lebih akrab," sahut Darmawan ramah. "Makasih banyak ya sudah menerima pesanan saya."
"Ba—baik, Pak... eh, Mas! Terima kasih kembali sudah pesan roti di toko kecil saya," balas Rina, terbata-bata karena salah tingkah.
Darmawan melirik jam tangan mewahnya seraya tersenyum manis. "Oke, saya harus masuk ruang rapat dulu ya. Sampai jumpa lain kali, nanti saya pesan lagi."
Rina berdiri terpaku menatap punggung Darmawan yang melangkah tegap memasuki ruang ballroom Hotel Perdana Wisata Bandung.
Hatinya bersorak senang bukan kepalang. Kalimat sederhana dari pria itu rasanya seperti angin segar.
Rina langsung membayangkan masa depan usahanya hotel megah ini bisa menjadi tempat langganan utamanya pintu rezeki yang terbuka lebar selama ia mengadu nasib di Kota Kembang ini.
Dengan langkah ringan dan wajah yang sumringah, Rina pulang menuju apartemen sewaannya. Begitu pintu terbuka, ia langsung disambut oleh Ibunya, Tina, yang sejak tadi cemas menunggu kepulangan putri tunggalnya.
"Kamu sudah pulang, Nak?" panggil Ibu dengan riang dari arah dapur.
"Iya, Bu! Aku senang banget hari ini!" seru Rina seraya melepaskan sepatu dan menghampiri ibunya. "Pembelinya puas banget sama roti buatan Rina!"
Tina mengelus dada lega, senyum syukurnya terkembang lebar. "Syukurlah kalau begitu. Kamu harus jaga baik-baik pelanggan kamu ini, Rina. Pelayanan harus nomor satu."
"Pasti, Bu! Aku bakal usahakan yang terbaik. Doakan ya, Bu, semoga bisnis roti Rina lancar terus di Bandung."
"Siap, Rina. Ibu pasti selalu mendoakan yang terbaik buat anak Ibu satu-satunya ini," tutur Tina tulus seraya mengusap lembut kepala putrinya.
Namun, keriangan siang itu menguap perlahan seiring bergantinya waktu.
Malam pun menjelang, menyelimuti kamar kecil Rina dengan kesunyian yang menggencet dada.
Rina berbaring miring di atas kasurnya, mendekap ponsel yang gelap gulita.
Hatinya kembali gelisah. Ia masih terus berharap Om Adrian akan menghubunginya. Namun, seperti hari-hari sebelumnya, nomor pria itu seolah lenyap ditelan bumi. Pesannya hanya centang satu dan panggilan teleponnya selalu ditolak.
"Jadi... beneran diblokir?" bisik Rina terisak pelan. Ia menatap layar ponselnya yang dingin dengan mata membengkak. Rasa perih menusuk dadanya hingga ke tulang.
"Kok gitu sih, Om? Mentang-mentang istrinya lebih galak dan punya segalanya, terus aku dibuang gitu aja?" ratap Rina pilu. Air matanya menetes merembes ke kain bantal. "Tahu gitu kan aku enggak usah menerima cinta palsumu dari awal..."
Krek.
Pintu kamar mendadak terbuka. Lampu kamar dinyalakan, memancarkan cahaya terang yang menyilaukan. Tina berdiri di ambang pintu, menatap putrinya dengan raut cemas.
"Rin, belum tidur?" tanya Ibu lembut.
Rina kaget setengah mati. Dengan cepat ia membalikkan badan membelakangi ibunya dan menyeka air mata di pipinya secara kasar. "Belum, Bu... ini baru mau tidur," sahut Rina, berusaha memadatkan suaranya agar tidak terdengar serak.
Tina mendekati ranjang, merasa ada yang tidak beres. Ia membungkuk dan melihat sisa titik air mata yang menggenang di pelupuk mata putrinya. "Kenapa kamu menangis, Rina? Ada masalah apa, Nak?"
"Ah, enggak kok! Ini... ini cuma karena aku ketiduran terus menguap aja," dusta Rina tanpa berani menatap mata ibunya.
Tina mendesah pelan. Ia duduk di tepi ranjang Rina. "Rin, jangan bohong sama Ibu. Kamu ada masalah, kan? Cerita sama Ibu, Nak. Dari kemarin Ibu perhatikan kamu terus-terusan melamun pegang ponsel."
Pertanyaan yang terus-menerus itu justru menyulut emosi Rina yang sudah rapuh. Rasa sedih karena dicampakkan Adrian bertumpuk dengan rasa jengkel atas sikap ibunya yang dinilainya terlalu ikut campur.
"Maaf ya, Bu! Tapi aku rasa aku enggak harus menceritakan semuanya ke Ibu!" cetus Rina dengan nada tinggi. Ia mendudukkan dirinya dengan napas memburu.
"Udah lah, Bu! Aku tuh udah besar, bukan anak kecil lagi yang apa-apa harus lapor! Bisa enggak sih Ibu berhenti kepo sama urusanku?!"
Mendengar bentakan mendadak dari putrinya, raut wajah Tina seketika berubah lesu. Matanya menyiratkan rasa terluka yang mendalam, namun ia mencoba menahannya.
Tina mengangguk pelan, menyadari dirinya telah membuat sang anak merasa terkekang.
"Ya sudah... kalau kamu enggak suka Ibu tanya-tanya, maafkan Ibu ya, Nak," ucap Tina lirih dengan suara bergetar. "Ibu cuma khawatir..."
Rina menghela napas panjang, penyesalan langsung merayapi dadanya. Ia tahu betul ia tidak pantas meluapkan amarah pada perhatian tulus ibunya. Namun, gengsi dan rasa sesak karena masalah pribadinya membuat Rina enggan meminta maaf saat itu juga.
"Ya sudah, aku mau tidur di luar saja," kata Rina dingin. Ia segera menarik selimut dan memeluk bantalnya, lalu melangkah lebar keluar dari kamar, meninggalkan ibunya yang menatapnya penuh rasa bersalah.
Di ruang tengah yang remang-remang, Rina merebahkan tubuhnya di atas sofa. Suasana hening apartemen kembali memaksa pikirannya melayang pada Adrian. Ia memeluk bantal erat-erat, menatap layar ponsel yang tak kunjung menyala.
"Andai kamu kirim aku pesan malam ini... pasti langsung aku balas, Om," bisiknya lirih pada kegelapan malam, meratapi cinta salah arah yang kini menghancurkan hatinya.
Tiring!
Tiba-tiba, nada dering pesan masuk memecah kesunyian! Layar ponsel Rina menyala terang. Jantung Rina melonjak hebat, matanya terbelalak lebar.
"Ah! Dia kirim pesan!" jerit Rina dalam hati.
Sebuah pesan masuk dari kontak bisnis yang baru saja ia simpan siang tadi.
Mas Darmawan (Hotel Perdana):
Malam, Rin. Apa kabar?
Rina terpaku membaca pesan tersebut. "Ih... kok dia malah nanya kabar sih?" terkekeh Rina pelan, senyum tipis mendadak terukir di bibirnya yang tadinya cemberut.