Blurb:
Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.
Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!
Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.
"Welcome to the real hell."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tes Psikologis Sang Bos
"Bersihkan meja ini sekarang juga sebelum bos besar itu masuk."
Riana bicara pelan pada dirinya sendiri sambil melempar segepok tisu basah ke atas meja kerjanya. Noda tinta hitam pekat dari pecahan pulpen tadi langsung luntur. Jari-jarinya bergerak cepat menghapus jejak emosi sesaat itu hingga mejanya kembali bersih mengkilap. Mata pembunuh haus darah itu kini sudah disembunyikan kembali rapat-rapat di balik lensa kacamata tebal yang terlihat sangat membosankan.
Tepat pukul satu siang zzz, suara denting lift VIP berbunyi nyaring di ujung lorong luar ruangan HRD.
Pintu lift terbuka lebar. Derapan langkah kaki berat dan berirama memenuhi lorong lantai lima belas. Enam orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam pekat berjalan keluar lebih dulu. Mereka mengamankan setiap sudut ruangan dengan tatapan awas. Salah satu pengawal bahkan langsung mengunci pintu kaca utama departemen HRD dari dalam agar tidak ada staf yang bisa keluar masuk sembarangan.
Di belakang barisan pengawal itu, muncullah sosok sang CEO Aegis Corp. Pria bernama Bramantyo itu bertubuh tinggi besar, mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan potongan sangat rapi dan mahal. Ada bekas luka memanjang di rahang kirinya, sisa pertarungan brutal di masa mudanya saat baru mulai membangun kerajaan mafia ini.
Bramantyo melangkah masuk ke ruang utama HRD. Semua staf yang sedang duduk di kubikel masing-masing langsung menahan napas seketika. Suasana ruangan mendadak berubah horor dan mencekam. Tidak ada satu pun staf yang berani menatap mata bos besar itu. Semuanya menunduk menatap layar komputer seolah sedang sibuk bekerja keras.
Pria itu berhenti tepat di depan meja kerja Riana.
Riana berdiri perlahan dari kursinya. Postur tubuhnya sengaja dibuat sedikit kaku layaknya pekerja kantoran standar. Dia menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat, tapi matanya tetap fokus pada dada sang CEO, tidak berani menantang pandangan secara langsung agar penyamarannya terlihat sempurna.
"Duduk," perintah Bramantyo dengan suara serak dan sangat berat.
Riana kembali duduk tanpa mengeluarkan suara bantahan. Bramantyo meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Riana, lalu mencondongkan wajahnya ke depan. Mata elang sang bos mafia itu menelusuri setiap inci wajah Riana dengan sangat lekat. Kacamata tebal, rambut diikat cepol sangat rapi, kemeja putih terkancing rapi sampai bagian leher atas. Benar-benar wujud staf yang kaku.
Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Bramantyo sejak dia melangkah masuk tadi.
"Kita pernah bertemu sebelumnya, Bu Manajer?" tanya Bramantyo tiba-tiba. Suaranya memelan, tapi sarat akan selidik yang sangat tajam.
Riana menahan napas sejenak, mengunci memori tentang ledakan mobil di jalan tol pesisir itu jauh di dasar otaknya agar tubuhnya tidak bereaksi. "Tidak pernah, Pak. Ini pertama kalinya kita bertatap muka secara langsung di ruangan ini."
Bramantyo menyipitkan matanya. "Cara kamu berdiri tadi... lalu ketenangan kamu saat melihat pengawalku bawa senjata api di balik jas mereka. Perempuan kantoran biasa pasti sudah gemetar ketakutan atau setidaknya kaget mundur ke belakang. Tapi denyut nadi di leher kamu sama sekali tidak berubah ritmenya. Sangat familier. Mirip anjing piaraan kesayanganku yang dulu."
Jantung Riana memang tidak berdebar lebih cepat. Mantan algojo pencabut nyawa ini sudah sangat terbiasa mengatur detak jantungnya sendiri di bawah tekanan ekstrem sejak belasan tahun lalu.
"Buku pedoman karyawan pasal tiga," Riana menunjuk buku biru di atas mejanya dengan ekspresi sangat tenang. "Karyawan dilarang menunjukkan reaksi panik berlebihan di lingkungan kerja demi menjaga stabilitas operasional. Lagipula, Bapak adalah pemimpin tertinggi di sini. Kehadiran Bapak di ruangan ini seharusnya membawa rasa aman bagi karyawan, bukan membawa rasa takut."
Bramantyo tertawa pelan. Tawanya terdengar sangat kering dan tidak memiliki kehangatan sama sekali.
"Jawaban teks book yang sangat cerdas," puji Bramantyo sarkastis. Pria itu menegakkan tubuhnya kembali. "Aku dengar kamu bikin kacau Divisi Logistik dan Divisi Keuangan hari ini. Gideon dan Frans sampai mau gila menghadapi aturan bodoh HRD yang kamu tegakkan."
"Hanya menjalankan prosedur persiapan audit dari negara, Pak."
"Bagus. Perusahaan ini memang butuh anjing penjaga baru yang tidak kenal takut demi kelancaran bursa saham," kata Bramantyo santai. Bos besar itu kemudian memutar kepalanya dan menjentikkan jarinya ke arah salah satu pengawal berjas hitam di sudut ruangan. "Bawa perempuan itu ke sini. Tunjukkan ke gue."
Pengawal itu mengangguk kaku, lalu berjalan cepat menuju sebuah kubikel di ujung ruangan. Dia menarik lengan dan menyeret paksa seorang staf HRD junior bernama Siska.
"Lepasin! Aku janji nggak akan mengulangi kesalahan itu lagi!" jerit Siska menangis tersedu-sedu sambil memegang map tipis di tangannya dengan kuat.
Pengawal itu sama sekali tidak peduli. Dia melempar tubuh Siska hingga gadis muda itu berlutut jatuh tepat di samping meja kerja Riana.
"Pak, tolong maafkan kesalahanku, Pak," isak Siska memohon ampun dengan seluruh tubuh gemetar hebat menahan takut. "Itu cuma salah ketik satu angka di jadwal piket penjagaan gudang utara semalam. Jadwalnya sudah aku perbaiki sekarang juga ke sistem komputer."
Bramantyo menunduk menatap Siska dengan tatapan jijik luar biasa.
"Salah ketik satu angka di jadwal piket penjagaan gudang senjata utara membuat dua truk barang selundupan kita nyaris tertangkap patroli polisi tadi malam," desis Bramantyo penuh amarah yang tertahan. "Satu kesalahan kecil di atas kertas bisa bikin seratus orang anak buah gue mati konyol di lapangan."
"Ampun, Pak. Tolong jangan bunuh aku," tangis Siska semakin histeris, air matanya menetes membasahi karpet lantai HRD.
Bramantyo sama sekali tidak punya belas kasihan. Dia mengayunkan tangan kanannya tinggi-tinggi ke udara. Dengan menggunakan tenaga penuh yang sangat brutal, pria raksasa itu menampar wajah Siska dengan punggung tangannya.
BAM!
Suara tamparan keras itu menggema memekakkan telinga di seluruh penjuru ruangan HRD. Siska menjerit kesakitan yang amat sangat. Tubuh kecilnya terpelanting keras menghantam pinggiran meja kerja Riana sebelum jatuh terkapar lemas di lantai. Darah segar langsung mengucur deras dari hidung dan ujung bibir gadis malang tersebut, menetes membasahi kerah kemejanya. Siska meringkuk ketakutan di lantai, tidak berani bersuara lagi selain isakan napas yang tertahan-tahan.
Bramantyo sengaja melakukan kekerasan fisik itu tepat di depan mata Riana. Percikan darah Siska bahkan nyaris mengenai ujung sepatu pantofel milik Riana.
Ini adalah tes psikologis murni dari sang mafia. CEO itu ingin melihat seberapa jauh ketenangan HRD baru ini bisa bertahan. Apakah topeng culun ini akan pecah? Apakah Riana akan menjerit, menangis, atau mencoba menolong bawahannya layaknya naluri manusia normal pada umumnya?
Bramantyo memutar kepalanya, menatap wajah Riana lekat-lekat.
"Kamu lihat itu, Bu Manajer?" tanya Bramantyo memecah keheningan ruangan. "Bawahan kamu baru saja aku hajar sampai nyaris pingsan. Kenapa kamu diam saja dari tadi? Kamu tidak mau protes ke aku pakai buku pedoman karyawan andalan kamu itu?"
Riana duduk sangat diam di kursinya. Mata di balik kacamata tebal itu sama sekali tidak berkedip. Napasnya teratur tenang. Wajahnya datar sekeras tembok beton. Dia tidak menjerit kaget, tidak melompat mundur ketakutan, dan yang paling gila, Riana sama sekali tidak melirik sedikitpun ke arah Siska yang sedang berdarah-darah di dekat kakinya. Tidak ada empati atau belas kasihan murni di wajahnya.
"Buku pedoman karyawan pasal tujuh belas mengatur soal sanksi kedisiplinan," jawab Riana dengan suara datar tanpa getaran emosi. "Bawahan saya melakukan kelalaian operasional yang sangat fatal. Bapak sebagai pemimpin perusahaan punya hak prerogatif penuh untuk memberikan sanksi hukuman langsung di tempat. Saya tidak punya wewenang untuk mencampuri urusan eksekusi dari level eksekutif tertinggi."
Bramantyo menaikkan sebelah alisnya, benar-benar takjub melihat respon lisan yang sangat tidak manusiawi dan luar biasa kaku itu.
Riana menggerakkan tangan kanannya perlahan. Dia menarik dua lembar tisu bersih dari dalam kotak plastik di atas mejanya. Dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang, Riana menyodorkan tisu putih itu ke arah Bramantyo.
"Tangan Bapak kotor," ucap Riana dengan nada sedingin es balok, matanya menatap lurus ke arah buku-buku jari sang CEO yang terkena sedikit bercak darah segar milik Siska. "Ini pelanggaran standar kebersihan dan kenyamanan fasilitas kantor. Tolong dilap dulu, Pak."
Bramantyo terdiam membisu selama beberapa detik. Matanya menatap tajam tisu putih di tangan Riana, lalu perlahan naik menatap wajah tanpa emosi perempuan berkacamata culun itu.
Bibir sang bos mafia itu perlahan melengkung ke atas. Senyum licik dan sangat mematikan terbentuk sempurna di wajahnya. Dia mengambil tisu itu dari tangan Riana perlahan-lahan.
"Kamu benar-benar gila, Riana," bisik Bramantyo pelan sambil mengelap tangannya yang terkena noda merah. "Perusahaan ini sangat beruntung punya monster birokrasi berdarah dingin seperti kamu."
semoga aj mereka gx ketahuan ,,
lanjuut kak
lanjut lagi thor 👍
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪