Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: PINTU ITU AKHIRNYA DIBUKA
Jam 5 pagi, Siska udah bangun. Mata sembab, punggung sakit karena tidur di karpet tipis semalaman. Tapi hari ini beda. Ada api kecil di dadanya yang semalam belum ada. Di luar masih gelap, suara ayam tetangga baru mulai sahut-sahutan. Raka masih ngorok di kamar, bau alkoholnya masih nyisa di udara ruang tamu. Siska duduk, ngeliatin HP butut di tangannya. HP itu cuma bisa nelpon dan SMS. Layarnya retak, tapi nomor Bu RT 0812-3456-7890 masih jelas. Jempol Siska gemeter di atas tombol hijau.
Fadil batuk dari kamar. Batuknya kering. Siska langsung masuk, ngecek dahi Fadil. Masih anget, tapi udah gak sepanas semalam. Fadil umur 3 tahun besok. Matanya kebuka dikit, ngeliat Siska, terus senyum. "Mama..." suaranya kecil. Siska nangis. Tapi kali ini nangisnya beda. Bukan nangis takut, tapi nangis janji. Dia bisik ke telinga Fadil: "Besok kita ulang tahun ya, Nak. Mama kasih kado. Kado Mama bebas dari nangis." Fadil gak ngerti, tapi dia meluk leher Siska. Pelukan itu kayak ngisi bensin ke tekad Siska yang mau habis.
Jam 6 pagi, Raka keluar kamar dengan muka kusut. Celana pendek, kaos oblong bolong di ketiak. Dia liat Siska lagi nyiapin air hangat buat mandiin Fadil. Raka diem. Biasanya dia langsung nanya sarapan mana. Tapi pagi ini dia diem, mungkin masih inget Siska dorong tangannya semalam. Siska juga diem. Dia gak nunduk kayak biasanya. Dia natap Raka sebentar, datar, terus lanjut nyendok air ke ember kecil. Raka batuk, kayak mau ngomong, tapi gak jadi. Dia malah ambil rokok di atas kulkas, terus keluar rumah banting pintu. Prang. Tapi kali ini Siska gak kaget. Jantungnya anteng.
Begitu suara motor Raka hilang di ujung gang, Siska langsung kunci pintu depan. Tangannya masih gemeter, tapi dia pencet nomor Bu RT. Tut... tut... tut... Jantung Siska kayak lomba lari. "Halo?" suara Bu RT, serak tapi hangat. Siska langsung sesenggukan. "Bu... ini Siska... Bu... saya mau..." Bu RT langsung nyaut, "Ya Allah, Nak Siska. Tenang... tenang... Ambil napas dulu. Ibu denger. Kamu aman sekarang?" Siska angguk walau Bu RT gak liat. "A-aman Bu... Raka udah berangkat... Bu, saya mau keluar Bu... saya capek Bu..." Bu RT diem sebentar, terus suaranya lebih tegas: "Ibu ke sana 10 menit lagi. Kamu sama Fadil siap-siap. Bawa baju 2 helai aja. Yang penting surat-surat. KTP, KK, buku nikah ada?" Siska panik, "Ada Bu... di bawah kasur... tapi buku nikah..." "Gak apa-apa. KTP aja dulu. Cepet Nak, sebelum dia balik."
Siska kayak kesetrum. Dia lari ke kamar, nyelip di kolong kasur. Debu tebal. Tangannya narik tas kresek item. Isinya KTP, KK, kartu BPJS Fadil, sama dompet kosong isinya cuma foto ibunya. Buku nikah gak ada. Raka yang nyimpen. Siska gigit bibir. Gak apa-apa. Bu RT bilang KTP cukup. Dia masukin baju Fadil 2 stel, daster dia 1, sama HP butut ke tas. Tasnya tas belanjaan Alfamart yang udah mau sobek. Fadil diajak mandi kilat. Airnya gak sempet anget bener. Fadil diem aja, mungkin ngerasa Mamanya lagi serius.
Ketukan pintu jam 06.23. Siska hampir jantungan. Dia ngintip dari gorden. Bu RT. Sendirian. Pake daster sama kerudung instan, muka cemas. Siska bukain pintu, langsung dipeluk Bu RT. Pelukannya anget, kayak pelukan ibu. "Udah Nak... udah... Kamu hebat udah nelpon Ibu." Bu RT ngeliat ke dalam, natap pecahan piring semalam yang belum disapu. Matanya merah. "Dia gila ya. Tega bener." Bu RT gandeng tangan Siska, tangan satunya gendong Fadil. "Ayo. Mobil Pak RT di depan gang. Kita ke shelter dulu. Aman di sana."
Di mobil, Fadil tidur di pangkuan Siska. Pak RT nyetir diem, cuma sekali nengok lewat spion, senyum tipis. Bu RT ngusap punggung Siska. "Mulai hari ini kamu gak sendiri, Nak Siska. Banyak yang kayak kamu. Dan banyak yang berhasil keluar. Kamu kuat." Siska cuma bisa angguk. Air matanya abis. Di luar jendela, jalanan becek habis hujan semalam. Langit udah terang. Buat pertama kalinya setelah 3 tahun, Siska ngeliat langit pagi dan gak ngerasa takut.
Shelter itu rumah cat putih, pagar tinggi, ada ibu-ibu lain sama anak-anaknya. Ada yang lagi nyuapin bubur, ada yang jemur baju. Semuanya senyum ke Siska. Seorang mbak relawan nyamperin, namanya Mbak Dina. "Siska ya? Ayo, ini kamar kamu sama Fadil. Kita urus semuanya pelan-pelan. Makan dulu ya?" Di kamar, ada kasur busa, kipas angin, sama jendela yang bisa dibuka. Siska rebahin Fadil yang masih tidur. Dia duduk di pinggir kasur, ngeliatin tangannya sendiri. Tangan yang semalam dorong Raka. Tangan yang sama sekarang megang kunci pintu baru.
Siang itu, Mbak Dina dateng bawa bubur sama teh anget. "Gimana? Udah tenang?" Siska angguk. "Bu RT cerita, Raka dateng ke rumah Bu RT jam 9. Marah-marah nyari kamu. Tapi Pak RT udah lapor ke polisi sama LBH. Dia gak bisa macem-macem." Siska kaget, "Polisi Bu?" Mbak Dina senyum, "Iya. KDRT itu pidana, Siska. Kamu korban. Kamu berhak dilindungi. Nanti kita dampingin bikin laporan. Tapi sekarang fokus istirahat dulu. Sama Fadil." Siska remas ujung dasternya. Polisi. Kata itu dulu nakutin banget. Sekarang kok malah ngasih lega.
Malam pertama di shelter, Siska gak bisa tidur. Bukan karena takut, tapi karena sepi. Gak ada suara Raka ngorok. Gak ada bau alkohol. Cuma suara jangkrik sama kipas angin. Fadil pules di sebelahnya. Siska ambil HP butut, dia buka SMS. Gak ada pesan masuk. Dia ketik SMS ke nomor yang udah gak aktif, nomor ibunya: "Bu, Siska berani hari ini. Siska bawa Fadil pergi. Ibu doain ya." Dia pencet kirim, walau tau gak bakal terkirim. Tapi hatinya plong.
Besoknya, Siska didaftarin konseling. Psikolognya ibu-ibu, lembut banget. Siska cerita semua. Dari tamparan pertama, sampai piring semalam. Dari tuduhan selingkuh, sampai Fadil dibilang bukan anak Raka. Psikolog itu gak nge-judge. Cuma bilang, "Kamu penyintas, Siska. Bukan korban selamanya. Luka kamu valid. Tapi kamu juga punya hak bahagia." Kata "penyintas" itu baru denger Siska. Kayaknya bagus. Kayak pahlawan.
Tiga hari di shelter, Siska mulai bantu-bantu di dapur umum. Ngupas bawang, nyuci piring. Tangannya udah gak gemeter. Ibu-ibu lain cerita, ada yang 5 tahun, ada yang 10 tahun baru berani keluar. Siska jadi yang paling muda. "Kamu hebat, Sis. Masih muda, anak masih kecil, tapi udah sadar," kata Bu Yati, yang anaknya udah SMP. Siska senyum. Dia ngerasa punya keluarga baru. Keluarga yang gak mukul.
Hari kelima, Mbak Dina ngajak Siska ke kantor polisi. Bikin BAP. Siska gemeter lagi pas liat gedung polisinya. Tapi Bu RT gandeng tangannya. "Ibu di sini." Di dalem, polisinya bapak-bapak, baik. Nanya pelan-pelan. Siska cerita sambil nangis, tapi kali ini dia selesaikan ceritanya. Gak ada yang motong. Gak ada yang nuduh bohong. Pas selesai, polisinya bilang, "Kami akan panggil suami Ibu. Ibu tenang aja di shelter. Ada perlindungan." Keluar dari kantor polisi, Siska liat langit. Biru banget. Dia baru sadar udah lama gak liat langit siang-siang.
Malam minggu, Fadil ulang tahun ke-3. Anak-anak shelter nyanyi bareng. Mbak Dina beliin kue tart kecil dari uang kas. Ada lilin angka 3. Fadil tiup lilinnya sambil duduk di pangkuan Siska. Semua tepuk tangan. Bu RT bisik, "Ini ulang tahun Fadil yang pertama, Nak. Ulang tahun kalian berdua yang pertama jadi manusia bebas." Siska nangis lagi. Tapi Fadil ketawa, belepotan krim. Siska jilat krim di pipi Fadil. Manis. Hidup ternyata bisa manis.
Satu bulan lewat. Raka gak pernah bisa masuk shelter. Dia didampingi pengacara dari LBH, Siska gugat cerai. Prosesnya panjang, tapi Siska gak mundur. Dia ikut pelatihan jahit di shelter. Ternyata tangannya cekatan. Mbak Dina bilang, "Nanti kalau udah keluar, kamu bisa buka jasa permak, Sis. Lumayan buat jajan Fadil." Siska angguk. Dia ngebayangin punya mesin jahit sendiri. Ngebayangin Fadil sekolah TK, pake seragam yang dia jahit.
Di akhir bulan, Siska berdiri di depan jendela kamarnya di shelter. Fadil lagi main mobil-mobilan di lantai. Siska buka HP butut, ngetik lagi SMS ke nomor ibunya: "Bu, Siska udah gak di neraka lagi. Siska janji jagain Fadil. Ibu tenang ya di sana." Dia tarik napas panjang. Udara sore masuk ke paru-parunya. Gak ada bau gosong. Gak ada bau alkohol. Cuma bau sabun colek dari jemuran tetangga. Bau hidup baru.
Pintu itu akhirnya dibuka sama Siska sendiri. Gak ada yang bukain. Dia yang muter kuncinya. Dan di balik pintu itu, bukan Raka yang teriak-teriak. Tapi Fadil yang ketawa, Bu RT yang nyiapin teh, dan Mbak Dina yang nawarin kursus jahit. Siska tau jalannya masih panjang. Tapi langkah pertama, yang paling berat, udah dia lewatin. Malam ini, Siska tidur nyenyak. Besok, dia bangun bukan sebagai istri yang takut. Tapi sebagai ibu yang berani. Sebagai Siska yang baru.