NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Ruang Ajaib Di Istana: Ratu Penguasa

Status: tamat
Genre:Ruang Ajaib / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:37.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.

Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.

Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.

Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.

Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 30.

Ketua Mahkamah Kerajaan berdiri, pria tua itu membuka gulungan hukum dan berseru lantang.

“Atas titah Yang Mulia Raja Alexander Aurelius, sidang terbuka atas tuduhan makar, pengkhianatan terhadap mahkota, percobaan pembunuhan, penyalahgunaan kekuasaan, dan konspirasi pengambilalihan takhta resmi dimulai!”

Dentang tongkat sidang menggema, suara itu membuat Vanessa menelan ludah. Ia berusaha mempertahankan ekspresi tenang, tetapi jari-jarinya gemetar.

Julian menunduk, wajahnya pucat.

William terlihat kacau, matanya sembab akibat tak tidur semalaman.

Sementara Helena, tetap duduk tegak. Kepalanya terangkat tinggi seolah ia masih seorang penguasa. Tatapannya lurus ke depan, tak sedikit pun menunjukkan penyesalan.

Alexander memandang mereka satu per satu, wajahnya dingin. “Mulai!”

Kasim Bernard maju membawa setumpuk dokumen. Sebagai kepala administrasi kerajaan, dialah yang bertugas membacakan seluruh bukti.

“Bukti pertama,” ucapnya tegas.

Ia mengangkat surat bersiegel merah.

“Surat perintah rahasia dari Ibu Suri Helena kepada Kepala Pasukan Timur untuk menunda pengiriman tabib kerajaan pada malam insiden kecelakaan Yang Mulia.”

Ruangan langsung bergemuruh, bisik-bisik panik terdengar di antara para bangsawan.

Helena mengepalkan tangan. “Itu palsu!”

Bernard tak bereaksi, Ia melanjutkan.

“Bukti kedua. Catatan transaksi emas kepada enam bangsawan yang memberikan suara untuk pencabutan kewenangan Ratu.”

Wajah beberapa bangsawan di deretan kiri langsung pucat, salah satu dari mereka bahkan sampai berkeringat dingin.

“Bukti ketiga...”

Kasim Bernard kemudian membacakan satu persatu kejahatan mereka semua.

Vanessa membelalak.

“Tidak! Itu rekayasa!”

Evelyn akhirnya berdiri, gaunnya berdesir pelan saat ia melangkah turun dari singgasana. Setiap langkahnya begitu tenang, ia berhenti tepat di depan Vanessa.

“Masih ingin menyangkal?”

Vanessa menggertakkan gigi. “Aku dijebak!”

Evelyn tersenyum tipis, ia menunduk sedikit agar tatapannya sejajar. “Bukankah itu kalimat yang dulu kau pakai saat menjebakku?”

Wajah Vanessa memucat.

Evelyn berdiri tegak. “Bedanya, saat itu aku tak punya bukti untuk melawanmu. Sekarang... aku punya semuanya.”

Vanessa terdiam, kali ini ia tak mampu membalas.

“William Aurelius.” Alexander bangkit dari singgasananya, suaranya menggema memenuhi aula.

Alexander melangkah turun. “Kenapa?”

Bibir William bergetar, ia tertawa pahit. Ia menatap Alexander dengan mata memerah. “Sejak kecil aku hidup di bawah bayang-bayangmu. Aku selalu dibandingkan, selalu dianggap cadangan. Selalu dipandang sebagai anak ibu yang haus kekuasaan! Aku hanya ingin diakui!”

Alexander mengatupkan rahangnya. “Pengakuan tidak diraih dengan pengkhianatan.”

William menunduk, bahu pria muda itu bergetar. “Aku salah...”

Namun pengakuannya membuat seluruh aula membeku, karena pengakuan William berarti konspirasi itu nyata.

Ketua Mahkamah menoleh pada Helena.

“Ibu Suri Helena, apakah Anda mengakui keterlibatan Anda?”

Helena tersenyum tipis, tatapannya tajam seperti bilah pisau. “Aku tidak menyesal!”

Suara itu dingin, ia menatap langsung pada Alexander. “Sejak ayahmu menyerahkan mahkota padamu, aku tahu kerajaan ini sedang menuju kehancuran! Kaulah kesalahan terbesar kerajaan!”

“Dan karena itu, kau mencoba berulang kali membunuh Raja?” Evelyn menatap wanita itu tanpa emosi.

Helena menoleh padanya, tatapan penuh kebencian. “Kalau bukan karena kau, semuanya pasti berhasil!”

Ruangan kembali gaduh.

Namun Evelyn justru tersenyum. “Terima kasih, karena akhirnya kau mengakuinya sendiri.”

Wajah Helena menegang. Ia baru sadar, ia baru saja menjatuhkan dirinya sendiri.

Ketua Mahkamah menghantam tongkat sidang. “Pengakuan tercatat!”

Helena mengepalkan rahangnya. Dan untuk pertama kalinya, ekspresi tenangnya retak.

Sidang berlangsung hingga sore.

Saksi demi saksi maju.

Pelayan.

Prajurit.

Tabib kerajaan.

Semua kesaksian mengarah pada satu kesimpulan, konspirasi itu nyata. Saat matahari mulai tenggelam, Ketua Mahkamah berdiri.

“Berdasarkan seluruh bukti dan kesaksian, Mahkamah memutuskan—”

Semua menahan napas.

“Ibu Suri Helena dijatuhi hukuman pengasingan seumur hidup di Menara Utara.”

Helena memejamkan mata, dia tak bereaksi.

“Pangeran William dicabut hak pewarisnya dan diasingkan ke wilayah perbatasan selatan.”

William hanya menunduk.

“Selir Sophia dicabut gelar bangsawannya, diturunkan menjadi rakyat biasa, dan diusir dari kerajaan.”

Sophia yang sejak tadi diam akhirnya menangis.

“Para bangsawan yang terlibat dalam pemberontakan juga akan dicabut gelarnya, beserta seluruh keluarga mereka. Mulai hari ini, mereka wajib mengabdi untuk melayani rakyat.”

“Duke Lucien Arden, Bangsawan muda berpengaruh dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.”

Julian langsung berteriak marah, tapi pasukan menyeretnya paksa.

“Selir Vanessa—”

Ketua Mahkamah berhenti sesaat.

Wanita itu menatap lurus, masih berusaha mempertahankan harga dirinya.

“Dihukum pembuangan permanen dari kerajaan Velmora.”

Wajah Vanessa seketika runtuh. “Tidak…”

Ia menatap Alexander, lalu Evelyn.

“Kalian tak bisa—”

Evelyn melangkah mendekat, tatapannya begitu tenang hingga terasa lebih menakutkan. “Kau pernah berkata... ingin melihatku kehilangan segalanya. Sekarang lihatlah dirimu sendiri.”

Vanessa membeku.

Evelyn kembali berbisik. “Sayangnya, itu hanya hukuman formal dari Raja. Sementara hukuman dariku... kau dan Julian akan segera mati di tanganku. Anggap saja ini balasan atas semua kejahatan kalian padaku di dunia modern.”

Mata Vanessa bergetar. Saat itu, ia sadar dirinya benar-benar kalah.

Dan saat para pengawal menyeret semua terdakwa keluar aula, teriakan histeris Vanessa menggema panjang.

Namun tak seorang pun peduli. Karena hari itu, keadilan akhirnya ditegakkan.

Saat aula mulai kosong, Alexander menoleh pada Evelyn. Tatapan dinginnya melunak, ia meraih tangan sang Ratu dan menggenggamnya erat.

“Ratu-ku, semaunya telah selesai.”

...*****...

Setelah hari pengadilan itu, kerajaan Velmora seakan terlahir kembali.

Musim dingin perlahan berlalu, digantikan musim semi yang hangat. Salju yang menutupi taman-taman istana mencair, memberi jalan pada bunga-bunga putih yang bermekaran di seluruh halaman kerajaan. Seperti pertanda bahwa masa kelam telah berakhir.

Sesuai keputusan Mahkamah, para pengkhianat menerima hukuman mereka.

Helena diasingkan ke Menara Utara, menjalani sisa hidupnya dalam kesendirian. William dikirim ke perbatasan selatan, menjalani hidup sederhana sebagai pengawas wilayah tanpa gelar maupun hak istimewa. Sophia menghilang dari kehidupan bangsawan.

Julian dibawa dari penjara. Dia dan Vanessa dibuang dari kerajaan, keduanya tak pernah benar-benar mencapai perbatasan. Di tengah perjalanan menuju pengasingan, kereta mereka disergap sekelompok bandit bertopeng.

Tak ada saksi yang selamat.

Tak ada yang tahu siapa dalangnya.

Namun malam itu, saat laporan kematian mereka tiba di meja kerja kerajaan, Evelyn hanya menyesap teh hangatnya tanpa ekspresi.

Alexander yang duduk di hadapannya menatap sang istri cukup lama.

“Kau tahu sesuatu?”

Evelyn mengangkat alis. “Bukti?”

Alexander tersenyum tipis, ia tak bertanya lagi. Karena ia tahu, beberapa kejahatan memang tak cukup dibalas dengan hukum formal. Dan ia... membiarkan istrinya menyelesaikan masa lalunya dengan caranya sendiri.

Setelah semua pengkhianat tumbang, Alexander dan Evelyn mulai membangun kerajaan Velmora dari awal.

Atas usul Evelyn, pajak rakyat diturunkan drastis. Ladang-ladang yang sebelumnya dikuasai bangsawan korup dibagikan kepada petani. Sekolah kerajaan dibuka di berbagai wilayah, mengajarkan membaca, berhitung, hingga ilmu teknik sederhana.

Rumah sakit umum pertama dibangun, sistem saluran air modern mulai diterapkan. Jalan-jalan diperluas, pusat perdagangan dibangun.

Dan dengan pengetahuan yang ia bawa dari dunia modern, Evelyn memperkenalkan banyak hal baru—mulai dari sistem administrasi yang efisien, metode pertanian rotasi, hingga rancangan teknologi sederhana hasil adaptasi dari Ruang Ajaib.

Kerajaan Velmora berkembang begitu cepat. Dalam lima tahun, kerajaan itu menjelma menjadi negeri paling makmur di benua. Para pedagang dari berbagai kerajaan datang membawa emas, rakyat hidup berkecukupan.

Dan nama Raja Alexander serta Ratu Evelyn dikenang sebagai pemimpin terbesar dalam sejarah.

Namun di tengah semua kemajuan itu, suatu malam saat Evelyn kembali ingin membuka Ruang Ajaib... pintu kristal itu tak lagi ada.

Tak ada cahaya.

Tak ada sihir.

Tak ada suara mekanis yang menyambutnya.

Ruang Ajaib telah lenyap.

Ia berdiri diam cukup lama, tempat itu telah memberinya kesempatan kedua. Membawanya dari dunia modern menuju kehidupan ini. Dan kini, saat misinya selesai... ruang itu menutup selamanya.

Evelyn menceritakannya pada Alexander.

“Menyesal, karena tak bisa kembali ke duniamu?” tanya pria itu.

Evelyn menoleh, untuk sesaat ia terdiam. Ia mengingat kehidupannya di dunia modern. Jalanan penuh lampu, kesibukan kota. Namun kini, semua kenangan itu terasa begitu jauh.

Ia menatap pria di hadapannya, pria yang mencintainya tanpa syarat. Yang mempercayainya, yang berdiri di sisinya sebagai pasangan sejajar.

Evelyn tersenyum pelan, ia menggenggam tangan Alexander. “Tidak, karena rumahku ada di sini.”

Tatapan Alexander melembut, ia menarik Evelyn ke dalam pelukannya.

Dan malam itu, di bawah cahaya bulan yang masuk dari jendela paviliun, Evelyn akhirnya benar-benar melepaskan masa lalunya.

Atas titah Raja, sistem selir dihapuskan sepenuhnya dari kerajaan Velmora. Alexander menetapkan hukum baru—seorang Raja hanya boleh memiliki satu wanita. Keputusan itu sempat mengguncang kalangan bangsawan, akan tetapi tak seorang pun berani menentangnya. Karena seluruh rakyat tahu, Raja mereka membuat hukum itu demi satu alasan sederhana... ia hanya mencintai satu wanita—Ratu Evelyn.

Cinta mereka menjadi legenda.

Dan dua tahun kemudian, kebahagiaan itu semakin sempurna. Pada pagi musim semi yang cerah, tangisan bayi menggema di istana. Seorang putri lahir, mereka menamainya Aurelia.

Alexander bahkan menolak rapat kerajaan demi menemani Evelyn melahirkan, Ia menggendong putri kecil mereka dengan mata berkaca-kaca.

“Dia mirip kau,” gumamnya.

Evelyn tertawa lemah dari atas ranjang. “Syukurlah bukan mirip wajahmu saat marah.”

Alexander terkekeh, Ia mencium kening istrinya penuh kasih. “Aku mencintaimu, Evelyn Carter.”

Bukan Evelyn Lancaster, sang ratu yang sebenarnya—melainkan Evelyn Carter dari dunia modern.

Evelyn menatap pria itu, lalu menoleh pada bayi mungil di pelukannya. Setelah hidup dalam dua kehidupannya, ia merasa utuh.

Dicintai.

Dihargai.

Dan benar-benar bahagia.

Bertahun-tahun kemudian, saat rakyat mengenang masa keemasan kerajaan Velmora, mereka selalu menyebut dua nama dalam satu tarikan napas.

Raja Alexander.

Ratu Evelyn.

Pemimpin yang membawa kejayaan.

Pasangan yang saling mencintai hingga akhir hayat.

Dan bagi Evelyn, perempuan yang dulu mati karena pengkhianatan di dunia modern, kehidupan keduanya bukanlah sekadar kesempatan kedua. Melainkan akhir bahagia yang selama ini tak pernah ia bayangkan.

TAMAT.

*

*

*

Terima kasih semuanya 🤗

Maaf kalau masih ada beberapa misteri yang belum terungkap sepenuhnya. Masih ada hal-hal yang belum terbuka, tapi inti utama dari cerita ini sudah selesai ya 🙏🏻😊

1
Atik Kiswati
mksh buat ceritanya..🙏🙏
irena
bagus banget ceritanya thor.. sat set.. ga panjang
Rangiku Gin
raja dan ratu sudah keluar untuk bermain catur 🔥😂
Liana Simon
cerita singkat yang menarik
Murni Dewita
👣
Miss Typo
happy ending 👏👍
walaupun telat bacanya 🙈
terimakasih thor, semoga sukses dgn karya-karyanya di novel 🙏💪
Miss Typo
mudah²an Evelyn dan yg lainnya berhasil membongkar kebusukan musuh

maaf thor baru bisa baca 🙏
Nyonya Gunawan
Yaaaa tau" ceritanya dah tamat az..
Sukses slalu y thor..
Rita
aaahhhh trmksh cerita yg g bertele2 suka sukses sehat2 buat othornya 🥰🥰🥰
Rita
😂😂😂😂😂
Rita
hhhmmmm eksekusi yg sebenarnya
Rita
Bener klo msh hidup g ada kapoknya
Rita
akhirnya terungkap juga
Rita
hhmmm berarti g sehebat itu ternyata msh bs dikibulin
Rita
kmu sndri yg ngmg
Rita
deg2an soalnya pada licik musuh2nya harus pinter2 siasatin
Wenty Lucia Wardhani
author cerita keren banget ,semangat ya Thor 💪🥰..aku padamu 🥰🥰🥰
Wahyuningsih
aaaah akhirnya tamat jga..... dtnggu crita brunya thor hrs lbih bagys dri yg ini 💪💪💪 dlm berkarya jgn ampe kendor 🤣🤣 kolor kli y thor 😁😁
Rere🌠: Ngakak kali aku bacanya wkwk 🤣
total 1 replies
Wahyuningsih
mampus
Tiara Bella
iya makasih Thor ceritanya sangat menghibur sekali.../Kiss//Kiss//Kiss//Kiss/
Tiara Bella: iya sama²/Kiss/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!