Bagaimana jika "Monster" yang paling ditakuti sebenarnya adalah pelindung kuno yang terjebak dalam kutukan fisik, dan satu-satunya orang yang bisa membebaskannya adalah seorang manusia yang membenci segala hal mistis?
Lara adalah seorang kurir logistik yang hidup dengan logika keras di kota pelabuhan yang lembap. Baginya, legenda tentang "Penunggu Sungai" hanyalah dongeng untuk menakuti turis. Namun, segalanya berubah saat ia menyelamatkan seorang pria misterius yang terluka di gudang tua.
Pria itu, kelihatannya manusia, namun memiliki suhu tubuh yang membeku dan pupil mata yang vertikal. Ia adalah **Kala**, entitas Naga Rawa terakhir yang kehilangan wujud manusianya secara permanen akibat pengkhianatan masa lalu. Hubungan mereka dimulai sebagai transaksi bertahan hidup, namun Lara segera menyadari bahwa mencintai monster berarti harus siap menjadi musuh bagi dunia manusia.
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 - Derek Kontainer Dua Puluh Ton
Kedua tanganku gemetar hebat saat mengangkat tabung pemadam api berwarna merah menyala itu dari dudukannya. Besinya dingin, berat, dan terasa kaku di telapak tanganku yang mulai basah oleh keringat dingin. Di balik dinding kaca tebal yang memisahkannya dariku, Kala masih berlutut dengan kondisi yang teramat mengenaskan. Pundaknya melengkung ke bawah, menahan dua tombak perak yang terus menyemburkan cairan beracun ke dalam urat nadinya.
Aku tidak bisa hanya berdiri di sini dan menontonnya mati. Aku tidak peduli dengan rasa perih yang membakar tato di pergelangan tangan kiriku akibat siraman nitrat perak tadi. Kemarahan murni mengalir ke seluruh kepalaku, mengusir rasa takut yang sempat melumpuhkan kakiku sejak subuh.
"Kala, bertahanlah!" teriakku, meski tahu suaraku tidak akan mampu menembus ruang kedap udara ini.
Aku mengambil langkah mundur, memantapkan posisi kaki di atas lantai, lalu mengayunkan tabung besi berat itu sekuat tenaga ke arah sudut bawah dinding kaca.
Prangg!
Hantaman pertama hanya menghasilkan bunyi berdentang yang memekakkan telinga dan menyisakan goresan putih kecil di permukaan kaca. Tanganku terhentak kencang hingga sikuku terasa ngilu. Kulit telapak tanganku memerah, namun aku menolak untuk menyerah. Aku tahu struktur kaca pengaman seperti ini; jika kamu ingin menghancurkannya, kamu harus mengincar sudut terbawah, bukan bagian tengahnya.
"Satu kali lagi!" bisikku pada diri sendiri, mengumpulkan seluruh sisa tenaga yang tersisa di otot lenganku.
Aku berteriak keras, mengayunkan kembali tabung merah itu dengan putaran yang lebih lebar.
Brakk! Pranggg!
Retakan jaring laba-laba langsung menjalar cepat dari titik hantaman, merembet ke atas sebelum akhirnya seluruh dinding kaca tebal itu runtuh, hancur berantakan menjadi ribuan serpihan kristal kecil yang berserakan di lantai laboratorium. Udara pengap yang berbau amis belerang dan besi hangus langsung menyergap penciumanku.
Aku melompat keluar melewati bingkai jendela yang hancur. Sepatu botku menggilas pecahan kaca dengan bunyi gemertak yang bising.
"Hei! Tahan gadis itu!" Raungan panik Roy memecah keheningan laboratorium. Dia melompat maju dari samping meja admin, mencoba menyergap jaket logistikku yang compang-camping.
Sebelum tangannya yang kasar sempat menyentuh kerah bajuku, aku menarik tuas pengaman tabung pemadam di genggamanku, mengarahkan moncong selangnya tepat ke depan wajah culasnya, dan menekan tuasnya dalam-dalam.
Sreeeeetttt!
Gas putih pekat menyembur deras, memenuhi udara di antara kami. Roy terbatuk-batuk hebat, terhuyung mundur sambil memegangi matanya yang perih akibat paparan gas kimia penjinak api. Dua penjaga berbadan besar di dekat pintu lift juga ikut kebingungan, terhalang oleh pandangan yang mendadak memutih total.
Aku tidak membuang waktu. Aku membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menuju sudut belakang gudang bawah tanah. Mataku terarah lurus pada deretan anak tangga besi vertikal yang menempel pada tiang penyangga utama gedung. Tangga itu mengarah lurus ke langit-langit atap, tempat di mana sebuah kabin kontrol derek kargo menggantung kaku di atas jalur rel baja.
Sebagai kurir yang sudah bertahun-tahun keluar masuk Depo Sortir Pusat, aku tahu betul bagaimana struktur bangunan ini. Dermaga bawah tanah ini dulunya adalah gudang penyimpanan kontainer sitaan, dan sistem bongkar muatnya masih menggunakan gantry crane manual berukuran raksasa.
"Tembak dia! Jangan biarkan dia naik!" Suara parau Tuan Baron terdengar melengking tinggi melalui pengeras suara, bergetar bersama kemarahan yang meluap-luap.
Dor! Dor!
Dua dentuman senjata api menggema, memantul di dinding beton ruangan. Peluru timah menghantam tiang besi tepat di samping kepalaku, menyisakan percikan api dan bau mesiu yang menyengat. Aku menghiraukan bunyi itu. Aku mencengkeram besi tangga dengan jemariku yang terluka, memanjat naik selangkah demi selangkah dengan kecepatan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Rasa perih di lenganku berubah menjadi bahan bakar terkuat untuk terus bergerak ke atas.
Lima meter. Sepuluh meter.
Aku akhirnya mencapai platform atas dan melempar tubuhku masuk ke dalam kabin kontrol derek kargo. Ruangan sempit berukuran satu kali satu meter itu berbau oli pekat dan debu tua. Di depanku, berderet tiga tuas manual berbahan besi kasar yang sudah berkarat, serta sebuah tombol merah besar di sudut panel instrumen.
Dari balik jendela kaca kabin yang berdebu, aku melongokkan kepala ke bawah.
---
Di tengah lantai laboratorium bawah tanah, tubuh besar Kala tampak semakin menyusut. Efek dari cairan Silver Tox telah merontokkan hampir seluruh sisik perak di punggungnya, menyisakan kulit punggung yang melepuh keabu-abuan. Dia bernapas dengan sangat payah, megap-megap seperti makhluk yang sedang kehabisan sisa udara terakhirnya.
Tuan Baron mendorong kursi roda elektroniknya mendekat, sementara Roy yang wajahnya masih memerah akibat gas pemadam, mulai mengarahkan moncong senapan otomatisnya ke arah kepala Kala. Mereka bersiap untuk melepaskan tembakan eksekusi demi mengambil inti energi di dada cowok itu.
Tepat di samping kursi roda Tuan Baron, sebuah mobil generator besar berwarna kuning sedang menderu kencang. Mesin itulah yang memasok daya listrik bertegangan tinggi untuk mengaktifkan meriam pneumatik dan mengunci kabel baja di pundak Kala.
---
"Kalian tidak akan menyentuhnya lagi," desisku dengan gigi yang mengatup rapat.
Aku menduduki kursi besi kabin yang bergoyang pelan. Kedua tanganku langsung menyambar dua tuas manual di sisi kiri. Ingatanku berputar cepat pada masa-masa saat aku sering membantu operator pelabuhan menyusun boks kontainer di dermaga utara saat shift malam.
Aku mendorong tuas pertama ke depan.
Kreeeeekkkk!
Bunyi derit roda gigi besi yang tua dan kering terdengar memekakkan telinga. Lantai kabin kontrol di bawah kakiku bergetar hebat saat cakar derek raksasa di luar mulai bergerak linear di atas rel baja langit-langit. Aku menggeser tuas kedua, menurunkan tali baja besar ke arah tumpukan kargo yang berada di jalur tengah gudang.
Di bawah sana, cakar derek itu berayun rendah, lalu dengan bunyi klek yang berat, mekanismenya mengunci pinggiran sebuah boks kontainer kosong seberat dua puluh ton yang terbuat dari pelat baja tebal.
"Apa yang terjadi di atas?!" Roy mendongak, matanya melebar saat menyadari bayang-bayang boks kontainer raksasa itu mulai bergeser di atas kepala mereka.
Tuan Baron mencoba memutar kursi roda elektroniknya untuk mundur, namun gerakannya terlambat.
Aku menarik tuas kemudi dengan sentakan kasar, menyeret boks kontainer dua puluh ton itu memotong ruang udara laboratorium, memosisikannya tepat berada tegak lurus di atas mobil generator kuning milik Baron.
Tanganku bergerak cepat menuju sudut panel instrumen. Aku membuka penutup plastik transparan yang melindungi satu-satunya tombol yang paling dihindari oleh para pekerja logistik: tombol pelepasan darurat (*emergency release*).
Aku menatap ke bawah, mengunci pandanganku pada mesin generator yang menjadi sumber penderitaan Kala.
"Hancur kalian," bisikku tajam.
Aku menghantam tombol merah itu menggunakan telapak tangan kiriku sekuat tenaga.
Brakkk!
Seketika itu juga, sistem kopling hidrolik pada derek atas terlepas sepenuhnya. Tali baja penyangga berputar lepas dari porosnya dengan kecepatan tinggi, menimbulkan suara desingan angin yang mengerikan.
Boks kontainer kosong seberat dua puluh ton itu jatuh bebas dari ketinggian belasan meter.
BLAAAAMMMMM!
Hantaman logam raksasa itu mengguncang seluruh pondasi laboratorium bawah tanah hingga rasanya seperti dilanda gempa bumi tingkat tinggi. Lantai semen di bawah sana retak menjalar ke segala arah. Boks kontainer itu mendarat tepat di atas mobil generator kuning, memipihkannya dalam seketika hingga menjadi lempengan besi tak berbentuk.
Ledakan mekanis terjadi dalam hitungan detik. Hancurnya generator memicu korsleting massal di seluruh jaringan kabel laboratorium. Percikan api biru berukuran besar menyembur ke udara, disusul oleh suara letupan sekring yang putus satu demi satu di dinding beton.
Seluruh aliran listrik di pelabuhan bawah tanah itu padam total dalam sekejap. Lampu sirine merah yang berputar sejak tadi mati, menyisakan kegelapan yang pekat yang hanya diterangi oleh kobaran api kecil dan kepulan asap hitam yang tebal dari sisa mesin yang terbakar.
Meriam pneumatik di sudut ruangan kehilangan daya saingnya secara instan. Dua kabel baja yang menancap di pundak Kala mendadak melonggar, melepaskan cengkeraman mekanisnya yang menyiksa.
Aku melepaskan pegangan tuas, napas lambatku mulai memburu di dalam kegelapan kabin kontrol yang kini pengap. Aku harus segera turun ke bawah. Aku harus mendekati Kala sebelum asap hitam ini memenuhi seluruh ruangan bawah tanah ini.