masih up, cuma jarang!
Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengubah nasib sang budak
13.
"Yang mulia."
"Yang mulia ratu."
Samar-samar Morline mendengar suara Nina memanggilnya, dahinya mengkerut karena merasa silau meski matanya masih tertutup. Dia menarik selimut untuk menahan silau yang menyorot matanya.
"Yang mulia ini sudah siang, apa anda ingin terus tidur?" Suara Nina kembali terdengar kali ini lebih keras dan jelas.
Morline segera membuka matanya di balik selimut, saat kedua tangannya menyibak kain tebal itu, cahaya putih terasa menyerang kornea matanya yang sensitif. Dia memejamkan matanya, menghalau sinar mentari yang masuk dari jendela dengan kedua tangannya. "Ahk! Silau!"
"Yang mulia ini sudah pukul 7 pagi lebih 30 menit. Anda seharusnya sudah siap."
Mata Morline berkedip berkali-kali untuk menyesuaikan penglihatannya. Dia menatap Nina dengan mata setengah terbuka. "Kenapa kau tak membangunkanku!?"
"Saya sudah ada di sini sejak 20 menit lalu yang mulia."
Morline tak membalas, dia beranjak dari kasur lalu berlari ke kamar mandi. Dia berteriak saat menyadari bahwa air di bak mandi tidak terisi otomatis. "Nina tolong bantu aku isi airnya!"
"Baik yang mulia!"
Pagi itu di isi oleh keributan yang Morline ciptakan sendiri. Nina dan Morline berlomba-lomba mengisi air ke dalam bak untuknya berendam, kali ini Morline tak menolak saat Nina menawarkannya bantuan untuk memakai baju.
Morline menyisir rambutnya yang keriting dengan sedikit terburu-buru, sementara Nina sedang menarik resleting gaunnya. Beberapa kali kulit Nina menyentuhnya dan Morline merasa merinding, tapi dia hiraukan karena sedang terburu-buru.
Hari ini adalah hari keberangkatannya ke wilayah Utara, Morline baru ingat jika Cedric akan menyiapkan keberangkatan hari ini, pasti pria itu sedang menunggunya bukan?
Setelah selesai menyisir dan merapikan gaun, Morline bergegas ke ruang utama. Ternyata benar Cedric ada di sana, tengah menunggunya sembari membaca buku.
Kepala pria itu mendongak, alisnya bertaut ketika melihat penampilan Morline yang sedikit berantakan dari biasanya. Gadis itu berdiri dengan canggung sambil beberapa kali merapihkan rambutnya lalu duduk di hadapannya.
"Maaf, saya telat bangun. Apa anda sudah lama menunggu?"
"Hampir satu jam."
Morline meringis mendengarnya, selama itu?
"Maafkan saya, saya tidur larut malam tadi hingga tak bisa bangun seperti biasanya."
Dari balik topeng, Cedric bisa melihat bagian bawah matanya yang memerah, sedikit bengkak. Mereka memang mengobrol sampai tengah malam, salahnya juga tak menyadari lebih awal jika gadis itu tidak bisa tidur terlalu larut.
"Sudahlah, apa kau sudah mempersiapkan semuanya?"
Morline menggeleng, dia belum sempat memberi tahu Nina ataupun Chasi untuk membereskan barang-barangnya malam tadi, selain karena dirinya sudah mengantuk, tak mungkin juga dia membangunkan mereka saat sedang tidur nyenyak. Morline menunduk, menjawab dengan suara lemah. "Belum, yang mulia."
Cedric mendesah, dia pikir Morline sudah mempersiapkan segalanya saat gadis itu meminta izin tadi malam. "Segeralah berkemas kalau memang kau ingin pergi."
"Iya iya, saya akan berkemas. Oh ya, apa saja yang sudah anda persiapkan?"
"Kau bisa cek sendiri nanti, sekarang bergegaslah!"
"Iyaaa."
Morline bangkit dan pergi untuk mengemas barang-barang pribadinya. Berpikir mungkin akan membutuhkan waktu lama di sana, dia membawa uang lebih banyak. Morline tak ingin membawa gaun dari istana karena pasti akan mencolok, rencananya dia akan membeli gaun sederhana dengan bahan tipis untuk menyamarkan identitasnya saat di sana.
Nina juga diperintahkan untuk berkemas karena dia akan mengikuti Morline sementara Chasi tetap tinggal di istana.
Setelah satu jam berkemas, Morline membawa satu koper berisi barang pribadinya. Dia pergi ke depan istana, dimana sudah ada kereta kuda besar menunggu, Cedric juga ada di sana sedang berbincang dengan Gengi.
"Saya sudah siap!"
Cedric memutar badannya. Di hadapannya Morline berdiri hanya setengah meter darinya, kepala Cedric harus sedikit menunduk untuk melihat wajahnya. Di bawah sinar mentari pagi yang hangat, kulit putih pucat itu terasa lebih hidup.
Ketika bibir kecilnya bergerak kedua pipinya ikut bergetar seperti puding telur yang bergoyang, lembut dan kenyal. Cedric memperhatikan lebih lama dari yang seharusnya.
"Yang mulia!"
Cedric tersadar, dia menatap mata Morline. "Gengi akan menjagamu, jangan berbuat macam-macam dan merepotkannya. Aku sengaja mengizinkanmu pergi untuk observasi di wilayah Utara."
Morline berjalan ke kereta kuda, seorang prajurit mengulurkan tangannya untuk meminta koper yang Morline pegang. Morline memberikannya dengan mata yang masih menatap Cedric, "iya saya tahu, saya akan menjaga diri dan saya akan menyelesaikan tugasnya."
"Kita berangkat sekarang yang mulia?" Gengi bertanya pada Morline.
Gadis itu mengangguk, "ya berangkat sekarang." Morline menaiki kereta kuda dengan bantuan Gengi, setelah duduk dia melambaikan tangan pada Cedric dengan senyum lebar yang cerah seperti mentari pagi.
"Sampai jumpa yang mulia!" Kereta kuda mulai berjalan dan Morline masih melambai padanya. Di latar belakang, wajah Nina tampak cemas melihat Morline menjulurkan sebagian tubuhnya keluar kereta. "Dah Joseph jaga dirimu baik-baik! Marnin sampai jumpa!" Dia masih melambai pada semua orang yang berdiri mengantarnya.
Cedric hanya menatap dari balik topengnya, pantulan mentari membuat topeng perak itu berkilau, memberi kesan misterius dan dingin yang begitu dalam. Kontras dengan suasana perpisahan yang terasa hangat itu.
Perjalanan ke wilayah Utara membutuhkan 4 hari jika tidak berhenti untuk istirahat, Cedric memperkirakan mungkin mereka akan sampai ke wilayah Utara 7 hari lagi.
Kereta terus menjauh dari istana, suara Morline yang seperti air terjun di pegunungan semakin mengecil kemudian menghilang. Suasana di depan istana mendadak di selimuti udara dingin, keheningan yang mendadak membuat mereka terasa berada di dunia lain.
Marnin dan Joseph berbalik pergi setelah meminta izin pada Cedric yang masih berdiri di tempatnya, kedua tangannya bertaut di belakang tubuhnya, punggungnya tegak dan tatapannya lurus ke arah kepergian kereta.
Selain krisis pangan yang terjadi wilayah Utara, Cedric juga memikirkan masalah lain yaitu kelompok pemberontak yang eksistensinya memudar. Meski pergerakan kelompok itu tak terdengar lagi, tapi Cedric masih waspada, itulah kenapa dia meminta Gengi ikut bersama Morline.
Untuk menyelidiki apakah mereka bergerak dalam sunyi atau benar-benar sudah tandas tak tersisa.
Baru 8 jam perjalanan kereta kuda, Morline sudah merasa bosan, dia sampai membaca ulang buku di tangannya karena tidak ada hal yang bisa dilakukan dalam kereta kuda yang sedang berjalan.
Morline menguap, Nina menyarankan untuknya tidur. Namun Morline menggeleng. "Aku menguap karena bosan bukan karena mengantuk."
"Bagaimana kalau anda menikmati pemandangan di luar kereta?" Nina menyibak gorden kereta, memberi jalan bagi cahaya untuk masuk, sekejap ruang kereta yang temaram menjadi terang.
Buku di tangan dia letakkan, kepalanya melongok keluar. Morline bisa merasakan hembusan angin di sekitar wajahnya, rambutnya yang tergerai berterbangan.
Di depan sana, Morline melihat rumah-rumah yang tampak kecil. Roda kereta yang berderit dan suara burung di atas langit membuat Morline bersandar di sisi jendela kereta, matanya terpaku pada pemandangan di depan.
Semilir angin yang tenang membuat matanya memberat, tanpa sadar Morline memejamkan matanya.
Melihat itu, Nina khawatir punggung Morline akan terasa nyeri saat bangun nanti, tapi dia tak tega membangunkannya. Nina dilanda kebimbangan.
Di belakang, Gengi mengendari kuda. Melihat kepala Morline yang menyembul dari jendela kereta, gadis itu tampak memejamkan mata Gengi menebak jika dia tertidur.
Dalam hatinya; aku baru pertama kali melihat seorang bangsawan terhormat seperti ratu tidak terlihat anggun. Apa karena dia gemuk ya?
Di atas sana langit yang menggantung perlahan menggelap, matahari yang bersinar terik tanpa disadari sudah di ujung barat, sinarnya jingga menyinari sebagian belahan bumi.
Bayangan kereta yang besar memanjang ke timur, bayangan itu bergelombang seperti ombak halus saat melewati jalan bebatuan. Suara derap kuda yang tak kenal lelah mendadak hilang ketika Gengi dan satu rekannya menarik tali kekang. Kuda itu mendesus dan menghentakkan pelan satu kakinya.
Gengi turun dari kuda menghampiri kereta. "Yang mulia kita sudah sampai di kota, lebih baik kita istirahat di penginapan untuk malam ini."
Morline mengerjakan matanya yang membengkak, kulitnya tampak berminyak dan rambutnya sedikit berantakan. Dia mengangguk ke arah Gengi. "Ya, ayo kita istirahat dulu, punggungku sakit terus duduk seperti ini." Morline mendorong pintu, tanpa bantuan Gengi dia melompat pelan dari kereta.
Melihat itu Gengi hanya membatin saja.
Setelah itu mereka pergi mencari penginapan terdekat. Morline segera mandi ditemani Nina yang berjaga di luar kamar mandi.
Sebelum ke penginapan, dia membeli gaun dari toko. Gaun itu berbahan rami, tipis dan tidak memiliki warna apapun selain warna alami dari kainnya. Morline memakaikannya, karena gaun itu sederhana, Morline memakainya dengan mudah.
Setelah mandi, Morline mencari makan bersama Nina sementara Gengi memilih istirahat di kamarnya, menugaskan ksatria yang menjadi rekan Gengi untuk mengawal Morline.
Mereka membeli beberapa makanan tak lupa membelikan juga untuk Gengi yang sedang istirahat. Nina dan Morline kembali ke penginapan untuk tidur.
Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan. Morline membeli banyak gaun rakyat biasa sebagai pakaian sehari-hari ketika sudah sampai.
Hari kedua, Morline jauh lebih bisa beradaptasi. Dia menyibukkan diri dengan membaca atau bermain tebak-tebakan bersama Nina di dalam kereta.
Gaya inersia saat kereta mendadak berhenti membuat tubuh Morline terhuyung ke depan hampir jatuh tersungkur. Jantung Morline berdegup lebih kencang, dia segera membuka jendela. "Ada apa?! Kenapa mendadak berhenti?"
"Ada sesuatu yang menghalangi jalan!" Teriak kusir cari depan.
Gengi dan rekannya bersiap dengan pedang mereka. "Tetaplah di dalam! Yang mulia!" kata Gengi padanya.
Morline menurut, tapi dia tetap penasaran. Morline kembali berteriak! "Ada apa di depan Gengi!?"
Rekan Gengi menjawab, "seorang anak kecil. Melihat jalan seperti ini yang sepi, mungkin ini merupakan jebakan. Mohon yang mulia tetap di dalam."
Di dalam kereta Morline menjadi khawatir. Dia teringat cerita-cerita tentang bandit, mereka adalah sekolompok perampok yang sadis dan tak kenal ampun. Apa Gengi bisa menghadapinya?
Satu meter di depan kereta Gengi berdiri, matanya menatap sekeliling. Di kiri kanan mereka adalah hutan, tempat yang paling cocok bagi para bandit bersembunyi. Dia menunduk menatap bocah mengenaskan di depan kakinya lalu mendorong tubuh itu dengan kaki, melihat wajahnya yang kotor penuh lumpur dan darah kering. Gengi berpikir mungkin dia sudah mati, Gengi menyeretnya ke tepi agar kereta bisa lewat.
Suara Morline terdengar dari belakang, "coba kau cek apakah dia masih hidup atau tidak?"
Tanpa menjawab Gengi menekan pergelangan tangan bocah itu dengan kedua jari lalu meletakkan jarinya ke bawah hidung untuk memeriksa apakah dia masih bernafas atau tidak. Dahi Gengi mengkerut. "Dia masih hidup," jawabnya.
Gengi terdiam ketika telinganya dengan samar mendengar pergerakan dari dalam hutan. Tangannya beralih menggenggam gagang pedang di pinggang dan bersiap siaga saat ancaman mulai datang.
Di dekat kereta, ksatria yang menjaga Morline sudah siap dengan pedang di tangannya. Morline yang mengintip dari dalam semakin cemas dan khawatir pada keselamatan mereka.
Dari balik pohon enam orang pria melompat menghadang kereta, tubuh mereka besar dan kekar. Melihat para bandit itu, Gengi langsung menyerang tanpa peringatan, membuat enam orang itu kehilangan kewaspadaannya.
Saat pedang beradu dengan parang, lima orang lainnya muncul seperti tikus yang keluar dari got. Tande, rekan Gengi meluncur cepat ke arah pertempuran untuk membantu Gengi.
Meski Gengi merupakan ksatria yang hebat dan berpengalaman dalam bertarung, tapi melawan sebelas orang sendirian tetap akan membuat kewalahan. Tande membantunya dengan membagi kelompok itu menjadi dua.
Keduanya saling memberi isyarat dan menatap hutan sejenak untuk memastikan tidak ada serangan lain selain ini, mereka khawatir jika ada bagian dari kelompok bandit itu menyerang kereta yang tanpa penjagaan.
Morline memberanikan diri untuk melihat. Gengi dan Tande terlihat kewalahan melawan orang-orang berbadan besar itu, meski mereka hanya menggunakan parang sebagai senjata, tapi tubuh mereka yang kuat membuat Gengi dan Tande kesulitan mengalahkan kelompok bandit itu.
Di depan sana, tubuh anak kecil itu masih tergeletak di tepi jalan, tubuhnya kotor penuh lumpur dan darah kering. Morline menautkan alisnya, rasa sesak di dada muncul seketika melihat anak itu.
Setelah sedikit pertimbangan Morline melompat turun dari kereta, Nina berteriak karena tak menyangka Morline akan keluar. Di segera menyusul.
Morline berlari ke arah anak itu, meraih tubuhnya dengan kedua tangan dan mendekapnya dalam pelukan kemudian berbalik ke kereta. "Nina cepat masuk!"
Nina yang belum sempat memproses apa yang terjadi, sempat kebingungan bercampur panik. Dia berlari lagi ke kereta dan masuk.
Kusir tua yang berjaga di depan terkejut melihat Morline dan Nina, dia segera turun dari tempatnya untuk memeriksa mereka. "Yang mulia apa yang anda lakukan?"
"Aku sedang menyelamatkan anak ini," katanya sembari membungkus tubuh anak itu dengan selimut. "Nina ambil kotak medisku."
"Anda seharusnya tak melakukan itu karena ditakutkan anak itu menyebarkan penyakit." Melihat penampilannya kotor dan berasal dari tempat yang mungkin tak bersih, bisa saja dia sudah terjangkit penyakit menular.
Gerakan Morline terhenti, dia tak sempat berpikir seperti itu. Namun karena sudah terlanjur, Morline memilih untuk tetap menolongnya. Dia memeriksa tubuh anak itu, menekan denyut nadi di tangan dan lehernya, lalu mendengarkan detak jantungnya, memeriksa mata serta lidahnya. Setelah Nina memberikan kotak medisnya, dia mulai mengobati anak itu.
Melihat betapa Morline bersungguh-sungguh menolong dan mengobati anak itu, hati Nina terasa dialiri oleh kehangatan yang tak bisa dia jelaskan. Perasaan kagum dan terkesima tidak bisa disembunyikan dari sorot matanya yang berbinar. Dia benar-benar merasa Morline adalah seorang dewi ditengah orang-orang yang mementingkan diri mereka sendiri, Morline justru berani mengambil resiko untuk menolong anak yang bahkan tak dia kenal.
Dalam hatinya Nina berjanji akan terus setia pada ratu muda ini, selamanya sampai dia mati.
Pria tua tetap berdiri di sana menjaga Morline dan Nina dari luar. Meski sudah tua, tapi pengalamannya sebagai kusir yang sering berhadapan dengan hal seperti ini cukup membuatnya bisa bertarung untuk perlindungan diri.
Di dalam kereta, Morline dan Nina membersihkan tubuh itu dari lumpur agar luka-luka bisa diobati, setelah itu Morline mengoleskan salep buatan Arten. Ada luka terbuka di dada kiri anak itu dan di bagian pinggangnya, seperti luka goresan pisau yang tak terlalu dalam.
Morline memberinya alkohol agar tak terkena infeksi. Saat yang bersamaan, anak itu meringis dalam pingsannya. Morline merasa lega karena itu tandanya anak ini dalam keadaan baik ketika dia bisa merespon rasa sakit.
Suara notifikasi sistem bergema dalam kepalanya.
{Misi baru: Anak itu adalah calon antagonis, bantu dia mengubah nasib}
{Hadiah: 100 poin}
Melirik Nina sejenak, Morline menyuruh dayangnya itu untuk mengambilnya air dan membuang selimut kotor itu. Setelah Nina pergi, Morline menekan layar virtual untuk memeriksa detail misi.
Nama: tak memiliki nama lahir
Saat dewasa mempunyai nama Argas, dia seorang budak yang diperjual belikan dari tuan ke tuan lainnya. Argas tumbuh dalam kesengsaraan, kabur dari tuan yang suka menyiksanya lalu di tolong oleh protagonis.
Argas menaruh iri dan dengki terhadap Aleron sang protagonis, bekerja sama dengan Cedric untuk menghancurkan Aleron.
Sayangnya dia mati karena melawan jenderal dari Orbellian.
Usia: 11 tahun.
Kelamin: laki-laki.
Ketakutan: Dianiaya dan kabur dari majikan. (Detail)
Melihat detail tentang bocah di pangkuannya ini, Morline semakin iba dan berempati terhadap nasibnya. Dia menunduk, mengelus rambut yang kasar dan kotor itu. Melihat wajahnya yang sudah dia bersihkan, Morline yakin dia akan tumbuh menjadi pria yang tampan.
Gengi dan Tande mengelap keringat di dahi mereka saat berhasil menumbangkan semua bandit itu, mereka lalu menatap tubuh-tubuh yang tergeletak di tengah jalan kemudian menghela nafas. Setelah bertarung mereka harus bekerja lagi untuk menyeret tubuh para bandit itu ke tepi.
Setelah selesai, mereka bergegas memeriksa kereta. Melihat Morline baik-baik saja keduanya menghela nafas lega, tapi Gengi mengerutkan dahinya saat melihat bocah kecil di pangkuan Morline. "Yang mulia..."
Baru hendak bicara, Morline sudah menaruh jarinya yang berlemak ke bibir, memintanya untuk diam. "Aku memutuskan untuk menyelamatkan dia, kau jangan khawatir. Aku tau apa yang harus aku lakukan."
Ya Morline tahu apa yang harus dia lakukan, yaitu mengubah nasib anak ini.
Kereta kembali berjalan dengan kusir yang menarik tali kekang kedua kuda. Gengi dan Tande melompat ke punggung kuda mereka dan memacu kudanya pelan.
Perjalanan kali ini begitu tenang. Di dalam kereta, Nina yang berjuang melawan kantuknya akhirnya tertidur karena rasa lelah. Morline hanya bersandar menatap Nina yang tampak kelelahan lalu melirik anak itu yang sekarang berada di pangkuan Nina.
.......
setia menunggu up berikut nya 😁👍
lanjuuttttt lagiiii 💪💞
Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
lanjut lagiiii 👍👍👍😍