NovelToon NovelToon
TUNANGAN PALSU

TUNANGAN PALSU

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.

Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.

Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.

Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.

“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”

Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.

Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUNANGAN PALSU - Chapter 16

Nyonya Sarah yang sudah kehabisan kesabaran menatap para pelayan di hadapannya.

"Bagaimana bisa kalian tidak memiliki nomor Sophia?" tanyanya kesal.

Salah seorang pelayan menundukkan kepala. "Maaf, Nyonya. Akhir-akhir ini Tuan Damian dan Tuan Jack sangat sibuk. Kami tidak berani meminta nomor Nona Sophia secara langsung."

Nyonya Sarah terdiam sejenak. Ia memahami ketakutan para bawahannya terhadap putranya sendiri.

"Kalau begitu, aku akan menanyakannya langsung pada Damian. Di mana dia sekarang?"

Pertanyaan itu langsung membuat seseorang yang berdiri di belakang bergerak cepat. Ia segera berlari menuju ruangan Jack dan menyampaikan kabar tersebut.

Jack yang semula bersantai sontak terkejut. Ia buru-buru merapikan pakaiannya sebelum berlari ke lantai atas. Dengan napas sedikit terengah, ia berdiri di depan ruang kerja Damian.

Syukurlah, Nyonya Sarah belum tiba.

Namun, beberapa detik kemudian wanita paruh baya itu muncul di ujung koridor.

"Di mana Damian?" tanyanya tanpa basa-basi.

Jack segera memasang senyum sopan.

"Tuan Damian sudah tidur, Nyonya."

"Kalau begitu bangunkan dia."

Senyum Jack langsung membeku. Membiarkan Damian tidur jauh lebih aman daripada membangunkannya.

Melihat ekspresi Jack yang kebingungan, Nyonya Sarah mendengus pelan lalu membuka pintu sendiri.

Jack hanya bisa mengikuti dari belakang.

Di dalam, Damian ternyata masih duduk di depan meja kerjanya. Tumpukan berkas memenuhi meja, sementara matanya tetap fokus membaca dokumen.

"Aku ingin nomor Sophia," ujar Nyonya Sarah.

"Hm."

Hanya itu jawaban Damian.

Kesabaran Nyonya Sarah mulai menipis. Ia menghampiri putranya, menutup laptopnya begitu saja, lalu memindahkan berkas-berkas yang sedang dibaca Damian.

"Kalian bertengkar?"

"Ya."

"Lalu?"

Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Entahlah."

Nyonya Sarah hampir memegangi kepalanya sendiri.

"Kalian akan bertunangan sebentar lagi! Bagaimana bisa kalian bertengkar?"

Damian hanya diam.

Melihat sikap putranya, Nyonya Sarah akhirnya menyerah.

"Kalian!" tunjuknya pada para pelayan. "Pergi beli barang-barang mewah. Apa pun yang disukai gadis muda. Tas, perhiasan, pakaian, apa saja. Setelah itu kirimkan semuanya pada Sophia."

Para pelayan mengangguk cepat.

Setelah mereka pergi, Nyonya Sarah menatap Damian dengan sedih.

"Apa selama ini aku kurang baik pada Sophia sampai dia bahkan tidak mempertimbangkan perasaanku?"

----

"Ini rumahku."

Sophia menatap rumah dua lantai yang berdiri megah di hadapannya.

Arkan menggenggam tangannya dan membawanya keluar dari mobil sebelum berjalan menuju pintu utama.

Sepanjang perjalanan, pikiran Sophia terus dipenuhi berbagai kemungkinan.

Bagaimana jika semua yang dikatakan Arkan bohong? Bagaimana jika sebenarnya Arkan dan Sintia adalah pasangan yang saling mencintai?

Dan yang lebih menakutkan ....

Bagaimana jika selama ini dirinya yang menggangu? Apakah ia sanggup menerima kenyataan itu?

Pintu rumah terbuka.

Seorang wanita cantik berdiri di sana.

Senyum wanita itu sempat memudar ketika melihat Sophia. Namun hanya sesaat. Tak lama kemudian, senyum hangat kembali menghiasi wajahnya.

Tatapannya beralih pada Arkan, seolah bertanya siapa tamu yang dibawanya.

"Kakak Ipar, ini pacarku. Sophia."

"Sophia?" Wanita itu tersenyum lembut. "Nama yang cantik. Ayo masuk. Aku sudah memasak."

Sophia hanya mampu membalas dengan senyum tipis.

Saat Arkan hendak kembali menggenggam tangannya, Sophia segera menarik tangannya lebih dulu. Lelaki itu tampak ingin protes. Namun, Sophia sudah berjalan masuk meninggalkannya.

Arkan hanya bisa mengikuti dari belakang dengan wajah masam.

Mereka duduk mengelilingi meja makan.

Sophia berada tepat berhadapan dengan Arkan, sementara Sintia duduk di samping pria itu.

Situasi ini terasa begitu aneh.

Seolah-olah dirinya adalah seorang selingkuhan yang sedang diterima dengan ramah oleh istri sah.

Meski Arkan terus menatapnya, Sophia tetap merasa tidak nyaman.

"Berikan aku cangkirmu, aku haus," ujar Arkan. Menunjuk cangkir Sophia.

Sophia refleks hendak berdiri, tetapi Sintia lebih dulu mengambilkan segelas air untuknya.

Sophia kembali duduk. Jari-jarinya menggenggam cangkir dengan kikuk.

Arkan yang menyadari hal itu hanya menatap Sophia sebentar sebelum menerima gelas dari Sintia. Namun, ia bahkan tidak menyentuh minuman tersebut.

Tak lama kemudian, Sintia mengambil beberapa sayuran dan meletakkannya ke piring Arkan.

Gerakannya begitu alami.

Begitu terbiasa.

Begitu... seperti seorang istri.

Sophia menundukkan kepala.

Sampai akhirnya sepotong daging berpindah ke piringnya.

Ia mengangkat wajah. Arkan menatapnya.

"Kau mau yang lain?"

Sophia menggeleng pelan.

Tatapannya justru tertuju pada piring Arkan yang dipenuhi sayuran. Ia baru sadar, Arkan ternyata menyukai sayur. Padahal selama ini pria itu selalu mengeluh jika ia memasak tanpa daging.

"Arkan memang tidak suka daging sejak kecil," kata Sintia sambil tersenyum. "Aku sudah mengenal keluarganya sejak lama, jadi aku tahu semua kebiasaannya."

Sophia terdiam.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu terasa mengusik hatinya.

"Itu masa lalu," sela Arkan cepat. "Sekarang aku menyukai apa pun yang kau masak."

Meski mendengar pujian itu, kebingungan Sophia tidak berkurang sedikit pun.

Arkan lalu mengalihkan pembicaraan.

"Bagaimana hasil pemeriksaan kehamilanmu?"

"Baik," jawab Sintia sambil mengusap perutnya. "Dokter bilang bayinya sehat. Aku hanya perlu lebih banyak istirahat dan tidak boleh terlalu stres."

Arkan mengangguk.

"Bagus. Aku sudah mengambil cuti lima hari. Kita bisa pergi jalan-jalan bersama."

Sophia membeku.

Pergi bersama? Berlibur? Apa lelaki itu sudah buta? Di hadapannya ada seorang wanita yang sedang mengandung anak. Wanita yang mengenal Arkan jauh lebih lama darinya.

Apa dia berniat menjadikannya gunjingan semua orang. Harus berada disela-sela suami istri yang sedang berlibur.

Sophia menggenggam erat ujung bajunya. Ia tidak sanggup lagi berada di tempat ini.

Ia ingin pergi.

Sekarang juga.

B e r s a m b u n g .....

Jangan lupa tinggalkan jejak, yah! Makasih 。⁠◕⁠‿⁠◕⁠。

1
falea sezi
mending ma Damian 🤣 dripada si goblok arkan kayaknya Sintia licik bgt ini jalang🤣
falea sezi
jangan mau sopii🤣 ada yg singgle. kok milih jd pelakor
Rumia Dell: Sopii food kah😭
total 1 replies
falea sezi
klo ma arkan pasti di nanti sintya ge recokin
falea sezi
ini mah bukan hemat tp medit buat diri sendiri😒
Rumia Dell: Gak boleh gitu, demi rumah impian 🤣
total 1 replies
Juli Rosan
keren
Rumia Dell: Ikutin terus ceritanya yah😍
total 1 replies
Dede Kurniawan
Seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!