NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 Sedikit Kecurigaan

Malam turun perlahan di lantai tertinggi Alvero Group, tetapi ruang kerja CEO masih terang seperti siang yang menolak selesai. Sebagian besar lampu koridor sudah dipadamkan otomatis, menyisakan garis cahaya lembut di sepanjang jalur menuju lift eksekutif. Sesekali terdengar langkah petugas keamanan yang berpatroli, lalu sunyi kembali menelan seluruh lantai.

Di balik pintu kaca buram bertuliskan CEO OFFICE, Zayden Alvero berdiri menghadap jendela setinggi dinding. Dari sana kota tampak seperti peta hidup yang bergerak dalam diam. Lampu kendaraan membentuk garis-garis panjang, gedung-gedung lain berkilau seperti kotak kaca, dan manusia di bawah sana mengejar urusan masing-masing tanpa pernah terlihat wajahnya.

Biasanya pemandangan itu cukup menenangkan pikirannya. Kota adalah sesuatu yang bisa dipelajari polanya, ditebak arahnya, lalu dikendalikan melalui keputusan yang tepat. Angka, kontrak, target, ekspansi, risiko, semuanya lebih mudah dipahami daripada manusia.

Namun malam ini, seluruh ketenangan itu rusak oleh seorang anak kecil.

Rheon.

Nama itu berputar lagi di kepalanya seperti nada yang menolak berhenti. Zayden memutar gelas air mineral di tangan kanan tanpa niat meminumnya. Cairan bening di dalam gelas bergerak perlahan, sama gelisahnya dengan isi kepalanya.

Ia bukan pria yang mudah terdistraksi oleh hal kecil. Dalam beberapa tahun terakhir ia menghadapi perebutan saham keluarga, merger bernilai besar, negosiasi keras dengan investor asing, dan serangan media yang sengaja dibangun kompetitor. Semua itu mampu ia tangani tanpa kehilangan arah.

Tetapi sore tadi, seorang bocah lima tahun membuat fokusnya berantakan hanya dalam beberapa menit.

Bukan karena tingkah lucunya. Bukan karena keberaniannya berbicara seenaknya. Bukan pula karena seluruh lobby diam-diam menonton seolah pertunjukan langka sedang berlangsung.

Melainkan karena wajah itu.

Zayden menutup mata sebentar, mencoba memanggil ulang detail yang sempat tertangkap cepat. Mata tajam dengan sudut sedikit naik saat serius. Alis yang bergerak jelas ketika berpikir. Cara menatap lurus tanpa rasa takut. Dagu kecil yang terangkat seolah dunia harus mendengar pendapatnya.

Terlalu familiar.

Ia berbalik dari jendela dan berjalan menuju meja kerja. Langkahnya tenang, tetapi rahang yang mengeras mengkhianati isi pikirannya. Dari laci kanan, ia mengambil bingkai foto lama yang sudah lama tidak disentuh.

Foto masa kecilnya.

Di sana Zayden kecil berdiri di taman rumah keluarga Alvero, memakai kaus putih dan celana pendek mahal yang dipilih ibunya. Wajah anak itu tampak serius, tangan kirinya memegang pesawat mainan, dan matanya menatap kamera seolah fotografer mengganggu waktu bermain.

Ia meletakkan foto itu di meja.

Lalu membandingkannya dengan bayangan Rheon dalam kepala.

Rahangnya menegang lebih keras.

"Mustahil," gumamnya pelan.

Angka lima tahun datang lagi seperti ketukan yang terus memaksa masuk. Anak Elvara berusia lima tahun. Elvara menghilang sekitar lima tahun lalu. Dan perempuan itu tampak pucat ketika melihat dirinya berdiri dekat bocah tersebut.

Terlalu banyak kebetulan yang saling menempel.

Pintu diketuk dua kali.

"Masuk."

Arsen melangkah masuk sambil membawa tablet dan beberapa map tipis. Asisten pribadinya itu sudah bekerja dengannya cukup lama untuk mengenali suasana hati dari jarak lima meter. Malam ini, ia jelas berjalan lebih hati-hati dari biasanya.

"Pak, dokumen untuk rapat Singapura besok pagi."

"Taruh di sana."

Arsen meletakkan map di sisi meja, lalu sempat melihat bingkai foto masa kecil yang tergeletak terbuka. Ekspresinya nyaris berubah, tetapi cepat kembali netral. Ia tahu benda-benda pribadi di ruangan ini jarang keluar tanpa alasan.

"Apakah ada hal lain?" tanya Zayden.

Arsen mengangkat kepala sedikit. "Tidak, Pak. Kecuali Bapak membutuhkan sesuatu."

Zayden duduk perlahan di kursi kerjanya. Ia menautkan jari-jari di depan dada dan menatap asistennya beberapa detik sebelum bicara.

"Saya butuh data lengkap tentang Bu Elvara Naysha."

Arsen berkedip singkat. "Kepala divisi kreatif yang baru?"

"Iya."

"Data HR standar sudah dikirim ke email Bapak."

"Saya bilang lengkap."

Nada datar itu cukup membuat udara berubah.

Arsen menegakkan bahu. "Maksud Bapak, data seperti apa?"

"Riwayat lima tahun terakhir. Tempat tinggal. Riwayat pekerjaan. Status keluarga. Siapa yang tinggal bersamanya. Semua yang legal dan bisa didapat."

Arsen diam sejenak. Ia terbiasa menerima perintah sensitif, tetapi biasanya terkait pesaing bisnis, vendor bermasalah, atau calon mitra strategis. Ini pertama kalinya seorang pegawai baru masuk daftar perhatian khusus secepat itu.

"Boleh saya tahu urgensinya, Pak?"

Tatapan Zayden terangkat perlahan. "Sejak kapan kamu membutuhkan alasan?"

"Sejak saya perlu memastikan langkah yang diambil tidak berisiko bagi perusahaan."

Keheningan menggantung beberapa detik.

Lalu sudut bibir Zayden bergerak tipis. "Masih suka hidup rupanya."

Arsen menahan napas lega kecil. Itu bentuk humor paling dekat yang biasa diberikan bosnya.

"Ada potensi konflik kepentingan?" tanyanya hati-hati.

"Ada potensi saya membenci kebetulan."

Arsen tidak mengerti, tetapi cukup pintar untuk tidak mengejar jawaban.

"Baik. Saya mulai malam ini."

"Dan satu hal lagi."

"Pak?"

"Cari foto anaknya."

Untuk sepersekian detik Arsen gagal menyembunyikan keterkejutan. Namun ia segera menunduk.

"Baik, Pak."

Setelah pintu tertutup, ruangan kembali hening. Zayden memutar kursi menghadap jendela lagi. Pantulan dirinya muncul samar di kaca hitam, sosok dewasa yang terlihat tenang dari luar dan berisik dari dalam.

Ia membenci masa lalu. Itu sebabnya ia jarang menoleh ke belakang. Hal yang selesai seharusnya dibiarkan selesai. Hal yang pergi seharusnya dibiarkan pergi.

Namun ada satu bagian hidup lima tahun lalu yang tak pernah benar-benar tertutup.

Elvara.

Ia masih mengingat potongan-potongan kecil yang tak pernah tersusun utuh. Hujan deras di depan hotel. Perempuan muda dengan tas di atas kepala sambil memaki ponsel yang gagal memesan kendaraan. Tatapan berani yang tidak terkesan pada nama Alvero. Tawa lepas ketika ia meringis meminum kopi sachet.

Apartemen sederhana beraroma lilin.

Percakapan yang mengalir terlalu mudah untuk dua orang asing.

Dan pagi yang berantakan karena panggilan darurat dari keluarganya.

Ia pergi lebih cepat dari rencana, berniat kembali malam itu juga. Namun saat ia datang lagi, unit tersebut kosong. Nomor telepon yang diberi tak aktif. Tak ada jejak jelas selain rasa terganggu karena sesuatu selesai tanpa penjelasan.

Lalu hidup bergerak terlalu cepat untuk memberinya waktu mencari.

Kini perempuan itu kembali. Berdiri di ruang rapatnya dengan wajah yang berusaha tenang. Membawa anak berusia hampir lima tahun. Menyimpan kepanikan yang bahkan orang lain pun bisa lihat.

Ponsel di meja bergetar.

Besok makan malam keluarga. Jangan telat.

Pesan dari ibunya.

Zayden membaca sebentar lalu meletakkan ponsel tanpa membalas. Keluarga Alvero selalu suka mengatur jadwal orang lain, seolah seluruh dunia hanyalah cabang dari keputusan mereka.

Malam ini ia tak peduli soal makan malam keluarga.

Ia hanya peduli pada satu pertanyaan.

Kalau anak itu memang miliknya, kenapa Elvara menyembunyikannya?

---

Di apartemen kecil seberang kota, Elvara sedang merapikan selimut Rheon. Lampu kamar diredupkan, hanya menyisakan cahaya kuning lembut dari lampu tidur berbentuk bulan. Bocah itu memeluk robot biru yang kini bernama Sentinel dan tampak sangat bangga dengan nama baru tersebut.

"Mom."

"Hm?"

"Om Zayden galak enggak?"

Pertanyaan itu membuat tangan Elvara berhenti di rambut anaknya. Ia menatap wajah kecil yang masih polos dan tak tahu apa pun tentang kekacauan orang dewasa.

"Kenapa tanya begitu?"

"Karena wajahnya kayak orang yang suka bilang jangan."

Elvara hampir tertawa, tetapi rasa cemas lebih dulu datang.

"Om itu atasan Mommy."

"Wah. Berarti Mommy harus dengar kata Om Zayden?"

"Rheon tidur."

"Kalau aku besar, aku jadi bos juga."

"Supaya apa?"

"Supaya Mommy enggak dimarahin bos."

Dada Elvara menghangat sekaligus sesak. Ia menunduk mencium kening anaknya lama sekali sebelum beranjak.

Setelah Rheon tertidur, ia keluar ke balkon kecil. Angin malam membawa suara kendaraan dari jalan utama yang terdengar jauh. Lampu-lampu apartemen lain menyala acak, memperlihatkan kehidupan orang asing yang tampak lebih sederhana.

Tatapan Zayden sore tadi tak keluar dari kepalanya.

Cara pria itu melihat wajah Rheon.

Cara ia bertanya usia dengan suara terlalu tenang.

Cara matanya berpindah dari anak itu ke dirinya seperti sedang menyusun hitungan.

Zayden sedang curiga.

Dan Zayden adalah tipe pria yang tak akan berhenti sebelum jawaban berada di tangannya.

Ia harus resign besok pagi. Kali ini tidak ada tawar-menawar. Tidak ada alasan untuk menunda.

Namun suara lain muncul membawa kenyataan yang lebih kejam. Tagihan sekolah. Sewa apartemen. Tabungan yang harus dijaga. Biaya hidup yang tak pernah menunggu.

Elvara menutup wajah dengan kedua tangan.

Kenapa semua harus serumit ini.

---

Pukul sebelas malam, pintu ruang CEO diketuk lagi.

"Masuk."

Arsen datang membawa tablet dengan beberapa file terbuka. Wajahnya tenang seperti biasa, meski gerakannya sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Secepat ini?" tanya Zayden.

"Data awal saja."

Arsen berdiri di depan meja dan mulai membaca.

"Elvara Naysha pindah ke Melbourne lima tahun lalu. Tinggal di sana hampir empat tahun, lalu setahun terakhir bekerja freelance dengan perpindahan antara Jakarta dan Singapura. Status sipil lajang."

"Anaknya?"

"Tercatat satu anak laki-laki bernama Rheon Naysha."

"Naysha?"

"Menggunakan nama keluarga ibu."

Jari Zayden mengetuk meja perlahan.

"Tanggal lahir."

Arsen melihat layar sebentar. "Empat tahun sebelas bulan. Bulan depan genap lima."

Ruangan mendadak terasa lebih sempit.

Hitungan di kepala Zayden berjalan cepat dan kejam. Waktunya cocok. Terlalu cocok.

"Foto?"

Arsen menggeser tablet ke depan.

Di layar muncul gambar dari formulir daycare. Rheon duduk di kursi kecil sambil memegang crayon merah. Ia menatap kamera dengan ekspresi seolah orang yang memotret mengganggu kegiatannya.

Zayden membeku.

Seperti melihat versi kecil dirinya yang dibesarkan dengan lebih banyak tawa.

Mata.

Alis.

Rahang kecil.

Bahkan cara menahan kesal.

"Pak?" suara Arsen terdengar hati-hati.

Zayden mengambil tablet dan menatap lebih dekat.

"Keluar dulu."

"Baik, Pak."

Pintu tertutup. Sunyi kembali memenuhi ruangan.

Ia masih memandangi foto itu lama sekali. Seluruh logika bisnisnya berusaha menolak kesimpulan emosional. Namun fakta-fakta berdiri terlalu rapi untuk diabaikan.

Elvara menghilang lima tahun lalu.

Kembali dengan anak hampir lima tahun.

Anak itu memakai nama ibunya.

Dan wajahnya...

Zayden meletakkan tablet perlahan lalu menatap malam di balik kaca. Jika ini benar, seseorang telah mengambil lima tahun darinya. Jika ini salah, kenapa Elvara terlihat seperti menyimpan rahasia sebesar itu?

Ia meraih ponsel dan mengetik pesan singkat.

Besok pagi, kosongkan jadwal sampai jam sepuluh.

Balasan datang cepat.

Baik, Pak.

Zayden mengunci layar, lalu menatap bayangannya sendiri di kaca jendela.

"Elvara," ucapnya pelan, "apa yang kamu sembunyikan dariku?"

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!