"Saya tidak mau nikah kontrak, Pak. Saya mau pernikahan ini berjalan sebagaimana mestinya ...." Rea terdiam sejenak. Mengambil napas sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Sebuah kalimat yang mungkin akan ia sesali seumur hidupnya.
Bagaimana tidak. Tidak ada yang ingin menikah untuk bercerai, tapi Rea melakukannya.
" ... tapi, kapanpun Pak Dewa ingin menceraikan saya. Saya akan siap."
_________________________________________________
Demi biaya keluarganya di kampung, Rea rela menerima tawaran untuk menjadi istri sementara seorang aktor terkenal—Dewangga Rahardian. Awalnya ia meyakinkan diri semua akan mudah, karena Dewangga menjanjikan bahwa ia tak akan pernah menyentuh Rea dan akan menceraikan Rea dalam waktu dekat. Pun kompensasi yang akan Rea terima nantinya bernilai cukup fantastis bagi Rea yang merupakan anak kampung.
Namun, seiring waktu apa yang Dewa janjikan tak pernah terjadi. Pria itu lebih suka menyiksa Rea dengan membelenggunya dalam ikatan pernikahan palsu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16
Dua minggu sudah Rea berada di Jakarta. Yunita pun sudah berada di rumah. Kesehatannya membaik sejak Dewa datang bersama Rea. Rea sendiri beberapa hari sekali menjenguk Yunita di rumah sakit, dan hal itu membuat wanita paruh baya itu bahagia. Perhatian Rea membuat Yunita semakin yakin jika Rea lah istri yang tepat untuk Dewa. Karena itu sepulang dari rumah sakit, Yunita tak sabar untuk melihat pernikahan putra semata wayangnya.
Tepat di hari Jumat sore, Dewa dan Rea melangsungkan akad nikah di rumah Dewa. Seperti rencana sebelumnya, Rea dinikahkan oleh wali hakim, setelah menunjukkan bukti tentang keadaan Rusli yang seharusnya menjadi wali nikah Rea. Rea bahkan menelepon Tatik agar bisa vidio call dengan Rusli. Semua demi meyakinkan calon wali hakim untuk Rea. Rea hanya ingin pernikahannya sah di mata hukum dan agama.
Ini semua adalah antisipasi Rea. Ia tidak tahu apa saja yang akan terjadi dalam pernikahannya dengan Dewa nanti. Meski tidak berharap, tapi tinggal serumah dengan seorang pria adalah hal yang harus diwaspadai. Ia hanya ingin merasa aman.
Pernikahan mereka digelar secara tertutup. Hanya mengundang beberapa orang saja. Meski demikian, berita pernikahan mereka tersebar begitu cepat. Awak media bahkan sudah menunggu di depan gerbang rumah Dewa untuk melihat dan memastikan pernikahan sekaligus ingin tahu siapa wanita yang Dewa nikahi.
Di dalam rumah, tepat di jam 16.00, Dewa dengan lantang mengucapkan kalimat kabul; "Saya terima nikah dan kawinnya, Reana Anggraini binti Rahmat Hidayah dengan mas kawin logam mulia seberat 100gr dibayar tunai."
"Bagaimana saksi, sah?"
"Sah!" teriak para saksi.
Tak ada rasa gugup dari Dewa, mungkin karena kalimat itu sudah sering ia ulang dalam banyak film atau sinetron. Dewa sudah hapal di luar kepala kalimat semacam itu.
Sementara Rea yang duduk di samping Dewa tak mampu menahan air mata. Ia teringat orang tuanya juga Rusli. Di hari pernikahan yang ditunggu-tunggu tak ada satu pun yang menyaksikan. Ia seperti sebatang kara. Tak ada satu pun pihak keluarga dari Rea.
Dewa yang menyadari hal itu langsung mengusap air mata Rea. "Jangan nangis, nanti mekapnya luntur."
Bibir Rea langsung mencebik. Kesal dengan ucapan Dewa. Meski begitu Dewa tetap mengusap lembut air mata Rea yang tadi membasahi pipi Rea.
Sebenarnya Dewa tahu apa yang Rea rasakan, sebab itu ia berusaha menghiburnya dengan lelucon. Bukannya lucu justru malah garing.
"Jangan cemberut, masak di hari pernikahan kita cemberut sih."
Rea langsung mengkondisikan bibirnya kembali normal. Namun, otaknya kini sibuk memikirkan tentang pernikahan ini. Terbesit rasa bersalah dalam dada.
"Ya Allah, maafkan hambaMu ini. Aku tidak bermaksud mempermainkan pernikahan. Engkau tahun apa yang menjadi tujuanku, Ya Rabb. Tolong ampuni hambaMu ini," ujar Rea dalam hati.
Usai akad nikah, beberapa tamu yang hadir dijamu dengan makanan yang sudah disiapkan. Acara berakhir sebelum adzan magrib. Dangat singkat, tapi memang itu yang Dewa inginkan. Mengundang beberapa tetangga dan kerabat dekat saja. Tidak ada resepsi, hanya akad sederhana.
Mulai malam ini Rea tinggal di rumah Dewa. Yunita yang menginginkan kalau Rea bisa tinggal bersamanya, dan Rea tidak keberatan.
Dibantu dua orang MUA yang Dewa percaya, Rea melepaskan segala riasan dan perhiasan yang ada di kepalanya. Meski pernikahan ya memakai cadar, tak mengurangi sedikit pun kesan cantik dan anggun pada diri Rea.
"Terima kasih, Mbak," ujar Rea setelah dua orang MUA selesai membantunya bersih-bersih.
"Kita pamit dulu, Mbak. Terima kasih sudah mau berfoto dengan kami," ujar Rea. Setelah Rea selesai dirias tadi, MUA itu meminta foto. Rea mengijinkan asal bukan fotonya yang tanpa cadar.
Di bawah, banyak orang sibuk membereskan segala macam dekorasi dan juga perlengkapan katering. Yunita yang sudah sembuh meski masih dianjurkan untuk banyak istirahat memilih tak mau diam. Ia dengan sigap memberi arahan pada orang-orang agar kembali merapikan rumahnya.
Dewa dan Luky justru sedang berada di ruangan yang biasanya dipakai Dewa untuk bersantai. Sebuah ruang yang penuh dengan buku. Lebih seperti perpustakaan.
"Langkah awal kita udah berhasil, kita tinggal tunggu bagaimana reaksi publik. Kalau masih saja belum teredam, kita bikin skenario baru," ujar Luky. Manager Dewa itu sudah memikirkan secara matang step by step rencana mereka untuk mempertahankan karir Dewa.
Cukup lama mereka bicara, sampai saat Dewa keluar, ia sudah melihat rumahnya kembali bersih dan rapi tanpa banyak barang yang sebelumnya memenuhi ruangan. Ada Rea juga yang sedang ikut mengelap sendok bersama Mbak Narti. Diawasi juga oleh Yunita yang duduk di kursi roda.
"Kok malah disini, kenapa nggak istirahat aja," ujar Dewa yang tiba-tiba memeluk Rea dari belakang dan mencium pipinya.
Tentu Rea syok.
"Kamu tu capek, Sayang. Istirahat aja biar ini dikerjain sama Mbak Narti," sambung Dewa lagi. Lagi-lagi pria itu mencium Rea. Kali ini di lehernya. Meski tertutup hijab tetap saja Rea bisa merasakannya.
"Benar, Rea. Kalian istirahat aja. Ini biar dilanjutin sama Narti," sambung Yunita. Ia bisa melihat kalau anak laki-lakinya sudah tidak tahan berduaan dengan sang menantu.
"Ini tinggal sedikit lagi, Mas," ujar Rea gugup. Dewa tak pernah cerita ada skenario ini.
"Udah, Re. Dewa udah nggak tahan tuh. Masuk kamar sana. Gue juga mau pulang." Luky menimpali.
"Nggak nginep sini aja kamu?" tanya Yunita.
"Gak ah, Tan. Nggak mau aku lihat pengantin baru, bisa-bisa panas aku nanti," jawab Luky cengengesan.
"Kamu ini ...." Meski begitu Yunita setuju ucapan Luky. Ia menyuruh Rea meninggalkan pekerjaan sebelumnya dan memintanya segera istirahat.
"Sebentar lagi selesai, Mam. Kasian Mbak Narti malau harus beresin sendiri." Rea bersikeras. Sejujurnya ia takut masuk ke kamar bersama Dewa.
Namun, penolakannya tak bisa Dewa terima. Pria itu langsung mengangkat tubuh Rea. Menggendongnya ke kamar.
"Mas ...!" pekik Rea karena kaget.
Semua yang ada di sana melihat dengan tawa apa yang Dewa lakukan.
"Dewa ... Dewa, nggak sabaran banget sih," gumam Yunita.
"Namanya pengantin baru, Tan," cetus Luky.
"Udah kamu tidur sini aja," ujar Yunita.
"Nggak, Tan. Aku pulang aja. Pamit ya, Tan." Luky pun pulang ke apartemen.
Yunita menatap tangga, tersenyum, lalu menggeleng-gelengkan kepala.
Sampai di kamar, Dewa menurunkan Rea. Ia menutup pintu kamar Dewa yang sekarang menjadi kamar keduanya.
"Sorry, gue cuma pengen Mami yakin kalau kita beneran nikah karena saling cinta," ujar Dewa menjelaskan sebelum Rea salah paham.
Rea mengangguk paham. Ini yang Rea takutkan. Tidak ada yang tahu tentang pria dan isi otak mereka. Setidaknya dengan menjaga pernikahannya sah dimata hukum negara dan agama, bisa mengurangi sedikit saja dari rasa bersalahnya.
"Mas, kita nggak tidur bersama, kan?