PENGUMUMAN PENTING!
Saya Acep Maulana memohon maaf kepada para pembaca. Karena satu dan novel ini akan saya Remake Total.
Saya sadar masih banyak belajar sebagai pemula, dan saya ingin memberikan karya yang lebih layak untuk kalian baca. Versi baru akan segera hadir dengan judul yang sama namun dengan kualitas tulisan yang jauh lebih baik.
Sampai jumpa di versi terbaru yang lebih bar-bar!
"Sial beneran! Erika, mantan agen rahasia yang energinya tak habis-habis, malah transmigrasi ke dalam novel tragis menjadi Rosalind von Astride, sang Putri Terbuang yang lemah dan sakit-sakitan!
Lebih parahnya lagi, keluarganya adalah kumpulan orang 'Tampan tapi Telmi (Telat Mikir)' yang ditakdirkan hancur total dalam dua tahun. Beruntung, Erika punya Sistem Makan Melon (Gosip) yang bisa membongkar semua rahasia musuh.
Sambil menikmati martabak diskon dari Ruang Sistem, Erika bertekad merombak takdir tragis keluarganya. Tapi masalahnya... radio batin Erika ternyata bocor ke seluruh keluarganya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon acep maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Konser Pagi dan Logika "Rebahan Elite"
Matahari pukul enam pagi di Kerajaan Astasura tidak sekadar terbit; ia seolah menyapu cakrawala dengan kuas emas yang dicelupkan ke dalam lelehan madu. Cahayanya yang lembut merayap melalui sela-sela ukiran jendela oak di Paviliun Musim Semi, membiaskan spektrum warna pelangi pada lantai marmer yang dipoles hingga mengkilap. Namun, kemewahan visual yang ditawarkan Kediaman Wiraatmadja ini berbanding terbalik dengan suasana "chaos" yang sedang meletus di dalam kesadaran penghuninya.
Erika, atau yang sekarang secara legal (dan terpaksa) dikenal sebagai Putri Rosalind Wiraatmadja sedang mempraktekkan filosofi hidup terbarunya: Rebahan Elite.
Tubuhnya yang masih ringkih terbenam dalam tumpukan bantal bulu angsa yang dibalut sarung sutra dingin. Rasanya jauh berbeda dengan kasur pegas di apartemen lamanya di Beijing yang seringkali berbunyi kriek-kriek setiap kali ia berguling, seolah memprotes berat badannya. Di sini, kasur ini seolah-olah adalah awan padat yang menangkap tubuhnya dengan kelembutan yang mencurigakan. Sebagai mantan agen rahasia berjuluk Ghost Viper, Erika sudah terbiasa tidur dengan satu mata terbuka, tangan menggenggam belati, dan telinga yang peka terhadap suara sekecil apa pun—bahkan suara gesekan kaus kaki ksatria penjaga di lorong terjauh pun bisa ia deteksi.
Namun pagi ini, insting pembunuhnya sedang ia simpan rapat-rapat di bawah bantal. Mengapa harus terjaga waspada jika ada sepiring roti panggang yang dilapisi selai stroberi liar yang aromanya lebih memabukkan daripada parfum termahal di pasar gelap Tiongkok?
Di sudut ruangan, tujuh orang pelayan baru berdiri dalam formasi baris-berbaris yang kaku. Punggung mereka tegak, tangan mereka bertaut di depan perut, dan pandangan mereka terpaku pada ujung sepatu masing-masing. Namun, jika seseorang memperhatikan dengan teliti, dahi mereka sedikit berkeringat meski udara pagi cukup sejuk. Mereka menatap Rosalind dengan binar mata yang campur aduk. Ada ketakutan yang murni—mengingat Rosalind yang asli memiliki hobi melempar vas bunga jika tehnya kurang panas satu derajat saja—tapi ada juga kebingungan yang sangat besar.
Majikan mereka yang baru saja "bangkit dari kubur" itu kini sedang duduk bersila di tengah kasur, jempol kakinya bergoyang-goyang mengikuti irama yang tak terdengar, sementara tangannya sesekali melakukan gerakan memutar di udara seolah sedang meng orkestrasi sebuah simfoni rahasia.
[ (Rosalind):]
["Gila. Benar-benar gila. Kalau agensi tahu aku menikmati hidup jadi pengangguran terselubung begini, mungkin mereka akan mencabut namaku dari daftar legenda. Tapi persetan! Menjadi agen rahasia itu melelahkan, Nana. Kamu harus menghitung kecepatan angin sebelum menembak, menghafal 50 wajah target dalam satu malam, dan makan bar protein yang rasanya seperti kardus basah. Sekarang? Lihat! Roti ini... selai ini... teksturnya meledak di lidahku seperti granat gula yang manis. Aku merasa jiwaku yang gersang ini mendadak ditumbuhi bunga matahari."]
Rosalind Wiraatmadja mengunyah dengan gerakan lambat, menikmati sensasi renyah pinggiran roti.
[ (Rosalind):]
["Tapi Nana, ada satu masalah besar. Dunia ini terlalu tenang. Estetik sih, kayak filter Instagram yang paling mahal, tapi sepi banget! Nggak ada dentuman musik dari klub malam bawah tanah, nggak ada suara klakson mobil yang saling memaki di kemacetan Beijing, bahkan nggak ada notifikasi pesan dari operator yang menyuruhku membunuh diktator. Aku merasa otakku mulai berjamur karena terlalu banyak oksigen bersih. Kita butuh hiburan. Ayo, Nana! Buka folder 'Koleksi Lagu Galau dan Koplo' di memori otakku. Kita bikin konser tunggal di sini!"]
[Sistem Peri Nana (Suara Panik):]
{"Nona! Saya mohon, kendalikan gelombang otak Anda! Sejak sinkronisasi jiwa kemarin, frekuensi batin Anda tidak stabil. Setiap kali Anda bersemangat, batin Anda memancarkan sinyal elektromagnetik yang setara dengan menara radio rusak! Jika Anda menyanyi sekarang dengan intensitas emosi seperti itu, saya khawatir para pelayan itu akan mengalami halusinasi pendengaran atau minimal sakit gigi mendadak!"}
Rosalind Wiraatmadja tidak memedulikan peringatan sistemnya. Ia justru semakin bersemangat. Ia membayangkan sebuah panggung megah di dalam kepalanya, lengkap dengan lampu sorot warna-warni dan suara bass yang menggetarkan dada. Ia mengambil melodi santai, lalu dengan jahil mengubahnya menjadi versi koplo dengan tempo ganda.
[Batin Erika (Rosalind):]
["Tarik sis! Semongko! Intro dulu ya... Nana-nananana... Nana-nananana... Musik masuk!"]
*{"(Verse 1)
[Pagi-pagi numpang kopi,
Ngopi hangat biar happy.
Ngobrol dikit, ketawa lagi,
Hidup santai, nggak usah sepi
(Pre-Chorus)
[Dulu dikejar musuh sampai ke ujung dunia,
Sekarang dikejar pelayan bawa baki air bunga.
Nasib oh nasib, jangan ditanya,
Rebahan elite itu hak segala bangsa!"}*]
[Sistem Peri Nana:]
{"Nona! Berhenti memasukkan nama saya ke dalam lirik lagu dangdut murahan itu! Saya ini sistem cerdas buatan dimensi tinggi, bukan penyanyi latar di panggung tujuh belasan! Dan demi demi kabel-kabel data saya, kenapa di otak Nona ada suara kendang yang begitu nyata?! Gendang telinga imajiner saya bisa pecah!"}
Rosalind Wiraatmadja justru semakin menjadi-jadi. Ia menggoyangkan bahunya sedikit, membuat selimut sutra itu merosot dari bahunya yang pucat. Para pelayan di pojok ruangan serentak menahan napas. Mereka melihat bahu sang Putri bergidik, dan wajahnya menunjukkan ekspresi puas yang sangat aneh.
Apakah sang Putri sedang mengalami kejang saraf? pikir salah satu pelayan dengan wajah pucat.
[ Rosalind):]
{"Eaa! Masuk Chorus! Hak'e Hak'e! Jos!"}
*{"(Chorus)
[Sore-sore numpang nyantai,
Duduk manis di pinggir pantai—eh, pinggir paviliun.
Malam datang, jangan risau,
Ada tempat buat rebah pulau!
Nggak punya tapi tetap gaya,
Hidup ringan tanpa drama.
Cobain aja rasanya,
Santuy itu nikmat luar biasa!"}*]
[Sistem Peri Nana (Suara Hampir Menangis):]
{"Nona, sumpah demi kode biner! Barusan ksatria penjaga yang berdiri di luar pintu itu tiba-tiba menoleh ke arah paviliun dengan wajah bingung. Dia sepertinya mendengar sayup-sayup suara 'Hak'e Hak'e' yang terbawa angin batin Nona! Frekuensi Anda bocor lagi! Kalau Duke Lyon lewat dan mendengar lagu tentang 'Rebahan Elite' ini di kepalanya, dia akan langsung memanggil pendeta untuk melakukan eksorsisme!"}
Rosalind Wiraatmadja menghentikan goyangan bahunya sejenak, namun tawanya masih bergema di dalam batin. Ia mengambil gelas berisi jus melon yang didinginkan dengan potongan es kristal. Sensasi dingin yang menyentuh kerongkongannya membuatnya semakin ingin bernyanyi.
[(Rosalind):]
["Nana, kau terlalu tegang. Hidup itu harus dinikmati seperti lagu. Namamu itu memang sangat catchy dijadikan lirik. Dengar ini, bagian penutupnya harus high note!"]
["Nana-nananana... Nana-nananana... Nana-nananana...!"]
**Rosalind Wiraatmadja menyanyikan nama "Nana" di dalam batinnya dengan vibrasi yang begitu kuat hingga layar antarmuka sistem di depan matanya berkedip-kedip merah.
[Sistem Peri Nana (Hampir Pingsan):]
{"NONA! CUKUP! Notifikasi 'Inang Memanggil' di pusat data saya sudah meledak melewati angka 999+! Saya kira Anda sedang dalam bahaya maut, atau mungkin jantung Rosalind berhenti berdetak lagi, ternyata Anda hanya ingin menyelesaikan bait lagu?! Saya mau pensiun! Saya mau cari inang lain, mungkin seorang sarjana sejarah atau biarawati yang tenang, bukan agen rahasia yang hobinya bikin konser koplo jam enam pagi!"}
Rosalind Wiraatmadja meletakkan gelas jus melonnya kembali ke nampan perak dengan bunyi dentang yang halus. Ia menarik napas dalam, merasakan udara pagi yang segar mengisi paru-parunya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tidak mencium bau bubuk mesiu atau karat logam di pagi hari.
["Siapa yang memanggilmu, Lalat Cahaya?" ]bisik Rosalind Wiraatmadja pelan, suaranya sangat halus seperti gesekan kain sutra, namun mengandung nada sarkasme yang kental.[ "Aku hanya sedang bersyukur. Suaramu itu yang justru merusak harmoni di kepalaku. Lagipula, namamu memang sangat enak disebut. Nana... Nana... Nana..."]
[Sistem Peri Nana:]
{"Jangan sebut nama saya lagi! Saya sedang mode mute! Dan Nona, lihatlah pelayan-pelayan malang itu. Mereka sekarang sedang saling berpegangan tangan karena melihat Nona bicara sendiri sambil tersenyum licik. Mereka pasti berpikir Anda sedang merencanakan cara baru untuk menyiksa mereka!"}
Rosalind Wiraatmadja melirik ke arah para pelayan. Benar saja, dua orang dari mereka tampak gemetar, dan yang satu lagi sepertinya sedang merapalkan doa-doa keselamatan dengan bibir yang komat-kamit cepat. Rosalind Wiraatmadja tersenyum—kali ini lebih lebar—yang justru membuat suasana di ruangan itu semakin mencekam bagi para pelayan.
[ (Rosalind):]
["Biarin aja mereka mikir aku gila. Di dunia intelijen, orang gila itu tidak akan dicurigai sebagai ancaman. Ini adalah strategi penyamaran tingkat tinggi. Siapa yang akan percaya kalau putri 'gila' yang hobi nyanyi koplo di pagi hari adalah seorang agen rahasia yang bisa mematahkan leher orang dalam tiga detik? Ini posisi yang menguntungkan."]
****Rosalind Wiraatmadja kembali bersandar, menyilangkan kakinya dengan santai.
[ (Rosalind):]
["Tapi Nana, aku serius. Kalau Duke Lyon datang lagi pagi ini dengan wajah kaku seperti papan cucian itu, apa aku harus menyambutnya dengan lagu 'Numpang Hidup'? Bayangkan dia berdiri di sana, mencoba bicara serius soal politik kerajaan, sementara di telinganya ada suara 'Hak'e Hak'e' yang menggelegar. Pasti wajahnya akan berubah jadi ungu kebiruan. Aku ingin sekali melihat Singa Wiraatmadja itu kebingungan mencari sumber suara musik dangdut."]
[Sistem Peri Nana (Suara Lelah):]
{"Nona, jika Anda melakukan itu, saya jamin Duke Lyon tidak akan panggil dokter, tapi langsung panggil pasukan Inkuisisi Gereja. Tolong, simpan sedikit martabat sisa-sisa Rosalind yang asli. Jangan sampai musuh-musuhmu kalah bukan karena kepandaianmu, tapi karena mereka semua kena gangguan mental akibat radiasi batinmu yang nggak jelas rimbanya itu."}
Rosalind Wiraatmadja memejamkan mata, membiarkan kehangatan matahari pagi menyentuh wajahnya. Ia bisa merasakan sirkulasi darah di tubuh Rosalind yang mulai membaik, meski otot-ototnya masih terasa lemas. Sambil menutup mata, ia membayangkan langkah selanjutnya. Paviliun Musim Semi ini adalah awal yang baik, sebuah benteng mewah yang bisa ia gunakan untuk menyusun rencana pembersihan besar-besaran di keluarga Wiraatmadja.
[ (Rosalind):]
["Enak-enakan cobain sekarang... hidup santai tanpa beban... Dari pagi sampai malam... Numpang bahagia itu tujuan... Eaa! Satu poin untuk Ghost Viper!"]
Nana benar-benar berhenti menjawab. Sistem itu memilih untuk melakukan reboot mandiri daripada harus melayani logika absurd inangnya. Sementara itu, di luar pintu Paviliun Musim Semi, langkah kaki berat yang mengenakan sepatu bot militer mulai terdengar mendekat. Detak jantung para pelayan meningkat drastis.
Duke Lyon Wiraatmadja telah sampai di depan pintu, membawa setumpuk hadiah sebagai bentuk penebusan dosa—tanpa menyadari bahwa di balik pintu itu, ia akan masuk ke dalam zona radiasi "konser batin" paling berisik yang pernah ada dalam sejarah Kerajaan Astasura.
Rosalind Wiraatmadja sedikit membuka satu matanya, menyeringai.
Target mendekat, pikirnya. Mari kita lihat seberapa kuat mental Singa Perbatasan ini menghadapi lagu koplo pagi ini.
......................
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...