Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak yang Diciptakan
Pagi itu datang lebih cepat dari biasanya, seolah waktu ikut berlari bersama keputusan Aurora. Jam di ponselnya menunjukkan pukul lima pagi ketika ia membuka mata. Tanpa banyak berpikir, ia langsung bangkit. Tidak ada lagi keraguan seperti kemarin. Hari ini, ia benar-benar akan pergi.
Aurora berjalan ke kamar mandi, membiarkan air dingin menyentuh kulitnya. Udara pagi terasa hening, dan untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, pikirannya tidak terlalu ramai. Setelah selesai mandi, ia keluar, mengenakan pakaian yang sudah ia siapkan semalam.
Ia duduk sebentar di meja makan, memaksakan diri untuk sarapan meskipun tidak terlalu lapar. Lalu, dengan gerakan yang rapi, ia mulai merias wajahnya. Make up tipis, cukup untuk membuatnya terlihat segar.
Setelah semuanya selesai, Aurora melirik jam.
Masih ada waktu sekitar empat puluh menit.
Ia duduk di tepi ranjang, membuka ponselnya, lalu mulai mencari taksi online. Jarinya bergerak cepat hingga akhirnya menemukan satu yang tersedia.
Pesanan dikonfirmasi.
Aurora menarik napas pelan, lalu ia menelepon Sheila.
Tak butuh waktu lama, telepon Aurora diangkat.
“Aku berangkat sekarang ya”
“Mau aku anterin ke bandara?”
Aurora tersenyum tipis mendengar itu, p“Nggak usah. Jauh, nanti kamu telat kerja.”
Sheila menggeleng pelan meski tidak terlihat, “Yaudah, atau mau aku teleponin Zayn biar dianterin?”
Aurora langsung mengernyit, “Apaan sih. Nggak usah bawa-bawa dia terus.”
Ia bahkan sedikit menggerutu pelan.
Sheila tidak menyerah, “Lah gimana, jelas-jelas dia perhatian.”
Aurora langsung menggeleng meskipun tidak terlihat, “Itu bukan perhatian. Biasa aja.”
“Antar jemput, ngajak makan, itu bukan biasa, Ra” balas Sheila lagi.
Aurora menarik napas panjang, “Nggak semua hal itu berarti cinta.”
Sheila langsung membalas cepat, “Aku tau banget tipe orang kayak dia. Nggak mungkin kayak gitu kalau bukan karena suka.”
Aurora mulai malas berdebat, “Iya iya terserah kamu deh.”
Tepat saat itu, notifikasi muncul kalau taksinya sudah sampai.
“Aku duluan ya. Bye.”
“Jaga diri!” balas Sheila.
Aurora langsung berdiri, mengambil kopernya, lalu berjalan keluar rumah. Ia mengunci pintu, memasukkan kunci ke dalam tas, lalu menyerahkan koper ke sopir taksi yang sudah menunggu.
Setelah koper masuk ke bagasi, Aurora masuk ke dalam mobil.
Perjalanan menuju bandara berlangsung sunyi. Aurora hanya menatap ponselnya sesekali, tanpa benar-benar melakukan apa-apa. Pikirannya terasa kosong, seperti belum sepenuhnya menyadari bahwa ia benar-benar pergi.
Sesampainya di bandara, Aurora turun dan membayar ongkos taksi. Sopir membantu menurunkan koper, lalu ia berjalan masuk ke dalam gedung bandara.
Ia melakukan semua hal seperti biasa check-in, mencetak boarding pass, menyerahkan bagasi, lalu melewati pemeriksaan keamanan. Setelah itu, ia menunggu di ruang tunggu, duduk diam sambil sesekali melihat layar informasi penerbangan.
Waktu berjalan hingga akhirnya panggilan boarding terdengar.
Aurora berdiri, berjalan masuk ke dalam pesawat, dan duduk di kursinya.
Beberapa saat kemudian, pesawat mulai bergerak. Perlahan, lalu semakin cepat, hingga akhirnya lepas landas.
Aurora menoleh ke jendela. Kota itu perlahan menjauh. Ia menarik napas pelan, “Bye…” gumamnya lirih.
Di sisi lain, pagi di kantor berjalan seperti biasa.
Zayn baru saja datang. Langkahnya tenang seperti biasanya, tapi berhenti sejenak saat melewati meja Aurora.
Meja itu kosong.
Alisnya sedikit berkerut.
Ia langsung berjalan menuju meja Sheila.
“Mana Aurora?” tanya Zayn singkat.
Sheila menoleh, sedikit terkejut, “Loh, Bapak nggak tau?”
Zayn menatapnya, “Tau apa?”
Sheila mengernyit, “Aurora ke luar negeri. Mau ketemu orang tuanya.”
Zayn terdiam.
Sheila melanjutkan, “Katanya sih, mau cuti.”
Zayn langsung menjawab datar, “Dia belum izin.”
Sheila terlihat bingung, “Loh? Katanya mau bilang…”
Zayn hanya mengangguk kecil, “Saya nggak tau.”
Ia tidak berkata apa-apa lagi, lalu berbalik dan masuk ke ruangannya.
Pintu tertutup.
Di dalam, Zayn berdiri beberapa detik tanpa bergerak.
Tatapannya kosong, tapi rahangnya mengeras sedikit.
Aurora pergi, tanpa izin, tanpa bilang langsung, dan entah kenapa, itu terasa mengganggu.
Sementara itu, perjalanan Aurora menuju Swiss memakan waktu panjang, sekitar dua belas hingga tiga belas jam.
Dan akhirnya, pesawat itu mendarat.
Aurora membuka matanya perlahan ketika pengumuman terdengar. Ia mengambil kopernya, lalu berjalan keluar dari pesawat.
Begitu keluar dari bandara, udara sejuk langsung menyambutnya.
Aurora menarik napas panjang. Udara itu terasa berbeda. Lebih dingin, tapi juga lebih tenang.
Ia berjalan sambil membuka ponselnya, lalu mengirim pesan singkat.
“Pak, saya izin cuti sekitar satu minggu.”
Pesan itu terkirim.
Aurora tidak menunggu balasan. Ia terus berjalan hingga keluar dari bandara.
Dan di sana, ia langsung melihat dua sosok yang sudah menunggunya di depan mobil.
Seorang wanita berdiri anggun dengan aura tenang, wajahnya lembut, tapi sorot matanya tegas. Itu adalah Rina Maharani ibunya Aurora. Di sampingnya, seorang pria dengan postur tegap dan ekspresi hangat. Itu adalah Arman Dewantara Ayah Aurora.
Aurora tersenyum kecil, “Mama… Papa…”
Rina langsung mendekat dan memeluk Aurora erat, “Kamu kurusan.”
Aurora tertawa kecil di sela pelukan, “Nggak juga, Ma.”
Arman menepuk bahu Aurora lembut, “Akhirnya pulang juga.”
Aurora menatap mereka bergantian, “Kenapa sih jemput? Aku kan bisa naik taksi.”
Rina menggeleng, “Kita kangen.”
Arman tersenyum, “Papa malah seneng. Jadi inget dulu sering jemput kamu sekolah.”
Aurora tersenyum kecil.
Rina langsung menyela, “Udah, lanjut di rumah aja.”
Aurora mengangguk.
Mereka masuk ke dalam mobil, dan perlahan mobil itu melaju meninggalkan bandara.
Sementara itu, di kantor.
Zayn akhirnya membuka ponselnya.
Pesan dari Aurora muncul di layar. Ia membacanya sekali.
Diam.
Lalu menatap layar itu lebih lama dari yang seharusnya.
Ekspresinya tetap datar. Tapi ada sesuatu di matanya yang berubah.
Aurora pergi. Dan baru memberi tahu setelah semuanya terjadi.
Zayn meletakkan ponselnya perlahan di atas meja.
Tangannya mengetuk pelan permukaan meja.
Sekali.
Dua kali.
Tatapannya menggelap.
Dan untuk pertama kalinya, rencana yang ia susun rapi terasa sedikit terganggu.