Zha Yongjin, seorang Pemimpin Bangsa Naga yang terlahir kembali menjadi seorang anak kecil dengan latar belakang yang tidak diketahui. Dengan bantuan seorang kakek asing yang ditemuinya di tempat random, ia pun membesar dan mencaritahu sendiri latar belakang asli dari tubuh yang dirasukinya ini.
~Karya ini terinspirasi dari komik favorit Author~
...______...
Untuk pengetahuan pembaca yang telah membaca novel Season 1 dan Season 2-nya, kini kedua season itu akan digabung dalam novel ini.
Author juga akan menambah beberapa perubahan dari alur, dialog, dan juga mungkin dalam karakter.
Sekian, maaf jika deskripsinya pelit, karena Author lagi malas mengetik.
Selamat menikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕱𝖑𝖔𝖜𝖊𝖗𝖅𝖞𝖗𝖊𝖓𝖊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Seo Gyunghao
Gyunghao masih agak ragu dengan Raon-jun.
Mereka baru bertemu, tentu dirinya tidak sepenuhnya menaruh kepercayaan pada pemuda itu.
Namun meskipun begitu, hanya karena nada bicara yang terasa tidak asing, ia menuruti perintahnya.
"Semoga saja dia tidak berbohong." pikir Gyunghao, "Tapi, dia bisa mengenaliku dengan mudah... Itu berarti aku bisa mempercayainya kan?"
Kalau dipikir-pikir lagi, Raon-jun memang seperti tidak berbohong. Tetapi Gyunghao tetap saja meraguinya.
Meski batinnya berisik penuh dengan tanda tanya, Gyunghao tetap menatap lurus ke arah Raon-jun.
Mempelajari setiap gerakannya, nada bicara, serta emosinya.
Pemuda yang mengaku sebagai Yongjin itu terlihat terlalu santai dan bebas.
Tidak seperti Raga Naja yang dikenalinya dahulu.
Yongjin, Sang Raja Naga yang taat peraturan dan keras pada dirinya sendiri. Tidak mungkin akan tertawa dan bercanda dengan santai seperti itu.
"Ataukah selama ini... Ia menyembunyikan sifat aslinya, karena posisinya?"
Gyunghao tahu betul bahwa Yongjin tidak begitu suka pada candaan dan sangat jarang tertawa. Kecuali pada orang terdekatnya seperti Yuwon.
Dan Yuwon adalah satu-satunya.
Melihatnya tertawa bebas dan dekat dengan kedua orang asing ini, membuat pikiran Gyunghao semakin penuh.
"Jangan bilang, ia menyukai kehidupannya yang sekarang berbanding dulu?" pikir Gyunghao sambil menundukkan kepalanya, menatap setiap bekas tapak kaki yang ditinggalkannya di permukaan tanah.
"Yah, itu wajar. Bahkan aku yang sudah hidup selama ratusan—... Tidak, ribuan tahun ini... Juga muak dengan kehidupanku."
Mengabdi, menjaga, melakukan tugas, dan bertahan hidup.
Gyunghao juga sadar akan sesuatu... Bahwa dirinya tidak memiliki nafsu.
Ia hanya pernah sekali, ketika bertemu dengan mendiang istrinya.
Keinginan untuk menikahinya, melindunginya, hingga memiliki keturunan dengannya.
Namun semuanya hancur seketika setelah kepergiannya.
Bukankah itu menyedihkan?
Ia merasa seperti hanya diberi kenyamanan sementara. Lalu setelah itu, siklus kehidupannya akan berjalan seperti biasa...
"Hidupmu membosankan ya?"
"...Bisa dibilang begitu..."
"Wajar jika kau berpikir seperti itu, hidupmu memang melelahkan.."
"Yah, itupun karena kaulah yang memilih jalannya sendiri."
"Aku tidak begitu keberatan jika kau mengundurkan diri."
"Mau kau pergi atau tidak, itu pilihanmu."
"Toh, sekarang aku sudah besar. Aku juga sudah bisa menjaga diriku sendiri."
"Bukankah kau sendiri juga pernah berkata, bahwa jika kau ingin mengganti warna hidupmu, maka kau harus menentukan sendiri pilihanmu?"
"Jika kau merasa bosan dan muak, tanyakan saja pada dirimu."
"Kenapa kau memilih jalan ini? Apa alasanmu untuk tetap bertahan di tempat yang bahkan kau sendiri tidak impikan ini?"
"...Jangan berpikir aneh tentang ucapanku. Aku hanya mengatakan yang menurutku harus kukatakan."
"Sejujurnya, aku juga muak melihatmu terus mengulangi hal yang sama."
"Aku pernah bertanya pada diriku sendiri, “Kenapa pria ini terus bekerja? Tidakkah ia merasa lelah? Apa dia akan terus berdiri di sampingku dan melakukan perintahku seperti seekor anjing?”...."
"Aku..."
"...Lupakan."
"Aku sudah mengoceh panjang lebar begini. Kuharap kau memahaminya."
"E-eh, apa? Sebentar, Tuan—! Maksudku, Yang Mulia! Anda—!!!"
BYURRR!!!
"—Sebentar!!!" jeritan tiba-tiba Gyunghao mencipta keheningan untuk sejenak, di depannya, tampak Raon-jun dan yang lainnya sedang memandanginya dengan tatapan aneh.
"..."
"...Ah, kau tau jalannya?" tanya Raon-jun sok polos, memecah keheningan yang menurutnya terlalu menggantung.
Sementara si bumil, Ahreum, Seokjin dan Hwan-jae. Hanya menatap Gyunghao dengan kebingungan.
Gyunghao mematung di tempat dengan pose anehnya, entah sama ada dia sedang bingung atau malu. Namun yang pasti, ia sudah sadar dari lamunannya.
dia beneran aneh
biar dapat kesannya