Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
"Astaghfirullah". Ucap mereka semua dengan gelengan kepala karena tidak percaya.
" Kenapa kamu lakukan ini mas?, kak Wina sudah baik dan sering membantu kita, apa kamu mau menjadi manusia yang lupa pada tempatnya setelah semua yang dilakukan ibu Wina? ". Sang istri menggelengkan kepalanya dengan kecewa yang mendalam.
Nafas Rayyan tercekat, perkataan istrinya bagai tamparan keras padanya saat ini, matanya mulai mengembun.
"Benar yang dikatakan istrimu nak, Wina telah banyak berjasa pada keluarga kita, kenapa kamu tega melakukan itu padanya?, ibu sampai tidak bisa bernafas mendengar nya". Sang ibu kini bernafas berat berusaha mengontrol degub jantungnya.
Benar selama ini Wina telah membantu keluarganya, biaya pengobatan ayah dan ibunya bahkan biaya persalinan istrinya dia juga yang membiayai, belum lagi saat dia belum bekerja, Wina yang mengambilnya dan menempatkan posisi ini hingga sekarang karena dia kesulitan ekonomi saat ayahnya sakit-sakitan dan dia belum mendapatkan pekerjaan.
"Ayah sangat kecewa padamu, ayah mendidik mu menjadi lelaki bertanggungjawab dan tahu balas budi tapi sekarang kamu melempar kotoran yang paling berbau dengan melakukan tindakan kotor itu, ayah dan ibumu masih ada disini berkat bantuan nak Wina". Mata sang ayah berkaca-kaca.
Dia jelas mengingat bagaimana baik dan perhatiannya Wina pada mereka sekeluarga dan anak kebanggaannya malah menusuk ornag yang menolongnya seperti ini.
"Maafkan aku". Tangis Rayyan pecah.
Dia menatap keluarganya dengan tatapan menyesal akan perbuatannya, dia tidak bisa mendengar keluarganya kecewa tapi sekarang dia malah melukai hati semua orang.
Ayah Rayyan menatap layar yang menampilkan wajah Wina yang tengah duduk di kursi roda dengan tatapan bersalah sekaligus malu.
"Nak Wina, maafkan putra paman karena melakukan hal seperti itu kepadamu, silahkan lakukan apapun padanya jika memang dia sangat bersalah padamu, paman tidak akan melarangnya".
Wajahnya pucat karena sangat malu dan seakan tidak punya muka untuk ditunjukkan kepada Wina setelah perbuatan putranya.
"Ayah". Cicit Rayyan tidak percaya, air matanya sejak tadi tidak berhenti menetes.
Ayah nya mengorbankan dirinya seperti ini, walau dia sadar jika ayahnya melakukan ini karena perbuatannya sendiri, dia sungguh sangat ketakutan
Dia menatap ibu dan istrinya berharap mereka membelanya tapi keduanya malah membuang muka seolah setuju dengan apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Bu, dek". Cicitnya pelan.
Sang ibu menarik nafasnya dalam-dalam berusaha menghilangkan gemuruh yang ada didadanya karena takut, khawatir dan juga amarah.
"Kamu bersalah nak, ibu dan ayah mu selalu mengajarkan padamu pentingnya rasa tanggungjawab atas perbuatan kita, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatanmu pada nak Wina, kamu hampir melenyapkan orang-orang yang dia sayangi padahal kamu tahu dia yatim piatu dan orang-orang yang ada di sekitar nya adalah pelindungnya tapi kamu tega melakukan hal itu, bagaimana jika itu terjadi padamu? ".
Airmata yang sejak tadi dia tahan akhirnya tumpah, dia merasa terluka, dia sungguh marah dan kecewa tapi juga khawatir terjadi sesuatu pada anaknya tapi dia tidak bisa berbuat apapun karena anaknya bersalah.
Wina memandang drama didepannya dengan tatapan dingin dan datar, hatinya mulai beku dan mati rasa dari rasa ibah, karena perasaan itu hanya akan membuat orang-orang selalu menganggap dirinya lemah.
"Lenyapkan keluarganya, biarkan dia tahu bagaimana rasanya jika keluarganya diperlakukan sama seperti perbuatannya itu".
Mata Rayyan nyaris melompat dari tempatnya, dia menggeleng keras dengan tatapan memohon sedangkan keluarganya hanya menatap Wina dengan pasrah.
"Silahkan lakukan nak, maafkan Rayyan atas perbuatannya".
Rayyan memberontak frustasi, dia tidak ingin Wina melakukan apapun pada keluarganya, dia yang melakukan kesalahan, cukup dia saja yang mendapatkan nya
"Kumohon jangan lakukan itu pada mereka, biarkan aku yang bertanggungjawab atas perbuatan ku, kumohon aku saja". Tangis Rayyan semakin tidak terkendali.
"Lakukan". Ucap Wina tanpa peduli teriakan Rayyan.
Teriakan keluarga Rayyan terdengar, layar didepannya berubah gelap seakan menyembunyikan keadaan keluarganya, dia semakin menjerit menatap Wina penuh kebencian.
"Jangan, jangan aku mohon". Suaranya berubah serak karena terlalu sering berteriak.
"Hajar dia, pastikan dia tidak bisa bergerak dan jika sudah tidak bisa bergerak bawah tubuhnya pada keluarganya, pastikan seluruh tabungan dan aset yang dia miliki dariku kalian ambil". Ucap Wina semakin dingin.
Para anak buah Wina mengangguk, kemudian mendekati Rayyan dan membuka tali nya dan menghajar Rayyan tanpa ampun sedangkan Wina hanya menatap kejadian itu dengan dingin didepan matanya.
"Kau terlalu meremehkan aku tuan Rayyan".
Wina mematikan sambungan itu, dia tersenyum miring, dia yakin Rayyan pasti sangat menyesal melakukan ini padanya, dia menganggap keluarganya dalam bahaya besar.
Wina memang menyuruh anak buah nya untuk memukul keluarga Rayyan tapi hanya sekali agar Rayyan tahu bagaimana rasanya berasa diposisi dirinya.
Dia masih punya nurani karena keluarga Rayyan tidak bersalah dan tidak ada sangkut pautnya dengan kesalahannya
"Sudah puas bermain-main nya? ". Tanya seorang yang berada dibelakang Wina.
Wina tersentak dan menoleh kebelakang, matanya membulat sempurna melihat Alex berada dibelakangnya dengan gaya andalannya itu.
"Kau menguping dan melihat apa yang aku lakukan? ". Tanyanya dengan dingin dan tajam walau terlihat terkejut tapi tatapan matanya langsung bertabrakan dengan mata Alex.
Alex tersenyum tipis kemudian menghampiri Wina dengan perlahan tanpa memutus kontak mata mereka.
"Maaf karena lancang masuk tanpa mengetuk pintu, aku hanya ingin memastikan apakah dugaanku benar atau tidak hanya ternyata sudah terbukti, kenapa tidak mengatakannya padaku?". Tanyanya dengan nada lembut.
Tatapan matanya melembutkan seketika sangat berbeda jika dia berhadapan dengan orang lain.
"Mereka bermasalah denganku, bukan denganmu, aku tidak ingin melibatkan orang lain dalam masalahku, apalagi kamu sudah banyak membantuku". Jawabnya dengan tenang.
"Aku bukan orang lain Wina, aku juga bagian dari keluarga Aditama, walau aku hanya anak angkat tapi aku bagian dari mu juga". Jawabnya dengan lembut.
Kini dia duduk diranjang kamar Wina kemudian membalikkan kursi roda Wina menghadap kearahnya agar mereka bisa leluasa berbicara dengan hati.
Wina merasa ada desiran berbeda ketika mereka bertatapan seperti ini, dia tidak mungkin salah menafsirkan, dia bukan anak kemarin sore yang tidak tahu artinya.
"Kamu sudah terlalu banyak membantuku, aku hanya tidak mau dianggap lemah karena selalu mendapatkan ukuran tangan saat aku membalas perbuatan orang yang jahat kepadaku, aku tidak mau orang sekitarku mendapatkan masalah kembali karenaku".
Tatapan tajam itu berubah menjadi tatapan sendu sekaligus kosong, dia berusaha kuat tetapi entah mengapa dirinya bisa menjadi dirinya sendiri dan mengatakan apapun dengan jujur tanpa ada hal yang ditutupi kepadanya.
"Kamu masih memiliki aku Win, jangan pernah bertindak sendirian, kamu bisa mengandalkan ku".