NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 21 Ratu, Takhta, dan Rahasia Lama

Hujan turun pelan di luar rumah sakit, meninggalkan suara rintik yang samar di lorong-lorong putih penuh bau obat. Ibu Ravin duduk gemetar di depan ruang dokter dengan mata sembab sejak tadi malam. Tangannya terus menggenggam rosario kecil milik Ravin seakan itu satu-satunya yang membuatnya tetap kuat.

Dokter membuka hasil pemeriksaan dan menarik napas panjang sebelum bicara.

“Operasinya berhasil… tapi kondisi Ravin masih sangat kritis.”

Kalimat itu langsung membuat jantung ibu Ravin terasa jatuh.

“Dokter… anak saya sadar kan?” suara ibu Ravin bergetar, hampir tidak terdengar.

Dokter menatapnya penuh hati-hati.

“Kami belum bisa menjamin kapan dia sadar. Benturan di kepalanya cukup parah, lalu cedera di bagian tulang belakang juga membuat proses pemulihannya panjang.”

Ruangan terasa sunyi.

“Berapa lama…?” tanya ibu Ravin lirih.

Dokter diam beberapa detik sebelum menjawab pelan.

“Bisa seminggu… sebulan… bahkan bertahun-tahun. Ada kemungkinan pasien mengalami koma cukup lama.”

Tubuh ibu Ravin langsung melemas di kursi. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Tidak… Ravin saya tidak mungkin seperti itu…”

Ayah Ravin yang sejak tadi berdiri akhirnya membanting map pemeriksaan ke meja.

“Saya tidak terima!” suaranya keras penuh emosi. “Pindahkan anak saya ke rumah sakit terbaik! Kalau perlu keluar negeri! Saya akan lakukan apa saja!”

Dokter mencoba menenangkan.

“Kami mengerti perasaan Anda, Pak. Tapi kondisi Ravin belum stabil untuk dipindahkan sekarang.”

Ayah Ravin mengepalkan tangan kuat-kuat menahan marah dan takut yang bercampur menjadi satu. Untuk pertama kalinya pria itu terlihat benar-benar hancur sebagai seorang ayah.

Sementara ibu Ravin hanya menangis sambil menutup wajahnya.

“Dia anak yang baik… kenapa harus dia…”

Jauh di kerajaan, seorang cenayang tua duduk diam di ruangannya yang remang. Lilin-lilin kecil menyala di sekelilingnya sementara matanya tertutup rapat.

Angin malam berhembus pelan.

Perlahan ingatannya kembali ke lima belas tahun lalu…

Saat pertama kali dirinya dipanggil ke istana oleh Raja.

Waktu itu, Ratu Ratih masih menjadi ratu utama kerajaan. Sosok lembut namun berwibawa yang sangat dipercaya rakyat. Sedangkan ratu yang sekarang… hanyalah seorang selir yang belum memiliki pengaruh besar.

Cenayang membuka matanya perlahan mengingat masa itu.

Ratu Ratih adalah orang yang memilih dirinya menjadi cenayang kerajaan.

“Kerajaan membutuhkan seseorang yang bisa melihat takdir lebih jauh dari manusia biasa,” kata Ratu Ratih saat itu dengan tenang.

Hari itu cenayang pertama kali memasuki taman istana dan bertemu penasehat kerajaan bersama kedua putrinya yang masih kecil.

Arum yang berusia lima tahun duduk tenang membaca gulungan kecil sambil mendengarkan pelajaran. Sedangkan Ajeng kecil yang baru tiga tahun sibuk mengikuti kakaknya dengan langkah pendek-pendek lucu.

Cenayang masih mengingat jelas saat pertama kali menatap kedua anak itu.

Aura mereka berbeda.

Terlalu kuat untuk anak kecil.

Terutama Arum.

Saat Arum kecil menoleh dan tersenyum polos, cenayang sempat terdiam lama.

Dalam penglihatannya… gadis kecil itu memiliki cahaya seorang ratu.

Namun saat cenayang mencoba melihat masa depan lebih jauh, penglihatannya justru berubah.

Yang duduk di singgasana sebagai putri mahkota… bukan Arum.

Melainkan Ajeng.

Dan di balik penglihatan itu…

ada darah.

ada air mata.

ada bahaya besar yang menyelimuti Arum jika ia menjadi pendamping Putra Mahkota Yudra.

Sejak hari itu cenayang memilih memendam rahasia tersebut sendirian.

Bahkan pada ayah Arum sekalipun.

Cenayang menundukkan kepala pelan.

“Maafkan aku… Arum…”

Suara hujan terdengar semakin deras di luar.

“Jika Ratu Ratih tidak turun dari tahtanya dulu… maka seharusnya kaulah yang berada di sisi Pangeran Aruna…”

Tatapan cenayang berubah sedih.

“Takdir kerajaan ini berubah sejak ratu baru mengambil mahkota itu…”

Malam di kediaman selir Ratih terasa jauh lebih sunyi dibanding bagian utama istana. Tidak ada musik kerajaan, tidak ada pelayan berlalu-lalang dengan ramai. Hanya suara sendok porselen dan hembusan angin malam dari taman belakang.

Selir Ratih duduk anggun di depan meja makan bersama putranya, Pangeran Aruna atau Ravin.

Cahaya lilin memantulkan wajah wanita itu yang tetap cantik meski menyimpan kelelahan bertahun-tahun. Tatapannya terus tertuju pada Aruna seolah sedang menghafal wajah putranya lebih dalam malam ini.

Ravin yang menyadari hal itu akhirnya menurunkan sendoknya perlahan.

“Ibu terus melihatku sejak tadi,” katanya pelan. “Ada sesuatu?”

Selir Ratih tersadar lalu tersenyum kecil.

“Tidak… ibu hanya berpikir kau sudah tumbuh sangat besar.”

Ravin mengernyit samar.

Namun dalam hati selir Ratih, pikirannya jauh lebih berat.

Apa dirinya harus melepas Aruna pergi jauh demi keselamatannya?

Selama ini ia tetap bertahan di istana hanya karena satu hal—Raja.

Meski turun dari posisi ratu menjadi selir, cintanya pada raja tidak pernah berubah. Dan sejak hari ia menyerahkan mahkota itu, Ratih berjanji akan tetap berada di sisi pria yang dicintainya sampai kapan pun.

Tapi…

jika istana ini mulai berbahaya bagi Aruna…

apa dirinya masih bisa mempertahankan semuanya?

Selir Ratih menghela napas pelan lalu mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Aruna… sesekali temani Putra Mahkota Yudra.”

Ravin langsung diam.

“Dia tidak punya banyak teman di istana,” lanjut Ratih lembut. “Bagaimanapun kalian saudara. Kalian sama-sama putra raja.”

Tatapan Ravin berubah dingin.

“Dan ayahmu juga sangat menyayangimu sama seperti menyayangi Yudra.”

Sendok di tangan Ravin berhenti bergerak.

“Aku tidak peduli.”

Jawabannya langsung membuat suasana membeku.

Selir Ratih sedikit terkejut.

“Aruna…”

“Aku tidak peduli dia kesepian atau tidak.”

Nada suara Ravin terdengar datar, namun jelas menyimpan emosi yang dipendam lama.

“Istana selalu memintaku mengalah sejak kecil.”

Ratih mulai merasa tidak tenang mendengar arah pembicaraan putranya.

“Posisi itu…” Ravin tersenyum tipis penuh pahit. “Seharusnya milikku.”

Selir Ratih langsung menatap putranya lekat.

“Aruna, hentikan.”

“Itu bukan rumor lagi, Ibu.” Tatapan Aruna tajam untuk pertama kalinya. “Itu fakta.”

Angin malam meniup tirai ruangan pelan.

“Aku adalah putra Ratu Ratih.”

Suasana makan yang tadinya hangat berubah sesak.

Selir Ratih menunduk perlahan.

Selama ini ia selalu berusaha menjauhkan Aruna dari ambisi istana. Ia rela melepas mahkota demi melindungi putranya dari perebutan kekuasaan yang kejam.

Namun ternyata…

luka itu tetap tumbuh di hati Aruna selama bertahun-tahun.

“Ibu tidak pernah menyesali semua ini,” ucap Ratih lirih. “Mahkota bukan segalanya.”

“Tapi itu milik ibu.”

Ratih terdiam.

Aruna mengepalkan tangannya di atas meja.

“Aku akan mengembalikan semuanya.”

Mata selir Ratih langsung membesar.

“Aruna!”

“Termasuk posisi ratu yang seharusnya.”

“Hentikan bicara seperti itu!” suara Ratih akhirnya meninggi untuk pertama kalinya.

Ravin menatap ibunya tanpa mundur sedikit pun.

“Aku muak melihat ibu hidup seperti ini.”

Kalimat itu menusuk hati Ratih begitu dalam.

“Aku tidak masalah menjadi selir,” bisik Ratih pelan penuh kesedihan. “Semua ini demi keselamatan kita… terutama dirimu.”

Namun Ravin menggeleng keras.

“Aku tidak bisa menerima itu.”

Tatapan matanya dipenuhi kemarahan dan luka yang bertahun-tahun disembunyikan.

“Kalau mereka mengambil hak kita… maka aku akan merebutnya kembali.”

Dan untuk pertama kalinya malam itu, selir Ratih merasa takut pada masa depan putranya sendiri.

Malam semakin larut di ruang kerja raja. Cahaya obor di dinding bergerak pelan tertiup angin, membuat bayangan ruangan tampak berat dan suram. Raja duduk sendiri di depan meja penuh gulungan kerajaan, namun pikirannya jelas tidak berada di sana.

Ketukan pintu terdengar.

Ratu masuk dengan langkah anggun dan wajah tenang seperti biasanya. Gaun kebesarannya menyapu lantai marmer sementara aroma bunga melati memenuhi ruangan.

“Aku ingin membahas persiapan pernikahan Putra Mahkota,” ucap ratu pelan.

Raja mengangkat pandangan.

“Bukankah semuanya sudah dipersiapkan?”

“Ada satu hal yang belum.”

Suasana ruangan langsung terasa berbeda.

Ratu berjalan mendekat lalu berhenti tepat di depan meja raja.

“Tradisi tameng pondasi.”

Tatapan raja langsung berubah tajam.

“Tidak.”

Jawabannya begitu cepat tanpa ragu sedikit pun.

Ratu sedikit tersenyum tipis seakan sudah menduga penolakan itu.

“Tradisi itu sudah turun-temurun sejak kerajaan ini berdiri,” katanya tenang. “Putra mahkota membutuhkan seseorang sebagai pondasi sekaligus pelindung takdir kerajaan.”

“Aku bilang tidak.”

Nada suara raja kali ini jauh lebih dingin.

Ratu tetap berdiri tenang.

“Ini demi keselamatan penerus kerajaan.”

Raja mengepalkan tangannya pelan di atas meja.

Ia sangat tahu apa arti tradisi itu.

Tameng pondasi bukan sekadar ritual biasa.

Orang yang dipilih akan menanggung sebagian beban takdir, bahaya, bahkan kutukan yang seharusnya jatuh pada putra mahkota. Dan dalam banyak sejarah kerajaan… tameng pondasi jarang memiliki akhir hidup yang baik.

Karena itulah raja bersumpah tidak akan pernah melakukan ritual itu lagi.

“Ada kandidat lain,” kata ratu perlahan.

Raja menatapnya tajam seolah sudah tahu jawaban yang akan keluar.

“Pangeran Aruna.”

Ruangan langsung sunyi.

Bahkan suara angin di luar terdengar jelas.

Raja berdiri dari kursinya dengan wajah penuh amarah tertahan.

“Jangan pernah menyebut itu lagi.”

Ratu tetap tidak mundur.

“Mereka saudara. Ikatan darah kerajaan tetap ada meski berbeda ibu. Aruna yang paling cocok menjadi pelindung Putra Mahkota.”

“CUKUP!”

Suara raja menggema memenuhi ruangan.

Untuk pertama kalinya malam itu, emosi raja benar-benar terlihat.

“Aku tidak akan menyerahkan Aruna pada ritual terkutuk itu.”

Tatapan ratu mulai berubah dingin.

“Kerajaan membutuhkan kestabilan.”

“Dan Aruna juga anakku!”

Kalimat itu membuat ratu diam sesaat.

Napas raja terdengar berat.

Ingatan lama kembali memenuhi kepalanya.

malam Hari ketika Ratih melepas mahkota dan turun menjadi selir demi menghentikan perebutan kekuasaan di istana.

Hari ketika wanita itu menangis diam-diam sambil berkata—

“Aku rela kehilangan tahta… asal Aruna hidup dengan selamat.”

Dan malam itu…

raja berjanji.

Ia akan melindungi Aruna apa pun yang terjadi.

Tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh putranya.

Tidak akan membiarkan istana menghancurkan hidup Aruna.

Tatapan raja kembali tajam pada ratu.

“Aku sudah berjanji pada Ratih.”

Ratu memalingkan wajah perlahan.

“Janji pribadi tidak bisa mengalahkan keselamatan kerajaan.”

“Aku akan mencari cara lain.”

“Tidak ada cara lain.”

“Aku bilang ada!”

Suasana menjadi semakin tegang.

Ratu akhirnya tersenyum tipis penuh kekesalan tersembunyi.

Ia sudah tahu sejak awal raja tidak akan pernah setuju.

Namun justru karena itu…

ia harus mencari jalan lain.

Ratu membungkuk pelan lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan.

Gaun panjangnya bergerak perlahan menyapu lantai dingin istana.

Sementara raja tetap berdiri diam dengan napas berat.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun…

ia merasa takdir mulai bergerak mengincar Aruna lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!