Seharusnya di bulan Juni, Arum tidak menampakkan dirinya demi mendapatkan kebahagiaan bersama seseorang yang di yakini bisa mengubah segala hidupnya menjadi lebih baik lagi. Nyatanya, sebelah sayapnya patah. Bukan lagi karena hujan yang terus mengguyurnya.
Sungguh, ia begitu tinggi untuk terbang, begitu jauh untuk menyentuhnya. Dan, begitu rapuh untuk memilikinya...
Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPERGIAN YANG TAK DIHARAPKAN
Laura menekan pedal gas lebih dalam. Deru mesin mobilnya menggema, menelan hiruk-pikuk jalan raya yang tadi masih dipenuhi kendaraan dan klakson yang saling bersahutan.
Lampu-lampu toko, papan reklame, dan barisan mobil perlahan tertinggal di belakang, menyusut menjadi garis-garis cahaya yang kabur dari kaca spion.
Sedikit demi sedikit, jalan yang dilaluinya berubah. Aspal yang semula padat kini terbentang lengang, nyaris tanpa kendaraan lain. Tak ada lagi suara klakson atau langkah tergesa para pejalan kaki—yang tersisa hanya desau angin yang memukul bodi mobil dan detak mesin yang terdengar semakin jelas.
Saat hujan masih mengguyur permukaan dan langit semakin sore, lampu jalan mulai menyala di sesepanjang jalan, berjajar seperti saksi bisu, memantulkan cahaya terang di permukaan aspal yang kosong.
Namun, Arum masih tak ingin bertanya, kemana wanita yang berada disampingnya itu akan membawanya pergi, ia hanya terisak dalam balutan hati yang semakin janggal. Sementara, Laura tetap menggenggam setir, bahkan kini lebih erat. Matanya lurus menatap ke depan, wajahnya kaku tanpa ekspresi. Sungguh, jalanan yang sepi itu seolah menyerap segala keramaian yang tadi ada, menyisakan ruang sunyi yang menekan dada Arum.
Perlahan, mobil itu memasuki sebuah kawasan pemukiman yang ditandai oleh gerbang tinggi menjulang. Pilar-pilar batu berukir berdiri kokoh di kiri dan kanan, diselimuti lampu temaram yang memancarkan cahaya keemasan.
Kemudian, terdapat gerbang besi hitam terbuka otomatis saat mobil Laura masuk, berderit pelan seolah memberi izin bagi siapa pun yang melintas—sunyi, khidmat, dan penuh wibawa.
Di baliknya, terbentang area pemakaman elit yang tertata rapi seperti taman pribadi. Jalan setapak berlapis batu alam membelah hamparan rumput hijau terpangkas sempurna. Nisan-nisan marmer putih dan abu-abu berdiri berjajar simetris, sebagian diapit patung malaikat dengan sayap terlipat dan wajah sendu.
Saat itu juga, mobil Laura menepi dan terparkir sembarang—tanpa garis, tanpa penanda, namun tetap terlihat apik, seolah mobil hitam itu memang ditakdirkan berhenti di sana.
Mesin lalu dimatikan. Keheningan langsung menelan segalanya. Kilau lampu mobil memantul singkat pada batu nisan marmer sebelum meredup, menyisakan cahaya lampu taman yang lembut.
"Ta-Tante mau apa bawa aku kemari?!" Tanya Arum pada akhirnya, setelah cukup lama ia membisu—hanya suara isak yang mampu ia luapkan.
“Keluar!” Perintah Laura singkat dan dingin. Pandangannya tetap lurus ke depan, tak sedikit pun bergeser. Ia membuka sabuk pengaman dengan satu gerakan tangkas.
Tanpa menoleh atau menunggu respons, Laura lebih dulu beringsut keluar dari mobil, pintu ditutupnya dengan bunyi pelan namun mantap—seolah keputusan itu tak memberi ruang untuk dibantah.
Arum kemudian melangkah keluar dengan hati-hati. Tubuhnya sedikit gemetar, dan matanya membaur ke segala penjuru. Nanar. Sungguh, keheningan pemakaman itu terasa semakin menekan, seolah rintik hujan yang kini hanya gerimis, setiap batu nisan dan pepohonan cemara tengah menyambutnya tanpa suara. Langkahnya kemudian ragu sejenak sebelum akhirnya menapak pelan di atas jalan setapak.
Laura tak memberinya waktu untuk berpikir lebih jauh. Wanita itu kemudian langsung melangkah meninggalkan mobil, jemarinya mencengkeram lengan Arum dengan kuat. Tarikannya tegas, nyaris kasar, memaksa Arum mengikuti langkah cepatnya. Mereka berjalan menyusuri jalan pemakaman yang berkelok, melewati tikungan demi tikungan, belokan demi belokan yang semakin menjauh dari gerbang.
Semakin jauh Laura membawanya pergi, semakin dekat ketegangan dan ketakutan itu memeluknya. Langkah Laura tak melambat, sementara Arum terseok berusaha menyesuaikan diri, jantungnya berdegup kencang. Di antara derap langkah yang menggema pelan di atas batu, hanya ada keheningan dan tarikan tangan Laura yang dingin—menuntun Arum semakin dalam ke jantung pemakaman, menuju sesuatu yang belum ia mengerti, namun ia takutkan sepenuh hati. Hingga akhirnya...
Brug!
Laura tiba-tiba mendorong tubuh Arum tanpa peringatan. Dorongan itu membuat Arum terhuyung lalu terjatuh di depan pusaran sebuah makam, lututnya menghantam tanah keras. Laura sama sekali tak peduli—tak peduli pada tubuh Arum yang ringkih, tak peduli pada bayi yang tengah ia kandung. Wajahnya tetap dingin, tanpa sedikit pun rasa iba apalagi empati.
Namun, kini... yang paling menyakitkan bagi Arum bukanlah jatuhnya. Bukan pula perih di lutut atau dinginnya tanah yang menyentuh telapak tangannya. Rasa sakit itu justru menggerogoti dadanya, menyayat dari dalam, saat pandangannya tertumbuk pada sebuah bingkai foto di atas nisan.
Langit.
Wajah pria itu terpampang jelas, tersenyum seperti yang selalu ia kenal—hangat, tenang, seolah masih hidup dan bernapas. Di bawah foto itu, nama Langit terukir tegas di batu nisan, huruf demi hurufnya seperti palu yang menghantam jantung Arum tanpa ampun.
Napas Arum tercekat. Dadanya terasa sesak, nyeri yang tak kasat mata namun begitu nyata. Dunia seakan runtuh dalam diam, sementara senyum Langit di foto itu terus menatapnya—membuat kehilangan terasa begitu nyata, begitu kejam, dan tak terelakkan.
"Enggak!" Lirih Arum terisak. Dengan gemetar yang hebat, ia berusaha beranjak dan berbalik menatap lurus Laura. "Tantenya, bohong!"
Plaaaaak!
Tamparan keras itu kembali menghantam Arum. Telapak tangan Laura mendarat tanpa ampun di pipinya, membuat kepalanya terhempas ke samping. Pandangannya terlempar, berputar sejenak, lalu berhenti tepat ke arah makam di hadapannya.
"Saya sudah memberikan kamu bukti nyata, bahwa Langit sudah meninggalkan kamu!" Tandas Laura. "Masih belum percaya?!"
Laura mencondongkan tubuhnya ke arah Arum. "Kamu dan Langit... sudah berakhir!"
Arum menggeleng pelan, beku. Bola matanya yang nanar akhirnya tak lagi tertahan—pecah begitu saja di antara rintik hujan yang perlahan mulai mereda. Air mata bercampur dengan dingin malam, mengalir tanpa ia sadari, jatuh satu per satu ke tanah di hadapannya.
Isak yang semula hanya bergetar di dadanya, hanya terdengar oleh dirinya sendiri, kini lolos dari bibirnya. Suaranya menggema lirih di antara nisan dan pepohonan, memecah keheningan pemakaman yang sejak tadi hanya diisi oleh bisikan angin. Tak ada yang menjawab. Tak ada yang menenangkan.
Di kejauhan, langkah Laura semakin menjauh, semakin lama semakin samar, hingga benar-benar hilang. Arum ditinggalkan sendirian—sendirian bersama makam Langit, bersama sebingkai foto Langit dengan senyum hangatnya dan nama yang terukir abadi di batu dingin itu.
Arum menatap nisan itu lama, terlalu lama, dengan tatapan tak percaya. Seolah jika ia terus menatapnya, kenyataan ini akan runtuh dengan sendirinya. Namun nisan itu tetap di sana. Diam. Tegas. Menyatakan satu hal yang tak mampu ia terima...
Langit telah benar-benar pergi.
****