NovelToon NovelToon
Cinta Seorang Gus

Cinta Seorang Gus

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Di tengah gelapnya dunia malam, seorang Gus menemukan cahaya yang tak pernah ia duga dalam diri seorang pelacur termahal bernama Ayesha.

Arsha, lelaki saleh yang tak pernah bersentuhan dengan wanita, justru jatuh cinta pada perempuan yang hidup dari dosa dan luka. Ia rela mengorbankan ratusan juta demi menebus Ayesha dari dunia kelam itu. Bukan untuk memilikinya, tetapi untuk menyelamatkannya.

Keputusannya memicu amarah orang tua dan mengguncang nama besar keluarga sang Kiyai ternama di kota itu. Seorang Gus yang ingin menikahi pelacur? Itu adalah aib yang tak termaafkan.

Namun cinta Arsha bukan cinta biasa. Cintanya yang untuk menuntun, merawat, dan membimbing. Cinta yang membuat Ayesha menemukan Tuhan kembali, dan dirinya sendiri.

Sebuah kisah tentang dua jiwa yang dipertemukan di tempat paling gelap, namun justru belajar menemukan cahaya yang tak pernah mereka bayangkan.

Gimana kisah kelanjutannya, kita simak kisah mereka di cerita Novel => Cinta Seorang Gus.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Langkah kaki Arsha terasa ringan namun pasti saat ia menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Kalimat terakhir Abah tadi terus terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti gema di dalam gua yang sunyi.

"Ada sesuatu yang ingin kuberi untuk wanita itu."

Arsha tidak tahu apakah itu sebuah restu yang dibungkus dalam kado, ataukah sebuah 'mahar perpisahan' yang dimaksudkan agar Ayesha menjauh selamanya. Namun, Arsha sudah membuat janji pada dirinya sendiri, apa pun pemberian Abah, ia akan tetap kembali ke Jakarta.

Di dalam kamar, Arsha langsung membuka lemari kayu jatinya yang besar. Ia menarik sebuah koper kain berwarna hitam yang sudah berdebu dari bagian paling atas. Dengan gerakan cepat namun tertata, ia mulai memasukkan kemeja-kemeja polos, beberapa potong sarung yang paling nyaman, dan buku-buku catatannya. Ia tidak membawa banyak hal. Ia tahu, jika ia pergi tanpa restu penuh, ia tidak berhak membawa harta dari ndalem.

"Arsha..."

Suara lembut yang bergetar itu membuat gerakan tangan Arsha terhenti. Ia menoleh dan mendapati Ummi Halimah sudah berdiri di ambang pintu. Mata wanita paruh baya itu sembab, dan ia memegang ujung kerudungnya dengan erat.

"Ummi, masuklah," ajak Arsha pelan.

Ummi Halimah melangkah masuk, setiap langkahnya terasa berat seolah memikul beban kesedihan yang teramat sangat. Beliau duduk di tepi tempat tidur Arsha, tepat di samping koper yang baru terisi setengah. Melihat koper itu, tangis Ummi yang tadi sempat tertahan pecah kembali.

"Kamu benar-benar akan pergi, Nak? Kamu akan meninggalkan Ummi, meninggalkan pesantren ini hanya demi wanita yang bahkan belum pernah Ummi temui secara langsung?" tanya Ummi di sela isakannya.

Arsha menghentikan aktivitasnya. Ia berlutut di depan ibunya, menggenggam tangan Ummi yang terasa dingin. "Ummi, ini bukan soal memilih antara Ummi atau Ayesha. Ini soal tanggung jawab Arsha sebagai seorang laki-laki. Arsha yang menariknya keluar dari dunianya yang dulu. Arsha yang menjanjikan cahaya padanya. Bagaimana mungkin Arsha membiarkannya berdiri sendirian di tengah kegelapan yang baru?"

Ummi Halimah menatap mata putranya dalam-dalam. "Tapi dunia ini kejam, Arsha. Jakarta bukan Jombang. Di sana, kamu bukan siapa-siapa. Kamu tidak akan punya santri yang mencium tanganmu, tidak ada abdi ndalem yang menyiapkan makanmu. Kamu harus bekerja keras, mungkin menjadi buruh atau apa pun, demi memberi makan wanita yang terbiasa hidup mewah dengan cara yang... yang salah."

Arsha tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung ketabahan luar biasa. "Bukankah Abah yang selalu bilang bahwa rezeki tidak tertukar dengan gelar? Arsha punya tenaga, Arsha punya ilmu. Jika harus mencangkul di sawah orang atau menjadi kuli bangunan di Jakarta demi memberi Ayesha nafkah yang halal, Arsha akan melakukannya dengan bangga. Itu lebih terhormat daripada hidup mewah tapi membiarkan sebuah nyawa tersesat karena ketakutan kita akan martabat."

"Tapi bagaimana dengan masa lalunya, Arsha?" Ummi bertanya lagi, kali ini suaranya lebih rendah, hampir seperti bisikan. "Hati Ummi sakit membayangkan orang-orang akan membicarakan menantu Ummi sebagai wanita bekas dunia malam. Apa kamu sanggup menutup telingamu selamanya?"

"Ummi..." Arsha mengusap punggung tangan ibunya. "Allah saja mau menutup aib hamba-Nya yang bertaubat, lalu siapakah Arsha hingga berhak merasa lebih suci dan terus membuka lembaran hitam itu? Ayesha sedang berjuang. Dia sedang berusaha mengeja Alif, Ba, Ta dengan air mata. Bagi Arsha, itu jauh lebih mulia daripada mereka yang sudah fasih membaca Al-Qur'an tapi hatinya penuh dengan rasa sombong dan penghakiman."

Ummi Halimah terdiam. Kata-kata Arsha telak menghujam hatinya. Sebagai seorang istri Kiai, beliau sering terjebak dalam protokoler kesucian sosial, tanpa menyadari bahwa esensi dari agama adalah kasih sayang dan bimbingan bagi yang terluka.

"Arsha," Ummi menyeka air matanya. "Jujurlah pada Ummi. Apa yang membuatmu begitu yakin bahwa dia adalah orangnya? Padahal ada begitu banyak putri kiai, hafidzah, dan wanita sholehah yang mengantre untuk menjadi istrimu."

Arsha menatap jendela, ke arah masjid di mana suara Abah sedang lamat-lamat terdengar membacakan kitab lewat pengeras suara.

"Sederhana, Mi. Karena saat Arsha bersama mereka, Arsha merasa seperti guru yang dihormati. Tapi saat bersama Ayesha, Arsha merasa seperti manusia yang dibutuhkan. Dia jujur dengan segala lukanya. Dia tidak berpura-pura suci. Dan di atas segalanya, Arsha melihat binar di matanya saat dia menyebut nama Allah, sebuah binar yang belum tentu dimiliki oleh mereka yang sudah menganggap surga adalah milik pribadinya. Arsha ingin masuk surga bersamanya, Mi. Arsha ingin menjadi saksi di hadapan Allah bahwa wanita ini telah berjuang sangat keras untuk kembali."

Ummi Halimah menarik napas panjang, lalu memeluk kepala putranya. "Pergilah jika itu memang ketetapan hatimu. Ummi tidak akan menghalangimu lagi. Tapi berjanjilah satu hal... jangan pernah tinggalkan sholatmu, dan jangan pernah buat dia kecewa pada Islam karena sikapmu yang buruk."

"Arsha janji, Ummi. Terima kasih."

Dua jam kemudian, suara pengajian di masjid mereda. Arsha sudah siap dengan pakaian rapi dan koper di samping pintu. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar langkah kaki berat Kiai Hafidz mendekat ke arah kamarnya.

Kiai Hafidz masuk tanpa mengetuk. Wajahnya masih terlihat kaku, namun pancaran matanya tidak setajam tadi pagi. Di tangannya, beliau membawa sebuah kotak kayu kecil yang terbuat dari kayu cendana, baunya harum semerbak.

"Sudah siap?" tanya Kiai Hafidz singkat, melirik koper di pojok ruangan.

"Sudah, Abah," jawab Arsha sambil menunduk hormat.

Kiai Hafidz mengulurkan kotak kayu itu. "Ini untuknya."

Arsha menerimanya dengan tangan bergetar. Saat ia membukanya, matanya terbelalak. Di dalam kotak itu terdapat sebuah mushaf Al-Qur'an kecil yang sampulnya terbuat dari kulit kuno, sebuah tasbih dari batu alam berwarna putih, dan sebuah amplop cokelat.

"Mushaf itu adalah milik kakekmu. Beliau membawanya saat berjuang melawan penjajah. Katakan padanya, jangan pernah biarkan mushaf itu berdebu. Dan tasbih itu... itu adalah tasbih yang dulu Ummi gunakan saat mendoakanmu agar lahir dengan selamat," suara Kiai Hafidz terdengar bergetar di ujung kalimatnya.

Arsha menatap ayahnya dengan rasa tidak percaya. "Abah... ini..."

"Dan isi amplop itu," potong Kiai Hafidz tegas, "adalah sertifikat tanah kecil di pinggiran Jakarta. Itu bukan harta pesantren, itu harta pribadi Abah dari hasil warisan kakekmu. Bangunlah rumah kecil di sana. Jadikan itu tempat yang paling tenang bagi dia untuk belajar. Jangan bawa dia ke hotel atau apartemen mewahnya yang penuh kenangan buruk itu."

Arsha jatuh terduduk di depan ayahnya. Ia mencium kaki Kiai Hafidz dengan tangis yang meledak. Ini bukan sekadar pemberian harta, ini adalah restu yang paling agung. Ini adalah pengakuan bahwa Abahnya telah luluh oleh ketulusan perjuangannya.

"Abah tidak merestui masa lalunya, Arsha," ujar Kiai Hafidz sambil mengusap kepala putranya. "Tapi Abah merestui masa depannya. Bawa dia menjadi wanita yang sholehah. Jika suatu saat dia sudah siap, bawalah dia kembali ke sini. Pintu ndalem akan selalu terbuka untuk kalian berdua."

Di Jakarta, Ayesha masih terduduk di atas kursi balkon kamarnya. Ia tidak lagi menangis. Ia hanya terdiam, memandangi ponselnya yang tergeletak di depan mata. Tiba-tiba, layar ponsel itu menyala.

Satu pesan masuk dari Arsha.

"Yesha, tunggu aku. Aku dalam perjalanan pulang sekarang. Dan kali ini, aku tidak akan pernah melepaskan genggamanmu lagi."

Ayesha menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia bersujud serendah mungkin ke lantai. Bukan lagi meniru gerakan yang dijelaskan Arsha, tapi sebuah sujud yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam. Sujud syukur seorang hamba yang akhirnya menemukan pelabuhan setelah seumur hidup terombang-ambing di samudera yang kelam.

"Terima kasih, Tuhan," bisiknya lirih. "Terima kasih telah mengirimkan malaikat-Mu untuk menjemputku."

Matahari Jakarta siang itu mulai terik, namun bagi Ayesha, cahayanya terasa hangat dan penuh harapan. Di kejauhan, ia seolah bisa mendengar suara Arsha yang menenangkan, berjanji untuk menjadikannya wanita yang paling terhormat di mata langit, meski dunia pernah memandangnya sebelah mata.

Langkah Arsha keluar dari gerbang Al-Falah bukan lagi langkah seorang pelarian, melainkan langkah seorang ksatria yang pergi untuk menjemput jiwanya yang tertinggal di hiruk-pikuk kota besar. Dan di dalam kopernya, tersimpan kekuatan dari doa seorang ibu dan restu dari seorang kiai besar, bekal yang jauh lebih dari cukup untuk menaklukkan kerasnya dunia.

...----------------...

Next Episode....

1
🌹Widianingsih,💐♥️
duhh .. Arsya..jangan jatuh cinta pada Ayesha, nanti akan mendatangkan masalah besar
🌹Widianingsih,💐♥️
benar-benar cobaan berat bagi seorang Gus , bagaimana nanti jika ada yang tau. ...pasti fitnah besar yang datang !
duh Gusti nu maha agung.... selamatkan keduanya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!