NovelToon NovelToon
Cinta Di Raga Baru

Cinta Di Raga Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Nayla hidup dalam pernikahan penuh luka, suami tempramental, mertua galak, dan rumah yang tak pernah memberinya kehangatan. Hingga suatu malam, sebuah kecelakaan merenggut tubuhnya… namun tidak jiwanya.
Ketika Nayla membuka mata, ia terbangun di tubuh wanita lain, Arlena Wijaya, istri seorang pengusaha muda kaya raya. Rumah megah, kamar mewah, perhatian yang tulus… dan seorang suami bernama Davin Wijaya, pria hangat yang memperlakukannya seolah ia adalah dunia.

Davin mengira istrinya mengalami gegar otak setelah jatuh dari tangga, hingga tidak sadar bahwa “Arlena” kini adalah jiwa lain yang ketakutan.

Namun kejutan terbesar datang ketika Nayla mengetahui bahwa Arlena sudah memiliki seorang putra berusia empat tahun, Zavier anak manis yang langsung memanggilnya Mama dan mencuri hatinya sejak pandangan pertama.
Nayla bingung, haruskah tetap menjadi Arlena yang hidup penuh cinta, atau mencari jalan untuk kembali menjadi Nayla..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Di balik jeruji, Nayla akhirnya mengambil keputusan.

Nayla tidak bisa lari. Tidak bisa keluar dari tubuh Arlena begitu saja dan membiarkan semuanya hancur. Jika Arlena memang korban, maka Nayla yang kini hidup di tubuh Arlena akan bertanggung jawab membongkar kebenaran.

"Kali ini aku bukan cuma membela diriku sendiri, tapi juga Arlena." batin Nayla mantap.

"Aku akan membantu Arlena." kata Nayla dengan penuh tekad.

Modal Nayla hanya satu, mimpi dan itupun tidak terlalu meyakinkan hanya saja terlihat jelas.

Mimpi tentang Arlena yang duduk diam bersama Roy, tentang berkas-berkas, tentang minuman yang membuat tatapan Arlena kosong. Mimpi yang terlalu nyata untuk diabaikan.

Keesokan harinya, Davin kembali menjenguk Arlena bersama pengacara yang Davin bawa, Nayla langsung berbicara, meski suaranya masih bergetar.

“Mas,” ucapnya pelan namun tegas. “Aku… aku ingat sesuatu.”

Davin menatapnya serius. “Apa?” tanya Davin.

“Aku curiga Roy,” lanjut Nayla. “Dia tahu banyak tentang keuangan aku. Dan… seharusnya dia yang ikut diperiksa, bukan Mas.” kata Arlena.

Pengacara yang dibawa Davin, pria paruh baya dengan tatapan tajam, mengangkat alis. “Ibu punya bukti?” tanya Halim nama dari pengacara yang dibawa Davin.

Nayla terdiam sejenak. “Belum. Tapi aku yakin… ada petunjuk.”

Davin mencondongkan tubuhnya. “Petunjuk apa?”

“Laptop aku,” jawab Nayla cepat. “Tolong periksa laptop milik aku mas. Email, dokumen, apa pun. Aku yakin ada sesuatu di sana.”

Pengacara itu mengangguk pelan. “Masuk akal. Biasanya kasus seperti ini selalu meninggalkan jejak digital.”

Davin langsung berdiri. “Aku akan urus sekarang.”

Untuk pertama kalinya sejak berada di balik jeruji, Nayla merasakan secercah harapan.

Malam harinya, di rumah yang terasa kosong tanpa Arlena, Davin membuka laptop istrinya. Jari-jarinya bergerak cepat, ditemani sang pengacara yang teliti.

Folder demi folder dibuka.

Awalnya kosong. Hanya dokumen belanja, foto-foto lama, dan catatan tak penting. Hingga akhirnya mereka menemukan satu folder tersembunyi, diberi nama samar, nyaris tidak mencurigakan.

Pengacara menatap Davin. “Ini aneh.” dan Davin mengangguk lalu membuka folder tersebut.

Folder itu dibuka.

Di dalamnya, tersimpan salinan kontrak investasi, bukti transfer, dan beberapa email yang dikirim dari alamat tidak dikenal, namun berulang kali muncul satu nama.

"Roy." Wajah Davin mengeras.

Email-email itu berisi arahan. Nomor rekening. Jadwal transfer. Bahasa yang persuasif, bahkan manipulatif.

Tenang saja, Lena. Semua aman. Kamu tinggal tanda tangan. Aku yang urus sisanya. Davin membaca tulisan itu dengan penuh amarah.

Pengacara menghela napas pelan. “Kalau ini asli, klien kita kemungkinan besar korban.”

Davin menutup mata sesaat. Dan jujur Davin butuh Arlena ingat semuanya, karena dengan Arlena yang hilang ingatan seperti ini membuat proses hukum berjalan lambat.

Di balik jeruji, Nayla tidak tahu apa yang sedang mereka temukan. Namun entah mengapa, dada Nayla terasa lebih ringan.

Untuk pertama kalinya, Nayla merasa tidak sepenuhnya sendirian. Dan untuk pertama kalinya pula, ia yakin Roy bukan sekadar masa lalu Arlena.

Di balik jeruji yang dingin, Nayla kembali terlelap.

Namun kali ini, tidurnya tidak kosong. Ia melihat Arlena lagi.

Bukan Arlena yang duduk pasrah di meja dengan berkas-berkas, melainkan Arlena yang berada di sebuah kamar, bukan kamar pribadi, tapi kamar hotel. Lampunya temaram, tirainya tertutup rapat. Suasana itu asing, jauh dari rumah besar Davin, jauh dari kehidupan keluarga yang kini Nayla jalani.

Arlena berdiri di depan meja kecil. Di atas meja itu ada laptop.

Nayla menahan napas, memaksa dirinya untuk fokus. Ia tahu, mimpi ini berbeda. Tidak kabur. Tidak terpotong-potong. Semuanya terlihat jelas, seolah Nayla sedang menonton ulang sebuah rekaman yang lama tersembunyi.

Arlena membuka laptopnya.

Tangannya bergerak cepat, namun wajahnya tetap datar. Bukan wajah perempuan yang sadar sepenuhnya, melainkan wajah seseorang yang sedang dikendalikan. Matanya kosong, namun jemarinya seolah tahu apa yang harus dilakukan.

Folder terbuka.

Nayla melihat nama-nama file yang sangat familiar, kontrak investasi, laporan keuangan, salinan KTP, dan nomor rekening. Semua tersusun rapi.

Lalu sebuah jendela email terbuka. Nama pengirimnya jelas terbaca. Roy.

Isi pesannya singkat, dingin, penuh tekanan.

Kamu tinggal ikuti instruksiku. Jangan tanya. Ini demi kebaikan kamu juga.

Nayla merasakan dadanya sesak.

Arlena menghela napas pelan, lalu membuka file yang dilampirkan. Dokumen itu berisi persetujuan transaksi dalam jumlah besar. Tanpa membaca, Arlena menggeser kursor, mengklik, menyimpan, lalu mencetak.

Saat itulah Nayla melihat sesuatu yang membuat jantungnya hampir berhenti.

Di meja samping tempat tidur, ada gelas kosong. Dan di sampingnya bungkus kecil yang sudah terbuka. Obat.

Arlena duduk di tepi ranjang, memijat pelipisnya sejenak, lalu kembali ke laptop. Gerakannya mekanis. Patuh. Seolah semua itu bukan pilihannya.

Dia tidak sadar… batin Nayla gemetar. "Dia dimanfaatkan." batin Nayla.

Nayla memaksa dirinya mengingat detail demi detail, nama file, susunan folder, waktu yang tertera di sudut layar, bahkan wallpaper laptop Arlena. Ia menghafalnya seperti orang tenggelam yang meraih udara terakhir.

Tiba-tiba, Arlena berhenti.

Ia menatap layar lama, lalu menutup laptop dengan gerakan lambat. Matanya berkaca-kaca, meski air mata tidak jatuh. Ada kelelahan yang dalam di wajahnya, kelelahan yang tidak sempat ia pahami semasa hidupnya.

“Aku capek…” suara Arlena lirih, nyaris tidak terdengar. Lalu semuanya gelap.

Nayla tersentak bangun.

Napasnya terengah, dadanya naik turun cepat. Namun kali ini, kebingungan itu tidak sepenuhnya ada. Yang ada justru kejelasan yang menyakitkan.

“Itu bukan mimpi,” bisiknya mantap. “Itu… ingatan.”

Nayla menutup mata, menahan getar emosinya. Sekarang ia tahu. Arlena tidak berkhianat. Arlena tidak serakah.

Arlena dijebak, pelan, rapi, dan kejam.

Dan satu nama kembali mengeras di dadanya, bukan lagi sekadar kecurigaan, melainkan keyakinan penuh.

"Roy. Kamu pikir aku akan diam?" batin Nayla dingin.

"Kali ini, aku bukan Nayla yang lemah… dan bukan Arlena yang kamu kendalikan." Di balik jeruji, Nayla tersenyum tipis.

Sekarang Nayla tahu persis ke mana harus melangkah.

Di balik jeruji besi itu, potongan-potongan ingatan datang begitu saja.

Bukan lagi seperti mimpi kabur, melainkan seperti pintu yang tiba-tiba terbuka lebar di kepala Nayla. Ia duduk bersandar pada dinding dingin, matanya terpejam, namun pikirannya dipenuhi gambaran masa lalu Arlena. jelas, runtut, dan menyakitkan.

Hubungan Arlena dengan Roy berawal dari rasa kasihan.

Arlena yang kesepian. Arlena yang merasa tidak dicintai, meski hidup dalam kemewahan. Di saat itulah Roy hadir, pria miskin dengan wajah penuh luka hidup, kata-kata manis, dan sikap seolah Arlena adalah penyelamatnya.

Arlena kasihan. Ia membantu Roy. Uang kecil. Perhatian kecil. Waktu.

Dan seperti banyak kisah serupa, kebaikan itu perlahan berubah menjadi celah.

Roy mulai bergantung. Lalu menuntut. Lalu mengendalikan.

Namun puncaknya bukan itu.

Ingatan Nayla bergetar hebat saat adegan itu muncul.

Malam gelap. Jalan sepi. Hujan turun tipis. Arlena di balik kemudi, tangannya gemetar, pikirannya kacau. Tiba-tiba seorang pria menyeberang.

Brak.

Tubuh itu terlempar. Darah. Jerit yang tercekat di tenggorokan Arlena.

Arlena histeris. Menangis. Tidak tahu harus berbuat apa.

Dan di saat itulah Roy muncul. Seperti pahlawan.

“Tenang, Lena,” kata Roy saat itu, suaranya tenang namun penuh perhitungan. “Aku yang nyetir. Aku yang tanggung jawab.”

Arlena menatap Roy dengan mata penuh ketakutan.

Roy menepati ucapannya, di depan polisi, di depan saksi, ia mengaku sebagai pelaku. Kasus itu ditutup dengan cepat. Nama Arlena bersih. Tidak ada satu pun yang tahu bahwa Arlena bahkan tidak menyentuh pria itu.

Namun sejak malam itu, hidup Arlena bukan lagi miliknya. Hutang nyawa. Hutang nama baik.

Roy tidak lagi meminta, ia menagih.

“Kalau bukan aku, kamu sudah di penjara, Lena.”

“Kamu punya segalanya. Masa bantu aku sedikit saja nggak mau?”

“Kamu percaya aku, kan?”

Sedikit demi sedikit, Arlena ditarik masuk ke dunia yang tidak Arlena pahami. Investasi yang katanya aman. Tanda tangan yang katanya hanya formalitas. Rekening yang katanya hanya numpang lewat.

Arlena patuh. Bukan karena serakah. Melainkan karena takut.

Dan Roy tahu betul bagaimana memelihara rasa takut itu.

Nayla membuka mata, napasnya gemetar.

“Jadi begitu…” bisik Nayla lirih.

Arlena tidak pernah berniat jahat. Arlena hanya perempuan rapuh yang dijerat hutang moral oleh pria licik. Dan saat Arlena mulai sadar bahwa ia diperalat, semuanya sudah terlambat.

Kasus membesar. Uang mengalir. Nama Arlena terikat terlalu dalam.

Nayla mengepalkan tangannya.

“Roy…” gumam Nayla dingin. “Kamu bukan pahlawan. Kamu predator.”

"Sekarang semuanya jelas. Arlena adalah korban berlapis."

Dan Nayla yang kini hidup di tubuh Arlena adalah satu-satunya yang cukup sadar untuk melawan.

Di balik jeruji, Nayla menarik napas panjang.

Ia tidak lagi ingin pergi dari tubuh Arlena. Ia ingin membersihkannya. Bukan hanya demi keadilan, tapi demi satu hal yang selama ini tak pernah Arlena miliki, Kesempatan untuk bebas.

1
Yuni Anto
/Whimper/Thor mkasih update nya/Doubt/Thor Napa Nayla pingsan 🤩 apa lagi hamil muda y🥰 semangat terus un😍/Determined//Determined//Determined//Angry//Angry//Determined//Determined//Determined/💪💪💪💪 terus y Thor n sehatt selalu 🥰🥰🥰😍
Erunisa: di bikin hamil sekarang atau nanti aja yah kira-kira?/Shy/
total 1 replies
Yuni Anto
🥰KKA author 🥰 tersayang mkasih update nya 🥳🥳🥳🥰bulan ini di kasih update terbaru 2x🤩🤩🥳🥳🥰🥰🥰💪 semangat terus ya Thor 💪😍 sehat selalu Bwt kka/Determined//Angry//Determined//Angry/😍
Erunisa: terima kasih kaka, semoga kaka juga sehat
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mantab Nayla
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Putra Satria
🥰wah my 🩷 Thor 🩷 cinta banyak 2 bwt kka🥰 mkasih update terbaru hari ini 💪💪💪 terus y
Yuni Anto
🥰 makasih 🥰 update terbaru nya 💪💪💪 terus y Thor 🥳🥳🥳🥳🥰
Yuni Anto
next Thor 🥰
kawaiko
Gemes deh!
Rizitos Bonitos
Plot yang rumit tapi berhasil diungkap dengan cerdas.
Re Creators
Wah seru banget!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!