NovelToon NovelToon
Yogyakarta Di Tahun Yang Menyenangkan

Yogyakarta Di Tahun Yang Menyenangkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Santika Rahayu

Ketika cinta datang dari arah yang salah, tiga hati harus memilih siapa yang harus bahagia dan siapa yang harus terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santika Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Hari ini Alleta terlihat sudah lebih bugar dari kemarin. Gadis itu melangkah kembali memasuki halaman sekolah seperti biasa.

Begitu memasuki ruang kelas, hampir seisi kelas langsung mengerubungi Alleta. Sebagaimana jika mendapat gosip panas, seperti itu mereka penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.

“All gimana ceritanya bisa kekunci?”

“Siapa yang ngelakuin itu?”

“Tega banget.”

Alleta terlihat kebingungan akan menjawab yang mana dulu.

Disaat bersamaan, Tristan dan Sagara menghampiri mereka.

“Udah-udah, kalian gak liat Alleta masih lemes?” kata Tristan.

“Dia baru aja pulang dari rumah sakit, setidaknya kasih ruang lah, jangan malah dikerumunin.” komentar Sagara.

Beberapa siswa langsung sedikit mundur, tapi rasa penasaran masih jelas terlihat di wajah mereka.

Alleta tersenyum kecil, berusaha menenangkan suasana.“Gapapa, gue baik-baik aja kok… cuma masih agak capek,” ujarnya pelan.

Aru yang berdiri di dekat pintu ikut mendekat.“Kalian denger kan? Alleta butuh istirahat. Nanti aja kalau mau nanya-nanya.”

Perlahan, kerumunan mulai buyar. Satu per satu kembali ke bangku masing-masing, meski bisik-bisik masih terdengar di beberapa sudut kelas.

Sagara menarik kursi untuk Alleta.

“Duduk. Jangan maksa.”

Alleta menurut. Begitu duduk, napasnya sedikit lebih teratur. Sagara berdiri di samping bangkunya beberapa detik, memastikan ia benar-benar baik-baik saja, lalu kembali ke tempat duduknya.

Nayla yang memperhatikan semua itu semakin memanas, meski rasa sakit lebih mendominasi. “Kenapa Sa?, kenapa lo harus nunjukin perhatian lo ke dia di depan gue?” gumamnya dalam hati.

Guru masuk dan pelajaran dimulai, tapi perhatian kelas sulit fokus. Beberapa siswa masih melirik ke arah Alleta, seolah memastikan gadis itu benar-benar ada di sana.

Saat jam istirahat, Alleta hanya duduk di depan kelas menikmati bekal yang dibawanya.

Gadis itu awalnya hanya duduk sendiri, hingga Sagara juga muncul dan menemaninya.

“Gak ke kantin?” tanya Sagara, mengalihkan fokus Alleta.

“Ehh, iya. Males, pasti rame jam segini.” balas Alleta.

Sagara mengangguk kemudian duduk di sebelah Alleta, ia juga membawa kotak bekal berisi buah yang sudah dipotong.

“Lo sendiri, gak ke kantin?” Alleta bertanya balik.

“Gak, males.” Sagara membalas.

Pemuda itu menusuk buah stroberi dan menyodorkannya pada Alleta.

Alleta terdiam, dia menatap Sagara bingung. “Buat gue?”

Sagara mengangguk, “Buat siapa lagi, yakali gue ngasih makan taneman.” jawabnya sarkas, menunjuk tanaman hias di sebelah Alleta.

Alleta tersenyum kecil, lalu menerima suapan itu “Makasih… perhatian banget sih.”

Sagara mendengus pelan.“Biasa aja.”

Mereka makan dalam diam beberapa detik. Suasana kelas yang biasanya ramai saat istirahat kini terasa lebih sunyi di sudut tempat mereka duduk.

Beberapa menit dalam ketenangan, seorang guru BK–Bu Windi, menghampiri mereka.

“Alleta, Sagara.” panggilnya lembut.

Keduanya menoleh.

“Iya bu.” jawab mereka hampir bersamaan.

“Nanti setelah kalian makan, ke ruang BK sebentar ya, panggil Tristan juga.” ujarnya dengan senyum hangat.

“Baik bu.” balas mereka.

Setelah bu Windi pergi, keduanya saling menoleh.

“Pasti soal kejadian di gudang.” guman Sagara kemudian melanjutkan makannya.

...****************...

Saat memasuki ruang BK, Alleta, Tristan, dan Sagara melihat Dikta yang sudah ada disana terlebih dahulu.

Pemuda itu nampak menunduk, sepertinya baru saja diintrogasi oleh guru BK.

Tristan berhenti melangkah sejenak saat melihat Dikta. Tatapan keduanya bertemu—dan suasana langsung berubah kaku.

Sagara yang berjalan di belakang Alleta bisa merasakan ketegangan itu, ia otomatis melangkah sedikit ke depan, berdiri di sisi Alleta seolah memberi batas tak kasatmata.

“Duduk dulu, Nak,” suara Bu Windi terdengar dari dalam ruangan.

Mereka bertiga masuk.

Tristan duduk paling ujung, Alleta di tengah, sementara Sagara paling luar. Dikta masih menunduk, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuannya.

Bu Windi duduk berhadapan dengan mereka, menatap satu per satu wajah para siswa itu dengan tenang.

“Ibu memanggil kalian kesini, untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di gudang kemarin.” ujarnya lembut.

Bu Windi beralih menatap Alleta, “Jujur ibu sangat menyesal karena kemarin ibu ada di sekolah, tapi ibu gak tau apa yang terjadi sama kamu Alleta.”

“Iya Bu, gapapa. Saya nggak menyalahkan ibu, itu juga udah terjadi.” balas Alleta tulus.

Bu Windi mengangguk pelan, sorot matanya menunjukkan rasa prihatin yang dalam.

“Tapi kejadian ini tetap jadi tanggung jawab pihak sekolah. Dan disini, Dikta, sebagai pelaku ingin mengatakan sebuah pengakuan. Makanya ibu panggil kalian kesini.”

Bu Windi kemudian memanggil Dikta mendekat, agar duduk di sebelahnya. “Sekarang kamu sampaikan apa yang kamu bilang ke ibu tadi sama mereka.” pintanya dengan lembut.

Dikta mengangguk, ia menatap mereka ragu.“Maaf ya All.” katanya akhirnya.

“Waktu itu emang gue yang kunciin Lo. Awalnya gue berniat nolongin Lo, biar gue kelihatan pahlawan, terus Lo jadi suka sama gue.” Dikta menghentikan ucapannya sebentar.

“Tapi gue panik, karena Tristan sama Sagara tiba-tiba dateng, jadi gue langsung kabur.” tuturnya lagi.

Suasana ruang BK mendadak sunyi.

Alleta membeku. Jari-jarinya mengerat di atas pangkuannya.

Tristan menoleh tajam ke arah Dikta, rahangnya mengeras. Sagara tak berkedip sedikit pun, tatapannya gelap dan dingin.

Bu Windi menatap Dikta lama, jelas menahan kecewa.“Kamu sadar apa yang kamu lakukan itu sangat berbahaya?” tanyanya.

Dikta mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca.“Sadar, Bu… makanya saya nyesel. Saya nggak kepikiran kalau Alleta punya phobia ruang sempit. Saya cuma mikir… bodoh.”

Alleta akhirnya bersuara, suaranya pelan tapi bergetar. “Maaf ya, kalau lo suka sama seseorang, siapapun itu. Gak kayak gitu caranya narik perhatian dia, sama aja Lo mau bohongin orang yang Lo suka demi kebahagiaan lo yang hanya sesaat.”

Dikta mengangguk, tatapan matanya kini tak lagi dipenuhi keangkuhan. “Iya, gue sadar. Sekarang gue gak akan gangguin Lo lagi. Gue udah kapok.” katanya lirih.

Bu Windi menarik napas dalam, lalu menatap seluruh ruangan.“Terima kasih, Dikta, sudah jujur. Kejujuran itu langkah pertama untuk bertanggung jawab. Tapi untuk itu sekolah harus tetap memberi sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku, kamu akan mendapat skorsing selama dua hari, mulai besok.”

“Baik Bu, saya tidak masalah.” balas Dikta.

Sagara yang sedari tadi diam akhirnya bersuara, “Tapi Bu, Nayla gimana?”

“Ibu juga sudah menyelidiki dia, Nayla gak bersalah, dia hanya menerima perintah dari Bu Indi.” kata Bu Windi.

Setelah keluar dari ruang BK, Alleta dan Tristan terlihat lebih lega. Namun tidak dengan Sagara, pemuda itu nampak masih belum yakin, Nayla tidak terlibat. Mungkin karena hanya dia yang tau, alasan mengapa Nayla bersikap begitu acuh bahkan terlihat membenci Alleta beberapa hari terakhir.

...****************...

Saat jam pulang tiba, langit terlihat gelap. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, daun-daun berguguran, hawa dingin terasa menusuk.

“All, lo suruh pak Edo aja yang jemput ya. Kayaknya bakal hujan, lo masih belum pulih, nanti lo sakit lagi.” ujar Tristan saat melangkah bersama Alleta di lorong kelas.

“Iya, gue juga kepikiran gitu.” balas Alleta yang kemudian mengambil ponsel di saku roknya.

“Pulang sama gue aja.” Sagara muncul dari belakang.

Alleta dan Tristan menoleh bersamaan.

“Gue bawa mobil, lo gak usah nungguin dijemput.” katanya lagi.

Alleta hendak menjawab tapi Tristan mendahuluinya, “Tapi rumah Lo gak searah sama Alleta.”

Sagara tersenyum, “Gapapa, tinggal puter balik.”

Alleta menatap Sagara ragu.

“Lo yakin gak keberatan?” tanyanya pelan.

Sagara mengangkat bahu.

“Kalau keberatan, gue gak bakal nawar.”

“Yaudah deh.” gadis itu menoleh ke arah Tristan. “Gue sama Sagara ya, lo hati-hati.”

Tristan mengangguk pelan.

“Ohh, okee.”

Mereka berjalan ke arah parkiran. Angin semakin kencang, awan hitam menggantung rendah di atas kepala. Begitu sampai di mobil, Sagara membukakan pintu depan untuk Alleta.

“Makasih.” ujar Alleta kemudian duduk di kursi penumpang depan.

Tristan menatap mereka dari motornya, tatapannya tak bisa diartikan–marah, terluka, atau sedih.

Setelah kedua orang itu masuk, dan mobil melaju pergi, barulah Tristan kembali mengalihkan fokus ke motornya.

“Emang ya, harus sadar diri. Gue gak punya apa-apa buat dibilang layak untuk Alleta.” gumam pemuda itu kemudian mengenakan helmnya.

Di dalam mobil, suasana terasa tenang, rintik air perlahan turun namun dihalangi oleh atap mobil.

Lagu-lagu dari grup band Shella On7, terputar di radio, memanjakan telinga.

“All.” panggil Sagara pelan.

Alleta menoleh, “Iya?”

Sagara terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berbicara, “Soal surat yang gue kasih waktu itu, gimana?” tanyanya pelan.

Alleta tentu tidak pernah lupa dengan surat yang diberikan Sagara waktu itu–Surat Izin PDKT.

“Maksudnya?” tanya Alleta, masih belum sepenuhnya mengerti maksud pertanyaan Sagara.

“Lo udah buka pintu hati Lo buat gue?” tanyanya.

Alleta sontak terdiam, dia berpikir. Memang selama ini dia sering baper dengan setiap perlakuan Sagara padanya, namun dia belum menyatakan itu sebagai cinta, hanya sekedar suka dan kagum.

Namun lama-kelamaan dia juga bingung dengan perasaannya sendiri, sebenarnya tadi Alleta sangat senang saat Sagara mengajaknya pulang bersama, karena itu dia tidak menolak.

“Gue..–”

“Kalau belum juga gapapa, gue bakal berusaha lebih keras.” ujar Sagara, memotong ucapan Alleta.

Kalimat Sagara itu membuat Alleta terdiam lebih lama dari sebelumnya.

Mobil melaju perlahan di tengah hujan yang mulai turun semakin rapat. Lampu-lampu jalanan memantul di kaca, menciptakan bayangan-bayangan yang berpendar di mata Alleta.

“Bukan gitu maksud gue…” akhirnya Alleta bersuara pelan.“Gue cuma… bingung.”

Sagara tetap menatap jalan. “Bingung kenapa?”

“Gue gak pernah ngerasa sedeket ini sama orang. Lo tiba-tiba ada, terus perhatian, terus gue ngerasa nyaman… dan itu bikin gue takut.”

Sagara menghela napas pelan. “Takut kenapa?”

“Takut kalau gue salah nangkap perasaan gue sendiri.”

Hujan turun lebih deras. Wiper bergerak cepat.

Sagara tersenyum kecil, “Yaudah, gak usah buru-buru, gue juga gak maksa Lo buat nerima perasaan gue. Yang penting gue udah jujur kalau gue emang suka sama lo.”

Alleta semakin terpaku, dia semakin terpana dengan pemikiran pemuda itu.

“Tapi jujur, gue emang kagum sama lo.” gumam Alleta tiba-tiba.

“Kenapa?” Sagara tidak mendengar begitu jelas gumaman itu karena hujan turun semakin lebat.

“Enggak.” balas Alleta cepat.

Suasana menjadi sedikit canggung bagi Alleta, dia menoleh ke jalanan yang basah, air hujan turun begitu cepat.

“Tapi All, kalau suatu hari ternyata Lo suka sama orang lain, kasih tau gue ya.” ucap Sagara pelan.

“Biar gue gak berharap terlalu lama sama lo.” lanjutannya lagi.

Alleta hanya terdiam, dia menatap pemuda itu lama. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya, hanya tatapan kagum yang tulus.

...Bersambung......

...–Anak yang merakit kapalnya sendiri, tentu akan berbeda prosesnya. ...

...Dengan anak yang dibuatkan kapal pesiar oleh orang tuanya.”...

^^^~Tristan Arkana Raharja~^^^

1
butterfly
lanjut thor 💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪
Lilis N Andini
siapa pelakunya?nayla apa dikta...lanjut thor🙏
butterfly
lanjut thor 💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
Lilis N Andini
semangat thor/Coffee/
butterfly
lanjut thor 💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Siti Nina
Kasian de lo Nayla niat hati ingin mempermalukan Alleta eehh,,,malah dirinya yg sakit hati 😄
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
butterfly
cerita nya seru
Lilis N Andini
happy new year jg buat author cantik...makasih udah update/Heart/🙏
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪 seru cerita nya
Sant.ikaa
haii reader kesayangan author, kalau ada typo mohon maaf ya, maklum author manusia bukan nabi boyy
Siti Nina
klw bisa dua" nya Thor gak bisa milih 😄
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
Siti Nina
Oke ceritanya 👍👍👍
Siti Nina
Tristan kaya nya mengidap penyakit serius deh kasian Tristan udh pilih dua" nya aja 😄
Siti Nina
Klw bisa dua" nya kenapa harus pilih satu 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!