NovelToon NovelToon
Pewaris Dalam Bayangan

Pewaris Dalam Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Persahabatan / Action / Romantis
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Hime_Hikari

Semua orang melihat Kenji Kazuma sebagai anak lemah dan penakut, tapi apa jadinya jika anak yang selalu dibully itu ternyata pewaris keluarga mafia paling berbahaya di Jepang.
Ketika masa lalu ayahnya muncul kembali lewat seorang siswa bernama Ren Hirano, Kenji terjebak di antara rahasia berdarah, dendam lama, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh.
Bisakah seseorang yang hidup dalam bayangan, benar-benar memilih menjadi manusia biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hime_Hikari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 - Api Dan Kebenaran

Hujan turun semakin deras ketika Kenji berlari menembus halaman sekolah Emerald. Air hujan membasahi seragamnya, bercampur dengan darah yang mulai mengering di pelipisnya. Napasnya tersengal, tapi langkahnya tidak berhenti. Di dalam kepala Kenji hanya ada satu bayangan Ryo yang roboh di depannya, darahnya mengalir cepat, dan denting peluru yang menembus jendela dari arah gedung sekolah.

“Aku tahu itu Ren Hirano,” gumam Kenji lirih, meski pikirannya dipenuhi keraguan dan amarah.

“Aku tahu sudah dia yang menembak, kata Kenji.

Tangannya mengepal kuat saat melihat gedung sekolah yang menjulang gelap seperti raksasa. Ia memaksa kakinya berlari lebih cepat meski tubuhnya hampir roboh. Pintu masuk sekolah terbuka lebar ketika ia tiba, dan suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.

“Kenji!” Terdengar suara itu membuatnya berhenti sejenak.

Ren muncul dari balik pilar, tubuhnya basah kuyup, napasnya terengah seolah baru saja berlari panjang. Ekspresi wajah Ren berubah drastis ketika melihat kondisi Kenji yang penuh luka.

“Kenji… apa yang terjadi? Kenapa kamu—” tanya Ren yang langsung dipotong oleh Kenji.

“Jangan pura-pura!” bentak Kenji tajam.

Ren tertegun. “Pura-pura apa? Aku baru saja sampai! Aku—”

“Berhenti berdusta!” Kenji menabrak bahu Ren kasar dan terus berlari menuju tangga. Ren segera mengejarnya.

“Kenji! Ayo bicara baik-baik!” ajak Ren.

“Aku nggak punya waktu bicara sama pengkhianat!” balas Kenji.

Suara langkah mereka memantul di tangga yang gelap. Cahaya lorong yang redup menambah kesan mencekam. Ketika mereka mencapai lantai tiga, Kenji menghentikan langkahnya. Di ujung lorong, pintu menuju atap sekolah terbuka, tergoyang-goyang tertiup angin. Cahaya petir menerangi celah pintu, menampilkan siluet seseorang di luar sana.

Kenji menelan ludah. “Dia di atas—”

Ia segera berlari. Ren hendak menahan bahunya, tetapi Kenji menepisnya keras. “Jangan ikut!”

“Kenji—” panggil Ren.

“Aku bilang jangan ikut!” Kenji menendang pintu atap, dan angin malam langsung menerpa wajahnya.

Hujan deras menghantam lantai atap, membuat seluruh tempat terasa seperti medan perang basah. Suara petir terdengar menggelegar di langit. Di tengah atap itu berdiri satu sosok. Tubuh tinggi, mantel hitam panjang, rambut basah tergerai. Lengan kirinya mengangkat pistol yang masih mengeluarkan asap tipis.

Mata Kenji melebar. “Orion?”

Sosok bertopeng itu mengangguk pelan. “Kau cepat datang, Kenji.”

Kenji merasa hawa dingin menjalar ke tubuhnya. “Jadi kau … menembak Ryo?”

Orion menurunkan pistolnya. “Ya.”

Jawabannya sederhana, tenang, dan dingin seolah ia hanya membicarakan hal yang tidak penting. Kenji meremas tangannya kuat-kuat.

“Kenapa? Kenapa kau lakukan itu?!” tanya Kenji.

Orion melangkah maju perlahan. Hujan menetes dari mantel panjangnya dan memecahkan genangan air kecil di lantai atap.

“Karena Ryo menyembunyikan sesuatu,” jawab Orion.

“Sesuatu yang kau butuh tahu,” tambah Orion.

“Dia bukan pengkhianat! Dia orang kepercayaan ayahku!” Kenji berteriak. “Dia—”

“Dia yang memberi lokasi Mamamu pada para eksekutor.” Seluruh tubuh Kenji membeku, suara hujan menghilang,dunia menjadi sunyi.

“A … apa?”Orion menatap Kenji dalam-dalam melalui topengnya.

“Bukan keluarga Hirano yang membunuh Miyuki Kazuma. Mamamu dibunuh oleh seseorang dari dalam keluarga Kazuma sendiri.”

Kenji menggeleng keras. “Bohong … kamu bohong!”

“Kalau aku berbohong.” Orion mengangkat sebuah remote kecil.

“Mengapa Kazuma selalu marah setiap nama Ryuga disebut?” Kenji membeku.

Lalu, tiba-tiba Ren muncul dengan napas terengah, hampir terpeleset karena lantai licin. Begitu melihat sosok bertopeng itu, Ren terdiam. Matanya membesar.

“Kenji!!!” panggil Ren.

“Ryuga?” tanya Ren kaget.

Sosok itu menoleh. “Sudah lama, Ren.”

Ren menahan napas. “Kau … masih hidup?”

Kenji menatap mereka bergantian. “Kau mengenalnya?”

Orion atau kini Ryuga menarik topengnya perlahan. Rambut hitam panjangnya terurai, wajahnya terlihat tajam namun kalem, dan mata abu-abunya memperhatikan Ren seolah membawa beban masa lalu.

“Kau bukan satu-satunya pewaris keluarga Hirano, Ren. Ada aku.” Ren menggertakkan giginya.

“Kau menghilang bertahun-tahun lalu! Kami pikir kau mati!” kata Ren

“Aku tidak mati,” jawab Ryuga sambil melangkah maju.

“Aku dibuang.” Petir menyambar, menerangi wajah Ryuga.

Ren tampak sangat terpukul, sedangkan Ryuga hanya memandangnya dingin. Melihat kedua saling bertatapan membuat kenji menjadi kesal.

Kenji menjerit frustasi. “Cukup! Apa hubungan semua ini dengan Mamaku?!”

Ryuga menghela napas. “Misaki Kazuma … ibumu adalah saksi terakhir dari perang lama tiga keluarga Kazuma, Hirano, dan Takatori.”

Keduanya terdiam. Kenji merasa tubuhnya goyah, Ryuga melanjutkan, suaranya berubah dingin. “Kematiannya bukan karena perang Kazuma dan Hirano. Dia dibakar hidup-hidup untuk menutupi pengkhianatan yang sebenarnya.”

“Siapa pengkhianatnya?!” Kenji berteriak.

Ryuga tersenyum samar. “Whisperer.”

Petir kembali menyambar, terlihat Ren tampak pucat ketakutan. Kenji memegang dadanya. Napasnya tercekat.

“K-kenapa aku harus percaya pada kalian?!” Belum sempat Ryuga menjawab.

Terdengar suara tembakan peluru yang melesat dari sisi kiri atap, menghancurkan lantai beton di dekat kaki Kenji. Ren menjerit dan menarik Kenji ke belakang ventilasi logam.

“Ada sniper!” Ren berteriak.

Ryuga melirik cepat. “Dia datang.”

“Siapa?!” teriak Kenji.

“Tangan kanan Whisperer.”

Terdengar suara tembakan kedua menghantam pipa metal, membuat percikan besar. Ren memeluk Kenji agar tidak jatuh. Tembakan ketiga kali ini diarahkan tepat ke jantung Kenji.

“Kenji!” teriak Ren.

Namun dalam hitungan detik, Ryuga melompat, menepis tubuh Kenji, membuat peluru hanya menggores bahunya.

“AUGH!” Kenji terjatuh.

Ryuga berdiri di depannya dan berkata lirih, “Dia tidak mau kau mati malam ini. Dia hanya memberi peringatan.”

“Siapa dia?! Siapa yang melakukan semua ini?!” Kenji berteriak putus asa.

Ryuga menatapnya. “Orang yang merencanakan semua ini sejak awal, orang yang membuat kau membenci keluarga Hirano. Orang yang membunuh Mamamu. Orang yang membuat aku dibuang.”

Ren menahan napas, tetapi Ryuga berkata pelan dan tegas. ”Dia sedang menunggu kalian berdua.”

Terdengar suara tembakan untuk keempat menghantam pilar beton, membuat sisi atap berguncang keras. Lalu terdengar suara ledakan besar mengguncang sisi kanan atap. Api membumbung tinggi, puing-puing beterbangan.

Ren meraih Kenji. “Ayo!”

Ryuga langsung berlari ke arah tangga dan diikuti oleh Ren yang langsung menarik tangan Kenji dan mereka berlari, tetapi tangga dalam telah runtuh total. Dan itu membuat mereka bingung karena salah satu akses mereka untuk keluar tertutup.,

“Kita terjebak,” kata Ryuga.

“Kalau kita tetap disini kita akan mati!” Kenji menjerit.

Ryuga memandang ke kiri. “Bukan kalau aku punya jalan lain.”

Ia menunjuk jembatan pipa yang menghubungkan gedung utama dan gedung kelas. Mereka berlari ke arah sana. Tetapi sebelum mereka sampai mereka mendengar suara langkah menghantam air terdengar dari bangunan seberang.Seseorang berdiri di tepi atap gedung lain.Siluet tinggi dengan jas panjang gelap. Topeng putih polos, dan di tengah topeng itu  simbol T berwarna merah darah. Ren memucat. Kenji membeku.

Ryuga berbisik, “Tangan kanan Whisperer—”

Sosok itu mengangkat tangan. Di sela jarinya berkibar sebuah foto bayi, Kenji merasa seluruh dunia berhenti, foto itu sangat mirip dirinya. Sosok bertopeng itu mengangkat dua jarinya—seperti memberi salam sinis sebelum menghilang ke balik bangunan.

Kenji memegang dadanya, tubuhnya gemetar. “Apa yang sedang terjadi?”

“Kebenaran,” kata Ryuga menatapnya dengan sorot berat.

“Baru saja dimulai.”

1
Glastor Roy
yg bayak tor up ya
Glastor Roy
update
Glastor Roy
up
Glastor Roy
update ya torrr ku
Hime_Hikari: hallo kak di tunggu saja kak untuk update terbarunya
total 1 replies
putri baqis aina
Teruslah menulis dan mempersembahkan cerita yang menakjubkan ini, thor!
Hime_Hikari: Terima kasih kak 😁😁
total 1 replies
Ryner
Author, kapan nih next chapter?
Hime_Hikari: Ditunnggu saja ya kak

Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!