NovelToon NovelToon
1 JANUARY - Cinta Yang Seharusnya Tak Pernah Ada

1 JANUARY - Cinta Yang Seharusnya Tak Pernah Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Sad ending / Menikah dengan Musuhku / Selingkuh
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: sea.night~

Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah sakit

Dirga terdiam. Ia mengulurkan tangan lagi menyentuh dahi Winda untuk memastikan kalau tadi itu benar benar sangat panas.

Tangannya gemetar setelah menyentuh dahi Winda yang panas membara. "…si*l. Ini nyata.."

Ia berdiri cepat, mondar-mandir di kamar seperti orang kehilangan arah. "Ini cuma demam… pasti cuma demam biasa," gumamnya, mencoba menenangkan diri sendiri.

Tapi tubuh Winda malah makin menggigil. Bibirnya pucat. Napasnya pendek-pendek. "Ma…ma…" lirih lagi.

Dirga menoleh cepat. Dadanya berdenyut aneh. Ia menggertakkan gigi. "Bilang aja namaku… kenapa harus mama…" serunya kesal.

Namun tangannya sudah reflek menarik selimut lebih rapat ke tubuh Winda. Gengsi. Ia benci ini. Ia benci peduli.

Tiba-tiba pintu diketuk pelan. Tok! Tok!

"Tuan…?" suara Sumi dari luar.

Dirga kaget. "Masuk."

Sumi masuk membawa baskom berisi air dengan kain. Saat Sumi masuk ia langsung menjauh dari Winda. Wajah nya kembali dingin. Tidak panik seperti beberapa saat lalu.

Sumi duduk di tepi kasur lalu memeriksa suhu tubuh Winda "Astaga… Kenapa panasnya belum turun juga.."

Dirga menghindari tatapannya. "Dia dari tadi begini?"

"Iya, Tuan… sejak pagi."

"Kenapa nggak dibawa ke dokter?!" bentak Dirga tiba-tiba.

Sumi terkejut. "Saya sudah sarankan, tapi Nyonya bilang nggak usah…"

Dirga mengumpat pelan. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu, " Kita ke rumah sakit sekarang." ucapnya pada Sumi tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.

Sumi menatapnya kaget. "Tuan…"

"CEPAT."

***

Di dalam mobil.

Dirga mengemudi dengan cepat tapi pandangan nya tak bisa lepas dari kaca spion. Ia dapat melihat Winda berbaring di kursi, ia setengah sadar. Kepalanya bersandar bahu Sumi dan ia masih bergumam pelan memanggil mamanya dengan suara lirih. Tangan Sumi memegang bahu Winda agar tak jatuh.

"Jangan mati…" ucap Dirga lirih tanpa sadar. Begitu sadar dengan kata-katanya sendiri, ia langsung mengumpat pelan. "Si*l…"

Mobil melaju dengan cepat, melaju kencang membelah jalan. Sesampainya di rumah sakit, Dirga langsung memanggil perawat untuk membantu membawa Winda ke ruang perawatan.

Ia berdiri terpaku di luar kamar, menunggu dengan gelisah. Tak lama kemudian, pintu terbuka. Dokter keluar dan Dirga refleks berdiri.

“Demamnya tinggi. Tubuhnya drop karena kelelahan dan tekanan emosional,” jelas dokter.

Dirga membeku.

"Dia perlu istirahat total. Jangan sampai stres lagi." ucap dokter sebelum berbalik pergi meninggalkan Dirga sendiri dengan pikiran nya.

Tatapan Dirga jatuh ke lantai.

Stres?

Tekanan?

Malam itu.Dirga duduk di kursi luar ruang rawat. Kepalanya tertunduk. Ia tak berani masuk.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Dengan nama yang tertera di layar "Papa".

Ia menelan ludah lalu mengangkat. "Halo-"

"Ku dengar Winda demam tinggi." potong Bram dengan suara yang berat dan tegas.

"Iya, pa.." jawab Dirga gugup.

"Lihat? Kamu selalu gagal jaga orang terdekat," suara Bram tajam dan menusuk.

Dirga mengepalkan tangan. Iya tak berkata apa-apa.

"Apa kata orang tuanya nanti."

Dirga menatap pintu ruang rawat.

Winda ada di dalam. Ia terbaring lemah dan infus di tangan kirinya.

Untuk pertama kalinya…ia merasa sesuatu pada Winda. Bukan kebencian, tapi sesuatu yang tak bisa ia akui, seperti...kekhawatiran? tidak. Dirga buru-buru menepisnya.Tidak mungkin.

“Kamu itu keterlaluan, Dirga.” suara Bram kembali terdengar di seberang telepon. “Dari awal Papa tahu kamu benci sama Winda. Kamu pikir Papa nggak lihat sikapmu?”

Dirga menutup mata.

“Kamu dingin, kamu cuek, kamu perlakukan dia kayak orang asing di rumah sendiri.” lanjut Bram penuh amarah. "Sekarang akibatnya? Istri kamu masuk rumah sakit. Kalau sampai terjadi apa-apa, kamu pikir Papa bisa diam?”

Dirga menggigit bibirnya.

“Kamu kira perempuan itu kuat terus?” bentak Bram. “Dia manusia, Dirga! Punya perasaan!”

“Pa…” suara Dirga bergetar. “Aku nggak pernah niat—”

“Nggak niat? Tapi kamu lakuin!” potong Bram. “Kamu biarin dia sendirian, kamu jauhi dia, kamu bikin dia merasa nggak berarti!”

Dirga terdiam. Dadanya sesak.

“Sekarang pas dia jatuh sakit, baru kamu kelabakan?” suara Bram merendah tapi menusuk. “Kamu pikir ini kebetulan? Ini akibat dari sikapmu sendiri.”

Dirga mengepalkan tangan. Kata-kata itu menghantam tepat di tempat yang paling ia hindari.

Dirga menatap pintu ruang rawat. Bayangan Winda yang terbaring lemah kembali muncul di kepalanya. Dirga menarik napas dalam.

“Pa… aku tahu aku salah,” katanya pelan. “Tapi sekarang dia sakit. Bisa nggak… jangan tambah beban lagi?”

“Hah?! Jadi sekarang kamu nyalahin papa?! ini semua salah kamu Dirga!”

Dirga menutup mata. Muak. Benar-benar muak. Tanpa berkata apa-apa lagi, Dirga menekan tombol merah.

Telepon terputus.

Sunyi.

Dirga menatap layar ponselnya lama. Jantungnya berdetak keras.

Untuk pertama kalinya…

Ia memutuskan berhenti mendengar semua racun itu.Ia menghela napas panjang, lalu berbisik,

“Aku udah cukup nyakitin dia…”

Perlahan, Kakinya melangkah ragu menuju pintu ruang rawat. Tangannya terangkat, tapi berhenti di udara. Ia urung mengetuk.Takut. Takut melihat wajah Winda yang pucat. Takut merasa bersalah. Dan yang paling ia takuti adalah… menyadari sesuatu yang selama ini ia tolak.

Beberapa detik ia berdiri mematung, sampai akhirnya pintu terbuka pelan dari dalam.

Sumi keluar membawa kantong plastik berisi obat. Ia terkejut melihat Dirga berdiri di sana.

“Tuan…” ucapnya lirih.

Dirga menelan ludah. “gimana?” tanyanya singkat tapi suaranya tidak dingin.

“Masih tidur. Badannya panas tapi sudah turun sedikit.” Sumi menatap Dirga lama, seolah menahan sesuatu. “Tuan masuk saja. Nyonya mungkin butuh Tuan.”

Dirga terdiam. Lalu mengangguk pelan. Ia masuk perlahan.

Ruangan itu sunyi. Winda terbaring di ranjang, wajahnya pucat, bibirnya kering. Rambut panjangnya terurai berantakan di bantal.

Dirga berdiri di sisi ranjang. Hatinya terasa diremas. Ia ingat semua kata-kata kasarnya. Sikap dinginnya. Tatapan sinis yang sering ia berikan pada Winda. Dan setiap hinaan yang ia lontarkan tanpa rasa ragu.

Pelan, Dirga duduk di kursi samping ranjang.

Tangannya terulur… lalu berhenti lagi. Ragu menyentuh tangan Winda yang dingin. “Aku… nggak pernah niat bikin kamu sesakit ini,” bisiknya nyaris tak terdengar. “Aku cuma… benci dan nggak suka.”

Winda bergerak kecil. Alisnya berkerut, seolah bermimpi buruk. "Ma…” gumamnya lemah.

Dirga membeku.

Ia menunduk mendekat. “Aku di sini.”

Mata Winda terbuka sedikit. Pandangannya buram, tapi ia tersenyum tipis saat melihat Dirga. “Kamu… pulang?” tanyanya lirih.

Dirga tercekat. Seolah pertanyaan sederhana itu menghantam dadanya keras.

“Iya…” jawabnya pelan. “Aku di sini.”

Senyum Winda mengembang kecil sebelum matanya terpejam lagi.

Dirga menatapnya lama. Dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya… ia tak ingin pergi. Tak ingin bersikap dingin.

Dirga menunduk.

Di antara suara mesin rumah sakit yang sunyi, ia berbisik pada dirinya sendiri,

“Apa aku... mulai peduli?”

1
partini
malah ribut ayah ma anak
sea.night~: iyaa nihh jadi beban
total 1 replies
partini
anjing ga tuh
🤭
sea.night~: anjing banggett😭🤟
total 1 replies
partini
kalau kata" mah biasa mau ini itu Ampe penghuni kebon binatang pun masih ok busettt ini Ampe nampar gara" muak lihat muka
dalem bnggt sehhh
partini: nanti muka muak Widia jadi ngangenin 🤭
total 2 replies
partini
Kaka ipar yg
sea.night~: yess kakak ifar
total 1 replies
partini
hati yg kosong dari kecil,
sea.night~: huhu iyaa , tapi sama juga kayak Winda nya jadi anak tuntutan keluarga
total 1 replies
partini
aku baca sinopsisnya langsung loncat bab ini ma"af ya Thor
Winda muka tembok ga sih ini
sea.night~: Sudah up ya, kak
Selamat membaca🙏😁
total 11 replies
si kecil nikkey
kayanya si Winda tipe cwe menye2, bkin hati sejati para cwe mencelid TDK senang thor....masa mau aja JD bucin KY gtu lagian d lahirin GK nyadar klo kita ada bukan buat orang lain tp untuk kebaikan diri sndiri, payah Winda dahlah thor..
sea.night~: Setuju sih kak, tapi setiap orang punya waktunya sendiri buat sadar. Winda juga lagi berjuang kok, cuma caranya masih salah.😁🙏
total 1 replies
BiruLotus
Halo kak, aku mampir. Mau kasih saran aja, tanda bacanya masih ada yg keliru. Misalnya setelah tanda petik 2, langsung saja kalimat, jangan pake spasi. Semangat!
sea.night~: okaayy kakak , makasih banyak ya kak saran nyaa 🙏🙏😁
total 1 replies
BiruLotus
lanjut
BiruLotus
Gak punya otak!
BiruLotus
Ayahnya minta di slebew!
BiruLotus
Wah jangan berkecil hati Winda
BiruLotus
Dari Dirga kok berubah Dimas, kak?
sea.night~: 😭makasih koreksi nya kak, awal nya mau di kasih nama dimas kian🙏
total 1 replies
Gohan
Penuh makna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!