NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA PULUH SATU

Suara riuh mahasiswa masih bergema di dalam bus, bercampur dengan getaran mesin yang berderu pelan. Tawa pecah di beberapa bangku belakang, suara ponsel berklik-klik memotret pemandangan senja dari jendela, dan aroma makanan ringan mulai memenuhi udara. Semua itu seharusnya membuat perjalanan terasa hangat dan akrab. Namun bagiku, semua hiruk pikuk itu seperti teredam, jauh, nyaris tak terdengar.

Karena di sebelahku duduk seseorang yang sama sekali tak ingin kuhadapi malam ini-Mas Althaf.

Sejak ia meminta Rama bertukar kursi dengannya, jantungku langsung terasa melorot ke perut. Aku tahu, detik itu juga, perjalanan panjang ini akan berubah jadi ujian kesabaran. Berjam-jam duduk berdampingan dalam ruang sesempit bus, tanpa bisa lari atau bersembunyi, benar-benar siksaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Aku memaksa diriku menempelkan pandangan ke luar jendela. Langit sore yang memudar ke arah jingga keemasan menjadi satu-satunya pelarian. Bayangan pepohonan di kaca bus, lampu-lampu jalan yang mulai menyala, semuanya kujadikan alasan untuk tidak menoleh sedikit pun. Tanganku meremas erat tali tas di pangkuan, sendi-sendi jariku sampai memutih. Kakiku bergoyang kecil, berulang-ulang, seperti mencari cara lain untuk menyalurkan kegelisahan yang mendesak dada.

Di sampingku, kontras sekali. Althaf duduk tegap, tenang, seakan posisi ini adalah yang paling nyaman baginya. Punggungnya menempel sempurna pada sandaran kursi, kedua tangannya terlipat rapi di dada, wajahnya datar tanpa sedikit pun guratan canggung. Sesekali ia menggerakkan kepala, menoleh sekilas ke arah kerumunan mahasiswa yang masih gaduh, lalu kembali menatap lurus ke depan. Tidak ada tanda bahwa keberadaanku di sampingnya memberi pengaruh apa pun.

Itu justru membuatku semakin gelisah. Diamnya terasa menekan, seakan-akan ada dinding transparan di antara kami-dingin, kokoh, dan tak bisa kutembus. Jarak fisik kami begitu dekat, hanya dipisahkan oleh sandaran tangan yang sempit, tapi jarak emosionalnya seolah lebih jauh dari langit jingga di luar sana.

Aku mencuri pandang.

Dari sudut mataku, garis rahangnya terlihat tegas, dipahat jelas oleh cahaya lampu bus yang baru saja menyala. Terlalu tenang. Terlalu... biasa. Seakan tak pernah ada percakapan yang berubah jadi pertengkaran, seakan tak pernah ada dingin yang membeku di antara kami, seakan tak pernah ada luka yang masih basah di hatiku.

Refleks, aku buru-buru memalingkan wajah, takut tatapanku terlalu lama bertahan dan dia menyadarinya.

Ya Tuhan... kenapa dia bisa setenang itu?

Sementara aku-hanya karena jarak bahu kami yang hampir bersentuhan-rasanya sudah sulit bernapas.

Suasana di dalam bus perlahan mereda. Beberapa mahasiswa masih tertawa kecil, ada yang mengobrol pelan sambil mengunyah camilan, tapi sebagian besar sudah terlelap. Hanya suara mesin bus yang konstan, berpadu dengan sesekali derak kursi yang bergeser.

Aku duduk kaku, punggung menempel rapat ke sandaran, pandangan dipaksa menembus kaca jendela yang dipenuhi pantulan lampu jalan. Tapi yang paling nyata tetaplah keberadaannya di sampingku. Terlalu dekat. Terlalu menyesakkan.

Sementara dia... seolah dunia baik-baik saja.

Duduk tegap, kedua tangan terlipat di dada, pandangannya lurus ke depan tanpa satu pun gelagat gelisah. Seakan posisi ini bukan masalah. Seakan aku tidak pernah berarti cukup untuk membuatnya sedikit pun goyah.

Dan itu, entah kenapa, jauh lebih menyakitkan.

Aku menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri. Tapi semakin keras aku mencoba, semakin nyata keberadaannya di sisiku. Aroma samar parfumnya-maskulin, dingin, dan entah kenapa begitu familiar-menyusup halus ke indera penciumanku. Detak jantungku otomatis berdegup lebih cepat, seolah tubuhku menolak tunduk pada akal sehat. Dan saat itu juga aku sadar... aku benar-benar tak berdaya terjebak dalam perjalanan panjang ini bersamanya.

"Kenapa gelisah?"

Suara berat itu tiba-tiba terdengar, dalam dan cukup dekat untuk membuatku sontak menoleh.

Refleks mataku membesar. "Ngg... nggak, Mas..." jawabku tergesa.

Deg. Dadaku mencelos. Betapa bodohnya aku-lupa bahwa ada banyak telinga di bus ini. Mahasiswa lain duduk tidak jauh dari kami, siapa pun bisa mendengar panggilan itu. Panik, aku buru-buru meralat dengan suara yang malah terdengar terlalu kaku. "Maksud saya... Pak Althaf."

Wajahku langsung memanas. Rasanya ingin sekali menepuk jidat sendiri karena ceroboh.

Althaf hanya melirikku sekilas. Tatapannya sulit ditebak-datar, namun ada garis tipis kerutan di dahinya. Setelah itu, pandangannya kembali mengarah lurus ke depan. Begitu saja. Seolah kejadian tadi sama sekali tak berarti.

Aku menunduk dalam-dalam, gigi bawahku menggigit bibir, menahan rasa malu yang menyiksa. Tanganku meremas tali ransel di pangkuan, kuat-kuat, mencari pegangan agar tidak semakin terlihat gugup. Dari belakang, samar-samar terdengar suara cekikikan beberapa mahasiswa. Entah mereka menertawakanku atau hanya bercanda soal hal lain, tapi tetap saja itu cukup untuk membuatku ingin menghilang dari kursi ini.

Dan Althaf? Dia tetap tenang. Diam. Tidak menanggapi, tidak menegur. Sikapnya yang terlalu biasa justru membuat kegelisahanku semakin menjadi-jadi.

Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah jendela, memaksa diriku menatap bayangan lampu jalan yang berkelebatan. Andai saja aku bisa benar-benar larut dalam pemandangan luar, mungkin aku bisa mengabaikan kehadirannya. Tapi kenyataannya mustahil. Kehangatan tubuhnya di sampingku, aroma parfumnya yang terus menusuk indera, semua itu terlalu dekat untuk kuabaikan.

"Pak... eh, Pak Althaf, boleh tirai jendelanya diturunin? Silau banget," suara salah satu mahasiswa dari barisan belakang memecah lamunanku.

Aku refleks menoleh, karena jendela yang dimaksud persis di sisiku. Tanganku hampir terulur untuk menurunkan tirai itu. Namun suara Althaf mendahului, tenang tapi tegas, tak memberi ruang untuk menolak.

"Senjani, turunkan saja."

Deg. Namaku meluncur dari bibirnya dengan jelas, membuat beberapa mahasiswa otomatis menoleh.

Aku merasakan pipiku panas, tapi terpaksa menurut. Dengan gerakan canggung, kutarik tirai jendela itu. "I-ya, Pak..." jawabku cepat, menekankan kata Pak agar terdengar oleh semua orang.

Mahasiswa yang meminta bantuan tadi tersenyum puas. "Makasih, Senja!" katanya.

Aku hanya mengangguk singkat, lalu kembali menunduk.

Aku berusaha kembali memandang ke luar, tapi bayangan di kaca jendela justru memantulkan wajah Althaf yang duduk tepat di sampingku. Dan sialnya, semakin aku mencoba tidak memperhatikan, semakin jelas semua detail tentang dirinya tertangkap mataku.

Kenapa harus begini? Kenapa harus satu bus, satu kursi, dan satu dunia kecil yang rasanya terlalu menyesakkan?

Beberapa jam sudah berlalu sejak bus meninggalkan kampus. Jalanan gelap, hanya diterangi lampu jalan yang sesekali masuk menembus kaca. Suara riuh yang tadi memenuhi kabin perlahan mereda, berganti dengan dengkuran kecil di sana-sini dan musik pelan dari headset mahasiswa yang belum tidur.

Aku masih terjaga. Mataku menatap kosong ke arah tirai jendela yang sudah tertutup rapat. Sesekali aku mengintip bayangan gelap di luar, tapi sebenarnya aku tidak benar-benar melihat apa pun. Kepalaku penuh dengan suara-bukan suara mahasiswa, tapi suara detak jantungku sendiri yang tak kunjung tenang.

Sementara di sampingku, Althaf tampak begitu santai. Ia bersandar pada kursi, satu tangannya terlipat di dada, matanya terpejam. Entah dia benar-benar tertidur atau hanya memejamkan mata.

Aku menelan ludah. Kenapa dia bisa setenang itu? Sementara aku bahkan tidak bisa mengatur napas sendiri...

Kursi bus bergetar pelan saat melewati jalanan yang tidak rata, membuat tubuhku bergoyang sedikit. Tanpa sengaja, bahuku hampir bersentuhan dengan bahu Althaf. Aku langsung menegakkan tubuh, menempel ke sisi jendela sebisa mungkin.

Namun ternyata itu justru membuatku makin tidak nyaman. Posisi miring terlalu lama membuat leherku pegal. Aku mendesah pelan, mencoba mengganti posisi duduk, berharap Althaf tidak menyadari kegugupanku.

Tiba-tiba suara rendahnya terdengar, membuatku nyaris melompat dari kursi.

"Kamu nggak tidur?" tanyanya tanpa membuka mata.

Aku tercekat. Hampir saja menjawab dengan "Mas" seperti biasa, tapi buru-buru kuingat ada mahasiswa lain di bus ini.

"E-eh, belum, Pak... saya belum ngantuk," jawabku pelan.

Ia hanya mengangguk kecil, masih dengan mata terpejam. "Tidurlah. Perjalanan masih panjang. Kamu butuh tenaga besok."

Aku menggigit bibir bawah. Kata-katanya sederhana, tapi tetap saja membuat dadaku terasa sesak.

"I-iya, Pak," jawabku singkat, lalu kembali menoleh ke jendela.

Tapi bukannya bisa tidur, aku justru semakin terjaga.

Kenapa harus satu kursi dengan dia? Kenapa harus sedekat ini? Kalau begini terus... aku bisa gila sendiri.

Bus terus melaju di jalan tol, deru mesinnya jadi latar sunyi yang monoton. Lampu kabin sudah diredupkan, hanya sisa cahaya redup dari lampu jalan yang kadang menyorot masuk lewat jendela. Sebagian besar mahasiswa sudah terlelap, beberapa bersandar ke kursi dengan mulut sedikit terbuka.

Aku masih terjaga. Entah kenapa, meski tubuhku lelah, kantuk sama sekali tak mau datang. Pandanganku berulang kali mencuri-curi arah ke samping-ke arah Althaf. Ia duduk dengan posisi tenang, kepala sedikit bersandar, mata terpejam. Aku tidak tahu apakah dia sungguh tidur atau hanya berpura-pura.

Tanpa sadar aku menghela napas panjang-mungkin terlalu keras-karena tiba-tiba matanya terbuka. Tatapan itu, gelap dan dalam, langsung menangkap mataku.

Aku terkesiap, buru-buru menunduk. "M-maaf, Pak..." bisikku cepat, berharap ia tak menanggapi lebih jauh.

Namun ia tidak berpaling. Justru tatapannya semakin tajam, seakan menembus pertahananku. Tubuhku menegang, gelisah, hingga detik berikutnya aku merasakan sesuatu-sentuhan hangat di jemariku.

Tangannya.

Ia menggenggam tanganku di atas pangkuan.

Aku terlonjak kecil, mataku membesar tak percaya. "Mas..." bisikku kaget, suara tercekat, nyaris tak terdengar.

Althaf menunduk sedikit, mendekat. Jarak wajahnya terlalu dekat, membuatku tak punya tempat untuk bersembunyi. Suaranya terdengar pelan, berat, seperti rahasia yang hanya boleh singgah di telingaku.

"Saya minta maaf, Senjani... atas sikap saya. Atas semua kata-kata dingin yang pernah saya ucapkan."

Jantungku berdegup liar, berdebar begitu keras hingga rasanya bisa terdengar orang lain. Genggamannya semakin erat, membuatku sulit bernapas. Aku menatapnya tak percaya, mataku membelalak, seakan kalimat itu terlalu mustahil untuk benar-benar terucap darinya.

"Mas... jangan bahas itu di sini... banyak mahasiswa lain," bisikku tergesa, hampir seperti sebuah permohonan. Aku menoleh kanan-kiri, memastikan tidak ada yang memperhatikan, meski sebagian besar mahasiswa sudah terlelap dengan kepala bersandar ke jendela.

Namun Althaf tetap tak bergeming. Tatapannya tak lepas dariku, menusuk, dalam, penuh keyakinan yang tak kutemukan sebelumnya. Suaranya kembali terdengar, pelan namun mantap, cukup dekat sehingga hanya aku yang bisa mendengarnya.

"Saya tidak peduli, Senjani."

Aku terdiam.

Dia menarik napas panjang, seolah kata-kata berikutnya keluar dari dasar hatinya yang paling dalam.

"Yang pasti... saya menyesal. Atas sikap saya, ucapan saya... atas jarak yang saya buat di antara kita." Suara Althaf terdengar datar tapi berat, seolah menahan sesuatu yang enggan benar-benar ia ungkapkan.

"Maaf atas sikap saya yang mungkin membuat kamu tersiksa, Senjani. Yang pasti... segala sesuatu yang saya lakukan itu untuk kebaikan kita berdua."

Aku terdiam, tubuhku kaku. Kata-kata itu menggantung di udara, ambigu, sulit kutangkap maksudnya. Untuk kebaikan kita berdua? Apa maksudnya? Apakah ia sedang mencoba melindungiku? Atau justru itu hanya alasan untuk membenarkan sikap dingin dan kejamnya selama ini?

1
+62
lovyu.. ❤️
+62
tidak ada pelakor disini.. 🌚
+62
lagi 🌚
+62
jangan ada konflik lagi 🥺
+62
jangan ada konflik lagi ya 🥺
+62
apdet banyak2 🦖
+62
semoga ga ada perselingkuhan
+62: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!