NovelToon NovelToon
Basmara

Basmara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Playboy / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa
Popularitas:175
Nilai: 5
Nama Author: keisar

Basmara, dalam bahasa sansekerta yang berarti cinta dan tertarik. Seperti Irma Nurairini di mata Gervasius Andara Germanota, sebagai siswa anak kelas 11 yang terkenal Playboy menjadi sebuah keajaiban dimana ia bisa tertarik dan penuh kecintaan.

Namun apalah daya, untuk pertama kalinya Andra kalah dalam mendapatkan hati seseorang, Irma sudah ada kekasih, Andrew, seorang ketua OSIS yang terkenal sempurna, pintar, kaya, dan berbakat dalam non akademi.

Saat terpuruk, Andra mendapat fakta, bahwa Irma menjalani hubungan itu tanpa kemauannya sendiri. Andra bangkit dan memerjuangkan Irma agar sang kakak kelas dapat bahagia kembali.

Apakah Andra berhasil memerjuangkan Irma atau malah perjuangan ini sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keisar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: 27 September

Dion, anak dengan gaya rambut ala tentara itu terduduk didekat kolam ikan, dekat dengan kantin, ia melihat kerumunan siswa dari sudut matanya, Dion tahu, siapa yang mereka kerumuni, Bagas.

Siswa-siswi yang mengerumuni Bagas sesekali melirik Dion sinis, sedangkan yang dilirik? Ia tidak peduli, toh memang ini konsekuensi akibat memukil

siswa terkenal disekolahnya.

Dion menghela napas kesal sembari mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Mending aku ke mushola, sholat," lirihnya, ia beranjak dari tempatnya menuju mushola yang lumayan dekat dengan kantin.

Seketika 'penggemar-penggemar' Bagas menatap Dion tajam, waspada akan gerak-geriknya. Dan ya, Dion tidak peduli sama sekali, lebih baik ia menyendiri di mushola daripada ditatap seperti ini sampai pulang.

Begitu menginjak area mushola, seseorang menepuk pundaknya. "Mau kemana lu, ion?" jelas sekali, ini Bagas.

"Sholat, kenapa kau hampiri aku? Mau uang ganti rugi? Uang jajan pun gak dikasih aku," Dion bermonolog dan masih menghadap depan, malas rasanya untuk membalikkan badan.

"Dih, pede banget lu," suara kali ini terdengar cukup asing.

"Apa maksu—" ucapan Dion terpotong, ketika berbalik badan, Bagas tiba-tiba menyodorkan sebungkus siomay, tanpa pikir dua kali ia mengambil dan memakannya.

Kok Dion plin-plan sekali? Tadi emosi, sekarang langsung makan, tak punya harga diri. Kawan, kalau anda kelaparan, harga diri nomor sekian, setidaknya perut terisi, pikir Dion.

"Kenapa kalian kesini?" Dion menatap empat orang didepannya dengan tatapan waspada, masih mengunyah tentunya. "Kalian mau keroyok aku rupanya."

Anak dengan papan nama 'Mora' terkekeh. "Mana berani kita keroyok lu, kalo di Dota, lu sven, kita berempat support, kita yang mati."

Bagas menghampiri Dion, lalu merangkulnya. "Ntar gua jelasin, gua tau lu laper, gua traktir mie ayam," senyum tercetak di wajahnya.

"Kita nggak di traktir juga gas?" anak dengan papan nama 'Andara' menawarkan diri.

Bagas merespon dengan tatapan dingin. "Pake duit lu sendiri, lu dikasih duit jajan kan sama ortu lu?"

Andra memanyunkan bibirnya, lalu menggelengkan kepalanya. "Nggak."

Bagas menghela napas kesal, ia menunjuk Andra. "Sumpah demi allah?"

Dion dengan yang lain pun tertawa, begitu juga Andra. "Nggak, nggak, bercanda, Bagas serius banget, nggak bisa diajak bercanda."

"Ayolah, beli mie ayam, laper gua," ajak Farel.

Mereka pun berjalan menuju bagian mie ayam, membelinya, berjalan menuju beton-beton yang memang dibuat untuk duduk-duduk sambil makan. Mereka menyantap mie ayam dengan santai, berbeda dari yang lain, Dion menyantapnya dengan lahap, seperti tidak makan 12 hari.

"Lu ngapain jalan ke mushola, ngapain ion?" tanya Indra.

Dion berhenti sejenak, ia menengok ke anak disampingnya itu. "Mau sholat."

Andra yang sedang makan langsung tersedak, Indra, Mora, dan Bagss kaget mendengarnya. "Hah!"

Dion memasang wajah bingung. "Kenapa kalian kaget?"

"Kita pikir lu kristen, ion," jelas Indra.

Dion mengerutkan dahi. "Kok bisa?"

"Lagian, nama lu kristen banget," jawab Andra.

"Nah, gua tau nama julukan buat lu ion, Debrong," cetus Mora. "Dion gentong."

Kini Bagas yang mengerutkan dahi. "Lah? R sama B nya darimana? G sama T nya kok ilang?"

Mora memasang wajah kagok. "Eum, sebenarnya gua ngarang aja sih."

Tuk!

Dion menusuk mangkoknya, dimana mie ayamnya sudah habis. "Kimak, itu mah kau cuma mau ngatai aku aja."

Mora terkekeh, merangkulnya erat. “Maaf kawan, seenggaknya aku udah mencetuskan nama cocok untukmu.”

“Serah kaulah,” Dion mengalah.

“Berarti setuju ya, sekarang Dion kita panggil Debrong,” usul Indra yabg disetujui oleh yang lain, kecuali yang dipanggil.

Dion atau yang kini dipanggil Debrong itu beranjak dari tempatnya sembari membawa mangkoknya. “Terserah kalian,” ia membalikkan mangkok itu ke penjual mie ayam.

Saat sampai ke kerumunan…teman barunya? Entahlah, Debrong bingung mau menyebut orang-orang yang memberi panggilan baru ini adalah teman-temannya atau tidak.

Karena sebagai seseorang yang menghabiskan waktu dengan belajar dan makan, Debrong jarang berkomunikasi dengan orang lain, kecuali dengan teman sebangkunya, itupun seadanya.

“Gas,” panggil Debrong. “Kau nggak suntuk karenaku pukul?”

Bagas tersenyum, kemudian ia menghampiri Debrong lalu merangkulnya. “Awalnya gua kesel, tapi setelah denger kata Koi yang tinggal deket rumah lu, katanya emak lu marah-marah karena lu nggak dapet ranking satu.”

Tatapan Bagas terlihat teduh, ia mengelus pundak Debrong. “Dan akhirnya gua nggak kesel, gua pernah diposisi lu, gua tau rasanya kayak apa, kesel karena kita dihukum karena orang lain lebih dari kita.”

Debrong mengulum bibirnya ragu-ragu, apa orang-orang yang peduli terhadapnya ini temannya? “Eh, kalian teman-temanku bukan sih?” tanya Debrong dengan polos membuat yang ditanya terkekeh.

Bagas beranjak dari tempatnya menuju penjual mie ayam, diikuti oleh yang lain. “Iyalah, Debrong.”

Debrong berbalik badan, menatap punggung Bagas dan yang lain tak percaya, kini ia memiliki teman! Sebuah senyuman yang biasa muncul ketika makan makanan enak kini tercetak dibibir tebalnya.

Enam tahun kemudian

Debrong, anak yang kini mengenakan seragam SMP itu membulatkan matanya, ketika melihat mobil losbak terparkir didepan rumahnya yang kecil, emak terlihat sedang memindahkan barang-barang dari dalam ke luar rumah.

Debrong bergegas menghampiri emak. “Emak kenapa? Mindahin barang?”

Emak, wanita yang baru menginjak usia 32 tahun itu menatap Debrong dingin. “Kemasi barang-barangmu, kita balik ke Medan.”

Debrong membulatkan matanya kaget. “Loh kenapa gitu mak? Sekolahku gimana?”

“Ya kau sekolah di Medan lah,” jawab emak dengan santai. “Makin lama kau disini, makin gak nurut kau sama aku.”

“Nggak,” Debrong melawan. “Aku nggak mau pindah, cuma disini aku diterima, bukan di Medan!”

Emak merapatkan giginya. “Oh oke, kau tinggal disini sendiri, urusi dirimu sendiri, cari uang sendiri, gak usah kau minta duitku, biar mati kau disini!”

Flashback off

Debrong membuka matanya perlahan, bau obat-obatan memenuhi hidung, walapun hanya bisa melihat sekilas, ia tahu kalau dirinya berada di ruang rumah sakit.

“Brong, bangun juga lu,” Mora tersenyum, wajahnya dekat dengan wajah Debrong.

Debrong melihat sahabat-sahabatnya, beserta Irma dan Janeth. Mereka menatap Debrong dengan tatapan khawatir.

“Mor,” lirih Debrong. “Anak-anak kimak itu gimana?”

“Mereka diringkus polisi, lagi diinterogasi, harusnya,” suara tenang Bagas menjawab.

Debrong terkekeh ketika mengingat ucapan emak ketika ia pindah ke Medan. “Ternyata benar kata emakku, mati aku disini.”

Andra menggertakkan giginya. “Apa maksud lu Brong? Lu nggak mungkin mati, dokter udah nutup luka lu.”

“Tapi kata dokter, dia lagi masa kritis, Dra,” Bagas menaruh dagunya diantara jari telunjuk dan ibu jari. “Sebagai pasien yang kekurangan darah karena goldarnya langka, kecil kemungkinan Debrong bisa sadar, kecuali…”

Debrong terkekeh mendengar Bagas mengantungkan ucapannya. “Mungkin aku dikasih kesempatan sama tuhan untuk kata-kata terakhir.”

Mora menggoyangkan ranjang Debrong. “Apa maksud lu, brong? Lu harus cepet sembuh, kita bales dendam bareng-bareng!”

Debrong menggeleng pelan. “Aku nggak mau balas dendam… dikhawatirin sama kau dan yang lain lebih dari cukup.”

Debrong tersenyum. “Sobat, aku sayang sama kalian, aku pergi dulu ya, nyusul Anggi.”

Tiiiiiing!

Sahabat-sahabat Debrong menatap EKG yang menunjukkan garis lurus, tanda jantungnya sudah berhenti berdetak. “DEEBROONG!”

Disisi lain, rumah Debrong.

Kini, pelawak kelas yang sering membuat kelas gaduh berkat lawakannya, atau mister number karena akan melakukan apapun asal ada uangnya, atau Debrong, seseorang yang akan menghibur sahabat-sahabatnya.

Semua julukan itu dirangkum, menjadi Dionysus Rajagukguk, laki-laki yang dicintai banyak orang akibat kelakuannya, meninggalkan dunia ini selamanya pada tanggal 27 September, tepat di tanggal ulang tahunnya.

to be continue

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!