Berawal disalahpahami hendak mengakhiri hidup, kehidupan Greenindia Simon berubah layaknya Rollercoaster. Malam harinya ia masih menikmati embusan angin di sebuah tebing, menikmati hamparan bintang, siangnya dia tiba-tiba menjadi istri seorang pria asing yang baru dikenalnya.
"Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kau menjadi istriku."
"Kau gila? Aku hanya sedang liburan, bukan sedang mencari suami."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kunay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja
Greenindia kembali ke penthouse dalam keadaan tegang.
Begitu pintu lift terbuka di lantai penthouse, keheningan yang biasa menyambutnya malam ini terasa menyesakkan. Greenindia melangkah ke ruang tamu, dan dugaannya benar: Rex sudah kembali dari perusahaan. Pria itu berdiri di dekat jendela kaca besar, tangannya dilipat di dada, memandangi pemandangan kota.
Rex berbalik saat mendengar langkah Greenindia. Aura kekuasaan dan ketidakpuasan segera menyelimuti ruangan. Ekspresinya tenang, tetapi matanya yang tajam menunjukkan bahwa ia siap menuntut penjelasan.
“Kau sangat terlambat,” kata Rex, suaranya dalam dan dingin, tanpa menyentuh topik utama secara langsung.
Greenindia meletakkan tas tangannya di meja konsol terdekat. “Ada urusan mendesak yang harus kuselesaikan.”
Rex berjalan mendekat, mengurangi jarak di antara mereka. Gerakannya lambat, terukur, namun penuh ancaman yang tidak terucapkan.
“Urusan mendesak. Ya,” Rex mengulang, nadanya meremehkan. “Urusan apa yang membuatmu buru-buru meninggalkan kafenya di tengah jam sibuk? Urusan yang membuatmu mengabaikan teleponku selama lebih dari satu jam. Urusan yang membuatmu mengabaikan pesanku.”
Rex kini berdiri tepat di hadapan Greenindia, menatapnya dari atas. “Jelaskan, Greenindia. Kenapa kau pergi terburu-buru dari kafe?”
Greenindia membalas tatapan Rex dengan pandangan yang datar dan kosong. Ia tidak membiarkan emosinya terlihat, mengunci rasa takut dan frustrasinya di balik topeng acuh tak acuh.
Green sangat tidak suka dengan nada menuduh yang digunakan Rex. Sejak kapan Rex berhak ikut campur atas hidupnya? Apakah dia mulai lupa tentang dasar pernikahan mereka?
“Aku bilang, aku punya urusan yang harus diselesaikan, Tuan Carson,” jawab Greenindia.
Rex tidak bergerak. Ia menatap Greenindia lama, seolah mencoba menembus pertahanannya. Ada kilatan ketidakpastian di mata Rex, yang dengan cepat ia tutupi. Ia terbiasa mengendalikan, dan Greenindia adalah satu-satunya variabel yang lolos dari kendalinya.
“Aku lelah ingin istirahat.”
Greenindia membalikkan badan, meninggalkan Rex di ruang tamu. Ia melangkah menuju tangga marmer menuju kamarnya.
Rex berdiri di sana, sedikit bingung. Perubahan mendadak Greenindia menjadi defensif dan dingin, disertai dengan sentuhan kelelahan yang nyata, entah bagaimana meredam kemarahannya. Greenindia selalu menjaga jarak, tetapi hari ini ia menarik garis lebih tebal dari biasanya.
Rex menghela napas. Ia memutuskan untuk memberinya ruang. Greenindia adalah seorang wanita yang terbiasa mandiri, dan ia akan memberi Greenindia waktu untuk memberitahunya segalanya—dengan caranya sendiri. Rex hanya perlu memastikan Greenindia tahu di mana batasnya.
****
Keesokan harinya, Greenindia kembali bekerja di kafe dengan rutinitas normal. Hari itu berlalu tanpa insiden. Rex tidak menelepon, Lauren tidak muncul. Kafe sepi, yang membuat Greenindia merasa lega. Ia menyelesaikan shift-nya, berganti pakaian, dan bersiap untuk pulang.
Saat ia berjalan keluar melalui pintu belakang kafe, sebuah mobil mewah berwarna hitam gelap, yang jelas bukan milik Antonio, melaju perlahan dan berhenti di dekatnya. Jendela belakang turun, memperlihatkan wajah yang familier—Chester.
“Greenindia, masuklah,” kata Chester, ekspresinya serius.
Di kursi pengemudi, asisten pribadi Chester, yang terlihat sama tegangnya, memohon padanya dengan isyarat mata.
Greenindia ragu sejenak. Ia sudah menyuruh Jeremy dan Chester untuk meninggalkannya. Tapi melihat ekspresi keras kepala Chester, ia menyerah.
Greenindia menghela napas panjang dan menurut. Ia membuka pintu dan masuk ke kursi belakang, di sebelah Chester.
“Kau seharusnya tidak datang ke sini, Chester,” tegur Greenindia pelan, begitu pintu tertutup.
“Aku tahu, tapi ini penting,” balas Chester. “Aku harus melakukan sesuatu setelah apa yang kau katakan semalam.”
Greenindia hanya diam. Ia menoleh keluar jendela, berharap tidak ada kamera yang menangkap momen ini.
Chester tidak mengantarnya kembali ke kafe, atau ke alamat apartemen lamanya. Mobil itu melaju menuju pusat kota, dan berhenti di depan sebuah butik mewah yang sangat eksklusif.
“Kita mau ke mana?” tanya Greenindia.
“Kau ikut saja,” jawab Chester, turun dari mobil.
Begitu mereka masuk, Greenindia menyadari tempat itu sepi. Lampu menyala terang di atas barisan gaun dan mantel mahal, tetapi tidak ada staf, tidak ada pelanggan. Pemilik butik, seorang wanita elegan yang Greenindia kenali dari majalah, menyambut Chester dengan anggukan kepala yang sopan.
“Saya sudah meminta Nyonya Kim untuk mengosongkan toko. Hanya kita berdua,” jelas Chester. Ia menoleh ke Greenindia, matanya serius.
“Kau bilang kau tidak butuh uang, Green. Kau bilang kau bisa mendapatkan segalanya sendiri. Mungkin kau benar. Tapi biarkan aku memberikan sesuatu yang lain,” kata Chester. Ia menghela napas. “Semua pakaianmu, yang kaupakai saat ini sudah jelek. Kau harus mulai berpakaian seperti dirimu yang sebenarnya, Greenindia. Tidak peduli di mana pun kau tinggal, kau adalah Greenindia Simon.”
Chester melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Greenindia. “Pilih. Semua yang kau suka. Gaun, sepatu, mantel. Jangan menolak. Ini adalah permintaanku, Green. Aku hanya ingin melihatmu kembali bersinar.”
Greenindia terkejut. Membelikan pakaian. Itu adalah permintaan aneh yang sangat tulus dari Chester. Pria itu tidak lagi memohon, melainkan mencoba memberikan dukungan.
Greenindia akhirnya menyerah. Ia tahu menolak hanya akan memperpanjang waktu berdua, yang berbahaya. Ia berjalan melalui butik, memilih beberapa potong pakaian dengan gaya yang minimalis, elegan, dan sesuai dengan seleranya yang sederhana. Ia mengambil gaun cocktail hitam, dua blazer, dan beberapa sepatu hak tinggi yang nyaman.
Setelah selesai, Greenindia meminta butik itu untuk mengemasnya.
“Terima kasih, Chester,” kata Greenindia, nadanya kini melunak. “Kau tidak perlu melakukan ini lagi.”
“Aku tahu,” balas Chester. “Tapi aku harus melakukannya.”
Chester mengantarnya kembali. Saat mobil mendekati area penthouse Rex, Greenindia meminta Chester berhenti.
“Berhenti di sini saja, Chester. Saya akan menggunakan taksi dari sini,” pinta Greenindia. Ia tidak akan pernah membiarkan Chester mengetahui di mana ia tinggal.
Chester memandang ke jalanan sepi itu, tetapi tidak membantah. “Kau yakin?”
“Ya. Pergilah. Dan jangan pernah datang ke kafe lagi,” ujar Greenindia tegas.
Chester mengangguk, kekalahan terlihat jelas di matanya. Ia memeluk tas belanjaan Greenindia di tangannya. “Jaga dirimu, Greenindia. Aku tidak tahu di mana kau bersembunyi, tapi aku harap kau selalu bahagia.”
Greenindia tersenyum tipis. “Aku akan baik-baik saja.”
Ia turun dari mobil Chester, dan dengan cepat, ia memanggil taksi untuk melanjutkan perjalanan menuju penthouse.
Tanpa Greenindia sadari, saat ia turun dari mobil Chester yang mewah di sudut jalan yang agak tersembunyi, sepasang mata mengawasi.
Lauren, sedang berada di dalam mobilnya. Ia baru saja menyelesaikan makan siang di sebuah restoran kelas atas di dekat sana. Ia terkejut melihat Greenindia turun dari mobil sebuah mobil mewah, menggenggam tas belanjaan dari butik desainer mahal.
Wajah Lauren seketika mengeras. Ia mengambil ponselnya dan mengabadikan momen itu. Senyum sinis merekah di bibirnya.
“Jadi, ini alasanmu begitu percaya diri, Greenindia? Kau bermain dengan dua pria. Kau adalah wanita yang sangat serakah,” bisik Lauren, matanya berkilat penuh rencana jahat. “
semangat up