Narendra (35) menikah untuk membersihkan nama. Adinda (21) menikah untuk memenuhi kewajiban. Tidak ada yang berencana jatuh cinta.
Dinda tahu pernikahannya dengan Rendra hanya transaksi. Sebuah kesepakatan untuk menyelamatkan reputasi pria konglomerat yang rusak itu dan melunasi hutang budi keluarganya. Rendra adalah pria problematik dengan citra buruk. Dinda adalah boneka yang dipoles untuk pencitraan.
Tapi di balik pintu tertutup, di antara kemewahan yang membius dan keintiman yang memabukkan, batas antara kepentingan dan kedekatan mulai kabur. Dinda perlahan tersesat dalam permainan kuasa Rendra. Menemukan kelembutan di sela sisi kejamnya, dan merasakan sesuatu yang berbahaya dan mulai tumbuh : 'cinta'.
Ketika rahasia masa lalu yang kelam dan kontrak pernikahan yang menghianati terungkap, Dinda harus memilih. Tetap bertahan dalam pelukan pria yang mencintainya dengan cara yang rusak, atau menyelamatkan diri dari bayang-bayang keluarga yang beracun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrettyDucki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja Sama
Satu jam sebelum RUPSLB dimulai - Ruang Tunggu VIP
Ruang tunggu itu sunyi, hanya ada suara AC dan denting sendok kecil di cangkir kopi. Rendra duduk dengan jas terbuka, satu kaki menyilang, matanya fokus ke jendela. Dari ketinggian lantai 29, Jakarta terlihat seperti papan catur raksasa. Napasnya berat, tapi pelan, seolah menahan sesuatu yang ingin lepas. Kecemasan. Amarah.
Pintu terbuka pelan. Brata masuk tanpa senyuman.
"Kita di sini bukan untuk berdebat," katanya dengan suara rendah, lalu duduk di seberang. "Kita harus main sama-sama."
Rendra menoleh, alisnya terangkat. "Maksudnya?"
"Di ruangan itu, sebagian orang duduk di kursinya karena Papa, sebagian lagi menunggu pembuktian dari kamu," Brata menjawab. Suaranya rendah tapi terukur.
"Kita harus samakan narasi. Papa jaga logika bisnis, kamu tunjukkan kepemimpinan. Mereka nggak akan punya ruang untuk jatuhkan kita."
Rendra menyandarkan tubuh, jemarinya mengetuk sandaran kursi, "Gimana kalau mereka geser narasinya ke arah pribadi?"
"Itu pasti. Begitu mereka masuk ke personal, kita tarik balik ke tata kelola dan kinerja. Papa yang buka jalur. Kita ingatkan agenda dan risiko proyek. Tunjukkan kontrol kamu sebagai nahkoda. Jangan emosional, jangan defensif. Kita harus satu nada."
Hening sejenak. Dua predator keras kepala saling tatap, kali ini tanpa ingin saling mengalahkan.
Rendra akhirnya menghela napas, "Oke. Saya jaga kendali, Papa jaga politiknya."
Brata mengangguk. "Ya. Kali ini kita harus kerjasama."
Bagaimanapun Brata tidak akan membiarkan orang lain menang atas putranya. Kekalahan Rendra berarti kemenangan musuh politik, dan itu menghina Brata secara pribadi. Rendra adalah jaminan bahwa pengaruh dan dinastinya tetap hidup bahkan setelah Brata tak lagi di panggung.
Ia berdiri lebih dulu, aroma parfum kayunya samar tertinggal di udara.
Beberapa menit kemudian, mereka masuk ke ruang rapat lantai 30. Strategi sudah disepakati, peran sudah dibagi. Kali ini mereka bermain sebagai pasangan.
...***...
RUANG RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM LUAR BIASA - PAGI
Meja panjang dipenuhi kursi kulit. Di ujung ruangan, layar besar menampilkan agenda.
"Pembahasan Isu Reputasi Direktur Utama"
Udara tebal dan tatapan tajam menghampiri setiap sudut. Tekanan tahun lalu kembali, tapi kali ini badainya lebih dahsyat, mengguncang lebih dalam.
Herianto Andrian, Ketua Rapat, membuka rapat, "Agenda kita hari ini adalah menentukan langkah terhadap dugaan skandal pribadi yang melibatkan Direktur Utama, Saudara Narendra Mahesa Kusumadiningrat."
Rendra duduk di sisi tengah meja, jas rapi, rahang tegang. Tangannya berkeringat dan mengepal di pangkuan. Setiap pandangan investor seolah menembus kulitnya, menimbang nasibnya.
Samuel Thamrin, Investor 1 membuka suara, "Secara hukum internal, beliau tidak melanggar aturan tertulis. Semua hubungan terjadi suka sama suka. Tidak ada bukti pelecehan."
Prias Ardiwinata, Investor 2 menimpali, "Tapi publikasi ini bisa menggerus brand kita. Citra perusahaan terancam."
Vincent Halim, Komisaris Independen, menyipitkan mata, "Bagaimana kita bisa yakin publik akan memaafkan Direktur Utama? Ini bisa menurunkan valuasi secara signifikan. Diam bukan jawaban."
Gustav Mahendra, Komisaris Utama menambahkan, "Kita butuh rencana komunikasi yang jelas. Jika tidak, persepsi publik akan merusak tim dan investor panik."
Sejenak, ruangan tegang. Brata lebih dulu bicara, tenang tapi menekan, "Kita bicara bisnis, bukan gosip. Kinerja dan stabilitas lebih penting. Ingat, ini krisis reputasi, bukan pelanggaran struktural."
Sebelum Prias sempat menanggapi, Rendra angkat suara. Nadanya tenang, tapi jelas, "Betul. Publik memang ribut, tapi pasar membaca satu hal, apakah kita stabil atau goyah. Saya siap menanggung konsekuensi pribadi, tapi Mandhala harus terus jalan. Jika saya lengah, perusahaan jadi korban. Itu tidak boleh terjadi."
Beberapa komisaris saling pandang. Brata menimpali dengan cepat, menegaskan sinergi, "Dan jangan lupa, proyek strategis kita sedang di tahap krusial. Mengganti nakhoda sekarang adalah bunuh diri."
Rendra menambahkan, kali ini menatap langsung pada Gustav, "Saya tidak minta dimaklumi, saya minta diuji lewat kinerja. Kalau valuasi turun karena isu murahan, itu tanggung jawab saya untuk menghadapinya. Tapi jika kita bertahan, nilainya justru akan naik karena publik melihat kita tangguh menghadapi badai."
"Tapi reputasi bukan soal angka semata. Publik bisa menghancurkan valuasi dalam semalam. Apa anda sanggup berdiri di depan badai media, Pak Rendra?" Tanya Prias skeptis.
Rendra mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke arahnya.
"Saya tahu isu ini serius. Saya tidak akan sepelekan. Krisis ini bukan alasan untuk goyah, tapi kesempatan bagi anda semua untuk menguji kepemimpinan saya." Tutup Rendra, ia terlihat begitu tenang meski jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.
Ruangan hening. Argumen Brata menekan logika bisnis, argumen Rendra menyentuh kepemimpinan. Kombinasi itu membuat keberatan kehilangan daya.
Beberapa kepala mengangguk, namun ketegangan tetap menggantung. Dewan komisaris saling menatap, skeptis, tapi perlahan menyadari posisi Rendra tidak mudah digoyahkan. Jejak kinerjanya solid, risiko mencopotnya terlalu besar.
Herianto mengetuk palu, "Kita masuk voting."
Lampu panel voting menyala satu per satu. Rendra menatap layar, napasnya tertahan beberapa detik. Detik-detik itu terasa seperti era baru atau akhir yang buruk.
"Hasilnya mayoritas setuju. Saudara Narendra Mahesa Kusumadiningrat tetap menjabat sebagai Direktur Utama." Herianto mengumumkan.
Rendra menghela napas pendek, bahunya menjadi rileks, ia merasakan lemas di sekujur tubuhnya. Brata menatapnya sekilas, menggeleng sekali. Tatapannya seolah berkata, "Jangan lengah."
Dewan komisaris diam sejenak, mulai menyusun strategi mitigasi reputasi internal. Mereka sadar krisis nyata, tapi eksekusi Brata dan Rendra lebih kuat daripada tekanan mereka semua. Gosip teredam, bisnis tetap berjalan... tapi Namira tidak akan berhenti. Ancaman berikutnya masih menunggu.
...***...
Setelah delapan kali sesi konseling selama dua bulan, Dinda akhirnya melihat luka-luka Rendra yang belum kering. Perilaku problematiknya selama ini tidak muncul tanpa alasan.
Kematian mendadak ibunya, perasaan dibuang oleh ayahnya, tuntutan menjadi sempurna namun tidak diapresiasi. Semua dalam hidupnya berjalan dalam ketidakpastian.
Ketika ia dewasa dan mulai memiliki kendali atas hidupnya, obsesi terhadap kontrol muncul sebagai cara untuk merasa aman. Namun, hubungannya dengan Dinda menempatkannya dalam situasi yang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya. Setiap momen kedekatan, setiap ketergantungan yang muncul, memicu rasa takut akan kehilangan kendali dan kerentanan emosional. Hal ini memicu perilakunya yang posesif, obsesif, dan agresif.
Safira meletakkan catatan di meja, menatap keduanya dengan seksama.
"Setelah dua bulan ini, saya melihat pola yang konsisten. Pak Rendra, Bapak mencintai dengan cara melindungi dan mengontrol. Bu Dinda, Ibu butuh ruang dan validasi verbal. Kalian berdua benar, tapi bahasa cintanya berbeda."
Rendra mengerutkan dahi. "Maksudnya?"
"Bu Dinda, coba sampaikan kebutuhan tanpa menuduh. Pak Rendra, bagi proses keputusan walau kecil. Ingat, menjaga kendali bukan berarti menutup diri."
Dinda mengangguk, sementara Rendra tampak gelisah.
"Dan Pak Rendra..." Safira menunda sebentar, "saya melihat kecenderungan gangguan attachment dan trauma kompleks pada Bapak. Saya merekomendasikan terapi individu untuk mendukung pemulihan ini."
...***...
Dinda, sekali nyemplung hati hati gabbisa keluar loh ya
Awalan yang bagus, bikin greget juga sama tokohnya yang redflag.😏