Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Tu-tuan Agam..." Suara Viona tertahan saat bibir Agam kembali menempel di bibirnya. Bukan lagi sebuah kecupan, melainkan sebuah lumatan.
Viona tidak kehilangan akal, ia menggigit bibir Agam sekeras yang ia bisa. Rasa perih membuat pria itu tersentak, darah hangat mengalir di sudut bibir, memaksanya melepaskan ciuman yang ia paksakan tadi.
"Tuan, hentikan." Suara Viona pecah, napasnya tersengal. Dadanya naik turun, jemarinya mengepal di sisi tubuh, amarah dan penolakan bergetar jelas di balik tatapannya.
Dengan sorot mata tajam, Agam menatap Viona, wajah gadis itu masih terperangkap di bawah cengkramannya. Ia menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan, rasa perih tidak berpengaruh apapun padanya.
"Tolong sadarlah. Saya Viona," ucapnya terbata, napasnya belum stabil. "Saya bukan Nona Mayra."
Saat nama Mayra disebut, Agam mengerang pelan, menggeleng keras seakan mengusir denyut berat yang menekan pelipisnya. Pandangannya goyah, genggamannya mengendur.
"Mayra..." bisiknya lirih.
"Tuan, tolong sadarlah. lepaskan saya." Viona kembali bersuara, kali ini lebih pelan. Tangannya terangkat ragu, menyentuh lengan Agam yang masih menahannya. "Saya Viona, Tuan. Bukan Nona Mayra," ulangnya, berharap Agam tersadar dari kekeliruannya.
Namun, sentuhan itu justru menjadi pemicu. Rahang Agam mengeras, napasnya memburu. Sorot matanya menggelap, terlebih saat nama Mayra kembali disebut, membuat pria itu kembali terseret lebih jauh ke dalam sebuah kekeliruan yang membuatnya kehilangan kendali.
Genggamannya semakin menguat. Dalam satu tarikan kasar, Agam kembali menekan tubuh Viona, semakin kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Viona tersentak, punggungnya menghantam permukaan di belakangnya. Udara seakan terhenti di dadanya.
"Tuan, tolong hentikan!" serunya, suara itu sarat ketakutan. Ia meronta, mengumpulkan seluruh sisa tenaga yang masih dimilikinya untuk melepaskan diri, sementara Agam semakin liar, apalagi sosok wanita bernama Mayra itu semakin jelas terlihat di matanya.
"Kau harus menjadi milikku, Mayra," ucap Agam dengan suara parau, seolah jeritan Viona hanyalah dengungan jauh di telinganya. "Aku sudah cukup bersabar. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi milik pria brengsek itu lagi."
Selanjutnya, Agam kembali mencium bibir Viona, kali ini lebih dari sebelumnya. Agam bahkan mengigit kecil bibir tipis gadis itu, memaksakan lidahnya untuk masuk dan mengeksplor rongga di dalam sana.
Agam terus memaksakan kehendaknya, sementara Viona terus meronta hingga tubuhnya gemetar, kuku-kukunya mencakar lengan yang menahannya. Percuma. Tekanan Agam semakin membabi buta, pengaruh minuman keras dan obsesi yang salah sasaran membuat pria itu semakin kejam. Ia tidak memperdulikan rontaan gadis malang itu.
Pandangan Viona mengabur. Di hadapannya, Agam bukan lagi pria yang mengenalnya, melainkan sosok asing yang tersesat dalam bayangan masa lalu. Sementara bagi Agam, dunia telah menyempit, hanya tersisa satu nama, sosok wajah yang berulang di kepalanya, dan Viona perlahan menghilang di baliknya.
Srek...
Suara kain yang terkoyak membuat Viona terisak. Dalam satu gerakan kasar, Agam menahan kedua tangannya dan memaksanya tak berdaya. Lengan Viona terperangkap di kepala, sementara tubuhnya menegang menahan ketakutan yang melonjak.
Viona kembali berusaha meronta hingga dadanya terasa nyeri. Air mata mengalir tanpa henti terlebih saat bibir Agam mulai turun, mengeksplor leher jenjangnya hingga turun ke bagian dada.
Tubuh Viona semakin bergetar hebat, napasnya kian pendek. Tenaganya semakin terkuras habis, meninggalkan tubuh yang kian bergetar dan harapan yang menipis.
"Tuan... tolong sadarlah," pintanya lirih, nyaris tak bersuara.
Meski berulang kali Viona berucap, berusaha menyadarkan, namun hal itu sama sekali tidak membuat Agam berhenti. Kesadaran pria itu telah runtuh, tenggelam dalam napsu dan bayangan yang menyesatkan. Tujuannya hanya satu, melampiaskan obsesi pada sosok wanita yang ada dalam bayangannya. Ia tidak menyadari, sosok gadis lain yang justru harus menanggung kebodohannya.
"Mayra... aku sangat mencintaimu." Agam berucap sambil terus melancarkan aksinya. Ia kembali membungkam bibir gadis itu dengan lumatan kasar, sementara tangannya mulai menanggalkan pakaian yang masih tersisa.
Dan dalam satu kali hentakan, keduanya saling menyatu. Derai air mata membanjiri wajah pucat Viona. Tubuhnya menegang, mata indah itu membola, jeritnya tertahan saat Agam terus membungkamnya dengan gerakan bibir yang semakin kasar, tidak terkendali. Sementara di bawah sana, Agam berhasil memporak porandakan pertahanan Viona. Merenggut paksa sesuatu yang begitu gadis itu jaga.
Agam semakin aktif bergerak di atas tubuh Viona yang tidak berdaya. Yang ada di benak pria itu hanya kepuasan karena telah berhasil memiliki Mayra, wanita yang begitu dicintainya.
Malam itu terasa begitu panjang bagi Viona, panjang sekaligus menyakitkan. Ia terisak dalam diam, tubunya terbaring kaku. Sementara Agam, pria yang telah merenggut kesuciannya, tertidur lelap di sisinya.
Viona meringis saat mencoba menarik napas, nyeri menjalar di sekujur tubuh, namun rasa sakit di dadanya jauh lebih menyesakkan. Nama itu terus terngiang di telinganya. Mayra, diucapkan berulang kali saat Agam berada di atas tubuhnya, memaksakan hendak sekaligus memporak-porandakan pertahanan Viona.
"Kenapa jadi seperti ini..." gumamnya lirih. Air mata jatuh semakin deras, membasahi pipinya yang pucat.
Berusaha bangkit, Viona menggerakan perlahan tubuhnya yang terasa nyeri, bukan hanya bagian bawah tubuhnya, tapi juga pergelangan tangannya yang membiru. Namun sebuah gerakan menahan tubuhnya kembali.
"Jangan tinggalkan aku lagi," gumam Agam dalam tidurnya. "Mayra, aku sangat mencintaimu." Pelukan itu menguat. Nama itu kembali disebut, Viona kembali terisak, ia terperangkap tak hanya oleh lengan, tetapi oleh kenyataan yang tidak bisa ia hindari.
Pagi datang tanpa suara. Suara alarm membuat Viona terjaga lebih dulu. Kali ini bukan hanya tubuhnya yang terasa nyeri, tetapi juga kepalanya.
Ia menoleh, Agam masih terlelap, wajahnya tampak tenang, nyaris Damai. Kontras itu menusuk. Viona memejamkan mata sejenak, menahan gelombang sesak yang naik ke dadanya. Tak ada amarah yang meledak, hanya kehampaan yang memanjang.
Perlahan, ia menyingkirkan lengan yang sempat menahannya semalam. Setiap gerakan dilakukan dengan hati-hati. Matanya turun, menatap tubuh polosnya, air mata kembali meleleh, buru-buru ia menyekanya. Tatapannya kembali berpendar, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menutupi tubuh polosnya, sementara pakaian yang ia gunakan semalam, terkoyak, tergeletak mengenaskan di atas lantai.
Viona meraih selimut di ujung ranjang, membelitkan selimut itu ditubuhnya, ia lantas berdiri. Namun saat kakinya menyentuh lantai, rasa sakit tak tertahankan di bawah tubuhnya, membuat ia terhuyung. Viona mencoba berpegangan pada tepi ranjang, menarik napas panjang yang bergetar.
Di balik keheningan itu, Agam menggeliat. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka. Pandangannya menyapu ruangan, lalu berhenti pada punggung Viona yang membeku.
"Mayra..." Suara itu muncul refleks, parau dan belum sepenuhnya sadar.
Viona tidak menoleh. Bukan namanya yang dipanggil, tetapi nama wanita itu lagi. Semua itu semakin menyesakkan dadanya.
Kesadaran perlahan menghantam Agam. keheningan yang terasa janggal, tubuh wanita ya berada di dekatnya, jelas bukan tubuh milik wanita pujaan hatinya. Wajah Agam memucat.
"Viona..." Nama itu meluncur begitu saja dari mulutnya. "Apa yang sedang kau lakukan di kamarku?!" ucapnya. Nadanya meninggi.
Viona menutup mata, menarik dalam napas, dan tanpa menoleh, ia perlahan melangkah pergi. Dadanya terlalu sesak, jika ia tetap berada di tempat itu.
Semetara Agam duduk terpaku. Kepalanya kembali berdenyut, kilas bayangan semalam tiba-tiba menghantam ingatannya.
"Mayra... Viona," gumamnya pelan. Ingatan itu semakin utuh. "Apa yang sudah aku lakukan?" imbuhnya sambil meremas rambutnya sendiri.
Viona Larasati.
Hai, kaka pembaca semua...
Mohon dukungannya ya, dengan like dan komentar di cerita ini. Dukungan kalian sangat berarti bagiku, agar aku semakin semangat menyelesaikan cerita ini.
Terimakasih 🙏❤