Takahiro, seorang pemuda yang gemar bermain gim dan menghabiskan sebagian besar waktunya mengurung diri di kamar, suatu hari tanpa sengaja tersesat ke dalam dunia gim yang sedang ia mainkan.
Di dunia lain yang bernama Terrovia, Takahiro memulai kehidupan barunya sebagai manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Berbekal pengetahuan yang ia peroleh dari dunia modern, ia membantu para petani di Desa Veria dan berjuang tanpa kenal lelah untuk memperbaiki kehidupan orang-orang yang tengah dilanda kesulitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saiful Bachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah Mutlak
Tak ada gemerlap lampu hias seperti di era modern, tak terdengar pula bising klakson kendaraan yang biasa saling bersahutan. Di Desa Veria, malam sepenuhnya dikuasai oleh alam.
Hamparan ladang sawah terbentang luas bagai lautan tinta, hanya diterangi oleh pendar keperakan dari rembulan yang menggantung sepi di langit.
Begitu drama konyol di galengan sawah mereda, rombongan kecil yang dipimpin Vyora akhirnya tiba di petak lahan yang dituju.
Langkah Vyora mendadak terhenti. Gadis berambut abu-abu itu berdiri mematung di bibir pematang. Napasnya tertahan. Di bawah cahaya bulan, bahunya mulai bergetar samar.
Tatapan matanya kosong, merekam pemandangan memilukan di hadapannya, hamparan bibit padi yang baru saja ia tanam dengan susah payah bersama ayahnya sore tadi, kini layu dan rebah menyentuh lumpur. Keringat dan hasil kerja kerasnya seolah disapu bersih tanpa sisa.
Cate, yang menyusul tepat di belakangnya, ikut mengerem langkah. Kedua mata gadis berambut merah itu membulat sempurna, sementara telapak tangannya refleks menutup mulut yang setengah ternganga. Ia tak sanggup bersuara.
Hamparan hijau yang seharusnya berdiri tegak menyambut air kini tampak seperti ladang mati.
Tak berselang lama, derap langkah Uchi dan Takahiro menyusul dari arah belakang. Begitu menyadari apa yang sedang ditatap pilu oleh para gadis di depannya, Uchi ikut terdiam.
Hatinya mencelos. Sekalipun ia tak pandai bertani, melihat sumber kehidupan hancur dan terbuang sia-sia di depan mata tetap saja memberikan sensasi sesak yang tak mengenakkan.
Di sisi lain, Takahiro yang berdiri sekitar tiga meter di sebelah kanan Uchi, memicingkan mata tajam.
Di dunia asalnya, ia mungkin jarang menyentuh lumpur, namun otaknya dengan cepat memproses pola kerusakannya.
Daun yang menguning layu, posisi batang yang gagal tegak... ini bukan ulah orang iseng atau serangan hama dadakan.
Ini adalah murni gagal tandur—istilah teknis di kalangan petani ketika bibit mengalami shock dan gagal hidup setelah dipindahkan ke lahan tanam.
Meski bagian bawah perutnya masih berdenyut nyeri—berkali-kali lipat lebih sakit pasca-insiden tinju maut Uchi—Takahiro memaksakan kakinya melangkah tertatih.
Ia menyeret langkahnya mendekati Vyora. Saat berhasil menyejajarkan diri di sisi kiri gadis itu, suaranya yang sedikit serak ikut mengudara bersama embusan angin.
"Anu..."
Hanya gumaman itu yang pertama kali lolos dari bibirnya. Otaknya bekerja ekstra, mengais sisa ingatan tentang nama gadis berambut abu-abu ini dari percakapan Cate sebelumnya.
Vyora hanya melirik sepintas lewat sudut matanya. Gadis itu terlalu kalut untuk memedulikan sapaan kikuk si pemuda asing, dan pandangannya kembali tertunduk ke depan.
"Vyora-san," sapa Takahiro akhirnya. Ia sengaja menyelipkan honorifik dengan sangat hati-hati, tak ingin mengulang kesalahan bodohnya saat sembarangan memanggil nama Cate.
Mendengar namanya disebut dengan sopan, barulah Vyora memutar kepalanya.
"Kayaknya aku tahu penyebab benih padi yang kamu kamu jadi mati."
Frasa 'Aku tahu penyebab' itu sukses menarik atensi Vyora layaknya magnet. Kesedihan di matanya seketika tergeser oleh kilat rasa ingin tahu.
Tanpa membuang waktu menunggu kelanjutannya, Vyora memutar tubuhnya penuh ke kanan, berhadapan langsung dengan Takahiro.
"Benarkah?" tanyanya serius, menuntut kepastian.
"Ya," jawab singkat Takahiro, suaranya masih tertahan di tenggorokan karena menahan sisa ngilu.
Interaksi mendadak yang terbangun antara Vyora dan pemuda asing itu langsung menyita perhatian Cate dan Uchi. Keduanya menoleh serempak, mengunci mulut rapat-rapat, memilih menjadi penonton bisu dari diskusi intens di bibir sawah tersebut.
Menyadari bahwa Vyora butuh pembuktian, Takahiro tak mau membuang waktu meminta izin formal pada sang pemilik lahan.
Ia melangkah pelan, menjulurkan kakinya turun dari galengan, dan langsung menapak masuk ke dalam kubangan lumpur yang dingin.
Tangannya bergerak cepat, mencabut satu tangkai benih padi layu yang sudah tertanam.
Melihat tanamannya diperlakukan sembarangan tanpa izin, sisa-sisa kesabaran Vyora langsung menguap. Matanya menajam.
"Apa yang kau lakukan—!?"
Hardikan Vyora terpotong di udara. Takahiro sudah lebih dulu mengangkat benih mati itu tinggi-tinggi melewati batas kepalanya agar tersorot cahaya bulan, lalu memotong ucapan Vyora dengan pembawaan tenang.
"Benih padi yang kamu tanam ini mengalami gagal tandur. Mereka mati saat proses adaptasi, tepat setelah dipindahkan ke lahan tanam."
Selesai membuktikan poinnya, Takahiro menarik kakinya dari isapan lumpur, melangkah naik, dan memposisikan dirinya berdiri kembali di hadapan Vyora.
Keheningan menggantung selama beberapa detik. Vyora mengerutkan kening dalam-dalam, mencoba membedah kalimat teknis yang baru saja Takahiro sampaikan.
Namun, sebagai petani tradisional, otaknya tak terlalu terbiasa dengan istilah saintifik semacam itu. Kepalanya sedikit miring dengan raut wajah kebingungan yang tak ditutupi.
"Apa maksudnya?" tanyanya bingung, suaranya melunak dan lirih.
Takahiro melepaskan benih padi di genggamannya, membiarkannya jatuh teronggok di atas tanah dekat kakinya. Ia membalas tatapan bingung Vyora dengan sorot mata meyakinkan.
"Singkatnya, bibit ini mengalami pembusukan pada akar. Mereka gagal beradaptasi setelah ditanam, jadi mati sebelum sempat tumbuh."
Sedikit demi sedikit, benang kusut di kepala Vyora mulai terurai. Ia mencerna fakta pahit itu perlahan. Kakinya melangkah gontai melewati tubuh Takahiro.
Ia kini berdiri membelakangi pemuda itu, menatap getir ke arah hamparan ladangnya yang sama sekali tak sesuai dengan ekspektasi indahnya sore tadi.
"Jadi, apa yang harus kulakukan?"
Mendengar pertanyaan pasrah itu, Takahiro memutar tubuhnya. Ia menatap punggung rapuh gadis berambut abu-abu itu dengan sorot mata yang tak lagi lesu, melainkan berkobar oleh determinasi penuh semangat.
"Besok pagi. Kita mulai penanaman dari awal lagi."
Menyaksikan diskusi mutlak yang sama sekali tak bisa mereka ganggu gugat itu, Cate menatap Takahiro dengan raut takjub. Ada kilat kekaguman murni di matanya.
Bagaimana mungkin pemuda asing ini memiliki pengetahuan analitis yang jauh melampaui petani lokal yang sudah bertahun-tahun mengabdi? Di mata Cate, sosok Takahiro yang sempat ia caci maki kini mendadak terlihat seperti petani muda kelas veteran.
Sementara itu, di sudut lain, efek perbincangan ini justru berbalik seratus delapan puluh derajat bagi Uchi.
Sebagai satu-satunya anak yang lahir dan besar di hiruk-pikuk perkotaan, rentetan istilah seperti 'gagal tandur', 'proses adaptasi', dan 'pembusukan akar' membuat kepalanya overheating.
Ia sama sekali tak bisa mencerna dengan baik apa yang sedang dibahas. Gadis berambut putih itu merengut frustrasi.
Ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal, lalu mengacak-acak rambut kepangnya sendiri dengan kedua tangan karena merasa tersesat di tengah diskusi pertanian tersebut