Binar Amanda, seorang gadis yang secara mendadak memiliki banyak hutang setelah sang ayahnya meninggal dunia. dengan tekad untuk menyelamatkan ayahnya dari api neraka dan menghindari dakwaan sebagai anak durhaka Binar pun bertekad untuk melunasi hutang-hutang milik almarhum ayahnya yang kemudian malah mengantarkannya pada seorang Captain Pilot bernama Angkasa Baskoro. Bisakah Binar melunasi hutang ayahnya?
lalu masa lalu seperti apa yang telah terjadi diantara keduanya yang akhirnya menuntun mereka pada sebuah takdir.
Dapatkan jawabannya di Hutang Cinta Untuk Mr.Pilot.
Mari berteman, ig : Risasaputri790
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa Saputri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Kenapa telat pulangnya?" tanya Binar pada Angkasa yang tengah makan.
"Ada sedikit urusan yang harus dikerjakan, jadi tidak bisa pulang lebih cepat"
Binar menghela nafas pelan, "Kenapa tidak menghubungiku?"
"Ku pikir kamu akan lebih nyaman jika tidak ku hubungi, aku takut mengganggumu"
"Tapi itu benar - benar menggangguku, lain kali jangan pernah lupa untuk menghubungiku" jawab Mala.
Angkasa mengangguk, "Iya, maafkan aku. Tidak akan kuulangi" ucapnya.
"Kamu tidak makan?" tanya Angkasa pada Binar.
Binar menggeleng, "Aku sudah makan tadi, makanlah yang banyak"
Angkasa mengangguk, "Apa saja yang kamu lakukan selama aku tidak ada?"
"Tidak beda jauh seperti biasanya, aku mengerjakan pekerjaanku melalui online, berlatih berjalan dengan mbok Sri, makan, tidur yah seperti itulah siklusnya. Hanya terkadang Hadrian datang menjenguk jadi aku tidak kebosanan."
Angkasa menghentikan kunyahannya dan menatap Binar, "Dia sering menemuimu?"
"Hanya beberpa kali, jangan marah. Berterima kasihlah padanya karena dia telah membantuku dapat berjalan kembali" ucap Binar menggerakkan kaki kirinya yang sudah membaik itu.
Angkasa mengehala nafas, "Aku tidak marah, cuman bertanya"
"Tapi pertanyaanmu seakan - akan mau marah"
"Itu tidak akan terjadi tenanglah"
Binar menurunkan bahunya, "Syukurlah" ucapnya.
"Kamu sudah menerima hadiah dariku?" tanya Angkasa.
Binar menarik kedua sudut bibirnya, "Sudah, bagus sekali. Terima kasih" ucapnya.
Angkasa mengangguk, "Sudah dicoba?" tanyanya.
Binar mengangguk, "Pas sekali dengan kakiku, bagaimana kamu bisa tau ukuran kakiku?"
"Mudah, aku sudah sering memegangnya" ucap Angkasa enteng.
Seketika wajah Binar bersemu saat mendengar kata "Memegang" keluar dari bibir Angkasa. Entah kenapa kata itu terdengar terlalu intim baginya.
"Kenapa wajahmu jadi merah?"
Binar menggeleng, "Tidak apa, aku mau kembali ke kamar. Habiskan makananmu" ucap Binar segera berdiri dan berlalu dari hadapan Angkasa.
Angkasa yang melihatnya pun tersenyum.
"Kenapa wajahnya cepat sekali bersemu kemerahan"
***
"Ayah yakin sudah baik - baik saja? Aku bisa mengantarkan ayah ke dokter" ucap Hadrian pada Burhan ayah tirinya.
"Aku sudah baik - baik saja, jangan khawatir"
"Ayah selalu kambuh setiap melihat berita tentang itu, Hadrian rasa ayah butuh mendapatkan perawatan untuk menghilangkan rasa trauma itu"
Pak Burhan menghela nafas pelan, "Aku tidak bisa menghilangkannya, itu adalah bagian dari hidupku. Biarlah ini bersarang di tubuhku. Ayah pantas mendapatkannya" ucapnya.
Hadrian menggeleng, "Ayah tidak pamtas mendapatkannya, semua itu sudah takdir dan kita harus mengikhlaskannya."
"Apa kamu benar - benar sudah menerima dan mengikhlaskan kejadian itu?" pak Burhan balik bertanya pada Hadrian.
"Sampai sekarang aku masih mengingatnya dan tersimpan jelas dipikiranku, tapi aku tahu hidup harus terus berjalan kita tidak bisa terus menatap kebelakan"
Pak Burhan menatap dalam sang anak tirinya, "Ini lah salah satu alasanku tidak bisa menghilangkannya, aku bertanggung jawab penuh atas masa depan dua orang putra yang tersakiti hati dan jiwanya" gumamnya dalam hati.
Pak Burhan tersenyum menepuk pundak Hadrian, "Ayah Senang kamu tumbuh dengan baik dan memiliki hati yang baik. Ayah akan baik - baik saja, kamu juga harus menata masa depanmu"
Hadrian menatap sang ayah dengan pasrah karena masih belum bisa untuk membujuknya agar segera mendapatkan pengobatan atas trauma yang di deritanya. Hadrian tahu sang ayah memikul terlalu banyak beban di pundaknya dan tidak membagikan sedikitpun beban itu pada orang lain.
"Teruslah sehat ayah, aku akan berusaha agar semua kembali seperti dulu lagi" ucapnya dalam hati.
***
Jack memasuki apartemen dengan wajah masamnya, "Ada apa lagi? Aku baru saja mendarat dan kau sudah memburuku agar cepat - cepat datang ke sini" ucapnya pada Tamara yang tengah duduk di sofa sedari tadi menunggunya datang.
"Bagaimana perjalananmu?" ucao Tamara.
"Perjalan apa? Kau pikir aku sedang liburan" jawab Jack dengan wajah tersungut.
"Ayolah, semua orang bahkan mendamba ingin mempunyai pekerjaan sepertimu. Jadi paling tidak bersyukurlah sedikit dan jangan selalu berwajah masam seperti itu."
Jack mendengus, "Langsung to the point saja, apa maumu?" tanya Jack.
Tamara tersenyum, "Bagaimana kabarnya, kamu sudah memberitahunya jika aku disini?"
"Sudah, dan dia tidak mau bertemu denganmu lagi" jawab Jack.
Tamara mematap Jack dengan pandangan ridak percaya, "But why??" tanyanya.
"Menurutmu? Ayolah Tamara apa kau sudah lupa bagaimana dulu kamu meninggalkannya dengan begiru saja" ucap Jack merasa jengah.
Tamara menyenderkan tubuhnya pada sofa, "Aku tahu, dan karena itu lah aku ingin memperbaikinya kembali"
Jack memutar bola matanya, "Ohh ayolah aku tidak ingin terlibat kembali pada drama percintaan ini" gumamnya dalam hati.
***
"Kamu sedang sibuk?" tanya Angkasa di balik pintu kamar Binar.
"Kenapa? masuklah" jawab Binar yang masih menatap layar laptopnya
Angkasa memasuki kamar itu, "Apa yang kamu kerjakan?" tanyanya saat melihat Binar yang sibuk dengan laptopnya.
"Hanya memeriksa beberpa file,ini tinggal dikirim" ucap Binar setelah itu menekan tombol enter pada keyboard laptopnya.
"Selesai" ucapnya setelah itu menutup kembali layar laptopnya dan menatap Angkasa.
"Ada apa?"
Angkasa menarik nafas perlahan lalu mengeluarkannya, "Ada yang ingin ku bicarakan"
"Masalah apa?"
"Tetang kita" ucapnya.
"Kenapa dengan kita?" tanya Binar lagi.
Angkasa diam sejenak lalu mulai menatap Binar dengan serius, "Aku sudah memikirkan ini dengan matang, aku juga sudah membicarakannya dengan pamanmu" ucapnya dan Binar masih menunggu.
"Bagaimana kalau kita menikah, Di bulan ini juga" ucap Angkasa melanjutkan.
"Bulan ini?" tanya Binar.
Angkasa mengangguk, "Aku sudah membicarakan ini dengan pamanmu kami bahkan sudah mempersiapkannya, semua hanya tinggal menunggu kesediaan darimu. Kita bisa melangsungkan pernikahan seminggu lagi" ucap Angkasa yang makin membuat Binar melebarkan matanya.
"Seminggu?!" ucap Binar kaget.
Tbc.
maaf karena author tidak bisa update rutin🙏 doakan semoga author bisa lebih rutin lagi. stay safe and healthy teman teman😊
Sebel deh lihat nya