Cerita ini diangkat dari sudut pandang yang bebeda, dengan alur kehidupan sehari-hari.
Dan menyebabkan kebaperan. Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita ini.
Amanda, gadis cantik dan lembut. Harus terikat hubungan terlarang dengan pria beristri yang bernama Satria. Berawal dari pertemuan tak sengaja dan hutang budi, akhirnya mereka saling jatuh cinta dan menjalin hubungan yang tak semestinya.
Akankah mereka bersatu? Atau malah berpisah.
IG : nona_vie90
FB : Nevi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror lagi
Akibat pergulatan semalam, hari ini aku terpaksa bolos kerja. Bagaimana tidak, daerah intiku benar-benar terasa sakit, aku sampai kesulitan untuk berjalan.
Sedangkan Satria, lelaki itu sudah berangkat ke kantor pagi tadi, yang pasti setelah membelikan sarapan untukku. Kalau kalian tanya apakah Satria menginap disini tadi malam? Jawabannya, iya.
Aku masih bermalas-malasan di atas ranjang, kulirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi, masih pagi ternyata!
Tiba-tiba aku tersentak dengan suara deringan ponselku, aku segera bangun dan meraih benda pipih itu. Ada panggilan masuk dari Dimas.
"Hallo, Mas ... tumben nelpon pagi-pagi begini?"
"Iya, mumpung lagi tak ada kerjaan, kangen juga dengan sahabatku ini." Dimas.
"Aku juga kangen, sudah lama kita tidak mengobrol." Aku membalas ucapannya.
"Iya, kau apa kabar? Bagaimana kerjaan barumu? Semuanya baikkan?" Dimas.
"Aku baik, pekerjaanku juga baik."
"Kau tidak sedang sibukkan? Aku takut mengganggu pekerjaanmu." Dimas.
"Tidak kok, sekarang aku lagi bersantai di rumah." Ucapku.
"Kau tidak bekerja? Kau sakit?" Dimas.
Aku tahu dia pasti cemas, tapi aku tak mungkin menceritakan kenapa aku harus bolos kerja hari ini.
"Aku tidak sakit, aku cuma kelelahan saja, jadi izin istirahat." Aku berbicara apa adanya, aku memang kelelahan akibat ulah Satria.
"Oh, syukurlah! Kalau begitu mumpung kau libur kita barengan, aku boleh tidak main ke tempatmu?" Dimas.
"Tentu saja. Datanglah, ajak ayahku juga ya,Mas? Aku akan mengirim alamat tempat tinggalku." Aku sungguh senang jika Dimas datang, apalagi jika bersama ayah. Walaupun baru 2 hari berpisah tapi aku sudah sangat merindukannya.
"Baiklah, on the way ini." Dimas.
Akhirnya pembicaraan kami berakhir, aku segera mengirim alamat apartemen ini kepada Dimas.
Setelah itu aku berusaha bangun dari pembaringan dengan hati-hati, masih kurasakan nyeri di daerah intiku, tapi kuabaikan. Bagaiamanpun juga aku harus tetap bangun dan mandi.
***
Dua jam berlalu, dengan susah payah, akhirnya aku selesai memasak untuk makan siang dan tentu saja sudah mandi juga. Indra pendengaranku menangkap suara ketukan dari luar pintu apartemen, aku bergegas membukanya, itu pasti Dimas.
"Hai, Mas ... mari masuk!" Aku mempersilahkan Dimas masuk. "Ayah tidak ikut?" Aku merasa kecewa.
"Ayahmu sedang tidur saat aku singgah ke rumahmu tadi, aku tak tega membangunkannya." Ucap Dimas sembari melangkah masuk.
"Oh, begitu, ya sudah tidak apa-apa! Kau mau minum apa, Mas?" Tanyaku sambil berjalan menuju dapur.
"Apa saja boleh." Jawab Dimas. "Apartemennya bagus sekali ya?" Dimas mengedarkan pandangan dan memandang kagum interior apartemen Satria ini.
"Iya, maklumlah, namanya juga orang kaya." Teriakku dari dapur.
Sepuluh menit kemudian, aku kembali ke ruang tamu dengan dua gelas teh hangat dan cemilan, aku menyuguhkannya untuk Dimas.
"Kau suka tinggal disini?" Dimas bertanya sambil memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
"Suka sih, tapi sedih juga karena jauh dari ayah. Aku ..." Ucapanku terhenti saat ponselku berdering nyaring. Ternyata Satria yang menghubungiku.
"Hallo, Sat ... ada apa?" Tanyaku. Tumben sekali lelaki ini menghubungiku siang-siang begini?
"Kau sudah makan siang?" Satria.
"Belum, sebentar lagi! Aku belum lapar." Jawabku apa adanya. Memang aku belum merasa lapar.
"Kau sedang apa?" Satria.
"Sedang mengobrol dengan Dimas."
"Dimas ...?" Satria.
"Iya, Dimas baru saja datang." Aku menjawab dengan sedikit gugup karena mendengar suara Satria yang kaget.
Dan panggilan dari Satria terputus begitu saja. Kenapa sih lelaki ini? Aneh sekali!
"Satria ya? Mau apa dia?" Tanya Dimas.
"Iya, dia hanya memastikan aku sudah makan apa belum?"
"Dia perhatian sekali ya?" Wajah Dimas mendadak berubah muram. Kenapa lagi ini?
"Ah ... biasa saja! Dia memang baik dan perhatian dengan semua orang, apalagi dengan bawahannya." Aku menjadi sedikit canggung menjawab pertanyaan Dimas. Aku belum siap menceritakan hubunganku dengan Satria, aku takut bila ayah tahu, dia pasti berfikir aku pergi dari rumah karena seorang lelaki, bukan karena pekerjaan.
Tok ... tok ... tok ...
Suara ketukan pintu mengagetkan aku dan mungkin juga Dimas, kami berdua sontak memandang ke arah pintu.
"Siapa sih yang siang-siang begini betandang?" Gumamku dalan hati.
Aku segera beranjak, membukakan pintu. Tak ada siapa pun, tapi netraku menangkap satu benda berbentuk kotak dan terbungkus rapi diletakkan begitu saja di depan pintu.
Ragu-ragu kupungut kotak itu dan kubawa masuk.
"Siapa?"Tanya Dimas.
"Tidak ada siapa-siapa." Aku menggelengkan kepala.
"Lalu itu apa?" Dimas menunjuk kotak yang kupegang.
"Aku menemukannya di depan pintu." Jawabku jujur.
"Ya, ampun, Manda ... jangan-jangan itu bom!" Dimas mendadak panik. Lelaki ini langsung melompat menajuhiku.
"Apa ...? Dimas jangan menakut-nakutiku!" Kepanikan juga ikut menyerangku. Aku sontak melemparkan kotak yang kupegang itu dan menutup telinga sambil berjongkok.
Dengan hati-hati Dimas mendekati kotak itu dan memperhatikannya dengan seksama, dia juga mendekatkan telinganya ke kotak itu. Aku hanya memandanginya dari jauh.
"Sepertinya bukan bom. Lalu apa isinya ya?" Dimas memungut kembali kotak itu dan membawanya kepadaku.
"Kau yakin bukan bom? Kalau begitu ayo buka!"
Dimas membuka kotak itu, aku yang penasaran pun mulai mendekat ke arah Dimas. Akhirnya kotak itu terbuka dan mataku membulat sempurna saat melihat isinya adalah bangkai ayam yang dipenuhi darah dengan leher yang nyaris putus. Menjijikkan sekali!
Aku yang terkejut pun berteriak dan spontan memeluk Dimas yang duduk di sebelahku lalu menyembunyikan wajahku di dadanya, aku benar-benar ketakutan. Dan Dimas berusaha menenangkanku. "Tenanglah, Manda!"
"Aku takut sekali, Mas!" Tubuhku gemetaran sekarang.
"Manda, ada sebuah surat disini." Dimas memegang dengan jijik secarik kertas yang sudah terkena percikan darah si ayam.
"Apa isi suratnya, Mas?" Aku bertanya tanpa menoleh ke arah surat itu. Aku masih menyembunyikan wajahku didada Dimas.
"AMANDA, KEMATIANMU SEMAKIN DEKAT DAN AKAN LEBIH MENGERIKAN DARI AYAM INI." Dimas membacakan isi surat itu. Aku semakin ketakutan dan mulai terisak di dalam dekapan sahabatku ini.
"Manda, si peneror itu sudah mengetahui tempat tinggal barumu, sepertinya kau sudah tidak aman tinggal disini. Apalagi kau hanya sendirian, aku khawatir dia benar-benar nekat menyakitimu." Dimas membalas pelukanku, memberikan rasa nyaman seperti yang selalu dia lakukan jika aku sedang takut dan sedih.
"Tapi aku harus kemana? Dia juga sudah tahu rumahku." Aku mulai terisak di dalam pelukan sahabatku ini.
Tapi tiba-tiba seseorang membuka kasar pintu apartemenku, aku dan Dimas sampai terlonjak kaget dan segera melepas pelukan kami.
***
Hari ini author lagi kurang enak badan guys karena kemarin maksain nulis sampai begadang, jadi mungkin nggak bisa up banyak-banyak seperti biasanya.
Tapi author tetap usahakan semampunya ya guys ...🤒🤒
sukses
semangat
mksh