Di usia kepala tiga dan tak kunjung naik pelaminan membuat Manda merasa resah. Dihantui perasaan takut justru dirinya mulai beranggapan telah terkena sebuah kutukan.
Lantas kesalahan besar apa yang telah Manda perbuat di masa lalu hingga dia punya pikiran seperti itu?
Maka ikuti saja kisahnya...
SQUEL DARI NOVEL SENANDUNG IMPIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Dua
Sesuai yang disarankan Marwah, Manda kini memulai untuk mencari tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Akram. Dia dibuat penasaran, alasan mengenai kenapa dia harus repot-repot mengasuh Nagita.
Saat kepulangan dari rumah Marwah, Manda mencoba menanyakan pada Nagita tentang siapa dan dimana ibunya. Namun yang dia dapati adalah jawaban yang sama sekali tidak memuaskan. Sebab respon yang diberi Nagita hanyalah Mama sakit jadi tidak bersamanya.
Hal itupun semakin memancing rasa penasaran Manda, dan sebelum Akram tiba di rumah, Manda pun memberanikan diri untuk masuk ke ruang kerja milik Akram.
Tak disangka setelah dia mengendap masuk ke tempat itu, Manda dibuat bingung dan kesusahan mencari, sebab banyaknya tumpukan berkas-berkas pekerjaan. Di laci, Manda mulai mencari satu persatu dan dari beberapa susunan Manda mengambil satu berkas yang bertuliskan tempat rumah sakit bernama asing yang jelas Manda belum pernah temui.
Disana Manda menemukan dua berkas yang berbeda, satu berada di Jerman dan satu lagi ada di Singapura. "Apa ini milik Bu Maharani?" gumam Manda bersamaan jatuhnya lembaran berkas di lantai.
Manda bergegas mengambilnya dan terkejut saat menemukan nama yang berbeda, tapi tak begitu asing baginya. "Alfina..." Manda mengeja nama itu dan mulai membaca sekilas berkas yang sudah dia pegang. Namun tak lama tubuhnya menegang, walau dengan bahasa asing tapi Manda sedikit tahu apa isi dari berkas di tangannya.
Satu tangan kini dipergunakan untuk Manda membekap mulutnya yang setengah terbuka, menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dia baca.
Lantas keterkejutan kini kembali terjadi padanya, disebabkan derit suara pintu memenuhi indra pendengarannya yang mempertandakan bahwa pintu tengah terbuka. Manda memutar tubuhnya lantas sorot matanya teralih tertuju pada sosok yang sudah beberapa hari ini tidak Manda temui.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Kenapa kamu pulang?" Pertanyaan macam apa ini? Ini kan rumahnya! Batin Manda. Tapi itulah yang ada dalam isi kepalanya. Logikanya seolah terlumpuhkan, dia serasa tersudut tengah dipergoki tak berada pada tempat yang semestinya.
Akram kian menatap Manda curiga, sorot matanya teralih menatap apa yang ada di tangan Manda. "Cepat katakan apa yang sedang kamu lakukan disini!"
Manda terperanjat sebab ucapan yang Akram lontarkan dengan nada meninggi.
"Aku hanya..."
Manda seperti kehilangan kata-katanya saat Akram menarik paksa dan mengambil alih apa yang ada di tangannya. Akram seperti naik pitam, meletakkan dengan sembarang lembaran berkas kembali pada tempatnya.
"Aku tadi sempat membaca, ada nama Alvina disana," ucap Manda dengan ragu-ragu.
Akram serta merta menutup laci meja kerjanya secara kasar, hingga menimbulkan bunyi menggema di ruangan yang hanya diisi oleh dua manusia berbeda jenis itu.
"Lalu apa yang sebenarnya kamu inginkan disini dan apa yang hendak kamu ambil dari disini?"
Meski Akram mengucapkan kalimat itu dengan nada tanpa emosi, tapi hal itu sungguh membuat Manda menggeleng dan menolak atas apa yang Akram prasangkakan. "Aku bukan pencuri," jelas Manda. "Aku hanya ingin tahu siapa Ibu dari Nagita. Di luaran sana mereka mengatakan kamu duda, tapi mereka tak pernah mendapati kamu menikah. Dan ucapan tempo hari dengan Ibumu yang mengatakan bahwa tak mempercayai Nagita adalah anakmu, aku jadi ingin tahu."
Akram berdecih mendengar penuturan Manda, lalu menatap Manda dengan sorot mata sinis. "Ingin tahu?" ucap Akram yang jelas merasa seperti tidak terima.
Manda menunduk mengangguk dan mengakuinya.
"Lalu kalau kamu sudah tahu kebenarannya, apa yang akan kamu katakan kepada orang-orang?" ucap Akram yang berjalan mendekat kepada Manda. "Jangan campuri urusanku. Sekarang keluar dari ruangan ini!" tegas Akram.
Yang dilakukan Manda justru tetap berdiam diri di hadapan Akram. "Kamu yang memintaku untuk bertahan disini, untuk pekerjaan. Aku tahu kalau aku telah melanggar batas masuk ke ruanganmu tanpa seijinmu, bahkan aku tak memiliki hak apa pun dengan masalahmu. Tapi asal kamu tahu saja, aku bekerja mengurusi anakmu dengan bukan hanya memakai tenaga, tapi juga hati. Aku merasakan tiap kali orang-orang membicarakan namamu, dan mempertanyakan asal usul anakmu. Dan asal kamu tahu, semua ucapan dan prasangka mereka selalu ada disini!" ujar Manda menunjuk ke arah kepalanya.
"Kalau kamu tanya kenapa aku ingin tahu, jawabannya adalah aku peduli. Entah, ini alasan kita pernah mengenal atau karena aku memakai hati bekerja disini, tapi yang jelas karena hatiku tergerak untuk peduli," ucap Manda mengeluarkan isi hatinya dan menatap wajah Akram. "Lalu kenapa bisa nama Alvina ada disana tadi, ada lagi tulisan AIDS. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa hubungannya denganmu? Setahuku kalian bukan saudara, jangan bilang kalau kalian pernah menjalin hubungan. Lalu Nagita?"
To be Continue
Besok flashback dulu yaaa, gimana mereka bisa kenal