Jatuh cinta pada pandangan pertama, membuat Shakala Fathan Elgio Genova, berusaha untuk memperjuangkan cintanya pada Zakira. Gadis manis yang ia temui tanpa sengaja di perusahaannya. Zakira adalah salah satu karyawan di perusahaannya.
Namun, sayangnya saat ia mengutarakan niatnya untuknya melamar gadis itu. Terjadi kesalahpahaman, antara Fathan dan Mamanya. Nyonya Yulia, yang adalah Mamanya Fathan. Malah melamar Nabila, yang tidak lain sepupu dari Zakira. Nyonya Yulia, memang hanya mengenal sosok Nabila, putri Kanayah dan Jhonatan. Mereka adalah rekan bisnis dan keluarga mereka memang sangat dekat.
Nyonya Yulia juga mengenal dengan baik keluarga bakal calon besannya. Akan tetapi, ia tidak pernah tahu, kalau keluarga itu memiliki dua orang anak perempuan. Terjadi perdebatan sengit, antara Fathan dan sang Mama yang telah melakukan kesalahan.
Nabila yang sudah lama menyukai Fathan, menyambut dengan gembira. Sedangkan Zakira, hanya bisa merelakan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha mawik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32.
Bab 32.
"Eh, Nak Abizar. Apa kabar?" sapa Zavira, saat mendapat kunjungan Abizar.
Pemuda itu telah kembali dari perjalanan bisnisnya. Ia sengaja datang ke sini, untuk bertemu Zakira. Gadis yang selama ini, mengisi relung hatinya.
"Alhamdulillah, baik Ummi," jawan Abizar.
"Ayo, masuk!" ajak Zavira.
Abizar berjalan masuk, mengikuti tuan rumah.
"Daddy, liat siapa yang datang," ucap Zavira.
"Zar!" Kendra tersenyum menyambut pemuda itu ramah.
"Apa kabar, Opa?" sapa Abizar.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu liat," jawab Kendra.
"Duduk dan ngobrol dulu, ya! Ummi siapkan minuman dan cemilan." Zavira beranjak dari duduknya.
"Gak usah repot-repot, Ummi," ujar abizar.
"Gak, tenang aja," sahut Zavira.
"Gimana dengan bisnisnya, Zar?" tanya Kendra, sepeninggalan Zavira menantunya.
"Alhamdulillah, lancar Opa!" jawab Abizar.
"Bagus!" ucap Kendra singkat.
Mata Abizar, terlihat mencari sesuatu.
"Nyari siapa?" tanya Kendra.
"Zaki, kok gak keliatan?" sahut Abizar.
"Zaki, lagi dibengkel Abinya. Sedangkan Zakira, sekarang bantuin Ummi Kirana ngelolah restonya," jelas Kendra.
"Zakira, gak kerja di kantornya Fathan lagi?" tanya Abizar.
Kendra hanya menjawab dengan gelengan kepala, sembari tersenyum.
"Kenapa?" tanya Abizar lagi.
"Capek katanya, kamu tau sendiri, kan gimana Zakira?" jawab Kendra sembari terkekeh.
Abizar merenung sejenak. Hingga lamunannya buyar, saat mendengar suara yang sangat ia kenal. Suara yang selama beberapa Minggu ini, ia rindukan. Abizar memang telah menyimpan rasa untuk gadis bermata bulat itu. Hingga sebelum pergi pun, Abizar menyempatkan diri untuk bertemu Zakira dan mengutarakan isi hatinya.
Namun, sampai saat ini Zakira belik memberikan keputusan apapun sebagai jawabannya. Abizar tahu, hati Zakira dan Fathan telah tertaut lebih dahulu. Akan tetapi, saat ini hubungan keduanya telah berakhir, saat Fathan bertunangan dengan Nabila yang tidak lain adalah sepupu Zakira.
Memang tidak mudah bagi Zakira, untuk lepas dari semuanya. Gadis itu terlihat kuat di luar, tapi rapuh di dalam.
"Hai, Zar!" sapa Zaki ramah.
"Hai!" balas Abizar.
"Kapan, pulang?" tanya Zaki.
"Kemarin malam," jawab Abizar.
Pandangan mata Abizar, berpindah ke arah belakang Zaki.
"Apa kabar, Za?" tanya Abizar.
"Alhamdulillah, baik," jawab Zakira.
"Mandi dan istirahat dulu. Kita sholat magrib berjamaah, setelah itu, kita makan malam," potong Ummi.
******
"Maaf, Bu! Ada, Den Fathan," ucap Sumi, salah satu pelayan rumah Kanayah.
"Panggillin, Non Nabila aja," kata Kanayah.
"Gak, Bu! Den, Fathan pengen ketemu Ibu," sahut Sumi.
Kanayah mengernyitkan dahi heran.
"Pengen ketemu saya? Ada perlu apa, ya?" tanya Kanayah.
Sumi menjawab dengan menggeleng bingung.
"Ya, udah. Kamu siapkan minum, sebentar lagi saya turun," ucap kanayah.
Kanayah bertanya-tanya dalam hati, ada keperluan apa sampai calon menantunya itu ingin bertemu dengannya? Pasalnya selama ini, pemuda yang menjadi pujaan salah satu anak kembarnya itu, sangat irit bicara.
Fathan duduk sambil melipat tangan di dada. Sesekali, matanya mengitari ruangan bernuansakan biru langit itu. Terdapat banyak photo masa kecil dan photo keluarga. Mata Fathan fokus pada sosok gadis kecil, memakai jilbab. Dari bentuk wajahnya, Fathan langsung tahu, siapa gadis kecil itu. Senyum tipis, terbit di wajah tampannya.
"Fathan!"
Pemuda itu segera tersadar dari lamunannya dan menoleh ke sumber suara. Wajah pemuda itu, kembali dingin dan datar tanpa ekspresi.
Perlahan, Nabila melangkah mendekati bakal mantan tunangannya itu.
"Kamu, di sini?" tanya Nabila dengan hati-hati.
"Ya, ada sesuatu yang harus aku selesaikan saat ini di sini," sahut Fathan tanpa menoleh.
Nabila menelan liurnya getir. Ada rasa takut dan khawatir dalam dirinya. Takut, kalau pria yang telah lama menjadi incarannya ini, mengatakan semuanya. Khawatir, dengan respon dan tanggapan keluarganya. Apalagi, amarah dari kedua orangtuanya.
Nabila kembali terdiam, ia larut dalam pikirannya. Dapat ia pastikan, ini adalah akhir dari segalanya.
"Eh... ada, Nak Fathan. Udah lama?" Suara Sukma memecah kesunyian.
Wanita enam puluh tahunan itu, melangkah lebar mendekati keduanya.
"Bila! Kamu itu, kok cuma bengong? Ayo, buatin minum. Calon suami datang, kok cuma bengong sih?" ungkap Sukma.
Sukma terus saja merepet panjang lebar tanpa henti. Nabila, berusaha untuk memberi kode pada wanita tua itu, untuk berhenti. Akan tetapi, tidak ditanggapi oleh Sukma.
"Anda sudah selesai?" potong Fathan.
Pemuda yang sejak tadi diam, akhirnya buka suara. Sukma pun akhirnya berhenti berbicara.
"Saya ke sini, bukan untuk menemui Nabila ataupun membahas soal pernikahan. Saya datang ke sini, untuk membahas masalah kemarin," jelas Fathan.
Tampak wajah Sukma berubah pucat. Pasalnya, ia mengira selama ini Fathan hanya menggertak dan tidak akan membahasnya lagi.
"Saya ke sini, untuk menemui Tante Kanayah. Saya akan membicarakan perihal pembatalan rencana perjodohan ini," lanjut Fathan.
"Pembatalan, perjodohan?" sambung Kanayah.
Tanpa sengaja, Kanayah yang baru turun dari kamarnya, mendengar pembicaraan antara Fathan dan Sukma. Kanayah melanjutkan langkahnya mendekati, ketiga orang yang sedang berbicara serius.
"Bisa kamu jelaskan, apa maksud ucapan kamu tadi?" Mata Kanayah menatap tajam ke arah pemuda yang berdiri tegap dihadapannya.
"Lebih baik, kita duduk dulu!" pinta Fathan. Ia tahu persis, bagaimana sikap bakal calon mertua tidak jadinya itu.
Kanayah mengikuti ajakan Fathan. Ia duduk tepat dihadapan pemuda itu, sedangkan Nabila dan Sukma juga turut duduk berdekatan.
"Sebelumnya, saya minta maaf. Kalau kedatangan, saya ke sini secara tiba-tiba dan mengejutkan," ucap Fathan buka suara.
Kanayah hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
"Saya tidak akan berbasa-basi lagi." Fathan menjeda ucapannya, kemudian melanjutkannya. "Saya, ingin membatalkan perjodohan saya dan Nabila."
"Apa!" seru Kanayah.
Nabila hanya bisa memejamkan matanya. Dunianya langsung runtuh seketika. Akan tetapi, ini belum seberapa, jika sampai kedua orangtuanya tahu. Apa penyebabnya?
Kanayah menarik napas dalam dan mengembus pelan. Ia berusaha untuk menahan diri, agar tidak berpikir macam-macam.
"Maaf, boleh Tante tau, apa penyebabnya?" tanya Kanayah.
Fathan pun mulai menceritakan kejadian beberapa waktu yang lalu. Dengan napas tersengal, karena menahan amarahnya. Kanayah menatap tajam ke arah putrinya.
"Benar begitu, Bila?" tatapan tajam dari Ibunya, membuat Nabila hanya bisa tertunduk lesu.
Melihat reaksi putrinya, Kanayah bisa menebak, apa yang Fathan katakan itu semuanya benar.
"Boleh, Mama tau, Bila. Siapa yang mengajari kamu, berbuat seperti itu?" tanya Kanayah.
Pelan, namun menusuk. Tatapan Kanayah masih terhunus ke arah Nabila yang masih tertunduk takut.
"Untuk itu, mungkin Tante tidak perlu bertanya lagi. Saya yakin, Tante pasti tau, siapa orangnya?" sindir Fathan.
Tatapan tajam Kanayah, kini berpindah ke orang yang duduk di sebelah Nabila.
"Apa, Tante ingin menjelaskan sesuatu?" tanya Kanayah.
"Tante, mau jelasin apa? Kan, Tante gak tau masalah," jawab Sukma.
"Tante yakin, Tante gak tau?" sindir Kanayah lagi.
"Ya, tentu saja. Itu, kan urusan mereka berdua," sahut Sukma.
Nabila menoleh ke arah Sukma. Ia tidak mengira, kalau orang yang selama ini paling dekatnya dan akan selalu ada dipihaknya. Kini, berusaha untuk melepaskan diri dan lari dari tanggungjawab.
"Oma!" ucap Nabila pelan.
Air matanya nyaris jatuh. Jika saja, ia tidak segera menyekanya.
"Kenapa, Bila? Kamu pikir, wanita ini akan berada dipihak kamu dan membela kamu?" sindir Kanayah.
Nabila hanya bisa tertunduk lesu. Satu kalimat pun, kini tidak mampu ia ucapkan.
"Apa maksud kamu, Kanayah? Kamu nuduh Tante, yang ngajarin Nabila?" sangkal Sukma.
"Tidak! Aku yakin, bukan Tante yang ngajarin Nabila," sahut Kanayah.
Sukma menarik napas lega, sembari tersenyum. Ia yakin, tidak mungkin Kanayah berani menuduhnya. Secara, dia adalah Tante dari sang suami. Akan tetapi sebaliknya, wajah pucat ditunjukkan oleh Nabila.
"Tapi, aku yakin. Kalau, Tante pasti menjadi pendukungnya," lanjut Kanayah.
Sukma menatap Kanayah dalam, tapi dibalas Kanayah dengan tatapan tajamnya.
"Sekarang, keputusan ada di tangan kamu, Fathan. Kalau kamu, ingin mengakhiri perjodohan ini. Maka, Tante akan jadi orang pertama yang mendukung keputusan kamu," ucap Kanayah.
"Ma!" ucap Nabila terisak.
"Terimakasih, Tante," ucap Fathan. Pemuda itu menarik napas dalam, kemudian melanjutkan ucapannya. "Jika saja, peristiwa itu tidak terjadi. Mungkin, saya masih bisa melanjutkan perjodohan ini. Perlahan tapi pasti, saya akan belajar untuk menerima Nabila dan melupakan semuanya."
"Kamu dengar itu, Nabila? Apa sekarang, kamu menyesal dan menyadari kesalahan kamu?" tanya Kanayah, pada putrinya.
Nabila hanya bisa tertunduk lesu, sembari menyesali semua perbuatannya.