NovelToon NovelToon
My Little Badgirl

My Little Badgirl

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Mafia / Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Icut Manis

Krystal Berliana Zourist, si badgirl bermasalah dengan sejuta kejutan dalam hidupnya yang ia sebut dengan istilah kesialan. Salah satu kesialan yang paling mengejutkan dalam hidupnya adalah terpaksa menikah di usia 18 tahun dengan laki-laki yang sama sekali belum pernah ia temui sebelumnya.

Kesialan dalam hidupnya berlanjut ketika ia juga harus di tendang masuk ke Cakrawala High School - sekolah dengan asrama di dalamnya. Dan di tempat itu lah, kisah Krystal yang sesungguhnya baru di mulai.

Bersama cowok tampan berwajah triplek, si kulkas berjalan, si ketua osis menyebalkan. Namun dengan sejuta pesona yang memikat. Dan yang lucunya adalah suami sah Krystal. Devano Sebastian Harvey, putra tunggal dari seorang mafia blasteran Italia.

Wah, bagaimana kisah selanjutnya antara Krystal dan Devano.

Yuk ikuti kisahnya.

Jangan lupa Like, Komen, Subscribe, Vote, dan Hadiah biar Author tambah semangat.

Salam dari Author. 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icut Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 32 : DIAMNYA KRYSTAL

Ingatan itu silih berganti di benak Devano. Matanya tak putus menatap Krystal yang kelopak matanya masih setia tertutup rapat. Sudah pukul 00.00, namun Devano masih terjaga. Dirinya sama sekali tidak beranjak dari samping istrinya. Yang tadinya duduk, kini berubah berbaring miring.

Tangan Devano terulur ke wajah Krystal yang sedikit miring ke arahnya. Jari telunjuknya bergerak lembut menyusuri wajah cantik itu. Mulai dari dahi, lalu turun ke hidung, turun lagi ke bibir ranum merah muda yang sudah seperti candu untuknya. Jari panjang Devano terus menari-nari di wajah Krystal. Siempunya sama sekali tidak terusik. mungkin karena masih di bawah pengaruh bius.

Bibir Devano mengulum senyum, mendekatkan wajahnya untuk mengecup setiap inci wajah Krystal. Ciumannya turun ke ceruk leher istrinya itu dan meninggalkan jejak kepemilikannya di sana. Mempertegaskan bahwa Krystal memang lah miliknya sejak dulu. Devano yang pertama kali bertemu dengan Krystal, bukan Rafael atau siapapun. Meski pertemuannya dengan Krystal terbilang sangat singkat semasa kecil, sampai Krystal tidak mengingat pertemuan tersebut. Namun, bagi Devano pertemuan itu adalah jawaban dari takdir hidupnya. Devano percaya bahwa Krystal adalah takdir dan masa depannya.

Rafael? Hanyalah pendatang baru di hidup Krystal, yang mengisi hari-hari gadis itu sebelum Devano muncul dan kembali mengambilnya. Tidak peduli dengan resiko apapun nanti. Devano akan tetap memastikan agar ingatan Krystal terhadap Rafael atau kejadian setahun lalu, tidak akan pernah kembali sampai kapanpun.

"Maafin aku, Krys. Aku tahu aku salah udah bentak kamu di depan banyak orang. Aku hanya terlalu kalut, terlalu takut jika kejadian yang sama akan menimpa kamu lagi. Maafin aku, Sayang. Aku benar-benar menyesal." Gumam Devano lirih.

Diraihnya tangan Krystal. Dikecupnya punggung tangan Krystal cukup lama. Matanya tanpa sengaja menangkap jari manis Krystal yang tidak terdapat cincin pernikahan mereka di sana. Devano ingat, ketika mendobrak pintu kamar Krystal tadi ia menemukan cincin itu tergeletak di dekat kaki nakas, sepertinya Krystal membuangnya secara asal sebelum pergi.

Devano meraba laci nakas di samping ranjang, menemukan benda kecil yang dipungutnya di kamar Krystal tadi. Cincin yang di dalamnya terukir nama Devano. Kembali ia sematkan di jari manis Krystal, mengecupnya setelahnya. Mengangkat tangan Krystal yang tersemat cincin diudara, Devano melakukan hal yang sama. Di dalam cincin Devano ada nama Krystal yang terukir.

"Ya, kamu milikku, Sayang. Apapun yang terjadi dan sampai kapanpun, kamu hanya milikku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu untuk siapapun dan untuk alasan apapun, Ingat itu, Sayang. Kamu hanya milikku. Hidupmu hatimu, bahkan tubuhmu hanyalah milikku."Gumam Devano, mendaratkan kecupan di pipi Krystal dengan bertubi-tubi. Tahu jika Krystal tidak akan terganggu karena ulahnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Krystal mengerjapkan mata, kepalanya sedikit terasa pusing entah kenapa. Sudah berapa lama ia tertidur? Kenapa rasanya Krystal baru saja tertidur panjang.

Ketika matanya terbuka sempurna, hal pertama yang ia lihat adalah dada bidang seseorang yang tidak terbalut apapun. Wangi maskulin dari sana menyeruak memasuki indera penciuman Krystal, karena posisi hidungnya yang bergesekan dengan dada bidang tersebut. Dan jangan lupakan tangan kekar yang melilit pinggang Krystal.

Krystal masih berusaha mengumpulkan kesadarannya sepenuhnya. Untuk sesaat, otak Krystal mencoba memutar ulang kejadian sebelum dirinya tertidur panjang dan bangun pagi ini.

Krystal mencoba menggerakkan tubuhnya di dalam kukungan tubuh besar tersebut. Mendongakkan kepala, dan sesuai perkiraannya ia mendapati wajah pulas seseorang yang sangat tidak ingin dilihatnya sekarang. Malah melilit pinggangnya begitu posesif.

Untuk sesaat Krystal larut dalam lamunannya, dengan matanya yang tidak berkedip menatap mata Devano yang masih terpejam. Nafas suaminya masih naik turun beraturan, yang menandakan bahwa siempunya masih tertidur. Kedua bola mata Krystal turun memandangi bibir merah muda milik Devano. Bibir itulah yang selalu mengatakan berbagai hal manis yang membuat Krystal merasa begitu dihargai, diinginkan dan dicintai. Namun, bibir itu juga yang kemarin baru saja menorehkan luka baru di hati Krystal, yang mungkin akan jadi luka yang abadi. Bibir yang kembali menyadarkan Krystal tentang orang seperti apa dirinya di dunia ini.

Krystal melepaskan pelukan Devano di tubuhnya. Meski tidak mudah, namun berhasil. Ia mengubah posisinya menjadi duduk degan perlahan, sedikit menyeret kaki kanan nya yang kebas sekaligus berdenyut sakit ketika digerakkan. Ia ingat, kakinya keseleo saat melompat dari lantai dua kamar rawat Keyzia. Tubuhnya tidak lagi berbalut hoodie, melainkan piyama tidur lengan pendek dipadukan dengan celananya yang juga pendek.

Kaki Krystal sudah menapaki lantai yang dingin. Tubuhnya cukup lemas, mungkin karena efek belum makan dari kemarin. Siap untuk bangkit berdiri. Sampai saat sebuah tangan melingkari perutnya dari belakang, dan dirasakannya deru nafas hangat itu menyapu permukaan lehernya.

"Mau kemana, hm?" Bisik suara itu serak, ciri khas orang bangun tidur.

Tubuh Krystal tetap saja meremang dibutnya. Terlebih ketika Devano melarikan bibir untuk mengecupi sekitar lehernya.

Saat itulah, Krystal mencoba menghindar. Dengan sisa tenaga mendorong Devano dan berhasil terlepas dari kukungan suaminya.

Krystal mundur menjauh saat Devano mencoba mendekat dan meraihnya kembali.

"Krys, maafin aku." Lirih Devano penuh penyesalan. Matanya memandang sendu atas penolakan Krystal. Namun ia tidak menyerah dan akhirnya bisa mengurung Krystal yang terjebak dengan kepala ranjang.

Krystal tidak bersuara, namun bagaimana caranya mendorong-dorong dada Devano yang sama sekali tidak berpengaruh. Sudah menggambarkan bagaimana istrinya sangat tidak ingin dekat-dekat Devano sekarang. Tidak seperti biasanya dimana jika marah Krystal akan berteriak atau melempari barang. Diamnya Krystal ini membuat Devano kian dirudung rasa takut. Karena biasanya itu menggambarkan rasa kecewa yang sangat besar.

"Krys..." Bisik Devano sambil meraih kedua tangan Krystal lembut untuk digenggamnya.

Masih tanpa suara, Krystal memalingkan wajahnya saat Devano mendekatkan wajahnya ke arahnya. Sehingga bibir suaminya mendarat di pipi, bukan di bibir Krystal. Setelahnya, Krystal mendorong tubuh Devano cukup kuat lantas turun dari ranjang dengan susah payah karena kaki kanannya menapak lebih dulu untuk menumpu di tubuhnya. Alhasil denyutan semakin terasa menyakitkan.

Krystal berjalan dengan sedikit tertatih, berpegangan pada pinggiran ranjang. Di tambah tubuhnya yang benar-benar terasa tidak ada tenaga, layaknya jeli tanpa tulang.

Baru beberapa langkah, Krystal merasakan tubuhnya sudah melayang dalam gendongan Devano. Ia tidak memberontak, namun juga sebenarnya tidak menerima, hanya saja tubuhnya benar-benar lemas sekarang. Memberontak hanya akan menghabiskan sisa tenaganya saja.

Kepala Krystal terkulai di dafa bidang Devano, langsung bisa merasakan hangatnya kulit dada suaminya itu yang tidak terlapisi apapun. Membuat siempunya mengulum bibir, tersenyum. Lantas berjala santai ke dalam kamar mandi. Lalu mendudukkan Krystal di atas wastafel. Mengambil sikat gigi, tidak lupa segelas air untuk Krystal berkumur-kumur.

"Buka mulut."

Anehnya Krystal patuh dan membuka mulutya sedikit. Membiarkan Devano menggosok giginya. Setelah selesai. Devano menangkup wajah Krystal, menyatukan kening mereka. Lalu mengecup singkat bibir istrinya. Meski Krystal jelas berusaha untuk menolak.

"Mandi. Aku siapin sarapan buat kamu."

Di gendongnya Krystal dan memindahkan istrinya selembut mungkin ke dalam bathtub. Lalu mengatur suhu shower.

"Kalau sudah panggil aku, ya." Bisik Devano, mengecup kening Krystal sebentar. Sebelum akhirnya keluar dan menutup pintu kamar mandi.

Krystal mencoba merilekskan tubuh serta pikirannya. Memejamkan matanya sejenak, berbaring di dalam bathtub tersebut. Bingung dengan sikap Devano. Kemarin suaminya ikut menyudutkannya, sekarang malah bersikap begitu manis padanya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu di lorong asrama cowok lantai satu, tepatnya dibelokan anak tangga pertama. Sudah ada seorang cowok jangkung berbadan kekar menghalangi langkah tiga orang gadis yang hendak menaiki tangga, Merentangkan sebelah kakinya, sembari bersidekap dada.

"Minggir!" Titah Carletta datar.

"Eits nggak bisa, Makhluk berjenis kelamin perempuan dilarang memasuki kawasan asrama cowok." Ujar Iqbal.

"Gitu?"

"Iya dong."

BRUK!

Gerakan tidak terduga Carletta yang menendang kkinya, membuat Iqbal kehilangan keseimbangan dan terduduk memegangi kakinya yang berdenyut. Tendangan Carletta bukan main ternyata.

"Arghh!! Gila lo ya! Sakit!"

Carletta mendengus, berjalan melewati Iqbal dengan santai. Disusul oleh Sasa dan Zoey yang menahan tawa di belakang.

Naik ke belokan tangga setelahnya, dua orang cowok berbadan kekar yang lain berjalan dati arah atas. Membuat langkah Carletta satu persatu kembali mundur menuruni tangga.

Dimas melirik Iqbal yang kesakitan.

"Payah lo." Ejek Dimas datar.

"Heh! Tendangannya sakit!" Hardik Iqbal.

"Mau kemana? Krystal lagi nggak bisa ditemui." Tanya Rangga dingin, sedingin sorot matanya pada Carletta. Karena gadis itu yang memimpin di depan.

Tersenyum miring disertai dengusan pelan. Carletta tidak peduli dan berjalan melwati Rangga. Namun, tangannya dicekal. Mata mereka sama-sama menyorot dingin saling bertemu.

"Gue udah bilang, Krystal nggak bisa di temui." Ulang Rangga.

"Terus lo pikir gue peduli? Jangankan kalian, sama Devano aja gue nggak takut." Menepis tangan Rangga dalam sekali hentakan.

"Iya sih, kelihatan. Lo doang tuh yang bisa ngomong kayak semalam ke Devano." Celetuk Iqbal.

"Masalahnya bukan itu. Antara Devano dan Krystal itu cuma kesalahpahaman aja, jadi..."

"Dia nelpon gue sambil nangis dan bawa-bawa kematian. Lo pikir itu kesalahpahaman? Gue nggak ngerti gimana cara kalian menyimpulkan kalau itu cuma kesalahpahaman." Carletta menyela ucapan Dimas cepat.

"Bukan gitu, Carl. Kita nggak belain Devano. Dia memang salah. Tapi dia juga nggak bermaksud nyakitin Krystal. Lo tahu sendiri dia secinta apa sama Krystal."

Mendengus sarkas. Carletta tersenyum sinis.

"Cinta tapi ikut nyudutin istrinya sendiri di depan banyak orang. Gitu?"

Helaan nafas berat terdengar dari Rangga.

"Kok lo sinis banget sih?"

"Gue emang kayak gini. Terus lo mau apa?"

"Ya nggak papa. Tapi itu kan juga bukan urusan lo."

"Urusan Krystal urusan gue."

"Ya udah, urusan Devano juga urusan kami. Dan kami sepakat untuk membiarkan Devano meluruskan masalah ini sama Krystal.

"Tapi gue nggak. Sorry."

Rangga menghela nafas, kembali menarik tangan Carletta. Kali ini mencengkram nya cukup kuat dari yang tadi. Karena ternyata tenaga gadis satu ini memang tidak bisa disepelekan. Lantas tanpa persetujuan menarik gadis itu menjauh dari area asrama cowok.

Keempat teman mereka yang melihat hanya saling melempar pandang lalu sama-sama menyusul setelahnya.

Rangga menarik Carletta sampai ke area kantin yang sepi. Karena memang sekarang sedang jam pelajaran. Geram karena di tarik-tarik layaknya kambing di taliin. Carletta melayangkan tendangan mautnya di tulang kering Rangga, hingga siempunya merintih tertahan. Dan pegangan cowok itu terlepas dari tangannya.

BRUK!

"Huuu enak tuh kayaknya." Ringis Iqbal hampir berbarengan dengan yang lain juga ikut meringis.

"Punya masalah apa sih lo sama gue!" Desis Rangga tajam, sembari memegang kakinya yang tadi di tendang Carletta.

Bukannya menjawab, Carletta justru mengulurkan jari tengahnya pada Rangga. Lantas melangkah pergi, namun lagi-lagi cowok itu mencekalnya.

"Apa sih?!" Sentak Carletta mulai muak.

"Biarin Krystal dan Devano nyelesain masalah mereka berdua. Kita nggak usah ikut campur. Udah gitu doang!"

"Nggak bisa!"

"Dengan lo di sana, hanya akan menambah masalah. Mereka nggak akan punya kesempatan untuk ngobrol berdua. Please, nggak usah jadi kompor."

"Lo nyamain gue sama kompor?!" Sentak Carletta tidak terima.

"Ngerasa mirip sama kompor?" Rangga membalikkan pertanyaannya dengan datar.

"Ya nggak lah! Enak aja lo!"

"Ya udah, kenapa nyolot. Biasa aja."

"LO!" Geram Carltta tertahan.

"Woi! Astaga, kenapa jadi kalian berdua yang ribut sih? Kita itu di sini lagi mempermasalahkan rumah tangga Devano dan Krystal. Bukan malah kalian ikut membangun rumah tangga baru di sini." Celetuk Iqbal, menyudahi pertengkaran unfaedah antara Rangga dan Carletta.

"Intinya, mereka pasangan. Berantam itu wajar. Dan Devano juga manusia, bia buat salah jadi..."

"Semua manusia di muka bumi ini kalau udah bikin salah juga pasti berlindung di balik kata-kata itu. Basi! Nasi aja yang udah basi nggak enak. Apalagi omongan. Gue nggak ngerti kenapa Devano kayak gitu sama Krystal kemarin. Padahal gue udah yakin banget dia bakal belain Krystal. Orang udah jelas-jelas kok emang Lenna yang nyelakain Krystal." Dimas menggeram tertahan saat lagi-lagi ucapannya disela. Kali ini oleh Zoey.

"Masalahnya nggak sesimpel itu. Ada hal disini yang nggak bisa Devano atau gue, Iqbal dan Rangga jelasin ke kalian." Ujar Dimas menatap Zoey.

"Tapi bukan berarti Devano berhak ngomong kayak kemarin ke Krystal. Ngomong baik-baik kan bisa. Dan sekarang Krystal lagi kecewa-kecewa nya sama Devano. Nggak gampang buat dia bisa nerima Devano lagi."

"Mereka itu suami istri. Bukan pacaran yang kalau marahan langsung udahan."

"Justru karena mereka suami istri. Harusnya Devano lebih paham dong gimana istrinya, ketimbang memahami orang lain." Ujar Zoey sarkas, yang disetujui oleh dua cewek lainnya.

"Argghh astaga! Emang susah kalau udah urusan cewek! Ribet!" Geram Dimas nyaris frustasi. Mengacak rambutnya.

Sementara Zoey mendengus.

"Urusan sama cowok juga ribet. Mau menang sendiri, Giliran ceweknya udah ngambek. Ntar dibilang malah baperan. Padahal kelakuan cowoknya yang kayak setan." Serunya santai, lebih menyerupai sindiran.

Dan Iqbal tertawa melihat Dimas yang depresot karna kalah debat dengan Zoey.

"Kan udah gue bilang, makhluk maha benar di muka bumi ini cewek. Debat sama mereka cuma ngabisin tenaga, ujung-ujungnya tetap cowok yang salah." Kekeh Iqbal merangkul pundak Dimas. Yang dibalas dengusan oleh siempunya.

"Gini deh, contoh simpelnya. Nomor lo berdua di blok, Krys. Kenapa? Karena lo berdua bikin kesalahan kan ke dia? Karena dia nganggep kalian nggak mau nolongin dia kabur dari pernikahan hari itu. Terus kalian ke sini untuk meluruskan permasalahannya sama Krys. Kayak gitu juga Devano sama Krystal sekarang. Devano bikin salah, dia berusaha untuk meluruskan sama Krystal. Bedanya kalian sahabat Krystal, Devano suaminya." Ucap Rangga.

"Oh iya benar juga, Carl. Harusnya kita kasih Devano kesempatan." Sasa ikut nimbrung, mengangguk-anggukan kepalanya.

Carletta mendengus kasar.

"Lo teman gue apa teman dia sih? Sok iya banget. Kayak yang ngerti aja. Sekarang jawab satu pertanyaan gue. Siapa orang-orang semalam yang mau nyulik Krystal?" Lantas menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi kantin.

Kali ini tiga cowok tampan itu diam, bungkam dan bahkan berpura-pura tidak mendengar pertanyan Carletta barusan. Tahu jika sedang dipermainkan. Carletta menendang kursi yang hendak diduduki Iqbal.

BRUK!

Iqbak terjerambab dengan pantat mencium lantai dengan mulus.

"Erghhh pantat sexy gue. Lo punya dendan apa sih Carl sama gue?! Dua kali ini." Kesal Iqbal.

"Jawab!"

"Bukan siapa-siapa. Itu orang suruhan Devano juga." Rangga menyahut datar, yang langsung disambut tawa mengejek oleh Carletta.

"Heh! Lo pikir gue bego gitu? Otak Sasa itu kirang 5 ons, nag lebihnya ada di otak gue. Jadi kalau lo mau bego-begoin gue, mikir dulu!"

Rangga mendengus.

"Nggak percaya ya udah." Tidak mungkin juga ia menceritakan detail kejadian semalam pada ketiga teman Krystal ini.

Lebih tepatnya tidak berani. Kecuali sudah ada lampu hijau dari Devano. Jadi biarkan untuk sementara masalah Rafael ini menjadi urusan mereka saja.

Belum sempat Carletta kembali membalas Rangga. Suara Sasa sudah lebih dulu menyela.

"Udah deh, ngapain sih kita ribet ngurusin pasutri? Paling juga entar mereka baik sendiri. Mesra lagi. Mending makan. Lapar nih, dari tadi nontonin kalian ngoceh mulu. Kenyang nggak. Pusing iya. Entah apa yang dibicarakan gue nggak ngerti." Seru Sasa, sudah melangkahkan kaki menuju salah sau stand makanan.

"Ya iyalah, orang lo goblok sediri disini." Carletta ikut menimpali.

"Justru itu, Carl! Gue harus makan dulu baru otak gue bisa nangkep. Apalagi kalau gue udah makan nasi padang pakai gulai otak."

"Langsung pintar?" Celetuk Zoey.

"Ya nggak lah. Mau sebanyak apapun dia makan gulai otak. Kalau emang udah dasarnya nggak punya otak. Dia nggak akan pernah bisa mikir pakai otak." Carletta berdecih sinis.

Ucapan Carletta langsung disambut tawa oleh yang lain. Kecuali Rangga yang hanya mengulas senyum miring yang tipis.

Sementara Sasa memberengut dan menghentakkan kakinya, melanjutkan langkah menuju stand makanan Indonesia food.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Krystal baru saja selesai dengan ritual mandinya. Sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi demi mengindari Devano. Ia juga sudah berganti baju menggunakan blouse yang dipadukan dengann rok mini yang telah disiapkan Devano. Bahkan dengan pakaian dalamnya juga. Oh god! Sungguh memalukan memang.

Saat membuka pintu kamar mandi, ia langsung di hadapkan dengan Devano yang ternyata entah sejak kapan berdiri di depan pintu. Suaminya itu sudah memakai kaos putih pas badan. Mencoba untuk mengabaikannya, Krystal tetap menyeret kaki kanannya yanng sakit melewati Devano. Namun, lagi-lagi suaminya menggendong nya dengan sepihak.

"Kan aku udah bilang, panggil aku kalau sudah selesai." Seru Devano yang diabaikan oleh Krystal.

Tetap setia dengan kebungkamannya, bahkan saat Devano duduk di pinggir ranjang dengan ia yang duduk miring di pangkuan suaminya. Tidak berhenti disitu, Devano juga meraih handuk dan mengusap rambut Krystal yang basah. Tidak ada hair dryer di kamarnya, alhasil Devano hanya menyisir nya dan membiarkan rambut panjang Krystal tergerai basah.

Selesai dengan kegiatannya menata rambut Krystal. Devano melingkarkan tangannya dipinggang ramping itu, menatap Krystal dari samping dimana siempunya yang mengalihkan pandang ke arah lain.

Menghela nafas perlahan, ia tahu Krystal sedang tidak ingin berbicara denganya. Dikecupnya leher jenjang Krystal, sehingga wangi tubuh istrinya langsung menyeruak ke indera penciumannya. Sungguh memabukkan dan candu.

Devano lalu memindahkan Krystal untuk duduk bersandar di atas ranjang. Lantas menata makanan di atas Overbed Table untuk sarapan istrinya.

"Dimakan. Aku mau mandi dulu." Ujar Devano lembut. Bermaksud akan mengecup pipi itu, namun siempunya sudah lebih dulu memalingkan wajah.

Tahu dirinya salah, maka Devano tetap sabar akan penolakan Krystal. Disuapnya puncak kepala Krystal. Sebelum akhirnya berlalu ke kamar mandi. Ia pun harus mandi, sembari berpikir keras. Kira-kira apa yang bisa ia lakukan untuk membujuk istri kecilnya itu.

Rindu juga dengan suara teriak-teriak istrinya.

1
Iki Agustina
Coba zoey juga nikah kuy kuy sama dimas❣️
Adinda
mungkin yang membuat keyzia kecanduan obat william atau ambar
Adinda
sepertinya William selingkuh dan kemungkinan Nyokapnya meninggal Karena tau perselingkuhan suaminya Dan mungkin juga ambar mempengaruhi william untuk membenci anaknya
Adinda
keyza sama Rafael thor
Adinda
sepertinya papanya Krystal dipengaruhi oleh istri mudanya agar membenci anak anaknya atau kematian orangtuanya ada hubungannya dengan ambar
Adinda
ceritanya bagus semangat thor
Icut Manis: Makasih kak udah mampir 🤗

Salam dari Author 🙏
total 1 replies
Adinda
berarti papanya Krystal selingkuh makanya mamanya kecelakaan
Iki Agustina
Kenapa belum up laginka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!