Lian Az Zahra putri
Gadis mungil lulusan akuntansi universitas negeri ternama mulai meniti kariernya di ibukota seorang diri. Mempunyai karier yang cemerlang, ia menduduki jabatan penting di usia muda.
Keberhasilan kariernya tak membuatnya lepas begitu saja dari belenggu masa lalu. Trauma menjalin kasih dengan perbedaan status sosial membuatnya berada di situasi terendah dalam hidupnya.
Dapatkah Lian bangkit dari ujian yang datang bertubi-tubi di tengah kariernya yang menjulang tinggi.
Novel perdana saya, menceritakan kehidupan seorang Lian di ibukota. Karier dan kehidupan cintanya merubah banyak hal dalam dirinya.
Follow juga akun media sosial
FB : YoejaLove
Instagram : YoejaLove
Happy reading guys 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoejaLove, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dimas & Wati Wedding
Setelah kepergian Alvino dan Della, Lian membereskan meja tamunya tadi sekaligus ingin bertanya kepada Bu Anna.
"Bu, kalau hanya untuk menunjukkan video tadi bukannya ibu Della saja sudah cukup. Kenapa pak Alvino repot-repot kesini? Bukannya dia sibuk." Lian menghampiri Bu Anna yang berada di dapur membuat jus apel.
"Mungkin pak Alvino ingin memastikan kalau neng nyaman dengan saya. Karena kita baru saja bertemu bukan?"
"Ohh begitu ya." Lian dengan wajah polosnya percaya begitu saja.
"Huuuuhh, astagaa gadis ini benar-benar aneh. Tidak ada wajah grogi dan sejenisnya berhadapan dengan pak Alvino yang ganteng rupawan. Kata anak jaman sekarang B aja gitu. Semua perempuan di Winata Group rela menjadi simpanannya. Bahkan menikah saja belum si boss sudah ada yang ngantri mau jadi simpanan. Cihh."
"Bu, Lian tinggal ke kamar dulu yah. Ngantukk."
"Iya neng, ibu juga mau istirahat sebentar."
Dua jam sudah wanita beda generasi itu menghabiskan waktu istirahatnya di kamar masing-masing. Lian yang baru saja bangun dari tidur siang mengerjapkan matanya, mengumpulkan kesadarannya dari alam mimpi. Keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil air dingin. Ketika ia membuka kulkas, Bu Anna juga keluar dari kamarnya.
"Ibu dah bangun juga?" Lian menoleh ke arah pintu kamar Bu Anna.
"Sudah neng, mandi dulu sepertinya akan lebih segar." Bu Anna yang sudah membawa handuknya menuju kamar mandi.
"Baiklah, habis ini Lian juga. Biar gak buru-buru di salon nanti."
Lian melihat jam sebentar lagi adzan ashar. Dia memutuskan untuk berangkat ke salon setelah sholat ashar. Gadis mungil ini tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim yang taat. Setelah keduanya mandi dan bersiap ke salon, Lian yang sudah mempersiapkan gaunnya yang akan dipakai nanti beserta aksesorisnya.
"Sudah neng?"
"Iya Bu."
Mereka berdua meluncur ke sebuah salon rekomendasi dari Wati. Karena Wati tahu, Lian kurang suka berdandan dan kemampuannya bermake-up dibawah standard wanita pada umumnya.
"Bu, ini benar tempatnya?"
"Iya neng benar kok. Tidak salah."
"Mbak Wati beneran deh, ini salon mahal. Huuhh, tapi yang keluar dari situ cantik-cantik." Lian yang masih mamatung berdiri di samping mobil yang terparkir di depan salon langganan Wati. Ia mengamati lalu lalang orang-orang yang berada disitu.
Setelah masuk dan melakukan cek reservasi, Lian didandani oleh salah satu MUA yang sudah dipesan Wati sebelumnya. Sementara Bu Anna menikmati pijatan sambil menemani Lian. Dia juga memakai make up natural untuk mengimbangi baju yang sudah ia siapkan untuk menemani Lian.
Sekian waktu wajah Lian dipoles make up akhirnya selesai juga. "Wwooww, u cucok meong pas banget sama gaunnya. Natural and flawles." Sang MUA berdecak kagum dengan hasil pekerjaannya kali ini, sebenarnya kulit Lian yang putih mulus sangat membantu MUA tersebut memilih jenis make up seperti apa yang akan dipakai.
"You pakai skincare apa chiinn?" Si MUA yang masih kepo mencoba cari tahu.
"Pakai skincare merk L*n*ig* kak."
"Oohhh, bagus bagus."
"Sekarang u pake sepatunya dan itu tas jangan lupa..eehh, kalung nya chiinn. Bisa dipenggal eike sama Wati kalau u gak puas."
"Hahaha, iya iya kak makasih yah. Puas kok. By the way busway ini Lian bayar dulu yah. Ini buat kakak." Lian menyerahkan beberapa uang lembaran seratus ribuan sebagai tips. Setelah itu, ia menuju kasir untuk membayar.
"Makasih beib, lain kali pakai eike lagi donk." Sang MUA yang setengah gender itu berterima kasih kepada Lian.
"Siaapp kakak."
Sampai di depan meja kasir Lian mengeluarkan debit card nya untuk membayar. "Mbak, berapa semua sama ibu itu?" Lian menunjuk ke Bu Anna yang sedang merapikan baju dinasnya.
Setelah mengecek reservasi atas nama Lian, kasir itu menyampaikan informasi bahwa tagihannya sudah dibayar. "Sudah mbak Lian, dibayar waktu reservasi kemaren." Kata kasir itu.
"Ohh, baiklah. Makasih mbak." Lian meninggalkan meja kasir dan menemui Bu Anna.
"Bu, ini yang bayar siapa? Barusan Lian nanya katanya sudah dibayar."
"Ehh, neng. Iya memang sudah dibayar kemarin. Ibu pikir neng tahu."
"Ohhh asstagaaa. Ya sudah, ayo kita berangkat bu. Sebentar lagi acara dimulai bukan?"
"Laksanakan." Bu Anna menggoda Lian dengan kata-kata keramat itu.
"Hhuuhhh, aku tidak suka kata-kata itu! Lian berdecak kesal mendengarnya.
Perjalanan ke gedung resepsi pernikahan Dimas dan Wati terhambat karena terjadi beberapa kali kemacetan di 3 lampu merah. Maklum saja, resepsi ini digelar pada saat malam minggu jadi banyak penduduk ibukota yang menikmati waktu libur nya untuk keluar rumah.
Memasuki salah satu hotel mewah di kawasan Jakarta Selatan. Mobil yang ditumpangi Lian sudah memasuki area parkir khusus management Winata Group. Terlihat jelas kalau yang punya acara adalah orang penting di Winata Group. Banyak lalu lalang tim keamanan yang sudah berjaga-jaga di area hotel tersebut.
"Masya Allah ini orang banyak banget. Acara pernikahan mbak Wati memang disiapkan dengan matang. Mewah dan meriah." Lian berguman dengan pikirannya. Dia sampai terlupa akan bertemu dengan siapa saja di pesta ini. Kemungkinan selalu saja ada, entah mantan masa lalunya itu ikut hadir atau tidak ia tidak peduli. Toh memang Lian menyadari betul, Reza adalah saudara sepupu Dimas.
Di dalam mobil, sebelum keluar Bu Anna berpesan agar Lian tidak menerima minuman dari sembarang orang. Memasang alat yang memudahkan Bu Anna melacak keberadaan Lian, karena kesepakatan dengan Alvino yang memintanya menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok mengawal Lian.
"Sudah, Lian keluar dulu bu." Lian keluar dari mobilnya. Dari kejauhan Alvino sudah melihat kedatangan gadis kecilnya itu. Sebenarnya ia ingin mendekat tetapi ia urungkan karena melihat teman-temannya sudah heboh dengan kedatangan Lian memakai balutan gaun yang elegan dan manis ditambah dengan polesan make up flawles yang tidak berlebihan namun glamour.
"Asstagaaa kamu cantik bener Lian. Aku iriii." Mbak Ika yang sebenarnya tak kalah cantik memuji dandanan Lian yang ala-ala Korea itu. Sesuai dengan karakter Lian yang tidak suka terlalu menor.
"Udah-udah jangan ribut disini. Ayoo masuk!" Bu Citra membuyarkan kehebohan Dewi dan Ika.
Gank Rempong Lian memang berisik. Apalagi kalau sudah ada Anggi asisten pak Fery. Dijamin akan lebih berisik. Tapi Lian tetap enjoy dengan kebisingan yang teman-temannya buat.
Memasuki area resepsi Lian dan teman-temannya memandang kagum design dekorasi yang dibuat. Di aula selamat datang
tertata rapi beberapa meja memanjang tempat tamu reservasi dengan barcode yang dibagikan sebelumnya. Lian bahkan hampir melupakan janjinya akan menyanyi di acara resepsi ini.
"Aduhh, banyak banget tamunya. Aku harus tenang. Nyanyi ya nyanyi aja. Udah janji juga aku sama mbak Wati. Ahhh mereka sweet bangeettt." Lian memandang dari kejauhan pelaminan, terlihat aura kebahagiaan kedua mempelai yang sibuk menyalami tamu-tamu yang hadir.
a world full of zombies hadir lagi menceritakan tentang, Teen, Romantis, dan petualangan 👍😆
Salam kenal dari (Calon Istri vs Mantan Istri) 👋
Semangat terus yaa💪
salam sukses selalu buat thornya dari a world full of zombies hadir lagi 💚🙂
Jangan lupa mampir juga ya di ceritaku 😉
Like sama favorit juga biar bisa saling like tiap update baru 🙂