Mutiara, gadis yang menjadi korban keegoisan kedua orang tua berjuang untuk terus melanjutkan hidup dengan baik dengan bantuan sang eyang.
Namun saat orang terakhir yang menjadi alasan untuk hidup telah pergi untuk selamanya membuat Mutiara semakin terpuruk.
Namun hidup tidak lah seburuk itu.
Karena takdir memberikannya seseorang yang akan kembali menjadi alasan dirinya bisa kembali tersenyum pada kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rawai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Keadaan menjadi hening setelah Dwi ditenangkan oleh Reiga dan Mulya berada dalam pelukan Mustaf.
Terlihat Dokter keluar dari ruang IGD langsung disambut dengan raut wajah penuh tanya dari semua orang yang telah menunggu. Salana terkejut saat melihat dokter yang menangani Mutiara adalah orang yang sama saat Eyang terakhir kali dirawat.
Benar dokter itu adalah dokter Adrian.
"Dokter bagaimana keadaan Ara?" Rayden langsung membuka suara dengan nada cemas.
Dokter Adrian menghembuskan nafasnya pelan. "Syukurlah kalian membawanya tepat waktu dan sebelumnya telah melakukan pertolongan pertama pada pasien jadi keadaannya baik-baik saja tapi satu yang aku khawatirkan tentang kesehatan mentalnya. Aku sarankan untuk membawanya ke psikiater takutnya hal ini akan terulang dan kita tidak bisa menyelamatkannya." Pandangannya Ia alihkan pada semua sembari memberi peringatan. Ia masih mengingat sosok Mutiara dengan jelas. Seorang gadis yang bisa membaca pikirannya dengan jelas tanpa harus menyampaikan secara lisan.
"Sebentar lagi pasien akan dibawa ke ruang perawatan tapi ingat jangan membebaninya dengan pertanyaan atau mengucapkan kata yang membuatnya kembali merasa terpuruk. Aku harap kalian selalu menjaga kestabilan mentalnya."
"Baik Dokter, terima kasih" balas Rayden.
Dokter Adrian beranjak pergi meninggalkan mereka, namun langkahnya terhenti saat melihat salah seorang diantaranya.
"Bukankah Anda Dokter Mulya?" Mulya melepaskan pelukannya dari Mustaf. Keningnya mengernyit bingung, Ia tidak merasa mengenal dokter muda didepannya apalagi kini pikirannya penuh dengan Mutiara.
" Saya Adrian, Anak Dokter Andina" Mulya hanya tersenyum pada Dokter Adrian sesekali atensinya tertuju pada ruang IGD yang masih tertutup. "Apa anda mengenal pasien atas nama Mutiara?" tanya Adrian penasaran.
Mulya mengfokuskan atensinya pada dokter Adrian setelah nama Mutiara disebut Dokter Muda itu."Mutiara keponakan saya, bagaimana keadaannya?" tanya Mulya penuh harap jika Dokter itu mengatakan Mutiara dalam keadaan baik-baik saja.
"Kalau ditanya tentang fisiknya dia baik-baik saja seperti ucapan saya tadi. Tapi soal mentalnya saya rasa Anda yang lebih tahu"
Mulya menganggukan kepalanya sebagai pertanda jika Ia mengerti maksud perkataan Dokter Adrian dengan pasti. Adrin pasti mengetahui jika Ia seorang psikiater.
"Kalau begitu saya permisi Dokter Mulya, saya harap Anda dapat memberikan perhatian yang lebih pada Mutiara." Adrian melangkahkan kakinya pergi menjauh dari Mulya. Muncul pertanyaan dibenaknya bagaimana mungkin Dokter Mulya sampai kecolongan seperti itu. Ia menghela napas, mengingatkan dirinya sendiri jika Dokter Mulya juga manusia.
Tidak lama berselang setelah Dokter Adrian pergi, pintu IGD terbuka lebar. Terlihat beberapa perawat mendorong brangkar tempat Mutiara terbaring dengan mata terpejam. Pergelangan tangannya terbalut kain kasa. Rayden dan yang lainnya mengikuti hingga sampai di ruang perawatan terbaik sesuai dengan apa yang diinginkan Rayden untuk Mutiara.
Ia sangat bersyukur dengan keadaan Mutiara sekarang tapi Rayden juga harus melakukan hal lainnya demi menjaga kesehatan mental gadis itu.
"Maaf untuk menjaga keadaan pasien agar tidak terlalu banyak orang yang berada didalam ruangan" ucap salah satu perawat
"Kami mengerti" ucap Reiga mewakili. Setelah perawat pergi mereka saling melihat.
"Aku akan melihat keadaan Ara" putus Rayden, namun sebelum Ia masuk lengannya dicekal oleh Dwi.
"Mutiara adalah putriku. Aku yang lebih berhak"
"Astaga Dwi! Kalau bukan karena Rayden, putrimu tidak akan selamat. Memang kamu merasakan saat Mutiara dalam keadaan bahaya?" ujar Mulya menggelengkan kepalanya. "Tidak Dwi! Orang yang merasakannya malah anak ini, yang merasakannya adalah Rayden jadi Ia juga berhak untuk melihat Mutiara pertama kali" tegas Mulya menyadarkan Dwi akan keegoisannya hingga Dwi terdiam tidak bisa membantah perkataan Mulya.
Mulya menoleh ke arah Rayden dan mendekatinya. Ia mengambil tangan Rayden kemudian menggemgamnya erat. "Masuklah Rayden dan Tante minta tolong jaga Mutiara dengan baik. Tante percaya padamu."
Melihat bagaimana intuisi Rayden pada apa yang akan di alami Mutiara dan juga reaksi yang diberikannya saat Ia menemukan keponakannya membuat Ia yakin kalau Rayden akan menjaganya dengan baik.
"Baik Tante" Rayden menyanggupi permintaan Mulya karena itu juga tujuan awalnya. Atensinya beralih pada Dwi.
"Om Dwi" ucapnya pelan.
Dwi masuk ke dalam ruang rawat Mutiara diikuti Rayden sedangkan yang lain sudah bisa bernafas lega.
"Bagaimana keadaan Mutiara?" Suara renta namun tetap tegas mengalihkan atensi mereka. Terlihat Oma Monica dan Oma Ryinda berjalan mendekat ditemani oleh paman Gio dan Ita.
Semua terkejut, mereka berpikir seharusnya keduanya lebih memilih beristirahat dari pada menunggu di rumah sakit yang pastinya tidak akan nyaman.
"Seharusnya Mommy dan tante Ryinda menunggu saja di rumah" tegur Reiga pada kedua wanita yang berjalan perlahan.
"Apa maksudmu bicara seperti itu? kamu ingin kami mati penasaran disana sedangkan kalian semua berada disini" Monica mendelik melihat Reiga. " Kalian bahkan tidak menghubungi atau sekedar menjawab telepon kami untuk sekedar memberi kabar."
"Bagaimana keadaannya?" sela Oma Ryinda diantara perbincangan anak dan Ibu itu.
"Baik! Tinggal menunggu Ara sadar" Reiga memberitahu sambil melirik ruangan tempat Mutiara di rawat.
"Dimana Rayden?" Oma monica bertanya seraya mencoba melihat kesekeliling.
"Rayden di dalam bersama Dwi" jawab Reiga kembali.
Pintu kamar rawat Mutiara terbuka, Rayden dan Dwi tampak keluar dengan ekspresi wajah serius.
Rayden menutup pintu dengan pelan.
"Apa Mutiara sudah sadar?" tanya Mulya dengan terburu.
Rayden menggeleng dengan wajah tertunduk.
"Katakan apa yang ingin kamu sampaikan!" Dwi terlihat tidak sabar menuntut jawaban dari Rayden.
Semua netra tertuju pada Rayden.
Rayden menghela napas perlahan. Ia yakin hal yang akan disampaikannya akan membuat semua orang terkejut.
"Maaf sebelumnya. Mungkin apa yang aku akan sampaikan sama sekali tidak masuk logika. Tapi ini adalah kenyataan" Rayden menjeda ucapannya.
"Jangan terlalu bertele-tele, katakan cepat" . Perintah Dwi menahan emosi melihat Rayden.
"Dwi!" bentak Mulya dengan menyebut nama pria itu langsung.
"Anak ini terlalu banyak membuang waktuku. Aku ingin menjaga putriku" Dwi melakukan pembelaan seraya menoleh ke arah lain dan ingin kembali masuk ke dalam ruangan.
"Om Dwi, tolong dengarkan aku dulu. Ini demi Mutiara" ucap Rayden dengan Memohon pada Ayah dari gadis yang dicintainya.
"Cepat katakan!"
Rayden menganggukan kepalanya dan mulai membuka suara."Jika berada didepan Mutiara Ku mohon dengan sangat untuk bisa mengontrol pikiran. Jangan berpikir yang tidak-tidak tentang Mutiara apalagi pikiran yang menjurus ke hal negatif. Jika tidak bisa tolong jangan melihat matanya."
Dwi dan yang lainnya menampilkan raut wajah yang sama.
"Apa maksudmu, jelaskan dengan benar!" tuntut Dwi kembali. Ia tidak mempercayai perkataan Rayden yang tidak masuk akal tentang Mutiara.
"Mutiara bisa membaca pikiran orang lain melalui tatapan mata" ucap Rayden dengan serius mengedarkan pandangannya ingin tahu reaksi dari setiap orang yang berada disitu.
(Ω Д Ω)
babai hadir disini untuk memberi semangat kaka author yang kecteh.. /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/