"Tidak ada yang namanya cinta sejati di dunia ini. Kalaupun ada, seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami." ~Liam
"Cinta sejati tak perlu dicari. Dia bisa menemukan takdirnya sendiri." ~Lilis.
Bagaimana ceritanya jika dua kepribadian yang saling bertolak belakang ini tiba-tiba menjadi suami istri?
Penasaran? Ikuti kisahnya sekarang ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amih_amy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Mengambil Kesempatan
...----------------...
Semerbak mewangi bunga mawar dan melati menyeruak dari dalam sebuah kamar. Dilengkapi dengan pencahayaan temaram yang berasal dari lilin-lilin kecil yang disusun berbentuk lambang cinta di lantai kamarnya.
Tak lupa taburan kelopak bunga mawar yang menghiasi tempat tidurnya. Sungguh cantik dipandang mata. Kamar itu disulap sedemikian rupa bak kamar pengantin yang hendak melakukan malam pertama.
Seorang lelaki duduk di tepi ranjang itu sambil menopang kaki. Bibirnya mengulas senyuman sambil menatap ke arah kamar mandi. Ia sedang menunggu sang istri yang sedang berganti baju sedari tadi.
"Udah belum? Lama bener, Yang?" tanya lelaki itu yang tidak lain adalah Liam Pranaja. Ia sedikit berteriak saat memanggil istrinya yang sudah cukup lama berada di dalam sana.
"Iya, ini udah selesai." Lilis pun keluar. Perempuan itu terlihat kikuk ketika keluar dari kamar mandi. Tangannya sibuk menurunkan bagian bawah baju dia pakai, padahal memang ukurannya yang kekecilan. Lilis merasa tidak nyaman dengan baju berbahan tipis dan agak menerawang, serta kekurangan bahan. Alhasil, beberapa bagian tubuhnya yang agak menonjol jadi kelihatan.
"Tuh 'kan apa aku bilang. Kamu cocok pake baju itu, Sayang."
Liam langsung beranjak lalu menghampiri istrinya. Tatapannya begitu takjub melihat penampilan Lilis yang berbeda. Walaupun bukan pertama kali Liam melihat tubuh sang istri, penampilan Lilis kali ini terlihat lebih ... sexy.
"Tapi bajunya tipis pisan kayak puring nasi, Ay. Nggak enak dipakenya," ujar Lilis menunjukkan gelagat risih pada gerakannya.
"Nggak pa-pa. Nanti bentar lagi juga dilepas. Sekarang pake aja dulu! Aku suka lihatnya," goda Liam.
Lilis menarik kedua sudut bibirnya segaris. Sejenak terdiam lalu pandangan Lilis pun menyapu ke sekitar ruangan. Kedua matanya terbuka lebar saking terpesona dengan keindahannya. Sejak kapan suasana kamar itu jadi berubah romantis seperti itu. Lilis pun jadi takjub dengan tatapan sendu.
"Gimana? Kamu suka kan suasana kamarnya? Aku pernah denger kamu mau kamar kayak gini waktu nonton film drama," kata Liam sedikit berbisik di telinga istrinya.
"Suka atuh, Ay. Suka pisan!" Tanpa memedulikan image-nya. Lilis langsung berjinjit dan menghadiahkan sebuah kecupan di pipi Liam. Perempuan itu memang terlalu bar-bar ketika mengungkapkan perasaan. "Makasih, ya, Ay," lanjut Lilis sambil menatap wajah Liam dengan senyuman yang mengembang.
"Sama-sama, tapi cara kamu membalasnya masih kurang, Sayang. Gini nih cara berterima kasih yang benar."
"Aaaah!"
Lilis memekik ketika Liam tiba-tiba menggendongnya, tetapi kemudian tersenyum malu karena Liam sejenak menempelkan bibirnya dengan bibir istrinya itu. Lilis pun sudah tahu jika Liam akan melakukan apa kepadanya. Akhirnya, Lilis hanya diam saja ketika tubuhnya mendarat di atas kasur yang bertabur bunga.
"Bajunya nggak nyaman, kan? Aku lepas aja, ya?" tanya Liam basa-basi. Padahal jika tak diizinkan pun akan dia lepas sendiri.
Lilis mengangguk malu. Kedua pipinya sudah kemerahan karena tersipu. Ini memang bukan malam pertama mereka, tetapi kali ini cara Liam memanjakannya sedikit berbeda. Dia sangat suka.
"Tunggu, Ay!" Lilis menghentikan aksi Liam karena mendengar ponselnya berdering di atas meja. Sepertinya ada panggilan telepon di sana. "Lilis angkat teleponnya dulu, ya," pinta Lilis kemudian.
"Nanti ajalah," tolak Liam yang sudah tidak bisa menunda hassratnya.
"Eh, kalau penting gimana? Sebentar doang, Lilis mau lihat siapa yang telepon." Dengan sedikit memaksa, Lilis mendorong tubuh suaminya untuk melepaskan diri.
Liam mendengkus sambil terduduk di atas ranjang, menatap istrinya yang merangkak mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas.
"Siapa, si?" tanya Liam sedikit kesal.
"Ryan."
"Sialan! Berani-beraninya dia ganggu kita. Jangan diang—"
"Halo, Yan. Kenapa?"
Liam melongo takjub melihat sang istri tak menggubris perkataannya. Namun, tatapan emosi lelaki itu langsung menyipit ketika melihat reaksi Lilis yang begitu serius mendengarkan lawan bicaranya di balik telepon tersebut.
"Iya. Nanti aku bilang sama keluarganya. Tolong kamu bawa dia ke rumah sakit terdekat, ya." Setelah berkata seperti itu Lilis langsung menutup panggilannya.
"Ada apa?" tanya Liam penasaran.
"Kita harus menemui Pak RT sekarang, Ay. Si Rara dapat masalah, dia mau dilecehkan sama sutradara."
"Apa? Kok, bisa?"
"Lilis juga nggak tahu. Untungnya Ryan datang tepat waktu dan menyelamatkan Rara dari sutradara bejat itu. Sekarang Lilis mau bilang sama Pak RT dan Bu Salma dulu, ya."
"Tapi, Lis. Ini gimana?" Liam menunjuk sesuatu yang sudah menjulang di bagian bawahnya. Namun, hal itu tak digubris oleh Lilis. Perempuan itu malah beranjak dari tempat tidurnya lantas mengganti baju yang lebih pantas.
"Nanti aja dilanjutin lagi, Ay. Sekarang temenin Lilis dulu ke rumahnya Bu Salma. Lilis harus memberitahu tentang keadaan si Rara. Kasian dia."
Selain menghela napas, Liam bisa apa. Harapannya menghabiskan malam yang indah bersama sang istri harus tertunda karena insiden yang menimpa tetangganya. Entah harus marah atau berlapang dada. Yang pasti sisi kemanusiaan harus lebih utama daripada napsu belaka.
****
Sedangkan di sisi tempat yang berbeda, Ryan sedikit kesulitan ketika membawa Rara di dalam mobilnya. Bagaimana tidak, Ryan harus berusaha fokus mengemudi ketika gadis belia yang menumpang di bagian belakang mobilnya itu berhasil membuat perhatiannya terbagi dua. Aksi panas gadis itu sukses membuat dada Ryan kembang kempis mengatur napasnya yang jadi tidak beraturan.
"Woy, woy, woy. Kamu mau ngapain? Jangan di sini!" sentak Ryan yang begitu terkejut ketika melihat Rara hendak membuka jaketnya. Ia melihat aksi perempuan itu melalui kaca spion dalam mobil tersebut.
"Panas, Bang. Tubuh Rara panas banget," ucap Rara dengan suara serak. Dadanya terasa sesak membuat napasnya jadi sedikit tersendat.
"Sabar dulu! Sebentar lagi kita sampai," kata Ryan sambil sesekali melongok ke arah Rara.
Akan tetapi, bukannya mendengarkan Ryan, Rara yang semakin kepanasan malah dengan cepat melepaskan resleting jaket yang dia kenakan. Jaket itu adalah milik Ryan yang sengaja diberikan kepada Rara agar bisa menutupi bagian dadanya yang terbuka.
Astaga! Ryan hampir kehilangan kendali ketika mengemudi. Bagaimanapun, dia adalah seorang laki-laki. Hassratnya akan langsung bergejolak ketika melihat sesuatu yang membuat jantungnya seperti berhenti berdetak.
Dengan cepat pria itu pun menepi ke bahu jalan. Jika dibiarkan, mungkin Rara akan melepaskan semua pakaian yang dia kenakan.
"Ah, sial! Kenapa aku harus berurusan sama yang beginian?" decak Ryan sembari keluar dari mobilnya lalu masuk ke pintu bagian belakang.
"Tolongin Rara, Bang!"
Baru saja Ryan duduk, Rara langsung menggelayut. Pemandangan tak kasat mata yang mengusung di depannya membuat jantungnya seperti melesat ke udara. Ryan sampai meneguk saliva. Sejenak Ryan bingung mau melakukan apa.
"Kamu harus tenang!"
Sejurus kemudian, Ryan mendapatkan ide brilian. Entah itu benar atau tidak dengan tindakannya itu. Ryan hanya berpikir agar Rara berhenti berbuat ulah. Setidaknya sampai dirinya berhasil membawa Rara ke rumah sakit terdekat.
Ryan menarik resleting jaket Rara hingga ke atas lalu mengikat kedua tangan perempuan itu dengan menggunakan sapu tangan miliknya. Hal itu guna menghindari gadis itu berbuat nekat lagi.
"Kalau gini 'kan aman," kata Ryan sambil menyeringai. Ryan bukan type lelaki yang tega mengambil kesempatan di dalam kesempitan seorang perempuan.
...----------------...
...To be continued...
Mampir thor 🙋
mimpi ternyata
pengen narik rara