Di lelang gelap, seorang gadis dijual kepada penawar tertinggi. Pembelinya adalah Hendra Wirakusuma, mafioso yang ditakuti seisi kota, dingin, berbahaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang ia mau.
Sekar tak punya siapa-siapa lagi. Ia dikhianati keluarganya sendiri dan kini terkurung di rumah pria yang seharusnya paling ia takuti. Namun di balik tatapan dan tangan yang berlumur dosa itu, ada sisi Hendra yang tak pernah dilihat orang lain.
Antara bahaya, rahasia, dan perasaan yang tumbuh tanpa izin, mampukah Sekar bertahan? Dan sampai di mana seorang mafioso rela melangkah demi satu perempuan yang ia beli?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Valéria Bezerra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Tidak Percaya pada Mereka
POV Sekar
"Waktu aku tinggal bersama mereka, ibuku baru dua bulan meninggal... Ayahku sudah pergi sejak aku masih kecil. Bibi dan sepupuku selalu membuatku merasa aman, aku tak pernah membayangkan mereka tega melakukan ini hanya karena kejam. Lalu suatu hari sepulang sekolah, aku dibius, dan saat sadar aku sudah ada di tempat itu... Aku nyaris dilecehkan, sampai kamu membeliku."
POV Hendra
"Kamu percaya kata-kata mereka?"
POV Sekar
"Entahlah... Sebenarnya aku berharap itu benar."
POV Hendra
"Aku tidak percaya pada mereka, Sekar. Meski memang mungkin saja mereka diancam. Aku tahu betul dunia itu, dan tahu cara sindikat perdagangan manusia bekerja untuk mendapatkan perempuan sepertimu. Tapi wajah mereka tidak seperti orang yang diancam, apalagi orang yang tidak bersalah."
POV Sekar
"Kepalaku sakit, aku mau tidur. Selamat malam."
POV Hendra
"Sekar..." Aku mendekat. "Kenapa tadi kamu berusaha menghindariku?"
POV Sekar
"Kita terlalu dekat, Hendra. Sebaiknya kita berhenti."
POV Hendra
"Kenapa bilang begitu?"
POV Sekar
"Aku tidak mau semuanya jadi kacau... Paling jauh kita cuma bisa jadi teman."
POV Hendra
"Kamu tidak merasakan apa-apa untukku?"
POV Sekar
"Tidak..."
POV Hendra
"Katakan sambil menatap mataku, Sekar."
POV Sekar
"Kita cuma teman." Dengan susah payah, kutatap matanya.
POV Hendra
"Baiklah... pergilah." Kulepaskan dia dengan kecewa.
POV Beti
"Halo, Nak."
POV Hendra
"Halo, Beti. Kenapa belum pulang?"
POV Beti
"Sekar itu suka padamu, kok, dia cuma takut. Ini, rekaman kamera di ruang perawatan. Rekaman ini mengatakan semua yang perlu kamu tahu." Aku menyerahkan benda itu. "Dia mencintaimu, Nak, hanya takut terluka. Kalian memulai dengan cara yang salah. Rebut kepercayaannya dan jangan menyerah."
POV Hendra
"Terima kasih, Beti." Aku tersenyum.
Aku masuk ke ruang kerja dan semalaman menonton rekaman itu. Aku makin jatuh cinta padanya, dan makin yakin dia harus jadi milikku. Aku pasti akan mendapatkannya.
Keesokan harinya...
POV Beti
"Selamat pagi, Nak, sudah bangun sepagi ini?"
POV Hendra
"Tadi latihan sebentar. Beti, aku minta bantuanmu menyiapkan sarapan untuk Sekar, mau kuantar ke kamarnya."
POV Beti
"Tentu, Nak... ayo kita siapkan."
POV Hendra
"Bagus... terima kasih, Beti." Aku naik membawa nampan.
Tok... tok...
POV Sekar
"Iya, sebentar..." Kubuka pintu.
POV Hendra
"Selamat pagi." Aku masuk.
POV Sekar
"Pagi... Ini apa?" Kututup pintu.
POV Hendra
"Kita sarapan?"
POV Sekar
"Hendra..."
POV Hendra
"Sekar... aku jatuh cinta padamu."
POV Sekar
"Hendra, kita sudah membahas ini."
POV Hendra
"Jangan bohong padaku, Sekar. Aku tahu kamu punya perasaan padaku."
POV Sekar
"Aku tidak mau terluka, Hendra."
POV Hendra
"Beri aku kesempatan... Aku janji tidak akan mengecewakanmu."
POV Sekar
"Kita coba mulai dari awal, ya?"
POV Hendra
"Tentu." Kuraih dia dalam ciuman yang penuh cinta dan bahagia.
POV Sekar
Aku mengakhiri ciuman itu. "Ayo sarapan?"
POV Hendra
"Ayo." Aku tersenyum dan mengecup bibirnya sekilas.
Kami sarapan, lalu bersiap dan turun.
POV Sekar
"Selamat pagi, Bu Beti." Aku tersenyum.
POV Hendra
"Aku berangkat dulu, ya." Kucium dia. "Dah, Beti." Aku pergi.
POV Beti
"Jangan bilang kalian..."
POV Sekar
"Kami sedang mencoba, Bu Beti." Aku tersenyum.
POV Beti
"Aduh, senangnya, Nak! Bu Ratna pasti suka sekali." Kupeluk dia.