NovelToon NovelToon
My Bestfriend Prince

My Bestfriend Prince

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:96.9k
Nilai: 5
Nama Author: Yourdream

Jatuh cinta pasti dirasakan setiap manusia
Dan banyak sekali rintangan didalamnya
baik suka maupun duka
mau tidak mau kita harus melewatinya

Setiap hubungan juga tidak akan berjalan
dengan mulus layaknya jalan tol
akan ada waktunya jalan itu berlubang
Akibat kesalahpahaman dan keegoisan kita

Jadi, mau happy atau sad endingnya
kitalah yang tentukan sendiri
dan mungkin ada hati yang akan dikorbankan
atau tidak sama sekali diantara kita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourdream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 31

Irine berangkat ke kuliah dengan Algi. Irine sudah tahu jika Sastra yang meminta Algi untuk menjemputnya. Orangtuanya pun juga pergi mendadak semalam. Alhasil, ia hanya sendirian dirumah.

"Udah?" tanya Algi pada Irine. Irine mengangguk.

"Yaudah, yuk berangkat."

Irine masuk kedalam mobil Algi. Perlahan demi perlahan, Irine mencoba untuk membuka hatinya pada cowok ini.

"Al," panggil Irine.

Algi menoleh namun sesekali melihat jalan di depan.

"Kenapa?"

"Gue bakal berusaha."

Algi terdiam. Baru ia tersenyum.

"Terima kasih."

Irine menghela napas. Ia melihat ke luar kaca mobilnya. Mobilnya berhenti karena lampu merah. Disekitar mobilnya juga dikelilingi kendaraan lainnya.

Lampu sudah hijau kembali. Mobil Algi pun mulai bergerak maju. Mata Irine membulat seketika ia melihat seseorang didalam mobil taksi itu. Apakah ia tidak salah melihat?

Jika cowok yang ada didalam itu adalah Yuan?

Irine melihat ke belakang lagi, namun tidak bisa. Mobil Algi sudah melaju kencang.

"Ada apa, Rin? Lo ngelihat sesuatu?" tanya Algi ketika melihat Irine yang tengah mencari-cari sesuatu.

Irine menoleh kemudian menggeleng.

"Gak ada apa-apa."

###

Yuan mendapat panggilan dari Ajun.

"Yuan, lo udah berangkat kan?" Suara Ajun dari sebrang telponnya.

"Udah. Gue lagi naik taksi ke bandara. Pastiin bunda baik-baik aja," balas Yuan.

"Yaudah, lo hati-hati dijalan."

"Hm. Gue tutup ya panggilannya."

Yuan langsung memutuskan panggilannya. Lampu hijau sudah berganti. Mobilnya belok ke arah kanan menuju bandara. Kemarin, ia mendapat kabar jika bundanya jatuh sakit. Yuan pun ingin langsung berangkat, namun Ajun tidak mengizinkannya dan diperbolehkan esok harinya.

Baru sebentar ia berada disini. Bahkan ia pun belum sempat bertemu dengan gadis itu. Yuan membuka ponselnya dan menampilkan foto kebersamannya dengan gadis itu.

Apa gadis itu masih sama?

Yuan menghela napas dan mulai memejamkan matanya sampai tiba di bandara.

###

Rena sudah sadar namun tubuhnya masih terbaring di bangkar. Sementara Yasa hanya menghela napas berulang kali, karena ia takut terjadi apa-apa dengan istrinya itu.

"Kamu kenapa bisa kayak gini sih?" tanya Yasa.

Rena memutarkan bola matanya dengan malas.

"Lebay amat sih. Baru juga kayak gini. Udahlah Yah, Bunda kuat kok."

"Iya sih Bunda itu kuat tapi Ayah yang enggak."

"Dih, masa cowok gitu sih. Harusnya cowok itu yang kuat."

"Tapi kalau ngelihat orang yang disayanginya sakit, apa masih kuat?" Ucapan Yasa membuat Rena tersentuh. Rena menggenggam tangan Yasa.

"Bunda gak papa, Yah. Percaya deh. Bunda pasti cuma salah makan doang kok."

Yasa menghela napas.

"Apa ayah pecat aja si Fara karena udah buat kamu masuk rumah sakit?"

Rena menggeleng.

"Gak usah, Yah. Masa kayak gitu aja sampai pecat dia. Yah, cari kerjaan itu susah yah. Setidaknya ayah bantu dia."

"Kalau gitu kamu cepet sembuh. Biar akunya gak pusing."

"Iya, Ayah nih bawel ya."

Ajun yang berada di dalam situ hanya menahan senyumannya. Karena baru kali ini melihat kedua orang ini layaknya baru jadian. Masih terlihat sweet meskipun sudah tidak muda lagi.

"Bunda." Semuanya menoleh ke seseorang yang baru saja datang.

Yuan langsung menghampiri bundanya itu.

"Bunda kenapa bisa sakit?"

"Itu tuh, udah tahu alergi udang, malah makan udang," adu Yasa. Yuan hanya menghela napas mendengar ucapan ayahnya.

"Kok bisa? Emang pembantu di rumah gak ada yang tahu alergi Bunda?"

"Fara. Si pembantu baru itu yang sajikan bunda kamu udang."

"Udahlah, namanya juga pembantu baru. Jadi gak tau kalau Bunda punya alergi udang."

"Harusnya dia udah tahu dong. Memangnya dia tidak bisa nanya ke pembantu lainnya?" kesal Yasa.

"Lain kali Bunda hati-hati ya," ucap Yuan. Rena mengangguk.

"Kamu udah kesana?" tanya Rena dengan maksud. Yuan menggeleng.

"Belum, Bun. Yuan belum kesana."

###

Irine tengah berada di kantin. Ia melamun saja dari tadi semenjak ia tidak sengaja melihat seseorang yang selama ini ia cari. Bayangannya masih jelas ketika cowok itu tengah sibuk menelpon.

Kemarin, saat ia bertanya pada Jessy tentang Yuan, Yuan pun tidak menjenguknya sama sekali selama ia koma. Jadi, kapan cowok itu pindah?

Irine sangat merindukannya.

"Rin."

Irine menoleh. Ternyata Algi.

"Boleh gue duduk?"

"Hm. Duduk aja."

"Dua hari lagi gue balik ke Inggris."

"Secepat itu?" tanya Irine. Bahkan dirinya baru saja ingin membuka hatinya untuk cowok ini.

Algi mengangguk.

"Hm."

"Terus, kapan lo kesininya lagi?"

"Mungkin bulan depan."

"Terus, kuliah lo disini?"

"Gue lanjut di sana."

Irine harus mengerti cowok itu.

"Lo baik-baik disini ya."

"Lo minta gue buat berusaha. Tapi kenapa lo pergi?" Irine kesal. Apa semua orang akan pergi darinya?

"Gue cuma pergi. Bukan hati gue, Rin."

"Tapi tetep aja kalau lo lebih milih pergi dari gue!" Irine kesal dan ia pergi meninggalkan Algi begitu saja. Algi ingin mengejarnya namun ia berhenti di tempat dan hanya melihat Irine yang sudah menghilang dari pandangannya.

###

Berakhir Irine yang diam di cafe itu. Setiap ia merasa kesepian, ia selalu datang ke cafe itu. Ia tidak pergi ke toko buku itu, karena itu hanya akan mengingat Yuan lagi.

Tapi Irine berpikir, jika ia bertemu Yuan tadi, artinya cowok itu pindah lagi ke rumah itu. Irine segera mengambil tasnya dan langsung meninggalkan cafe itu.

Rumah itu masih sama. Namun rumah ini terawat. Seperti ada yang menempatinya.

"Yuan!"

"Yuan, gue tahu lo ada didalam! Kenapa lo gak pernah temuin gue!"

Irine berteriak sangat kencang. Berharap Yuan keluar. Irine mengambil ponselnya dan mengetikkan sebuah nomor.

Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Si---

Irine mencoba lagi menghubungi nomor itu. Namun hanya suara operator saja. Irine kesal dan sedih.

"Yuan!"

Irine terduduk sambil memeluk lututnya di depan pintu gerbang rumah Yuan. Ia tertunduk sambil menangis.

Kenapa hatinya begitu kacau? Hatinya terlalu sakit ketika ia terakhir kali mengetahui jika cowok itu selama ini menyukainya. Irine ingin bertemu dengannya meskipun untuk terakhir kalinya.

Irine menangis dengan sendu. Ia menangis dengan terisak-isak. Ia sangat merindukannya. Ia sangat ingin bertemu dengannya.

Mata Irine sudah kabur karena air matanya. Ia melihat sebuah sepatu didepannya. Irine tidak ingin bertemu dengan siapapun selain Yuan.

Tapi, sudah cukup lama orang itu berdiri dihadapannya. Irine mulai mendongak. Irine hanya menatap orang itu dengan lama. Dan tiba-tiba, air matanya mulai keluar lagi. Bahkan lebih deras.

###

Irine berada didalam sebuah kamar. Ketika ia membuka mata, ia melihat sebuah foto dirinya yang terpajang di setiap dinding rumah itu. Irine terkejut dan langsung panik.

Terakhir yang ingat, ia melihat dia. Namun apakah itu nyata? Mana mungkin cowok itu datang.

Irine memegang kepalanya yang sedikit pusing. Pintu kamar terbuka tiba-tiba membuat Irine terkejut.

Irine berdiri mematung di tempat. Dia? Irine memukul pipinya sendiri.

"Aw," ringis Irine.

"Lo gak papa?" Dia menghampirinya. Irine mendorong hingga tubuh orang itu menjauh.

Terlalu sulit hanya untuk menganggap jika semua ini nyata. Irine tersenyum sendiri.

"Pasti mata gue salah. Gak mungkin orang yang dihadapan gue ini ...."

"Yuan. Ini gue, Rin," sanggahnya terlebih dahulu.

"Gak! Mana mungkin lo ada disini!" pekik Irine.

"Rin, maafin gue."

"Kenapa lo kembali lagi? Kalau lo aja selalu pergi?"

"Rin, buk--" Irine memotong ucapan Yuan terlebih dahulu.

"Gue udah capek buat menghindar dari lo dan bisa melanjutkan hidup gue. Tapi itu sulit buat gue!"

"Jika gak dapat menghindar. Maka diamlah ditempat. Biar lo gak perlu bersusah payah untuk berlari. Karena gue yang akan berlari."

Yuan memeluk Irine. Irine sempat berontak namun Yuan berhasil menenangkannya. Sudah lama Yuan merindukannya. Sudah lama Yuan ingin bertemu dengannya. Sudah lama ia ingin berada di sampingnya. Kapanpun itu.

To be continued

Ayo ramaikan dengan vote kalian! Kasih tahu juga ke yang lainnya ya. Bye bye.

1
Tri Utami
akuq gk suka adal nya penghiantan. coba cukup cewek luar aja yg coba rebut yuan. bukan sahabat ikt2n jd pengahianat .
Favelly: terima kasih atas komentarnya. Mohon dishare agar ikutan komentar juga ya ;)
total 1 replies
Tri Utami
sastra merusak persahabatan. pi setidaknya lambat laun mereka akan sadar akan perasaab mereka sebenarnya
Sari Istiqomah
Assalamualaikum semangat berkarya thor

Aku sudah like ya, mampir yuk keceritaku

Dia Untukku. Terimah Kasih
Hilda Sakira Ajahra
Mampir yuk di cerita ku


Mencintaimu kaka
Ilan Irliana
kgn m yuan..huhu
Akira ✨
like 🤩
Soesan
Semangat KK ceritanya semakin keren

Salam manis "Scandal pewaris tunggal"
Esw_Gee
lanjut
Rayna Syaqif
thor kapan up,,,,
finn 🐣
nama asli nya sastra siapa si? ganteng bangett 😣😣
Kania
ihhhhhh kesel banget sa si yuann!!😠 gregetan bacanya thor.. 😬
Rayna Syaqif
lanjuttt thorrr
Try AngeLs
akhirnya ketemu jg
Ilan Irliana
yeeaahhhhhhh
writer in box
salam dari kisah cinta suci seorang lelaki yang hidupnya sempurna tetapi, menikahi wanita penderita ganguan jiwa/skizofrenia
Siska
mampir ya thor, udah ninggalin jejak juga
tetap semangat up nya 😀
jangan lupa di feedback ya kakak 😀
mari saling mendukung
Kini Wulandari
bagus kak ceritanya
@ luisa @
lanjuttttt
wike maliya: haaai kak,, yuuuk kita nongkrong di rumahnya IT'S HARD TO LOVE YOU...
total 1 replies
@ luisa @
irin egois thur
@ luisa @
👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!