Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
"Cuma ada satu cara cepat. Malam ini juga bisa. Beberapa tamu VIP di lantai atas sering cari cewek spesial. Satu malam sama mereka, bisa langsung dapat lima puluh sampai seratus juta. Bahkan lebih kalau kamu masih virg*n”
Sesaat ruangan terasa hening. Hanya detak jantung Natalie yang terdengar keras di telinganya.
“Kamu gila! Aku tidak mau menjual tubuhku hanya demi uang! Kamu kira aku pelacur? Aku kerja di sini saja sudah jijik setiap hari, apalagi harus seperti itu!” sentak Nathalie marah.
Suara Natalie meninggi, emosinya meledak setelah sekian lama ditahan. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuh, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan hingga terasa sakit. Wajahnya memerah, campuran antara marah dan malu.
Miska tidak terkejut. Ia hanya melipat tangannya di depan dada, menatap Natalie dengan pandangan tenang yang justru membuat Natalie semakin geram. “Aku hanya memberi solusi, Nat. Kalau kamu tidak mau melakukannya, tidak masalah,” ucap Miska pelan tapi tegas. “Tapi asal kamu tahu, di zaman sekarang mencari uang seratus juta dalam semalam itu sangat susah. Kerja kantoran sebulan belum tentu dapat segitu. Jualan online? Ngemis di jalan? Semuanya butuh waktu. Sementara ayahmu, harus segera di operasi"
Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk tepat di ulu hati. Natalie ingin membantah, ingin berteriak bahwa dirinya bukan perempuan seperti itu, tapi lidahnya terasa kelu. Miska melangkah menuju pintu ruang ganti, sepatu haknya berdetak pelan di lantai semen. Sebelum tangannya menyentuh kenop pintu, ia menoleh ke belakang. Cahaya neon jatuh di wajahnya, membuat ekspresinya terlihat setengah iba, setengah dingin.
“Tapi kalau kamu berubah pikiran, aku akan membantumu. Aku kenal beberapa orang di atas. Bisa atur supaya tidak kasar, dan uangnya langsung cair. Pikirkan baik-baik, Nat. Ayahmu cuma punya kamu.”
Setelah mengucapkan itu, Miska membuka pintu dan keluar. Suara dentuman musik dari luar langsung menyusup masuk sebentar sebelum pintu tertutup lagi, meninggalkan Natalie sendirian dalam keheningan yang tiba-tiba terasa mencekam.
Natalie menghembuskan nafas kasar, hampir seperti raungan tertahan. Ia bersandar ke dinding yang dingin, tangannya menutup wajah. Yang dikatakan Miska memang benar. Sangat benar. Mencari seratus juta dalam waktu satu malam bukanlah hal yang mudah. Ia sudah memikirkan segala cara, meminjam dari teman-teman, menjual barang-barang yang tersisa, bahkan berpikir untuk mencuri, tapi semuanya mustahil dilakukan secepat itu. Bank tidak akan memberi pinjaman tanpa jaminan, dan ibunya tidak mau menunggu.
Bayangan ayahnya kembali muncul. Wajah pucat yang dulu penuh senyum, kini hanya bisa terbaring lemah di ranjang. Suara ibunya yang penuh ancaman masih bergema di telinga. Rasa bersalah yang sudah lama menggerogoti hatinya semakin menjadi-jadi. Ini semua karena dirinya, kalau saja aku tidak memaksa Ayahnya untuk menjemputnya malam itu, mungkin ayahnya masih baik-baik saja.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos juga. Natalie menangis tanpa suara, bahunya berguncang. Tubuhnya yang masih memakai pakaian kerja klub terasa kotor, murahan, dan asing. Ia membayangkan tawaran Miska, ruangan mewah di lantai atas, tangan-tangan asing, harga dirinya yang harus dilego demi uang. Perutnya langsung mual hanya memikirkannya.
Tapi di balik itu semua, ada suara kecil di dalam hatinya yang mulai berbisik. Suara putus asa yang bertanya. Berapa harga nyawa ayahmu, Natalie? Apakah harga dirimu lebih mahal dari itu?
Ia duduk kembali di bangku, memeluk lututnya sendiri. Malam semakin larut, tapi pikirannya semakin kacau. Di luar, klub masih ramai. Orang-orang masih tertawa, minum, dan bersenang-senang tanpa tahu bahwa di ruang belakang, seorang perempuan sedang berada di persimpangan yang bisa mengubah segalanya.
Natalie menggigit bibirnya kuat-kuat hingga terasa darah. Keputusan ini terlalu berat. Terlalu berat untuk dibuat dalam keadaan lelah seperti sekarang. Tapi waktu terus berjalan, dan ibunya tidak akan memberi ampun. Seratus juta. Satu malam. Dan tawaran Miska yang masih menggantung di udara seperti racun manis yang menggoda.
Ia menatap pintu yang baru saja ditutup Miska dengan tatapan kosong. Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Apakah aku benar-benar sanggup?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Natalie menghabiskan waktu semalam untuk berpikir keras. Dengan perasaan gelisah, dikamar kecil kontrakannya yang pengap, ia mondar-mandir seperti orang bingung. Jam dinding berdetak pelan, tapi setiap detik terasa seperti pukulan di dada. Ia berbaring di kasur tipis, menatap langit-langit yang retak-retak, lalu bangkit lagi, membuka ponsel, membaca ulang pesan ibunya, dan menutupnya dengan kasar. Air mata sudah kering, tapi rasa sesak di tenggorokan tak kunjung hilang.
Bayangan ayahnya terus menghantui. Ingatan tentang senyum lebar pria itu saat masih sehat, suaranya yang lembut saat memanggil dirinya, dan kini hanya diam terbaring di atas ranjang rumah sakit, bergantung pada mesin dan obat-obatan yang mahal. Aku yang bikin dia begini, batin Natalie berkali-kali. Rasa bersalah itu seperti racun yang perlahan meresap ke dalam jiwa.
Ia memikirkan segala pilihan. Meminjam dari rentenir? Bunga yang mencekik. Menjual ginjal? Terlalu ekstrem dan butuh waktu. Kerja shift ganda di klub? Masih jauh dari seratus juta. Tawaran Miska kembali terngiang. Kata-kata itu seperti iblis yang menggoda di telinga: cepat, mudah, dan langsung menyelesaikan masalah.
Menjelang pagi, akhirnya Nathalie mengambil keputusan. Dengan tangan gemetar, ia mengirim pesan singkat kepada Miska. "
"Aku mau. Tapi hanya satu kali ini saja, tidak lebih".
Kalimat itu terasa seperti menandatangani perjanjian dengan setan.
*
*
Sore hari Nathalie dan Miska bertemu. Wajah Nathalie tampak pucat karena kurang tidur, matanya bengkak, tapi tekadnya sudah bulat. Miska datang dengan mobil sedan hitam yang entah milik siapa, dia tersenyum tipis seolah sudah menduga keputusan ini.
"Masuklah, aku akan mengantarmu bertemu dengan orangnya"
Nathalie mengangguk, lalu masuk kedalam mobil Miska. Sepanjang perjalanan ke hotel mewah di pinggir kota, tak ada banyak kata yang terucap. Hanya musik pelan dari radio dan detak jantung Natalie yang semakin kencang.
Nathalie menghentikan mobilnya di hotel bintang lima yang sangat megah. Lantainya mengkilap dan aroma parfum mahal yang menyambut setiap tamu.
Mereka langsung naik lift ke lantai dua puluh tanpa bertanya terlebih dahulu. Setiap lantai yang dilewati terasa seperti Natalie semakin jauh dari dirinya yang dulu, gadis biasa yang bercita-cita menjadi guru, bukan perempuan yang menjual tubuh demi uang.
Akhirnya mereka berhenti di depan sebuah pintu kamar suite bernomor 2011.
Ting Tong
Ting Tong
Miska memencet bel sebanyak dua kali, lalu menoleh ke arah Natalie. Wajah sahabatnya itu terlihat tenang, tapi ada sedikit rasa iba yang tersembunyi di matanya.
“Ini kamarnya,” ucap Miska pelan. “Tuan Drake sudah menunggumu di dalam. Dia orangnya baik, tidak kasar. Sudah aku bicarakan semuanya. Kamu cukup menyenangkannya saja. Uangnya akan langsung ditransfer setelah selesai.”
Natalie menatap pintu kayu mahal itu dengan perasaan gugup yang luar biasa. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa mau meledak. Tangan kanannya yang dingin dan berkeringat mengepal di sisi tubuh. Kakinya terasa lemas, seolah siap runtuh kapan saja. Takut. Ia sangat takut.
Apa yang akan terjadi di balik pintu itu? Apakah pria bernama Drake itu tua, muda, kasar, atau berbau alkohol seperti tamu-tamu di klub?
Apakah ia harus tersenyum, berpura-pura menikmati, atau cukup diam dan menyerahkan tubuhnya? Pikiran-pikiran kotor itu berputar liar di kepalanya. Ia merasa jijik membayangkan tangan asing menyentuh kulitnya, bibir yang tak dikenal mencium lehernya, dan harga dirinya yang hancur berkeping-keping.
“Nat...” Miska menyentuh bahunya pelan. “Kamu bisa mundur sekarang juga.Tapi, pikirkan dengan nasib ayahmu.”
Kata itu seperti cambuk. Natalie menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan gejolak di dadanya. Matanya terpejam rapat, air mata menggenang lagi di pelupuk. Ini demi Ayah. Hanya malam ini. Hanya sekali ini, katanya dalam hati, berulang-ulang seperti mantra untuk menguatkan diri.
Ia membuka matanya, menatap pintu itu sekali lagi. Pintu yang tampak biasa saja, tapi baginya seperti gerbang neraka. Tubuhnya gemetar hebat. Dingin, panas, mual, semua perasaan bercampur aduk. Ia merasa kotor bahkan sebelum menyentuh kenop pintu.
Tapi di balik ketakutan itu, ada api kecil yang menyala, tekad putus asa seorang anak yang rela mengorbankan segalanya demi orang tua yang pernah mengorbankan hidupnya untuknya.
Miska mundur selangkah, memberi ruang. “Aku pergi dulu. Kalau ada apa-apa, telepon aku"
Natalie mengangguk pelan, hampir tak terlihat. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengulurkan jari ke arah kenop pintu. Logam itu terasa dingin menyengat.
Ceklek.....
Pintu kamar itu terbuka sebelum Nathalie sempat menekan handle pintunya.
Deg.....