Bahaya!
Seorang gadis manis menjual dirinya sendiri pada kakak iparnya. Kirana namanya dia mendapat perlakuan sadis dari sang suami yang menyuruhnya menjadi wanita malam.
Kirana tidak pernah di sentuh oleh suaminya, sehingga hubungan terlarang antara dirinya dan kakak iparnya perlahan menjadi sebuah kerangka cinta.
Mampukah cinta mereka meruntuhkan norma, dan membebaskan Kirana dari cengkeraman suaminya?
Simak kisah lengkapnya dalam Novel Pelacur tapi Perawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir perjuangan Keenan
Waktu berlalu dengan cepat, Alvin yang menjadi saksi kecelakaan tersebut terus mengurusi banyak hal, sedangkan Galuh yang mengetahui keadaan mertuanya langsung datang menjenguk dan saat mengetahui istrinya dalam keadaan koma dia menjadi histeris dan tidak dapat tenang.
Semua hal berjalan pada porosnya, Galuh perlahan tenang saat mengetahui istrinya kembali stabil sedangkan Gina kini terlihat seperti mayat hidup, setelah dua tahun lalu kehilangan ayahnya dan kini dia juga kehilangan ibunya.
Gina menjadi sosok raga rapuh tanpa ruh, dunianya seolah mendung dan di penuhi awan gelap tidak ada cahaya tidak ada bahagia, dia hanya bisa menunggu hari kematian. Meski dia baik baik saja namun dia sangat berharap bila tuhan akan memberinya kematian lebih cepat.
"Gin makan yu?" Keenan yang belum sempat mengobati luka di tangannya buru buru membeli makanan untuk Gina dan nampak Gina tidak merespon sama sekali, Keenan menghela napas panjang dan menggenggam tangan Gina.
"Gin, semua yang sudah berlalu tidak bisa di ulang tapi bila kamu terus seperti ini kamu akan sakit." Keenan mengelus wajah Gina yang kini tanpa ekspresi, Keenan berusaha menguatkan gadis itu dan memeluknya.
"Gak papa kok nangis asal jangan kaya gini terus, oke?" Keenan memeluk Gina dengan hangat namun Gina sama sekali tidak bereaksi, hingga mereka pulang ke rumah Gina dan Gina tetap jadi mayat hidup.
Satu minggu berlalu, dan empat bulanpun terlalui, saat itu Keenan nampak seperti orang yang tak berakal, dia menjadi sering marah dan menangis di kamarnya, setiap kali pulang dia akan selalu seperti itu seluruh orang di rumah besar itu sudah tahu apa penyebab utama Keenan menjadi demikian namun mereka juga tidak bisa berbuat apa apa.
Hingga di akhir pekan saat itu Keenan berencana untuk mengunjungi rumah Gina, karena pada waktu kemarin dirinya sudah melakukan pelulusan dari sekolahnya dan berniat akan melanjutkan study nya di luar Negri.
"Gin?" Terdengar suara lembut Zahara masuk ke dalam kamar Gina, di dalam sana nampak Gina yang kurus hanya menatap dingin tanpa ekspresi bahkan dia tidak memperdulikan kehadiran sang kakak.
"Keenan akan pergi hari ini, dia sudah pamit pada kakak." Ucap Zahara mengusap kepala Gina dengan lembut.
"Gin, kamu tahu Keenan selalu menangis saat melihat mu dan dia juga sangat menyayangi kamu, kenapa kamu tidak melihat bagaimana ketulusan dia?" Kini air mata Zahara jatuh dan mengusap pipi adiknya yang terlihat sangat tirus itu.
"Gin, bangunlah kami semua menyayangi mu. Apa kamu tidak mau berjuang sedikit untuk hidup, untuk kami heem?" Zahara memeluk Gina dan mengecup kening gadis itu.
"Keenan tidak akan kembali, dia akan tinggal di Negri yang jauh, apa kamu tidak mau menemuinya mesti sebentar?" Zahara menangis sesegukan dalam pelukan.
"Ke..ee..nan." Nama itu akhirnya keluar dari bibir Gina membuat Zahara melepaskan pelukannya dan mengangguk.
"Ya, Keenan kamu sayang dia kan? Kamu dulu pernah bilang bila dia tidak menyebalkan pasti kamu sudah menyukainya kan? Iya kan?" Zahara mengusap pundak adiknya.
"Keenan?" Nama itu kembali terdengar dari mulut Gina, Kirana mengangguk. Sebuah gambaran bagaimana seorang Keenan yang menyebalkan terlukis dalam ingatannya.
"Keenan?" Nama itu kembali tersebut dan gambaran Keenan yang memberikan sebuah mawar berduri dengan potnya kembali teringat di pikiran Gina.
Keenan yang sering mengatakan dirinya si gadis bodoh, wajah tanpa ekspresi dari Keenan saat menghadapi teman temannya, tangis Keenan dan saat Keenan menyelamatkannya dari bahaya saat itu.
Samar samar Gina juga teringat saat Keenan tidak memperdulikan tangannya yang terluka parah, dia juga ingat saat Keenan memeluknya dan mengatakan sangat mencintainya, Gina ingat saat Keenan memberinya banyak harapan indah dalam hidupnya.
"Keenan!" Seketika itu juga mata Gina melotot, Keenan adalah satu satunya teman dan orang yang perduli pada dirinya di luar keluarganya orang yang penuh ekspresi di hadapannya, orang yang selalu membuatnya sebal namun kemudian tertawa, dialah Keenan.
Seketika itu juga Gina berdiri dari ranjangnya melihat ke luar rumah yang nampak sangat sunyi, dengan pandangan kabur Gina melihat sebuah sepeda motor milik Galuh di depan rumah. Dirinya yang lemah ingin berkendara dan langsung di hentikan oleh Galuh.
"Biar kakak saja." Lirihnya, dia menatap sang istri yang kini mengangguk dan dengan cepat membonceng Gina melesat menuju kediaman Alvin.
Di rumah Alvin Keenan sudah mengemasi semua barangnya, dia sudah bersiap akan pergi. Dengan wajah lesu dan pikiran yang kabur Keenan melangkah mengikuti langkah Alvin dan Kirana menggusur kopernya yang besar menuju sebuah mobil mewah.
Keenan akhirnya pergi ke Bandara bersama Alvin dan Kirana, Momy tinggal di rumah dan saat ini dia memang sangat suka bersantai menikmati hari tuanya.
"Permisi, apa Keenan ada di rumah?" Tanya Galuh, para penjaga yang mengetahui sosok Galuhpun menggeleng.
"Dia sudah berangkat ke Bandara Pak." Jawab salah satu penjaga, dan sontak saja wajah Gina berubah pucat dan hampir menangis.
"Jangan nangis De, kita akan sampai di Bandara sebelum mereka berangkat." Ucap Galuh dan langsung tancap gas menuju ke Bandara.
Setelah sampai dengan perasaan yang campur aduk Gina langsung berlari ke area informasi, dia mencari sosok Keenan namun tidak dia ketemukan. Gina melihat orang yang berlalu lalang hingga nampak di lantai dua Gina melihat Alvin, Kirana dan Keenan nampak beriringan.
"Keenan!" Teriak Gina namun sayang mereka tidak dapat mendengar suara teriakan itu, Galuh cepat cepat menghubungi ponsel Alvin.
Gina berlari ke arah tempat mereka berada namun dia terjatuh akibat kakinya yang lemah, Gina berusaha bangkit dari sisa tenaga yang di miliki olehnya. Wajah Gina berubah pucat saat Keenan sudah hampir masuk ke tempat pemeriksaan dan akan menuju ke arah pesawat.
"Berhati, Keenan!!" Teriak Gina sekeras mungkin, Keenan yang mendengar namanya di panggil sontak berbalik. Matanya terbelalak saat melihat Gina tanah bersimpuh memanggil manggil namanya.
Keenan berlari ke arah Gina dan nampak di belakang Gina, Galuh yang berdiri dengan ponselnya dan mengangkat jempol ke arah Alvin, Alvin mengangguk dan memeluk sang istri.
"Gin?" Lirih Keenan menunduk, Gina nampak tidak menggunakan alas kaki. Dia juga menggunakan baju tidur dan rambut yang sudah berantakan. Keenan tersenyum lembut dan langsung memeluk Gina.
"Kamu mengingat ku?" Lirih Keenan dengan nada pertanyaan meski jawabannya sudah dia ketahui.
"Keenan maap, aku mohon jangan pergi!" Isak Gina pedih, Keenan menggalang dan memeluk Gina penuh sayang. Takdir memang ajaib semuanya seolah berjalan tanpa henti dan mengalir pada porosnya. Namun Keenan percaya pasti ada titik bahagia saat seseorang berani berkorban dan berjuang.
Mbak baru mau maraton lagi dikarya kak Nuah yang sudah tamat
ceritanya bagus👍👍