NovelToon NovelToon
Bersyukur Menikahimu

Bersyukur Menikahimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Cintamanis / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:903
Nilai: 5
Nama Author: introvert girl

Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesesatan Hati

Pembicaraan yang begitu alot tak membuat mereka saling mengerti, dengan segala bujukan Ethan yang gagal menenangkan. Liana berpkir semua memang harus berakhir.

"Kalau memang kamu bilang harus berakhir, aku akan mengikuti. Aku tidak akan lama di kantor, aku akan mengundurkan diri" Sahut Liana yang sudah mulai lelah.

Mereka berbicara sudah dua jam tanpa jawaban yang memuaskan hati. Liana bangkit berdiri meninggalkan Ethan yang masih duduk memaku disana. Ingin rasanya dia mencegat wanita itu tapi dia juga lelah harus mengeluarkan energi lagi.

Liana sudah pergi dengan mengendarai taksi, dia hanya ingin segera menjauh dari tempat itu. Ada rasa kecewa karena diperlakukan seperti sampah.

Ethan memutuskan untuk pergi meninggalkan Cafe, melajukan mobilnya tanpa tujuan yang jelas. Pulang ke rumah tidak masuk dalam benaknya, hanya ingin menenangkan diri tapi tidak tahu harus pergi kemana.

Di lampu merah dan jalanan yang macat membuat pikirannya sesekali menerawang jauh. Hingga terbesit pergi ke tempat yang sangat jarang dia datangi sejak menikah.

Ethan yang kini memiliki tujuan akhirnya melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tiba di sebuah club terbaik di kota itu, kondisi masih jam sembilan malam. Ethan masuk ke dalam dengan pakaian kantor yang belum sempat diganti. Hanya melipat lengan kemeja hingga menampilkan lengannya yang menunjukkan guratan maskulin.

Masuk dan mulai mendengar suara riuh kerumunan yang menikmati musik di lantai dansa, dia duduk didepan bartender dan memesan minuman.

Nyaris mabuk dengan ponsel di genggamannya mulai meracau dan menekan nomor yang tidak asing.

Liana yang masih melamun di atas ranjangnya tampak tersentak kala dering ponselnya membuyarkan lamunannya.

"Ethan....". Bisiknya pelan namun enggan untuk menjawab panggilan itu.

Menikmati kesendirian di kamar apartemennya adalah keputusan yang dapat diambil saat ini. Liana tinggal di apartemen kecil yang tidak terlalu jauh dari kantor. Orangtuanya tinggal di kota lain sehingga dia tidak memiliki kerabat di kota ini.

Dering ponselnya kembali berbunyi dan masih menampilkan nomor yang sama. Dengan terpaksa Liana mengangkat dan terdengar suara yang riuh. Mereka tidak saling mendengar, meski Ethan tampak meracau dan membuat pembicaraan mereka tidak fokus.

"Liana, ayo ke sini. Aku ada di Club X. Aku butuh kamu sayang" Suara Ethan yang berteriak dan mengulangnya beberpa kali hingga Liana mendengar dimana lokasi atasannya itu.

Pikiran Liana mulai goyah, antara menghampiri atau membiarkan. Namun berpikir lagi jika Ethan sendiri dan sudah mabuk nanti pulang diantar siapa.

Wanita itu mulai bersiap mengganti pakaiannya lalu keluar dari apartemennya. Setengah jam menuju Club yang dimaksud, Liana masuk dan mulai menelusuri setiap tempat itu yang sangat ramai dan riuh.

Hingga Liana menemukan Ethan duduk di depan Bartender. Terlihat Ethan sesekali bergerak riangan menikmati alunan musik, namun belum membuatnya terpancing untuk ikut bergabung di keramaian.

"Ethan, kamu mabuk" Suara Liana dengan sedikit menikkan nada suaranya agar didengar Ethan.

"Liana, kenapa kamu ada disini?" Sahut Ethan yang sedikit terkejut dan memeluk dengan cepat wanita yang ada dihadapannya.

"Ayo pulang.." Ajak Liana sembari menarik lengan Ethan, namun badan besar itu sulit di kendalikan.

"Kamu sangat cantik Liana, minum dulu sedikit" Balas Ethan yang melepas tarikan tangan Liana.

Meski menolak beberapa kali, akhirnya Liana termakan bujukan Ethan. Meminum minuman yang genggam Ethan.

Isi kepala mulai ikut berdengung, seperti ada gong besar yang bergetar di dalam. Dia masih membujuk agar Ethan mau pergi meninggalkan tempat yang sangat berisik itu.

Mereka akhirnya berjalan keluar dari tempat itu, hingga tiba di parkiran. Liana bermaksud ingin mengambil alih kemudi namun ditolak Ethan.

"Aku saja yang menyetir, kepala tidak terlalu pusing seperti tadi" Balas Ethan yang meraih sebotol air mineral yang sempat mereka pesan sebelum keluar dari Club.

Ethan meminum habis sebotol air minum, bersandar di pintu mobil menikmati aroma malam yang dingin setelah beberapa jam didalam ruangan uang yang diisi puluhan orang.

Liana juga ikut bersandar dan meminum sebotol air miliknya, untung saja dia membeli dua sehingga cukup untuk mereka.

"Kamu masih pusing?" Tanya Ethan yang menatap Liana penuh perhatian.

"Sedikit" Balasnya dengan anggukan tipis lalu meminum air mineral sampai tetes terakhir.

"Liana, Aku tidak bisa melepaskan kamu. Aku harus bagaimana?"

"Aku juga, tapi keputusan ada di tangan kamu" Balas Liana yang tidak ingin berharap banyak.

Sebuah pelukan mendadak menghantam tubuh wanita itu, tidak ada balasan hanya rasa terkejut. Ethan memeluknya dengan erat lalu kecupan mendarat di bibir Liana. Penolakan tipis terjadi dan Liana mundur selangkah namun Ethan menariknya lagi dan mengecupnya.

Penolakan itu berubah menjadi penerimaan, Liana membalas kecupan itu. Tidak ada rasa malu meski ada beberapa orang yang melintasi parkiran itu. Keduanya terjebak dalam suasana malam yang siap menghanyutkan langkah mereka.

Ungkapan cinta kembali memuai mengisi udara disekitar mereka, janji manis untuk tetap bersama membuat Liana kian terbuai.

Mereka memutuskan untuk masuk kedalam mobil dan Ethan mengemudi dengan pelan.

"Aku tidak mau pulang ke rumah, tapi tidak tau harus kemana" Sahut Ethan yang sesekali melirik Liana yang bersandar karena kepalanya masih terasa pusing. Tidak ada balasan seolah Ethan berbicara sendiri.

"Kepala kamu masih pusing?" Ethan kembali bertanya setelah melihat Liana tidak fokus ke arahnya dan Liana hanya mengangguk.

"Liana kita menginao di hotel ya, jaraknya sudah dekat. Biar kita cepat istirahat. Nanti kamu minum obat biar tidak sakit kepala lagi" Bujuk Ethan panjang lebar meski ditolak Liana, namun akhirnya dia menjadi luluh.

Mereka tiba di hotel terdekat, Ethan meraih kunci dari resepsionis dan merangkul Liana untuk menuju kamar.

Mereka tiba di dalam langsung merebahkan diri, Liana hanya berharap segera tidur agar kepala tidak pusing lagi.

"Ini minum obat dulu" Ethan menawarkan sebuah obat pereda nyeri yang didapatnya dari resepsionis dan menyodorkannya dengan sebotol air mineral.

Liana bangkit dari rebahannya dan meminum obat itu. Ethan yang penuh perhatian segera menyimpan botol air diatas nakas lalu memijat kepala Liana.

Suasana hening dan penuh perhatian membuat keduanya terhanyut semakin dalam. Ethan sesekali mengecup kening Liana, penuh perhatian memberikan pijatan di kepalanya.

Liana tidak menolak apapun yang didapatnya, Ethan yang semakin menyalurkan rasa perhatiannya kian menuntut lebih hingga kecupan manis kembali terulang.

Erangan lembut terdengar dikala tangan Ethan mulai meraba liar. Hingga menuntut lebuh dalam untuk melepaskan semua beban emosi yang tertanam sejak tadi.

Liana menerima semuanya dengan terbuka, baginya itu adalah wujud dari pengorbanan dan ketulusan. Menerima apapun yang dilakukan Ethan. Mencumbu dan membalas, hingga tubuhnya menunjukkan segala keindahannya dan meracuni seluruh pikiran Ethan untuk mendekap dan berkelana dengan fantasi yang timbul di pikirannya.

"Ethan.....Shhtttt" suara lirih dan menggoda mengisi aroma ruangan itu hingga bertambah panas.

"Sayang.....ah...." Ethan tidak banyak berkata, hanya menggambarkan rasa nyaman dan nikmat yang tengah dirasakannya.

Mereka berpacu dengan momen romantis, bergantian membalas hentakan. Pikiran liar keduanya sangat serasi hingga keduanya terkapar dengan balutan selimut yang siap membuat mereka terbuai sampai pagi.

Dini hari mereka telah terlelap, menikmati waktu yang hening dengan kebersamaan yang tidak mampu diusik siapapun.

Dering ponsel Ethan bahkan tak mampu menyadarkan keduanya, bahkan sudah beberapa kali ponsel itu berdering hingga beberapa jam kemudian ponsel itu padam kehabisan daya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!