NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mantan / Obsesi
Popularitas:364
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Panik

Matahari baru saja terbit. Kabut tipis masih menyelimuti seluruh pemandangan di sekitar sana. Nowi sadar betapa dia sangat merindukan suasana pagi hari di daerah pegunungan ini. Dia mengamati seluruh area milik Vito sekilas. Dia sadar pria itu berhasil mendapatkan tempat tinggal yang letaknya sangat indah.

Di sebelah kiri rumah, ada bangunan garasi besar yang muat untuk empat mobil. Pintu garasi itu perlahan terbuka. Terlihat sebuah truk pikap dan sepeda motor milik Vito di dalam sana.

Pandangannya tertuju pada satu benda itu. Dia langsung mengenali benda itu dengan sangat baik.

"Vito, itu kan mobil yang dulu kita pakai ya?" tanyanya sambil menunjuk ke arah truk pikap berwarna putih itu.

Vito melirik ke arah mobil itu sebentar, lalu kembali menatap Nowi.

"Iya, itu dia. Aku nggak tega kalau di jual, soalnya mesinnya masih oke dan enak pernah dipakai," jawab Vito.

"Ya ampun... nggak nyangka masih ada aja," gumam Nowi takjub.

Vito tersenyum tipis. "Iya nih. Banyak banget kenangan yang tersimpan di mobil itu, kan?"

"Betul banget. Banyak sekali," jawab Nowi pelan.

Satu ingatan spesial langsung muncul di benaknya dengan sangat jelas. Itu adalah malam saat mereka berdua kehilangan keperawanan mereka bersama-sama di dalam mobil itu.

Nowi menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir pikiran itu. Dia sadar Vito masih menatapnya dengan lekat. Pria itu tersenyum seakan dia tahu persis apa yang sedang dipikirkan oleh Nowi saat ini.

Dia melihat Vito menurunkan kendaraan itu keluar dari garasi. Kemudian mendongkraknya.

"Ayo naik sini, Sayang," kata Vito.

"Emangnya kamu nggak naik duluan?" tanya Nowi bingung.

"Aku cuma pengen lihat kamu duduk manis di atas motor itu," jawab Vito santai.

"Kamu pasti lagi bercanda kan?" tanya Nowi ragu.

"Ya enggak dong, aku serius. Ayo naik sekarang juga, Nowi," perintah Vito dengan nada tegas tapi lembut.

Nowi mengangkat kaki melewati badan motor, lalu duduk di atas jok sambil tersenyum lebar dengan tatapan jahil. “Senang?”

Vito cuma tersenyum nakal. “Sekarang kamu boleh turun.”

“Hah? Terus tadi buat apa coba?”

“Aku udah bilang kan? Aku cuma pengin lihat kamu duduk di situ. Harusnya kamu lihat ekspresi kamu sendiri, lucu banget rasanya lihat itu.”

“Ya ampun, Vito. Bikin bingung aja.”Nowi turun dari motor sambil memutar mata.

Vito mengambil helm yang dipakainya semalam, lalu memasangkannya erat di kepala Nowi sebelum memakai helm miliknya sendiri. Dia menurunkan standar motor, memastikan kendaraan stabil, lalu memberi isyarat tangan agar Nowi mendekat.

“Ayo naik lagi, manis.”

Nowi duduk dengan posisi senyaman mungkin, tetapi tangan Vito langsung meraih pahanya dan menariknya rapat hingga tubuh mereka saling menempel penuh.

“Jepit pake paha dan peluk aku. Nggak ada alasan.”

Nowi membuka pahanya cukup lebar agar pas dengan bentuk tubuh Vito yang besar dan berotot. Dia menjepit pinggang pria itu dengan kakinya, lalu melingkarkan kedua tangan di perutnya dengan nyaman.

Vito menjalankan motor keluar dari garasi. Nowi bersandar penuh di punggung lebarnya, menyaksikan pemandangan jalanan berlalu dengan cepat.

Mereka berhenti di depan kedai Ketan Legenda, memarkir kendaraan agak menjorok di pinggir Jalan Utama. Rasa takut dan cemas tiba-tiba muncul memenuhi dada Nowi.

Vito menepuk pelan bagian luar paha Nowi, memberi tanda bahwa mereka sudah sampai dan harus turun. Nowi mencoba turun dengan hati-hati, tetapi kakinya tersandung sedikit dan membuatnya kaku seketika.

Vito mengangkat tangan hendak membuka kait helm Nowi, tetapi Nowi langsung mundur selangkah sambil menggeleng cepat, menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan itu.

“Kenapa, Nowi? Ada apa?”

“Aku nggak mau masuk ke sana, Vito. Tolong banget, aku berubah pikiran, ayo pergi aja.”

“Nowi.” Nada bicaranya melembut seketika. “Kamu percaya sama aku kan?”

Percaya?

Jawaban pertama yang muncul di kepala Nowi adalah ya, seratus persen ya. Namun, logikanya mengatakan seharusnya ia tidak semudah itu percaya. Ia seharusnya ragu.

Kenapa ia mau diajak ke sini?

Kenapa ia membiarkan Vito membawanya kembali ke tempat ini?

Ia bahkan tidak menyangka akan berdiri di sini, berdampingan dengan Vito.

Bu Ninik hanya berdiri beberapa meter dari posisi mereka sekarang. Mata Nowi bergerak liar menatap ke kiri dan kanan. Banyak orang mulai lewat, toko-toko dibuka, dan ada anak-anak berjalan bersama orang tua menuju sekolah.

Nowi pun mundur satu langkah untuk menjauh, bersembunyi di belakang badan Vito. Lalu mundur lagi satu langkah. Sebuah mobil melintas kencang persis di belakang punggungnya. Vito langsung bergerak cepat, tangannya mencengkeram lengan Nowi dan menariknya menabrak dada bidangnya. Bagian atas helm Nowi terbentur dagu Vito hingga pria itu mendengus pelan.

Nowi terengah-engah karena napasnya tersendat. Rasa takut itu menekan dadanya dengan berat hingga ia sulit bernapas.

“Sial, Nowi. Kamu nggak apa-apa? ”

Vito menjauhkan badannya sedikit agar bisa membuka helm Nowi, dan kali ini Nowi diam saja membiarkannya melakukan hal itu.

Mata Vito menatap seluruh wajah Nowi, lalu ia melihat jelas ketakutan yang hampir menghancurkan Nowi. Tangan kasar itu menyisir rambut yang menutupi wajah Nowi, lalu menariknya kembali masuk ke dalam pelukan erat.

Nowi menutup matanya rapat, mencoba mengingat cara bernapas yang diajarkan terapisnya dulu. Tarik napas pelan selama lima detik. Tahan napas selama lima detik. Buang napas pelan-pelan selama lima detik.

“Nah gitu, sayang. Tarik napas bareng aku pelan pelan aja. Kamu aman di sini, tenang ya.”

Suara bicara Vito sangat tenang dan rendah.

Tanpa sadar, ketegangan di badan Nowi perlahan hilang saat ia menempel makin rapat ke dada pria itu. Kepalanya diletakkan tepat di atas dada tempat ia dapat mendengar detak jantung yang kuat dan stabil itu. Satu tangan Vito mengusap lembut rambutnya, tangan satunya lagi menggosok punggungnya naik turun dengan irama teratur.

“Terus kayak gitu ya.”

“Kamu hebat banget, kuat banget lho.”

“Kamu aman sepenuhnya, aku janji nggak bakal biarin siapa pun ganggu.”

“Aku bangga banget sama kamu, manis.”

Nowi menghembuskan napas panjang terakhir, lalu perlahan membuka mata dan menatap wajah Vito. “Makasih ya...”

“Itu semua usaha kamu sendiri kok. Aku cuma di sini aja. Bangga banget deh sama kamu. Sejak kapan serangan panik kayak gini mulai sering datang?”

“Sejak ... nggak lama setelah dulu aku pergi ninggalin kota ini.”

1
Aya Ansyar
hai thor, aku hadir membawa boomlike untukmu. jika berkenan, silahkan mampir juga ya ke karyaku. dukunganmu sangat berarti untukku. semangat terus berkarya, thor 👍🏻💪🏻
Aya Ansyar
hai thor, aku mampir. nyicil baca yaa. semangat thor 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!