Untuk membalaskan dendamnya pada Alena, Satria menikahi Elena adik kembar mantan kekasihnya.
Dan Elena yang tidak tahu dendam Satria menganggap pria itu mencintainya.
Namun semua berubah begitu saja setelah pesta pernikahan berakhir.
"Aku tak menyangka kamu tega menghianatiku." Elena.
"Penghianatan di balas penghianatan." Satria.
Akan kah Elena mampu menghadapi rumah tangga yang terasa seperti neraka baginya?
Atau kah Elena menyerah pada cintanya karena lelah dengan sikap Satria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 32 Bertekad Lebih Keras Lagi
"Tidak Bu. Aku berjanji akan menemukan Elena lebih dulu dari ibu. Setelah menemukannya, aku akan meminta ma'af padanya." ucap Satria.
"Kamu pikir, Elena mau memaafkan pria brrengsek yang sudah menyakitinya?" tanya Mayang seraya tersenyum sinis.
Wanita paruh baya itu sudah tidak respect lagi pada Satria. Ia benar-benar kecewa pada pria dihadapannya itu.
Meski Satria masih menantunya, Mayang tidak bisa menahan diri untuk tidak berkata kasar pada pria itu.
"Aku akan berusaha agar Elena mau mema'afkanku, Bu." ucap Satria.
Satria tahu sekali bila Elena sangat mencintai dirinya, oleh sebab itu dia yakin bahwa wanita itu akan mema'afkannya.
Satria tidak tahu saja bila Elena bertekad untuk melupakan dirinya dan memulai hidup baru tanpa dirinya.
Entah nanti permintaan ma'af Satria pada Elena akan berhasil atau ia hanya akan menelan kekecewaan bahwa istrinya tidak mau mema'afkan dirinya.
"Baiklah, ibu akan memberi kamu satu kali kesempatan. Carilah Elena sampai dia ditemukan dan meminta ma'aflah padanya. Jika Elena mau mema'afkanmu dan kembali padamu maka kalian boleh bersama lagi. Tapi jika yang menemukan Elena lebih dulu itu ibu, maka kamu juga harus menerima bila Elena menceraikanmu. Satu lagi, ceraikanlah lebih dulu istri kedua mu itu, baru kamu boleh mencari Elena," ucap Mayang.
Dengan berat hati, Satria akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia tidak punya pilihan lain selain menyetujui keputusan yang sudah diambil oleh mertuanya.
Ia bertekat lebih keras lagi agar dirinya bisa cepat sembuh.
"Terima kasih Bu. Ibu sudah mau memberi aku kesempatan," ucap Satria.
Mayang tidak menanggapi ucapan terima kasih dari menantunya itu. Tidak lama kemudian pintu ruang rawat Satria buka oleh Cecil yang masuk ke dalam ruangan itu.
Dengan gaya angkuhnya, Cecil mendekati Mayang dan Satria yang tadi ia lihat sedang berbicara.
"Dia siapa Honey?" tanya Cecil sembari menatap pada Mayang.
Satria diam tak menjawab pertanyaan dari istri keduanya itu.
Pertanyaan itu justru Mayang lah yang menanggapinya.
"Ooh, jadi ini istri keduamu," ucap Mayang.
Ia sudah bisa menduga yang masuk ke dalam ruang rawat Satria ini adalah istri kedua dari menantunya itu.
Satria masih diam tidak mengeluarkan suara sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaan Cecil dan mertuanya.
"Siapa sih dia, Honey?" tanya Cecil lagi pada Satria tapi yang menjawab adalah Mayang.
"Saya ibunya Elena," ucap Mayang menekankan suaranya.
Mata Cecil terbelalak lebar mengetahui bahwa wanita paruh baya yang berada di kamar rawat itu ialah ibu mertua dari suaminya.
"Mau apa anda datang menemui Satria?" tanya Cecil.
"Memangnya salah ya bila saya membesuk Satria yang statusnya adalah menantu saya?" tanya Mayang balik.
"Ck, mertua? Satria menikahi Elena itu bukan karena dia mencintainya, melainkan karena untuk membalaskan dendam penghianatan yang telah dilakukan Alena," ucap Cecil memberitahukan pada Mayang.
Beruntung Mayang sudah tahu lebih dulu fakta itu dari Alena dan Satria yang sudah menjelaskan padanya.
Bila Mayang belum tahu dan ia justru tahu dari Cecil maka akan lebih memperparah keadaan.
Mayang pasti akan salah paham, dan lebih membenci Satria.
"Cukup Cecil!" bentak Satria.
Cecil yang dibentak Satria segera menolehkan wajahnya menghadap suaminya.
"Kamu bentak aku, Honey?" tanya cecil pada Satria dengan mata yang berkaca-kaca hendak menangis.
Mayang yang berada diruang rawat itu merasa muak melihat drama kedua orang tersebut.
Wanita paruh baya itu segera membalikkan tubuhnya lalu berjalan ke arah pintu untuk keluar dari ruang rawat tersebut.
"Bu, Ibu mau kemana?" tanya Satria namun Mayang tidak menjawabnya.
"Bu tolong jangan pergi dulu, kita belum selesai bicara," pinta Satria, tapi sayangnya wanita paruh baya itu tidak mengherani ucapan Satria.
Mayang terus melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat tersebut meninggalkan Satria dan Cecil yang berada di dalam ruangan itu.
Satria ingin mencegah kepergian Mayang, tapi apalah daya. Tubuhnya yang lumpuh itu tidak bisa mengejar ibu mertuanya yang keluar dari ruang rawatnya.
Pria itu hanya mampu menatap nanar pada kepergian Ibu dari Elena itu.
"Honey, apa-apaan ini? Kenapa kamu sangat perduli pada wanita tua itu?" tanya Cecil.
Satria yang tadinya menatap pada pintu yang baru saja tertutup, segera menatap pada Cecil.
Pria itu menatap nyalang pada istri keduanya, karena membuat dirinya marah.
"Mau apa kamu datang kesini?" tanya Satria.
"Uangku habis. Kamu kan sudah lama tidak memberi aku uang," jawab Cecil.
Satria tersenyum kecut, Cecil mendatanginya hanya untuk meminta uangnya saja.
Wanita itu sama sekali tidak mengkhawatirkan bagaimana kondisi dirinya saat ini, bahkan hanya sekedar menanyakan apa kamu baik-baik saja, Cecil sama sekali tidak melakukannya.
Yang ada dipikiran wanita itu hanya uang, uang, dan uang.
"Bukannya terakhir kali aku ngasih kamu uang satu milyar?" tanya Satria.
"Uang itu udah habis lah. Kamu ngasih aku uang itu sudah dua minggu yang lalu," jawab Cecil.
"Kamu habiskan untuk apa saja uang sebanyak itu?" tanya Satria.
"Honey, kamu mulai perhitungan sama aku?" tanya Cecil tak percaya pada suaminya yang mulai perhitungan.
"Jelas saja lah aku perhitungan. Kamu lihat sendiri aku ini sekarang cacat Cecil, coba kamu fikir dari mana aku bisa memberikan uang sebanyak itu terus-terusan padamu. Aku juga sedang butuh uang untuk biaya pengobatanku," ucap Satria.
Cecil terperangah mendengar Satria berkata demikian. Jelas saja kata-kata Satria itu secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya diminta untuk berhemat.
"Kamu harus ingat Satria, aku lah yang mendampingimu selama ini hingga kamu bisa bangkit dari keterpurukan penghianatan Alena." ucap Cecil mengingatkan Satria.
Inilah yang sangat disesali oleh Satria, dirinya jadi berhutang budi pada Cecil yang dulu selalu mendampinginya.
"Berapa yang kamu minta?" tanya Satria pada akhirnya.
Dia malas lama-lama berdebat dengan Cecil. Lagi pula yang Satria tahu Cecil sedang mengandung anaknya, sehingga ia memberikan uang itu dengan niat untuk anak yang berada di kandungan Cecil.
"Dua miliar," jawab Cecil kemudian menyerahkan selembar cek bertuliskan angka dua miliar.
Tangannya yang kaku membuat Satria kesulitan untuk menandatangani cek tersebut, sehingga hanya memberikan cap jempol jari kanannya saja.
Cecil tersenyum lebar. Selembar cek yang ia berikan pada Satria, sudah ada cap jempol pria tersebut.
"Makasih honey," ucap Cecil kemudian mengambil kembali cek tersebut.
Cecil langsung memasukkan cek tersebut ke dalam tasnya, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Satria dengan masih tersenyum.
Saat itu juga Cecil akan menggunakan uang tersebut untuk bersenang-senang dengan kekasihnya.
Sedangkan Satria yang ditinggal oleh Cecil hanya menggelengkan kepalanya.
"Wanita seperti apa yang aku nikahi ini," gumam Satria penuh sesal.