CERITA PERTAMA - END
"Aku hanya memainkan bagianku, cinta yang akan menyempurnakannya" - Nara
CERITA KE DUA - END
"Aku tetaplah sama, berdiri di sudut tersembunyi, menunggumu sampai akhir nafasku." - Liana
Ardian Rahardja tidak percaya lagi kepada cinta, setelah gagal menikahi Nara. Desakan orang tua membuatnya terpaksa memilih Liana Devi Saraswati, sahabat Nara sebagai istri untuk menghindari perjodohan yang dibuat oleh orang tuanya.
Ardi yang mengetahui bahwa Liana memiliki perasaan untuknya, memanfaatkan hal itu untuk mengatur istrinya sesuka hati dan memaksa ia bersandiwara seolah pernikahan mereka sangat bahagia.
Apakah waktu akan membuat Ardi menjadi luluh? Ataukah Liana harus menerima kenyataan bahwa laki-laki itu tidak akan pernah mencintainya sampai kapanpun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamomil
Seperti yang telah dikatakan oleh gadis itu semalam, hari ini Nara harus berangkat lebih awal untuk menemui beberapa seniman yang akan menjadi calon partner-nya, dalam rangka menggarap produk baru, yang rencananya akan diluncurkan dua bulan lagi.
Nara mendapatkan ide untuk membuat sebuah proyek mebel custom, di mana produk-produk yang dihasilkan nantinya akan benar-benar unik. Konsep dasarnya adalah minimalis-eksotis, karena itu ia ingin menambahkan ornamen khas dari beberapa daerah maupun negara dalam produknya kali ini.
Pagi-pagi sekali Nara sudah bangun dan segera menyiapkan sarapan untuk suaminya. Setelah selesai melakukan perannya sebagai istri, gadis itu segera berangkat ke tempat pertemuan. Pagi ini Nara tidak bisa menemani Rendra sarapan, sebab gadis itu akan makan pagi bersama para calon partner-nya.
“Silakan dimakan, Tuan!” Ita, asisten rumah tangga Rendra telah selesai menata hidangan yang sudah dimasak oleh Nara.
“Nyonya sudah berangkat, Bi?” Rendra bertanya karena sejak bangun tidur, ia belum melihat Nara.
“Sudah, dari lima belas menit yang lalu. Tuan, ini tehnya,” kata Ita sambil menyodorkan secangkir teh.
“Tehnya agak berbeda Bi,” tutur Rendra setelah menyesap minuman itu.
“Ini teh dari bunga Kamomil, Tuan. Tadi pagi, sebelum Nyonya berangkat, beliau berpesan supaya saya membuatkan teh ini untuk Tuan. Nyonya bilang kalau akhir-akhir ini Tuan cukup lelah dan stres dengan pekerjaan di kantor. Teh ini dipercaya bisa membantu memberi ketenangan. Apakah rasanya bisa diterima di lidah, Tuan?” Ita menceritakan apa yang dikatakan Nara tadi pagi.
“Saya menyukai rasa dan aromanya, Bi. Terima kasih,” ucap Rendra sambil tersenyum kepada wanita berusia empat puluh lima tahun itu.
“Terima kasihnya sama Nyonya saja, Tuan. Nyonya begitu perhatian dengan Tuan. Saya sampai kagum. Dulu, sebelum saya bekerja di sini, Nyonya pemilik rumah, tempat saya bekerja tidak pernah mau memasak untuk keluarganya, padahal ia tidak berkantor. Semuanya diserahkan kepada Asisten. Sementara itu, Nyonya Nara selalu menyempatkan waktu untuk memasak meski ia bekerja dan pulang larut malam. Kadang saya takut kalau Nyonya sakit karena kelelahan, Tuan.” Ita melihat Rendra yang asyik menikmati makanannya sambil mendengar wanita itu berbicara.
Rendra tidak menjawab lagi. Laki-laki itu kembali menyesap tehnya. Perkataan Bi Ita membuat Rendra menyadari sesuatu. Nara memang sangat baik dan perhatian padanya selama ini. Perempuan itu juga tidak pernah melalaikan tanggung jawabnya sebagai seorang istri meski ia bekerja di kantor. Nara adalah seorang pemimpin dan pekerja yang baik, sekaligus ia sebenarnya adalah seorang wanita yang penyayang.
Perkataan Ita sungguh menggelitik perasaan Rendra. Ia sadar bahwa ia memang tidak pernah mengucapkan terima kasih secara khusus kepada Nara. Laki-laki itu tiba-tiba memiliki sebuah ide di pikirannya.
“Bi Ita, nanti sore Bi Ita pulang saja. Saya beri bonus libur kerja setengah hari,” ucap Rendra kembali setelah selesai merenung.
“Benarkah? Terima kasih Tuan. Saya senang sekali. Tuan pasti mau berdua-duaan dengan Nyonya kan?” Ita menggoda Rendra.
“Mood saya cukup bagus hari ini. Saya ingin membaginya dengan Bibi. Maka dari itu, Bibi saya perbolehkan pulang lebih awal,” seru Rendra dengan wajah yang bahagia.
“Saya sepertinya harus banyak berdoa supaya Tuan selalu memiliki mood yang bagus,” ucap Ita sambil tertawa senang.
“Amin,” balas Rendra dengan singkat.
“Kalau saya dapat libur setengah hari, Lalu Nyonya dapat apa?” Ita kembali menggoda majikannya itu.
“Rahasia! Bibi tidak boleh tahu,” ucap Rendra dengan tertawa. Laki-laki itu juga telah memiliki sebuah rencana untuk berterima kasih kepada Nara hari ini.
-------------
“Bagaimana hasil meeting-nya?” Rendra melihat Nara baru saja memasuki ruangan dengan wajah yang ceria.
“Ada satu seniman yang mendadak tidak bisa hadir karena pesawatnya tertunda. Dia akan menemui kita besok. Sementara yang lain sudah setuju untuk membantu kita,” ucap Nara sambil tersenyum.
“Semoga idemu berhasil Nara. Setidaknya jika produk ini cukup laris dan diminati, maka kita punya alternatif lain untuk menutup kerugian,” tutur Rendra sambil menyentuh tangan Nara.
Gadis itu sedikit gugup ketika Rendra menyentuhnya. Ia terkejut, meski sisi lain hatinya merasa sangat senang dengan sikap manis laki-laki itu.
“A-aku juga berharap begitu. Kakak mau aku buatkan teh seperti tadi pagi?” Nara menawarkan kepada Rendra secangkir teh bunga Kamomil untuk menutupi rasa gugupnya.
“Apakah ada? Aku sangat menyukai aroma dan rasanya,” jawab Rendra dengan menyunggingkan sebuah senyuman.
“Tunggu sebentar! Aku akan membuatnya,” kata Nara sambil melepaskan tangannya dari tangan Rendra dan bergegas meninggalkan ruangan untuk menuju ke pantry kantor. Dengan cekatan, Nara membuat dua cangkir teh dan segera membawanya kembali ke dalam ruangan Rendra.
“Ini kak, minumlah!” Nara meletakkan dua cangkir teh itu di atas meja.
“Terima kasih. Ini sangat wangi, pasti rasanya enak,” tutur Rendra sambil menghirup aroma teh itu dan kemudian menyesapnya.
Mereka berdua tidak banyak berbicara lagi. Keduanya larut dalam cita rasa teh itu. Benar apabila ada yang mengatakan bahwa bunga Kamomil menjadi lambang ketenangan. Cita rasa teh bunga ini benar-benar membuat penikmatnya merasa tenang.
“Nara!” Rendra memanggil nama istrinya. Gadis itu menghentikan sejenak aktivitas minumnya dan menatap mata laki-laki itu.
“Terima kasih atas semua kebaikanmu padaku dan kerja kerasmu untuk perusahaan selama ini. Aku baru menyadari bahwa kamu selalu giat memaksimalkan segala hal yang kamu kerjakan, namun aku belum pernah berterima kasih secara khusus padamu hingga sekarang,” kata Rendra sambil menyentuh tangan istrinya kembali.
“T-tidak perlu kak. Aku justru yang harus berterima kasih karena kakak bersikap baik padaku akhir-akhir ini.” Nara membalas tatapan laki-laki itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Kadang kala aku berpikir bahwa kamu itu seperti bunga Kamomil ini. Kamu selalu bekerja dan menyelesaikan semua hal dengan tenang. Kamu bahkan selalu berusaha tidak panik di saat-saat genting, sehingga saran-saran yang kamu berikan pasti didasarkan atas pertimbangan yang matang. Kamu selalu bisa menenangkanku, Ra,” tutur Rendra dengan sungguh-sungguh.
Gadis itu sungguh tidak sanggup berkata-kata lagi. Matanya langsung berkaca-kaca. Hari ini seperti mimpi. Untuk pertama kalinya, laki-laki itu menghargai usahanya dan menyatakan hal itu dengan penuh ketulusan. Nara masih menatap Rendra dengan intens.
“Sebagai ungkapan rasa terima kasihku, bagaimana jika malam ini kita makan malam bersama? Bukankah sudah cukup lama kita tidak makan malam berdua?” Rendra menawarkan dengan penuh semangat dan kemudian melepaskan tangan Nara dari genggamannya.
“M-makan malam?” Gadis itu sedikit terkejut dengan penawaran suaminya.
“Kamu mau makan malam dimana? Kita tidak mungkin makan malam di apartemen, sebab tadi aku menyuruh Bi Ita kerja setengah hari.” Rendra menjelaskan kepada Nara.
“A-aku bisa memasak untuk kita, jika kakak mau,” jawab Nara dengan antusias.
“Kamu yakin? Apa kamu tidak lelah?” Rendra mengkhawatikan Nara.
Gadis itu menggelengkan kepala dan berkata, ”Aku sudah biasa. Tidak perlu mengkhawatirkanku. Jika kakak mengijinkan, mungkin hari ini aku akan pulang lebih awal untuk menyiapkan makan malam kita.” Nara menatap mata suaminya penuh harap.
“Baiklah kalau begitu! Kamu boleh pulang lebih awal. Aku akan menyusul. Kita makan malam di apartemen jam tujuh saja ya? Masih banyak hal yang harus aku urus sampai sore nanti,” pinta Rendra kepada istrinya.
“Em, Kak!” Nara tidak menjawab pertanyaan Rendra. Ia sepertinya ingin mengalihkan pembicaraan. Gadis itu terlihat memainkan jari-jarinya karena sedang gugup dengan apa yang hendak ia sampaikan sekarang.
“Iya, kenapa lagi?” Rendra melihat ekspresi Nara sedikit berbeda.
“B-bolehkah malam ini aku sedikit mendekor ruang makan kita? Sejujurnya a-aku merasa bahwa makan malam ini sedikit istimewa untukku. Namun, jika kakak keberatan, aku tidak akan melakukannya.” Nara menunduk. Gadis itu tidak berani menatap wajah Rendra. Ia takut jika laki-laki itu menolak permintaannya.
“Lakukan apa yang kamu mau! Aku tidak akan keberatan. Malam ini milikmu,” ucap Rendra sambil berdiri dan mengusap rambut Nara.
---------------
Selamat membaca!