NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35.

Teng...

Bel istirahat akhirnya berbunyi.

"Hore!"

Suasana kelas yang tadinya tenang langsung berubah ramai.

Beberapa siswa bergegas keluar menuju kantin.

Alesha juga berdiri sambil meregangkan badan.

"Ayo, Din."

"Ke kantin?"

"Iya."

Mereka baru saja keluar kelas ketika melewati lorong yang cukup ramai.

Di depan mereka ada beberapa siswa yang berjalan sangat pelan sambil mengobrol hingga memenuhi koridor.

Alesha melirik Dinda, lalu tersenyum jahil.

Ia berdeham pelan.

"Ehem..."

Tidak ada yang menoleh.

Alesha kembali berdeham, kali ini sedikit lebih keras.

"EHEM..."

Tetap tidak ada reaksi.

Dinda mulai curiga.

"Jangan macam-macam."

Alesha menggeleng.

"Nggak."

Ia kemudian tersenyum ramah kepada rombongan siswa itu.

"Permisi... VIP mau lewat."

Beberapa siswa langsung refleks menepi.

"Oh, maaf."

"Iya, silakan."

Begitu Alesha dan Dinda berhasil lewat, salah satu siswa baru sadar.

"Eh..."

"VIP siapa?"

Temannya menoleh ke belakang.

"Itu Alesha."

"Hah?"

"Lah, kita ketipu."

Koridor langsung dipenuhi gelak tawa.

Dinda menepuk pelan lengan Alesha.

"Kamu ini."

"Aku kan cuma bilang VIP."

"VIP apanya?"

Alesha menunjuk dirinya sendiri sambil nyengir.

"Very Important Perut."

"Soalnya lapar."

Dinda langsung tertawa sampai harus berhenti berjalan.

"Ya ampun, Les."

Di saat yang bersamaan, Arka dan Reza sedang berjalan dari arah berlawanan.

Mereka melihat Dinda yang masih tertawa dan Alesha yang tersenyum penuh kemenangan.

Reza mengangkat alis.

"Kamu ngapain lagi?"

Dinda yang masih tertawa menjawab lebih dulu.

"Dia..."

"...ngaku VIP biar orang minggir."

Reza langsung tertawa keras.

"Serius?"

Alesha mengangguk santai.

"Aku nggak bohong."

"VIP."

"Very Important Perut."

Reza sampai memegang perutnya.

"Logikanya aneh, tapi berhasil."

Arka menatap Alesha beberapa detik.

"Lain kali bilang saja 'permisi'."

"Kan sama-sama lewat."

Alesha tersenyum jahil.

"Iya sih."

"Tapi pakai VIP lebih dramatis."

Arka menggeleng kecil.

"Kamu memang suka cari jalan yang tidak biasa."

Alesha mengangkat bahu.

"Yang penting tetap sopan."

Arka tidak bisa membantah.

"Itu benar."

Reza langsung menyela sambil tertawa.

"Ketua, hati-hati."

"Hari ini dia baru mulai."

Alesha menunjuk Reza.

"Tenang."

"Targetku hari ini bukan Pak Ketua."

"Lalu siapa?"

Alesha menoleh ke arah kantin yang sudah terlihat dari kejauhan.

"Abang bakso."

"Aku mau bikin dia senyum."

Dinda langsung tertawa lagi.

"Kasihan abang bakso."

Mereka pun melanjutkan langkah menuju kantin dengan suasana penuh canda. Di mana ada Alesha, hampir selalu ada cerita yang membuat orang-orang di sekitarnya tersenyum.

Sesampainya di kantin, antrean sudah cukup panjang.

Alesha dan Dinda ikut mengantre di belakang beberapa siswa.

Alesha melirik ke arah panci bakso yang masih mengepul.

"Lama ya."

Dinda mengangguk.

"Namanya juga antre."

Alesha tidak mengeluh.

Ia hanya berdiri sambil memperhatikan orang-orang di depannya.

Beberapa detik kemudian, seorang siswa yang sedang asyik mengobrol maju sedikit, tanpa sadar menyenggol antrean hingga menjadi agak berantakan.

Beberapa siswa mulai saling mendahului.

Alesha langsung melangkah maju satu langkah.

"Bentar, bentar."

Semua spontan menoleh.

Ia tersenyum sambil menunjuk lantai.

"Antreannya mulai belok."

Beberapa siswa ikut melihat ke bawah, lalu tertawa kecil.

"Iya juga."

"Balik lagi, balik lagi."

Tanpa ada yang tersinggung, mereka kembali berdiri rapi sesuai urutan semula.

Abang penjual bakso yang melihat kejadian itu ikut tersenyum.

"Untung ada polisi antrean."

Alesha langsung mengangkat tangan.

"Saya cuma relawan, Bang."

Dinda menahan tawa.

"Relawan apaan?"

"Relawan ketertiban perut lapar."

Beberapa siswa yang mendengar langsung ikut tertawa.

Saat giliran mereka tiba, abang bakso bertanya,

"Seperti biasa?"

Alesha mengangguk semangat.

"Bakso, Bang."

"Pedas?"

Alesha berpikir sejenak.

"Pedas sedikit."

Dinda langsung melirik.

"Kemarin kamu kepedesan."

"Iya."

"Tapi aku penasaran."

"Penasaran apa?"

"Siapa tahu hari ini lidahku naik level."

Abang bakso ikut terkekeh sambil menyiapkan pesanannya.

Tak lama kemudian, semangkuk bakso hangat sudah berada di depan Alesha.

Ia mengambil mangkuknya dengan hati-hati.

"Terima kasih, Bang."

"Sama-sama."

Saat hendak berbalik mencari tempat duduk, ada seorang adik kelas yang tidak sengaja mundur sambil membawa minuman.

Hampir saja minuman itu tumpah mengenai seragam Alesha.

Dengan refleks, Alesha memiringkan badan dan mengangkat mangkuk baksonya sedikit lebih tinggi.

Minuman itu lolos begitu saja.

"Eh, maaf, Kak!" ucap adik kelas itu panik.

Alesha tersenyum.

"Nggak apa-apa."

"Untung yang diselamatkan baksonya."

Dinda langsung menoleh.

"Serius?"

Alesha mengangguk mantap.

"Prioritas."

Adik kelas itu akhirnya ikut tertawa.

"Untung Kakak nggak marah."

"Namanya juga nggak sengaja."

Jawaban itu membuat adik kelas tersebut tersenyum lega sebelum kembali ke mejanya.

Dinda menyenggol pelan lengan Alesha.

"Tapi refleksmu cepat juga."

Alesha tersenyum jahil.

"Bukan refleks."

"Terus?"

"Insting pecinta bakso."

Mereka berdua tertawa, lalu memilih meja kosong di dekat jendela kantin.

Belum sempat Alesha menyuapkan bakso pertamanya, Reza datang bersama Arka.

Reza melirik mangkuk bakso Alesha.

"Selamat."

"Akhirnya ketemu juga."

Alesha langsung memeluk mangkuknya dengan dramatis.

"Perjuangan kami tidak mudah."

Arka menggeleng tipis melihat tingkahnya.

"Silakan dimakan."

"Nanti keburu dingin."

Alesha mengangguk patuh.

"Siap, Pak Ketua."

Lalu ia mulai menikmati baksonya dengan senyum puas, sementara Dinda, Reza, dan bahkan Arka hanya bisa tersenyum melihat tingkah Alesha yang selalu punya cara sederhana untuk membuat suasana menjadi lebih hidup.

Alesha akhirnya menyuapkan bakso pertamanya.

"Enak..."

Dinda tersenyum.

"Baru satu suapan udah tahu?"

"Aku percaya sama insting."

Reza yang duduk di meja sebelah langsung menyahut,

"Insting lagi."

Alesha menunjuk mangkuk baksonya.

"Kalau urusan bakso, instingku jarang meleset."

Mereka pun mulai makan.

Beberapa menit kemudian, suasana kantin terasa cukup ramai.

Tiba-tiba terdengar suara sendok jatuh dari meja belakang.

Ting!

Beberapa siswa menoleh sekilas lalu kembali makan.

Alesha ikut menoleh, kemudian melihat sendok itu berada tepat di bawah meja dan pemiliknya kesulitan mengambil karena membawa semangkuk mi yang masih panas.

Tanpa banyak bicara, Alesha berdiri, mengambil sendok itu, lalu menyerahkannya.

"Nih."

Cowok itu tersenyum.

"Makasih, ya."

"Sama-sama."

Alesha kembali duduk seolah tidak terjadi apa-apa.

Reza memperhatikannya.

"Tumben gercep."

Alesha mengangkat bahu.

"Ya dibantu aja."

"Nggak pakai drama?"

"Hari ini libur drama."

Dinda langsung terkekeh.

"Baru lima menit."

"Belum tentu sampai pulang."

Semua ikut tertawa.

Saat Alesha hendak mengambil segelas es teh miliknya, ia melihat gelas Dinda hampir berada di ujung meja.

Sedikit lagi pasti jatuh kalau tersenggol.

Alesha diam-diam menggeser gelas itu ke tengah meja.

Dinda yang melihat langsung berkata,

"Makasih."

"Nggak mau nanti bajumu mandi es teh."

"Iya juga."

Reza tersenyum tipis.

"Kalau lagi serius, ternyata perhatian juga."

Alesha langsung menyeringai.

"Aku kan baik."

"Iya..."

Reza mengangguk.

"Tapi mulutmu suka iseng."

"Itu hobi."

Saat itu Arka yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya selesai makan.

Ia berdiri sambil membawa nampannya.

"Saya duluan."

Reza ikut berdiri.

"Oke, Ketua."

Arka baru melangkah dua langkah ketika Alesha tiba-tiba memanggil.

"Pak Ketua."

Arka berhenti dan menoleh.

"Iya?"

Alesha menunjuk ke arah bahu Arka.

"Sebentar."

Arka refleks melihat bahunya.

"Ada apa?"

Alesha mendekat, lalu mengambil sebutir nasi yang menempel di bahu seragam Arka.

"Nah."

"Udah."

Arka melihat butir nasi di tangan Alesha.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Alesha lalu menoleh ke Reza sambil tersenyum jahil.

"Kalau Pak Ketua lewat begini, nanti dikira habis ditaburin beras."

Reza langsung tertawa.

"Untung kamu lihat."

Arka hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.

"Lain kali langsung bilang saja."

"Iya."

"Soalnya tadi aku mikir..."

"Apa?"

"Kalau aku teriak 'ada nasi!'"

"Satu kantin pasti nengok."

Reza kembali tertawa keras.

"Nah, itu baru Alesha."

Alesha ikut tertawa.

"Makanya aku pilih cara yang aman."

Arka mengangguk singkat.

"Pilihan yang bagus."

Setelah itu Arka dan Reza meninggalkan kantin.

Dinda menatap Alesha sambil tersenyum.

"Ternyata kamu juga bisa jahil dengan cara yang elegan."

Alesha mengedipkan sebelah matanya.

"Namanya menjaga harga diri Pak Ketua."

Dinda langsung tertawa.

"Dasar."

Alesha kembali menikmati baksonya dengan senyum puas, sementara suasana kantin tetap dipenuhi obrolan santai dan tawa ringan dari para siswa.

1
Adinda
dibuat bebek bakar aja bebekmu, jadi gk tidur lagi kamu lesha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!