Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 015: Pesan dari Masa Lalu
Pesan Yves Marchand tetap ada di layar seperti luka yang menolak kering.
Keira membacanya tiga kali dalam dua hari.
Kalau kau benar-benar mati, setidaknya balas satu kali dari neraka.
Yves tidak pernah menulis seperti orang meminta. Ia selalu memerintah, menggoda, atau mengancam. Bahkan dalam duka, pria itu masih terdengar seperti sedang bersandar di sofa mahal sambil memegang gelas anggur.
Namun Keira tahu cara membaca jeda di balik kalimatnya.
Yves hancur.
Ia bisa membayangkan pria itu di salah satu penthouse Benua M, tirai terbuka menghadap kota, meja penuh laporan, tetapi tidak satu pun dibaca. Yves akan tersenyum pada bawahan, memberi perintah dengan suara malas, lalu menghancurkan sesuatu saat pintu tertutup.
Orang seperti Yves tidak menangis di depan orang.
Ia membuat seluruh ruangan ikut berdarah.
Di kehidupan lama, Yves Marchand adalah orang yang paling dekat dengan Blood Shadow setelah Wind Shadow. Mereka pernah keluar dari pengepungan yang sama, berbagi peluru terakhir, saling mencuri obat dari gudang musuh, dan bertengkar tentang hal-hal bodoh di tengah perang. Yves memanggilnya mon amour bukan karena cinta sederhana, melainkan karena ia suka menertawakan dunia yang terlalu serius.
Jika kabar kematian Blood Shadow sampai padanya, Yves pasti tidak menerimanya dengan tenang.
Keira duduk di ruang belakang setelah semua orang tidur. Bayu sudah mematikan lampu kecilnya, tetapi buku matematika masih terbuka di samping bantal. Kakinya dibalut kain hangat. Napasnya lebih tenang daripada minggu lalu.
Keira membuka jalur terenkripsi.
Satu balasan singkat sudah cukup membuat bencana. Namun diam terlalu lama juga bisa membuat Yves melakukan hal lebih gila, seperti membongkar seluruh Asia Tenggara hanya untuk mencari makam yang tidak ada.
Ia mengetik.
Belum mati. Jangan cari aku.
Ia berhenti.
Terlalu dingin.
Yves akan langsung naik jet pribadi.
Keira menghapusnya.
Belum mati. Ada urusan. Jangan berisik.
Lebih baik.
Ia menambahkan satu titik di akhir kalimat, lalu menghapusnya lagi. Terlalu formal. Yves akan menertawakan itu. Hal-hal kecil seperti ini membuat masa lalu terasa terlalu dekat, seperti ia hanya tertidur sebentar dan besok harus kembali ke meja strategi dengan pria itu mengeluh karena kopinya salah.
Pesan terkirim.
Tiga detik kemudian, panggilan masuk.
Keira menolak.
Panggilan kedua masuk.
Ia menolak lagi.
Panggilan ketiga masuk bersama pesan penuh huruf kapital dalam bahasa Prancis, Inggris, dan makian yang sebaiknya tidak diterjemahkan.
Keira membiarkannya.
Akhirnya Yves mengirim voice message enam puluh detik.
Keira tidak memutarnya. Tidak malam ini. Suara Yves mungkin akan membawa terlalu banyak masa lalu ke ruang kecil yang masih bau obat Bayu dan deterjen murah.
Namun jari Keira berhenti di atas tombol play lebih lama dari yang ia akui. Di dunia lama, suara Yves sering menjadi tanda bahwa bala bantuan datang. Atau tanda bahwa masalah baru datang dengan memakai parfum mahal.
Malam ini, ia belum siap untuk keduanya.
Ia baru hendak menutup laptop ketika pesan lain masuk, kali ini bukan dari Yves.
Jalur lama. Prioritas merah.
Pengirim tidak bernama.
Hanya simbol Shadow yang terdistorsi, seperti seseorang mengirimnya dari jaringan bekas organisasi itu atau dari orang yang pernah menyentuh arsipnya.
Isi pesannya pendek.
Asia Tenggara tidak bersih.
Keira menatap layar.
Diikuti satu file kecil. Ia membukanya dengan sistem terisolasi. Peta muncul. Beberapa titik di Singapura, Kuala Lumpur, Batam, dan satu titik samar di Jawa. Tidak ada nama operasi. Tidak ada daftar anggota. Hanya pola pergerakan yang terlalu mirip dengan jaringan logistik Shadow.
Keira memperbesar titik Jawa.
Tidak tepat di Megawan, tetapi cukup dekat untuk membuat kulit belakang lehernya dingin. Jalur itu melewati pelabuhan kecil, gudang ekspedisi, dan dua perusahaan cangkang yang pernah ia lihat dalam arsip lama Shadow. Mereka tidak bergerak seperti pasukan. Mereka bergerak seperti jamur, pelan, diam, menyebar di tempat lembap.
Shadow seharusnya kacau setelah pulau itu tenggelam.
Kacau bukan berarti mati.
Keira menyimpan peta itu ke ruang terenkripsi, lalu menghapus salinan lokal. Ia tidak punya kemewahan untuk panik. Jika Shadow memang mendekat, ia harus membuat Megawan terlihat seperti kota kecil biasa, bukan tempat Blood Shadow bersembunyi.
Itu berarti sekolah tetap jalan. Terapi Bayu tetap jalan. Laras tetap dibiarkan menggigit umpan.
Hidup barunya tidak boleh terlihat seperti medan perang, meski perang mulai mengetuk dari jauh.
Keira menatap Bayu yang tidur tidak jauh darinya. Dunia lama memanggil dengan darah dan kode. Dunia baru memanggil dengan napas anak laki-laki yang akhirnya bisa tidur tanpa meringis terlalu sering.
Untuk saat ini, ia memilih yang kedua.
Pilihan itu mungkin bodoh. Tapi untuk pertama kalinya, kebodohan terasa manusiawi.
Dan hangat.
Keira hampir lupa bahwa hal hangat juga bisa menjadi alasan seseorang bertahan.
Keira menutup file, lalu menghapus jejak pembukaannya.
Di saat yang sama, Bayu bergerak dalam tidur. "Mbak..."
Keira menoleh.
Anak itu tidak bangun. Mungkin mimpi. Mungkin kakinya sakit. Ia hanya menggenggam selimut dan bergumam lagi, "Jangan pergi."
Tangan Keira berhenti di atas keyboard.
Beberapa hari lalu, ia mungkin akan berpikir meninggalkan rumah ini lebih mudah. Uang sudah ada. Ia bisa pergi ke Jakarta, mengganti identitas, mencari Shadow dari tempat yang lebih aman. Namun Bayu dengan kaki yang belum pulih, buku catatan yang mulai diincar Laras, dan rumah kecil yang penuh duri ini mendadak menjadi sesuatu yang belum bisa ia tinggalkan.
Ia berdiri, menarik selimut Bayu sampai menutupi bahunya.
"Aku belum pergi," katanya pelan.
Besok paginya, Bu Sri mengamuk karena kuota internet rumah habis lebih cepat.
"Pasti kamu, Keira! Malam-malam main HP terus. Laras butuh internet buat belajar."
Laras duduk di meja makan dengan wajah polos, padahal ponselnya sejak pagi memutar video tutorial make up.
Keira menuang air putih. "Saya tidak pakai Wi-Fi."
"Lalu siapa? Setan?"
"Mungkin."
Bayu menunduk menahan tawa. Pak Prasetyo pura-pura mencari kunci motor. Bu Sri makin kesal karena tidak ada yang mendukung dramanya.
Di sekolah, Laras mulai menggunakan beberapa rumus dari foto curiannya. Ia menjawab satu soal di papan dengan percaya diri. Bu Ratna memujinya. Teman-teman bertepuk tangan. Bayu menatap buku catatan di tasnya, lalu menatap Keira.
Keira hanya menggeleng kecil.
Belum.
Sore itu, pesan Yves akhirnya berubah nada.
Baik. Aku tidak akan berisik. Tapi kalau kau terluka dan tidak menghubungiku, aku akan membakar separuh Benua M.
Di bawahnya, ia mengirim satu file lain. Lebih rapi. Lebih jelas.
Keira membukanya setelah memastikan jaringan aman.
Ada satu kalimat dari Yves.
Orang-orang Shadow bergerak di Asia Tenggara. Hati-hati.