Ini adalah kelanjutan kisah dari novel Author yang sebelumnya.
----- ----- «» ----- -----
“Om, papa tidak merestui kita, ayo bawa aku pergi,” isak Ayara, sebelum kemudian ia terkejut melihat wajah pria yang di cintainya itu seperti habis kena pukul.
Ya, siapa lagi yang melakukannya, jika bukan Bara, ia memukuli sahabatnya itu tanpa ampun, karena telah mencintai putrinya.
“Apa sakit?”
“Sedikit, tapi tidak apa-apa.” Adit merasakan tangan halus Aya mengusap wajahnya yang habis kena bogem mentah dari Bara.
Ia sangat mencintai gadis kecil itu, tapi keadaan membuat ia harus menjauh!
Novel ini hanyalah hasil dari kegabutan Author!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ny.Jutex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Monic
Jangankan merasa takut, Aliando malah merasa senang saat melihat Monic terlihat ketus seperti itu. Baginya, wanita itu terlihat semakin menarik saat sedang marah-marah. Bahkan ia sudah biasa dengan makian Monic.
“Kenapa masih disana?” Monic kesal karena Aliando tak bergerak sedikitpun dari tempat duduknya. Bahkan pria itu tersenyum menatapnya.
“Keluar dari sini atau aku yang pergi!” teriak Monic.
Aliando memilih untuk beranjak dari tempat duduknya. “Ok, biar aku yang pergi.” Sebelum menutup pintu, ia memberikan kecupan jarak jauh untuk Monica.
“Sial kau!” Monic merasa geram dan ingin rasanya ia melempar Aliando dengan ponselnya, tapi ia sadar kalau ia sangat membutuhkan benda itu untuk mendapatkan informasi, ia pun mengurungkannya.
Ntah kenapa Monic selalu merasa jijik dan merasa tidak suka, apa pun yang di lakukan Aliando. Walau yang di lakukan pria itu adalah kebaikan pun, tetap saja Monic tidak suka.
Di sebuah ruangan, yang biasanya di jadikan ruang rapat. Ricky dan Monic baru saja menandatangani proyek kerjasama mereka. Ada beberapa orang juga di ruangan itu sebagai saksi kerjasama keduanya.
Usai membubuhkan tanda tangan di atas surat perjanjian bermaterai itu, keduanya pun saling berjabat tangan sebagai sahnya kerjasama mereka.
Dalam hal pekerjaan, Monic selalu optimis dan pantang menyerah. Ia juga tidak pernah main-main dengan tanggung jawab yang telah di berikan. Selain itu, Monic memiliki daya kerja yang tidak di ragukan lagi. Sebab itulah Tuan Ramdan sering mempercayakan urusannya pada putrinya.
Dulu, sebelum menjadi orang sukses seperti saat ini, Ramdan banyak memiliki hutang. Usahanya mengalami kemunduran bahkan hampir gulung tikar akibat salah satu orang kepercayaannya telah menipunya.
Dalam keadaan terdesak, mau tidak mau ia merelakan Monic, putri satu-satunya itu di nikahi anak dari rekan kerjanya. Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Monic menyetujui perjodohannya dengan orang yang samasekali tidak ia kenal.
Walau sudah menikah, Monic tetap melanjutkan pendidikannya hingga tahap akhir.
Sedikit banyaknya ia sudah mempelajari cara kerja perusahaan milik ayahnya, sebelum akhirnya ia terjun langsung untuk memimpin.
Di tangan Monic, perusahaan berkembang dengan baik. Namun, itu tidak baik untuk kehidupan pernikahannya. Terlebih lagi saat suaminya menemukan pil kontrasepsi dari dalam lemarinya, hal itu membuat keributan yang berkelanjuta. Hingga akhirnya masalah itu berakhir di persidangan cerai.
Ramdan sudah berusaha untuk membujuk putrinya, agar membatalkan sidang perceraiannya dengan sang menantu. Namun, ia hanya bisa menasehati, tanpa bisa mencegah perceraian itu.
Apa lagi kini ia sendiri hampir tidak mengenali putrinya. Monic yang dulu sangat berbeda dengan Monic yang sekarang. Ia hanya bisa melihat kilatan ambisi di mata putrinya itu.
Pernah merasakan jatuh hingga harus terpaksa menikah, membuat Monic ingin menikmati hidupnya tanpa hambatan. Hingga takdir mempertemukan ia dengan Aditya dalam sebuah hubungan kerja.
Hanya satu ambisinya yang belum ia dapatkan, yaitu, memiliki Adit, pria yang selalu membuatnya hilang kendali. Ntah kenapa ia tidak bisa menahan perasaannya di hadapan pria itu.
...***...
Ricky meraih ponselnya yang berada di atas meja kerjanya untuk menghubungi Adit. Ia memberitahukan kalau ia sudah menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan yang di pimpin oleh Monic.
Walau dari awal Adit sudah mempercayakan semua urusan padanya, ia tetap ingin memberitahukan kabar itu pada sahabatnya.
Adit menolak untuk datang. Ia lebih memilih untuk menemani Ayara pada hari itu. Lagi pula tidak ada yang ia khawatirkan jika menyerahkan semua keputusan pada Ricky, ia sudah tau bagaimana sahabatnya itu.
“Siapa?” tanya Ayara.
“Siapa lagi, kalau bukan kakak kamu yang terlalu serius itu,” jawab Adit.
“Sebentar lagi Om juga akan memanggilnya kakak.”
“Sebelum itu terjadi, sekarang aku puas-puasin dulu buat ngatain dia.”
“Apa kak Ricky akan marah jika dia mengetahui hubungan kita, atau sebaliknya?”
“Jika dia ngga merestui hubungan kita, aku akan mematahkan batang hidungnya.”
“Om...!” Adit tergelak saat mendengar teriakan Ayara.
Sejujurnya Adit sama khawatirnya jika membayangkan bagaimana nanti reaksi keluarga Ayara begitu mengetahui hubungan mereka. Namun, Adit tidak ingin memperlihatkan kekhawatirannya di hadapan gadis itu.
Usai makan eskrim, Adit dan Ayara keluar dari kedai. Mereka berjalan sambil berpegangan tangan. Beberapa saat langkah mereka sama-sama berhenti ketika melihat seseorang yang berdiri menghadang jalan mereka.
“Monic?”
Monic berjalan mendekati dua orang yang sudah di perhatikannya sejak keluar dari kedai tadi.
“Oh, jadi anak kecil ini yang kamu maksud? Memangnya bisa apa dia di banding aku, hmm?” Monic memperhatikan gadis yang ada di hadapannya itu tak luput sedikitpun, di sertai dengan tatapan tidak suka.
Monic semakin merasakan panas saat melihat genggaman tangan keduanya yang terlihat semakin erat.
“Tante mau tau aku bisa apa? Aku bisa membuat orang di sebelahku ini sangat mencintai aku.” Ayara mengangkat genggaman tangannya dan tangan Adit yang masih saling menggenggam.
Ayara tersenyum puas sambil melihat dengan tatapan mengejek, saat melihat kemarahan di wajah Monic. Wajah wanita itu tampak merah menahan amarah.
Detik berikutnya Monic sudah bisa menguasai dirinya. Ia bisa membaca, kalau gadis yang ada di hadapannya itu sengaja memancingnya.
“Oh, ternyata dia cukup berbisa.” Monic beralih menatap Adit.
“Apa mau mu?”
“Tuan Aditya, kamu tau jelas apa mau ku!”
“Maaf, aku tidak bisa menjalin hubungan lain selain hubungan pekerjaan.” Adit kembali menegaskan walau ia sendiri sudah bosan untuk mengingatkan Monic.
“Tante, Tante ini wanita karier dan sangat berpendidikan juga, kan? Tapi, sepertinya Tante harus lebih banyak belajar lagi, terutama ilmu tau diri dan sadar diri. Om Adit kan udah bilang, dia ngga cinta sama Tante.” Dengan kedua tangan yang mengepal, Monic memajukan langkahnya. Ingin sekali ia menjambak rambut anak kecil di hadapannya itu. Namun, ia tau kalau Adit pasti tidak akan membiarkannya.
“Dia bahkan manggil kamu Om.
Apa kamu ngga salah memilih? Atau jangan-jangan kalian hanya...-”
“Cukup!”
“Terimakasih Tante sudah mengingatkan. Mulai hari ini, kita ubah panggilan kita ya sayang?” Ayara beralih menatap Adit di sampingnya. Adit membalas dengan mengangguk di sertai senyuman.
“Bagaimana, apa Tante puas?” Ayara melebarkan senyumnya ke arah Monic.
Di kamar hotel, Monic menumpahkan semua amarahnya yang sejak tadi ia tahan. Ia mengamuk dengan memecahkan kaca dan melemparkan semua benda yang ada di meja rias.
Di tengah amarahnya, ia teringat pada orang suruhannya. Monic mengambil handphonenya lalu menghubungi orang itu agar mencari informasi tentang gadis yang sedang bersama Adit di foto itu.
Tak lupa orang itu meminta uang muka terlebih dahulu sebelum melaksanakan pekerjaannya. Setiap informasi ada harganya.
Saat di restoran waktu itu, Monic memang tidak begitu memperhatikan orang-orang. Ia benar-benar serius saat membahas masalah pekerjaan, selain itu perhatiannya hanya tertuju pada Adit.
Bersambung
semangat up ya Thor 😘