Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aliansi yang Terpaksa
"Lepasin gue! Gue bilang lepasin!"
Suara lengkingan Azrint Breynerlanz menggema di sudut lain ruang palka kapal kargo yang luas. Tubuh rampingnya yang setinggi seratus tujuh puluh dua sentimeter bergoyang frustrasi, mencoba melepaskan ikatan tali tambang yang melilit kursi tempat dia didudukkan. Gaun seragamnya yang putih kini kotor oleh debu karat besi.
"Bisa diam gak sih lo? Berisik banget dari tadi!" bentak Aleyna Rossalind yang duduk di kursi sebelahnya. Berbeda dengan Azrint yang panik, Aleyna justru sedang sibuk menggesekkan tali pengikat pergelangan tangannya pada sudut tajam dari bagian bawah kursi besi tempatnya terikat.
"Gue gak bisa diam! Bokap gue bakal bunuh semua orang di kapal ini kalau tahu gue disentuh!" teriak Azrint dengan sifat manjanya yang keluar akibat tekanan mental. Air mata hampir menetes dari matanya yang sewarna karamel tua, mempertegas warna kulit perinya yang kian pucat ketakutan.
"Bokap lo gak ada di sini sekarang, jadi mending lo simpan tenaga lo buat mikir gimana cara kabur!" sahut Aleyna blak-blakan dengan nada bicaranya yang serak dan kasar.
Sret! Sret!
Dengan satu sentakan kuat, Aleyna berhasil memutuskan tali pengikat tangannya yang sudah menipis akibat gesekan. Dia segera berdiri, meregangkan otot-otot lengannya yang tegap, lalu berjalan mendekati Azrint.
"Lo... lo bisa lepas?" Azrint menatap Aleyna dengan mata terbelalak tidak percaya.
"Gue anak jalanan. Tali murahan kayak begini gak bakal bisa ngunci gue lebih dari sepuluh menit," jawab Aleyna sombong. Jemarinya yang dipenuhi kapalan tipis bergerak cepat membuka ikatan tali di tubuh Azrint. "Nama gue Aleyna. Anak buah bokap gue menguasai distrik kota. Nama lo siapa?"
"Azrint... Azrint Breynerlanz," jawab Azrint terbata-bata saat tali di tubuhnya terlepas. Dia segera berdiri, membetulkan letak seragamnya dengan canggung. "Breynerlanz? Mafia pelabuhan?" Aleyna menaikkan sebelah alisnya yang tebal, menatap Azrint dengan pandangan baru yang sarat akan rasa hormat jalanan. "Pantesan bokap lo punya kuasa segila itu."
"Iya... tapi sekarang kita di tengah laut, Aleyna. Kuasa bokap gue gak berguna kalau kita gak bisa balik ke darat," ucap Azrint, suaranya merendah, ada kedewasaan paksa yang mulai muncul di balik keputusasaannya.
"Kita gak bakal mati di sini, Azrint. Gue jamin itu," sahut Aleyna tegas, meletakkan tangannya di atas bahu ringkih Azrint sebuah gestur kesetiaan kawan yang instan khas anak gangster. "Gue gak bakal biarkan teman sekelas gue jadi pajangan di kapal kargo bajingan ini."
Dari sudut ruangan yang remang-remang, Camellia Putri melangkah keluar dengan langkah kaki yang senyap. Berbeda dengan penampilannya yang ketakutan di sekolah, wajah imut (baby face) Camellia kini menampilkan senyuman yang sangat licik dan tenang. Rambut panjangnya yang terurai tampak berkilat samar.
"Wah, aliansi yang sangat menyentuh," celetuk Camellia dengan suara renyahnya yang menggemaskan namun sarat akan nada sarkasme yang kental.
"Camellia?! Lo... lo kok bisa bebas juga?" tanya Azrint kaget.
Camellia mengangkat sebuah gawai kecil berbentuk mirip diska lepas dari saku seragamnya. "Gue udah berhasil menyadap frekuensi komunikasi radio kapal ini sebelum mereka menyita tas gue. Berita buruknya: jumlah mereka ada dua puluh orang dengan senjata otomatis. Berita baiknya: sistem navigasi kapal ini sangat rapuh. Gue bisa mematikan mesin utama mereka lewat jaringan wi-fi internal dalam waktu tiga menit."
Aleyna menyeringai lebar, menepuk pundak mungil Camellia hingga gadis imut itu sedikit terbatuk kecil. "Gila lo! Ternyata lo pintar juga ya di balik muka boneka lo itu!"
"Gue Camellia. Anak dari sindikat penyelundup internasional, Aleyna. Menghancurkan sistem kapal adalah makanan sarapan gue tiap pagi," jawab Camellia dengan nada dingin yang angkuh, meluruhkan topeng canggungnya sepenuhnya.
Ketiga gadis itu kini berdiri melingkar di tengah kegelapan palka. Ketegangan romantis yang gelap kian memuncak ketika suara langkah kaki sepatu laras panjang dari arah tangga besi luar mulai terdengar mendekat. Penjaga kapal datang untuk memeriksa tawanan mereka. Aleyna segera memasang posisi bertarung, mengepalkan tinjunya yang keras. Azrint mundur selangkah, mengambil sepotong besi tajam yang tergeletak di lantai sebagai senjata darurat. Sementara Camellia kembali menyembunyikan gawainya, siap melakukan sabotase digital dari balik bayangan. Mereka telah siap untuk menghadapi badai pertama mereka.